Patt mendorong tubuhku hingga terjengkang beberapa meter dari tanah saat pria bernama Gus itu mulai melancarkan serangan padanya. Aku menyadari senjata cambuk duri raksasa yang dibawa sosok dempal itu sambil meringis cemas, kutahan suaraku agar tetap terkendali, setiap kali melihat Gus melemparkan senjatanya ke arah Patt dan nyaris mengenai tubuh pemuda itu.
Patt luar biasa bertenaga serta sangat lincah, dia tahu kapan waktunya menghindar, menendang, saat tepat untuk memukul. Dalam hitungan menit Gus sudah dibuat kelelahan oleh permainan Patt.
“ Cukup main-mainnya!" geram Leigh marah.
Gadis itu melemparkan dirinya terlibat langsung dalam pertarungan, kehadiran Leigh dan tombak tajamnya ternyata tak mempersulit Patt sama sekali. Leigh malah bisa menjadi senjata ampuh untuk melemahkan penyerangan dari Gus, tampak jelas pria itu berusaha keras agar tak melukai rekannya.
Aku tak bisa berhenti menggagumi kehebatan Patt dari tempatku terdiam, dalam hati bertanya-tanya darimana dia mempelajari semua itu, lalu sebuah pertanyaan paling besar yang sejak tadi tersimpan didalam kepalaku pun menyeruak.
Siapa sebenarnya sosok-sosok bertudung merah ini?
“ Kamu tampak menikmati tontonan ini?"
Suara desisan ular muncul dibelakangku, aku melonjak saat menyadari keberadaan Dex disana. Pria itu tertawa mengerikan.
“ Tenanglah nona, aku takkan menyakitimu. Tugasku adalah membawamu tanpa cacat sedikitpun" katanya dipenuhi nada mengejek.
“ Siapa kalian sebenarnya! Mengapa kalian mengincarku" tuntutku. Tanpa sadar tubuhku membuat kuda-kuda pertahanan diri. Yang aku sendiri terkejut sebab melakukan hal itu. Seperti sebuah naluri
Aku bisa merasakan seringai kejam dibalik tudungnya. “ Apa kekasihmu tak pernah memberitahumu?" dia berjalan semakin mendekat kearahku.
Kakiku melangkah mundur perlahan, namun segera menyadari dua pohon raksasa berdiri tepat dibelakangku. ‘ Sial! Aku terpojok!’ batinku marah.
“ Yang pertama Patt bukan kekasihku, kedua dia selalu jujur akan segala hal padaku jadi lupakan saja usahamu untuk mengacaukan pikiranku" ancamku.
Dex terkikik pelan. “ Kalau dia memang sejujur itu padamu, mengapa dia belum menceritakan alasannya mengajukan diri sebagai tersangka pembunuhan yang terjadi pada ‘Karen si malang’ secara sukarela?"
Mataku melebar karena hantaman keterkejutan, diikuti badai kekecewaan. “ Mengapa kalian bisa....” pertanyaanku tertahan. “ Demi Tuhan...” bisikku pelan saat merasakan kepuasaan melalui gestur tubuh Dex. “ Kalianlah pelakunya. Pembunuh Karen!!" aku sudah siap mengepalkan tinjuku ketubuhnya, namun dengan mudah Dex menahanku. Dihadapannya aku seringan kapas.
“ Selalu ada harga yang harus dibayar demi tercapainya keinginan agung" tangan Dex menekan bahuku kedahan pohon elm, sentuhannya seperti pisau es , terasa menyiletku hingga ke tulang.
Aku menahan nafas sekeras mungkin karena mencium aroma busuk keluar dari mulutnya, merasa terpojok dan kesulitan mencari celah untuk berlari. Tangan Dex terulur, mencoba menyentuh pipiku, kuku-kukunya sangat panjang serta tajam, seolah dia bisa membunuh orang memakai dengan itu. Saat itulah sesuatu melesat diudara tepat mengenai tangannya.
Dex terhuyung tapi tidak menjerit kesakitan, darah mengucur dari tangannya, warnanya hitam pekat! Tidak seperti darah manusia pada umunya. Aku menoleh untuk mendapati sosok Patt berdiri tak jauh dariku.
“ Jauhkan tangan hinamu darinya b******k!" teriak Patt marah pada Dex.
Terengah-engah. Kausnya sobek memperlihatkan separuh tubuh bagian atasnya yang bahkan tetap menawan, dia mendapat cukup banyak luka dan memar namun tak serius. Wajahnya dipenuhi darah meski aku yakin itu bukan miliknya, badannya masih kuat berdiri tegap menantang meski kelelahan melandanya. Tangannya memegang senjata cakram kecil berbentuk bintang dengan gerigi tajam pada tiap ujungnya, benda itulah yang melukai Dex tadi.
