PERTARUNGAN.

1012 Words
     Patt  mendorong  tubuhku hingga  terjengkang beberapa  meter dari tanah saat  pria bernama Gus itu mulai  melancarkan serangan padanya. Aku  menyadari senjata cambuk duri raksasa  yang dibawa sosok dempal itu sambil meringis  cemas, kutahan suaraku agar tetap terkendali, setiap  kali melihat Gus melemparkan senjatanya ke arah Patt  dan nyaris mengenai tubuh pemuda itu.    Patt  luar biasa  bertenaga serta  sangat lincah, dia  tahu kapan waktunya  menghindar, menendang, saat  tepat untuk memukul. Dalam hitungan  menit Gus sudah dibuat kelelahan oleh  permainan Patt.         “ Cukup  main-mainnya!" geram  Leigh marah.       Gadis  itu melemparkan  dirinya terlibat langsung  dalam pertarungan, kehadiran  Leigh dan tombak tajamnya ternyata  tak mempersulit Patt sama sekali. Leigh malah  bisa menjadi senjata ampuh untuk melemahkan penyerangan  dari Gus, tampak jelas pria itu berusaha keras agar tak  melukai rekannya.      Aku  tak bisa  berhenti menggagumi  kehebatan Patt dari tempatku terdiam, dalam  hati bertanya-tanya darimana dia mempelajari  semua itu, lalu sebuah pertanyaan paling besar  yang sejak tadi tersimpan didalam kepalaku pun menyeruak.        Siapa  sebenarnya  sosok-sosok bertudung  merah ini?       “ Kamu  tampak menikmati tontonan ini?"      Suara  desisan  ular muncul dibelakangku, aku  melonjak saat menyadari keberadaan  Dex disana. Pria itu tertawa mengerikan.      “ Tenanglah  nona, aku takkan menyakitimu. Tugasku  adalah membawamu tanpa cacat sedikitpun"  katanya dipenuhi nada mengejek.      “ Siapa  kalian sebenarnya! Mengapa  kalian mengincarku" tuntutku.  Tanpa sadar tubuhku membuat kuda-kuda  pertahanan diri. Yang aku sendiri terkejut sebab melakukan hal itu. Seperti sebuah naluri      Aku  bisa merasakan  seringai kejam dibalik  tudungnya. “ Apa kekasihmu  tak pernah memberitahumu?" dia  berjalan semakin mendekat kearahku.      Kakiku  melangkah  mundur perlahan, namun  segera menyadari dua pohon  raksasa berdiri tepat dibelakangku. ‘ Sial! Aku  terpojok!’ batinku marah.      “ Yang  pertama Patt  bukan kekasihku, kedua  dia selalu jujur akan segala  hal padaku jadi lupakan saja usahamu  untuk mengacaukan pikiranku" ancamku.      Dex  terkikik  pelan. “ Kalau  dia memang sejujur  itu padamu, mengapa dia  belum menceritakan alasannya  mengajukan diri sebagai tersangka  pembunuhan yang terjadi pada ‘Karen  si malang’ secara sukarela?"       Mataku  melebar karena  hantaman keterkejutan, diikuti  badai kekecewaan. “ Mengapa kalian  bisa....” pertanyaanku tertahan. “ Demi  Tuhan...” bisikku pelan saat merasakan  kepuasaan melalui gestur tubuh Dex. “ Kalianlah  pelakunya. Pembunuh Karen!!" aku sudah siap mengepalkan  tinjuku ketubuhnya, namun dengan mudah Dex menahanku. Dihadapannya  aku seringan kapas.      “ Selalu  ada harga  yang harus dibayar  demi tercapainya keinginan  agung" tangan Dex menekan bahuku  kedahan pohon elm, sentuhannya seperti  pisau es , terasa menyiletku hingga ke tulang.      Aku  menahan  nafas sekeras  mungkin karena mencium  aroma busuk keluar dari mulutnya, merasa  terpojok dan kesulitan mencari celah untuk  berlari. Tangan Dex terulur, mencoba menyentuh  pipiku, kuku-kukunya sangat panjang serta tajam, seolah  dia bisa membunuh orang memakai dengan itu. Saat itulah  sesuatu melesat diudara tepat mengenai tangannya.      Dex  terhuyung  tapi tidak  menjerit kesakitan, darah  mengucur dari tangannya, warnanya  hitam pekat! Tidak seperti darah manusia  pada umunya. Aku menoleh untuk mendapati sosok  Patt berdiri tak jauh dariku.        “ Jauhkan  tangan hinamu  darinya b******k!"  teriak Patt marah pada  Dex.       Terengah-engah. Kausnya  sobek memperlihatkan separuh  tubuh bagian atasnya yang bahkan  tetap menawan, dia mendapat cukup banyak  luka dan memar namun tak serius. Wajahnya dipenuhi  darah meski aku yakin itu bukan miliknya, badannya masih  kuat berdiri tegap menantang meski kelelahan melandanya. Tangannya  memegang senjata cakram kecil berbentuk bintang dengan gerigi tajam  pada tiap ujungnya, benda itulah yang melukai Dex tadi.      