Tak jauh dari tempat Patt berdiri, Gus sudah setengah tak sadarkan diri mencoba bangkit lagi untuk menyerang, jubahnya robek dibanyak sisi memperlihatkan beberapa sudut tubuhnya yang dipenuhi daging dan otot, berwarna merah seperti darah segar. Aku mengernyit sambil berpikir, Gus lebih mirip mutan pemangsa dalam cerita zombie daripada manusia normal.
Gus mengarahkan cambuk berdurinya pada Patt, dengan lincah dia bisa menghindari serangan lawan, menubruk memakai satu kaki. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Leigh untuk menyerang Patt dengan ujung tombaknya, menyadari apa yang akan terjmeadi aku berlari menarik ujung jubah perempuan itu, dia sempat tersandung sebelum akhirnya dijatuhkan oleh Patt memakai pukulan kepalan tangannya.
Bibirku mengatup rapat saat sosok asli tersingkap. Perempuan tinggi kurus, bermata semerah darah, dengan kulit putih sangat pucat, rambut pirangnya sewarna platina lurus mencapai punggung berkibar menutupi wajahnya. Aku tak percaya jika Patt pernah mempunyai kisah dengan wanita itu.
“ Baiklah Pattrick Blaze, kurasa cukup main-mainnya" kekeh Dex.
Dex berjalan pelan kearahnya dipenuhi kemarahan yang bisa tertutupi. Dari tangannya keluar sinar merah pekat yang perlahan berubah menjadi bongkahan cahaya raksasa, kurasakan energi magnetik mengalir keras diudara sekelilingku. Selanjutnya dia meluncurkan bola raksasa merah tersebut kearah Patt, aku menyadari benda apapun itu pastilah buruk.
Mulutku meneriakkan kalimat peringatan, kewaspadaan Patt terganggu karena secara mendadak Gus menerjangnya dalam satu gerakan mampu mengunci tubuh Patt. Pemuda itu memberontak marah, aku berusaha menghambur untuk melindunginya tapi Leigh dengan cepat berhasil menendangku hingga terjerembap ketanah.
Kututup mata pasrah, sadar akan apa yang terjadi sebentar lagi. Lalu terdengar suara kaokan kencang burung diatas kepalaku, berbarengan dengan itu badai angin menderu. Berikutnya jeritan tercekat Leigh serta suara kepakan memenuhi kepalaku. Saat membuka mata sesosok elang raksasa berbulu seputih salju muncul dihadapanku, berdiri tepat didepan tubuh Patt, menghadang serang Dex dan berhasil mementalkannya. Burung tersebut berkaok marah lalu menyerang Gus secara membabi buta.
Aku sempat mendengar Patt mengucapkan terimakasih pada si Elang sebelum dia berlari kearahku, menjatuhkan Leigh lalu menarik tubuhku hingga berdiri ketanah.
Patt tak mengatakan sepatah kalimatpun, yang dia lakukan hanya memeluk erat badanku seakan itu merupakan perlindungan paling efektif saat ini. Dex mengeram terdengar sangat marah.
“ Sudah cukup aku berbaik hati! Bukan berarti karena kalian kesayangan Master itu bisa menghalangiku untuk menghancurkan kalian!" bentak Dex geram.
Patt tersenyum mengejek. “ Terima kasih atas kebaikan hatimu. Tapi sayangnya kami tak butuh"
Warna darah dari iris Dex berkilat licik. “ Kurasa ini waktu yang tepat bagi pacarmu untuk tahu identitas aslimu, bocah sombong"
Aku melihat ekspresi ketakutan diwajah Patt merenggut semua kepercayaan dirinya. “ Oh tidak" bisiknya. Patt menunduk padaku. “ Kumohon, setelah apapun yang akan kaulihat setelah ini, janganlah membenciku "
Detik berikutnya, didepan mataku sosok Dex bertranformasi secara mengejutkan menjadi seekor macan tutul raksasa. Rasanya aku ingin pingsan sekarang juga. Patt melepaskanku tepat disaat Macan- Dex menerjang kearahnya, pertarungan sengitpun terjadi.
Elang raksasa berbulu putih tadinya ingin terlibat, namun segera dicegah oleh Leigh yang secara ajaib bisa mengeluarkan puluhan pisau es dari dalam tangannya.
Rasanya aku nyaris gila.
Kupikir semua ini hanya fantasi liarku saja.
Tapi itu belum seberapa karena hal berikutnya yang harus kuhadapi adalah.
Seorang Pattrick Blaze berubah menjadi sosok Elang raksasa, tepat didetik saat gigi tajam Macan-Dex tertancap diperutnya.
Didepan mataku....