Tak  jauh dari  tempat Patt  berdiri, Gus sudah  setengah tak sadarkan  diri mencoba bangkit lagi  untuk menyerang, jubahnya robek  dibanyak sisi memperlihatkan beberapa  sudut tubuhnya yang dipenuhi daging dan  otot, berwarna merah seperti darah segar. Aku  mengernyit sambil berpikir, Gus lebih mirip mutan pemangsa dalam  cerita zombie daripada manusia normal.      Gus  mengarahkan  cambuk berdurinya  pada Patt, dengan lincah  dia bisa menghindari serangan  lawan, menubruk memakai satu kaki. Kesempatan  itu dimanfaatkan oleh Leigh untuk menyerang Patt  dengan ujung tombaknya, menyadari apa yang akan terjmeadi  aku berlari menarik ujung jubah perempuan itu, dia sempat  tersandung sebelum akhirnya dijatuhkan oleh Patt memakai pukulan  kepalan tangannya.      Bibirku  mengatup rapat  saat sosok asli  tersingkap. Perempuan  tinggi kurus, bermata semerah  darah, dengan kulit putih sangat  pucat, rambut pirangnya sewarna platina  lurus mencapai punggung berkibar menutupi  wajahnya. Aku tak percaya jika Patt pernah  mempunyai kisah dengan wanita itu.      “ Baiklah  Pattrick Blaze, kurasa  cukup main-mainnya" kekeh  Dex.      Dex  berjalan  pelan kearahnya  dipenuhi kemarahan  yang bisa tertutupi. Dari  tangannya keluar sinar merah  pekat yang perlahan berubah menjadi  bongkahan cahaya raksasa, kurasakan energi  magnetik mengalir keras diudara sekelilingku. Selanjutnya  dia meluncurkan bola raksasa merah tersebut kearah Patt, aku  menyadari benda apapun itu pastilah buruk.     Mulutku  meneriakkan  kalimat peringatan, kewaspadaan  Patt terganggu karena secara mendadak  Gus menerjangnya dalam satu gerakan mampu  mengunci tubuh Patt. Pemuda itu memberontak marah, aku  berusaha menghambur untuk melindunginya tapi Leigh dengan  cepat berhasil menendangku hingga terjerembap ketanah.      Kututup  mata pasrah, sadar  akan apa yang terjadi  sebentar lagi. Lalu terdengar  suara kaokan kencang burung diatas  kepalaku, berbarengan dengan itu badai  angin menderu. Berikutnya jeritan tercekat  Leigh serta suara kepakan memenuhi kepalaku. Saat  membuka mata sesosok elang raksasa berbulu seputih  salju muncul dihadapanku, berdiri tepat didepan tubuh  Patt, menghadang serang Dex dan berhasil mementalkannya. Burung  tersebut berkaok marah lalu menyerang Gus secara membabi buta.        Aku  sempat  mendengar  Patt mengucapkan  terimakasih pada si  Elang sebelum dia berlari  kearahku, menjatuhkan Leigh lalu  menarik tubuhku hingga berdiri ketanah.       Patt  tak mengatakan  sepatah kalimatpun, yang  dia lakukan hanya memeluk  erat badanku seakan itu merupakan  perlindungan paling efektif saat ini. Dex  mengeram terdengar sangat marah.      “ Sudah  cukup aku  berbaik hati! Bukan  berarti karena kalian  kesayangan Master itu bisa  menghalangiku untuk menghancurkan  kalian!" bentak Dex geram.      Patt  tersenyum  mengejek. “ Terima kasih  atas kebaikan hatimu. Tapi  sayangnya kami tak butuh"      Warna  darah dari  iris Dex berkilat  licik. “ Kurasa ini waktu  yang tepat bagi pacarmu untuk  tahu identitas aslimu, bocah sombong"      Aku  melihat  ekspresi ketakutan  diwajah Patt merenggut  semua kepercayaan dirinya. “ Oh  tidak" bisiknya. Patt menunduk padaku. “ Kumohon, setelah  apapun yang akan kaulihat setelah ini, janganlah membenciku "      Detik  berikutnya, didepan  mataku sosok Dex bertranformasi  secara mengejutkan menjadi seekor  macan tutul raksasa. Rasanya aku ingin  pingsan sekarang juga. Patt melepaskanku tepat  disaat Macan- Dex menerjang kearahnya, pertarungan  sengitpun terjadi.      Elang  raksasa  berbulu putih  tadinya ingin terlibat, namun  segera dicegah oleh Leigh yang  secara ajaib bisa mengeluarkan puluhan  pisau es dari dalam tangannya.      Rasanya  aku nyaris  gila.     Kupikir  semua ini  hanya fantasi  liarku saja.      Tapi  itu belum  seberapa karena  hal berikutnya yang  harus kuhadapi adalah.     Seorang  Pattrick Blaze  berubah menjadi sosok  Elang raksasa, tepat didetik  saat gigi tajam Macan-Dex tertancap  diperutnya.      Didepan  mataku....    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD