Kupu-Kupu 6

2059 Words
“Halo cantik anak papa, sini sayang. Nama kamu Rosi ya? Sini nak ini papa kamu” suara Ardi sedikit bergetar untuk memanggil Rosi. Seperti memang Ardi juga merindukan keduanya. Rosi anak kandungnya dan juga Key mantan istri sirinya. “Rosi sayang, maafin papa ya nak. Papa gak pernah ketemu sama Rosi. Rosi jangan benci sama papa ya nak” Ardi meminta maaf pada anaknya sambil menitihkan air mata. “Mas, udah pulang? Loh ini anak siapa mas?” tanya wanita tersebut pada Ardi. Dipandangnya Rosi dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Halo tante, aku Rosi” dikecupnya punggung tangan Mona tanda hormat. Rosi sangat tahu sopan santun, Key mengajarinya dengan baik untuk hal ini.   ***   Pagi ini terjadi kehebohan di depan kelas Rosi. Rosi menangisi Key yang ingin pergi dan tidak menunggunya sekolah. “Duh Rosi sayang, kamu hari ini gak mama temenin yaa.. Mama ada urusan sebentar nak” Key menenangkan Rosi yang sedang menangis di depan pintu kelasnya. Drama pagi hari saat mengantar Rosi sekolah pun dimulai. “Gak mau mamaa Rosi maunya ditungguin mama!” jawab Rosi sambil menangis dan merengek. Tangan Key digenggamnya erat tak ingin dilepaskan. Key tak diizinkan untuk pergi sama sekali. “Hari ini aja deh mama janji besok mama tungguin lagi ya sayang” rayu Key agar dia bisa pergi. Sebenarnya Key tidak ada urusan apapun hanya saja dia merasa tidak nyaman bila harus menunggu Rosi di sekolahnya. Tidak nyaman karena pandangan orang tua murid yang lain tentunya. “Eh eh eh kenapa ini Rosi pagi-pagi udah nangis gini. Cantiknya hilang loh nanti” salah seorang guru membantu menenangkan Rosi dan berusaha menggendongnya. Kini Rosi menangis dalam pelukan sang ibu guru. “Rosi maunya sama mama bu sekolahnya..” Rosi menjawab pertanyaan gurunya itu sambil mengelap air matanya dengan baju bagian lengannya. “Yaudah yaudah kali ini mama yang kalah lagi deh asal Rosi berhenti nangis ya” Key pun menyerah dan mengaku kalah. Daripada Rosi terus menerus merengek lebih baik Key menuruti permintaannya. “Tuh mamanya udah kalah katanya, Rosi jangan nangis lagi ya” Rosi mengangguk sambil tetap menyeka kedua matanya. Guru tersebut kemudian membawa Rosi masuk ke kelas. Key dengan terpaksa harus menunggu Rosi di sekolahnya lagi. Key berjalan menuju kursi yang berada agak jauh dari pintu kelas Rosi. Didudukinya kursi panjang tersebut sambil tubuhnya disandarkan ke dinding. Dari kejauhan Key melihat seorang ibu mengendari motor matic, mengenakan gamis berwarna biru dongker dengan kerudung panjang hingga menutupi d**a dengan warna yang sama. Key mengenali ibu tersebut. “Mamanya Rosi kok duduk di pojok sendirian?” sapa ibu berbaju gamis tersebut sesaat menghentikan motornya di depan sekolah. Ibu itu berusaha menurunkan anak lekakinya lalu diikuti dia yang menuruni motor matic tersebut. “Iya bu disini banyak angin” jawab Key memberi alasan sambil tersenyum kecil. Ibu tersebut kemudian mengantar anak lelakinya untuk masuk ke kelas yang sama dengan Rosi. Kemudian dia menghampiri Key dan duduk tepat di tempat kosong yang berada di sebelah Key. “Mamanya Rosi, ini saya bawa kue sama teh buat sarapan. Belum sarapan kan? Yuk dimakan gak usah malu-malu” disodorkan sebuah kotak makan berisi kue-kue basah dan dituangkan teh hangat di tutup termos yang dibawa oleh ibunya Deriz tersebut. Key berusaha menolaknya karena tak enak hati namun ibunya Deriz tetap terus memaksanya. Akhirnya Key kalah lagi. Tadi sudah kalah dengan Rosi kali ini kalah dari ibu temannya. Ibu ini sepertinya tidak memandang Key dengan sebelah mata seperti ibu-ibu yang lainnya. Dia bercerita panjang lebar tentang asal usulnya. Juga tentang Deriz yang ternyata adalah keponakannya, bukan anak kandungnya. Walau hanya berbincang berdua saja tapi dia bisa membuat suasana menjadi heboh sampai sesekali orang tua lainnya melirik ke arah mereka berdua. Namanya ibu Rita. Ibunda angkat dari Deriz, teman sekolah Rosi. Dia adalah istri dari seorang pengusaha ayam potong. Dia mempunyai 2 anak perempuan, anak pertama sudah bekerja dan yang satu lagi masih kuliah semester 2. Karena dia tidak mempunya anak lelaki maka dia mengasuh keponakannya yang sedari lahir sudah ditinggal oleh ibunya. “Gitu loh neng. Si Deriz itu emang udah dari bayi badannya gede gitu. Makannya juga ya udah kalah porsi saya hahaha. Terus ya neng bla bla bla…” ibu Rita terus saja mengoceh. Aku lebih banyak tersenyum untuk merespon obrolannya. Dan entah sejak kapan dia memanggilku dengan sebutan ‘Neng’. “Nah kalo kamu neng kerja apa? Rosi bilang kamu kerjanya malam, emang kerja apa?” pertanyaan tersebut sedikit membuat Key terkejut. Dia bingung harus menjawab apa. Raut wajah Key menjadi kebingungan. Posisi duduknya juga tiba-tiba menjadi tidak nyaman sehingga membuat Key harus membenarkannya. Padahal sedari tadi Key sudah sangat nyaman dengan posisi duduknya itu. Dengan sedikit gugup Key menjawab pertanyaan ibu Rita. “Saya kerja di restoran bu, buka 24 jam” itulah jawaban yang bisa diberikan oleh Key. Hal yang sangat tak mungkin jika Key berkata dia adalah kupu-kupu malam. Bekerja melayani para lelaki hidung belang di sebuah klub malam. Yang ada, ibu Rita ini akan menjauhi Key. Lebih parah lagi jika nanti Rosi juga dijauhi oleh teman-temannya karena para ibu melarang anaknya bermain dengan Rosi. Key tidak mau hal itu terjadi. “Restoran mana neng? Kalau ada info lowongan boleh ya kasih tau saya. Apalagi kalau bisa freelance boleh tuh buat anak saya yang masih kuliah biar sambilan” respon yang diberikan ibu Rita sangatlah ramah. Tidak terlihat sedikit kecurigaan sama sekali dari raut wajah ibu Rita. “Nanti kalau emang ada lowongan saya kabari ya bu” aku jadi bohong deh. Pikir Key dalam hati. Lagipula tidak mungkin juga Key mengatakan hal yang sejujurnya, di depan sekolahan Rosi pula. Tak terasa mengobrol dengan ibu Rita ini bisa menghabiskan waktu yang lama. Ini sudah jam pulang sekolah Rosi dan Deriz. Ibu Rita mengantarkan Key dan Rosi terlebih dahulu untuk pulang. Barulah kemudian dia pulang bersama anaknya. Key hanya bisa berharap jika ibu Rita bukanlah wanita bermuka dua. Baik di depan tetapi bebeda di belakang. Karena di dalam hati Key, dia merasakan sedikit kenyamanan jika bersama dengan ibu Rita ini. Mungkin karena Key jauh dari ibunya jadi secara tidak langsung Key memandang ibu Rita seperti ibunya.   ***   Jam di ponsel Key sudah menunjukkan jam 11 malam. Sudah waktunya Key pergi untuk bekerja. Malam ini Key mengenakan baju terusan pendek lengan buntung berwarna merah dengan rempel di bagian bawahnya. Rambut panjangnya dikuncir satu seperti ekor kuda. Lipstick warna merah bata di bibirnya melengkapi kecantikkan Key. Sambil mengelus rambut Rosi yang sedang tertidur, Key tersenyum. Rasa bersalah terlihat dari raut wajah Key. “Rosi sayang, maafin mama ya. Mama janji suatu saat mama bakal berhenti dari pekerjaan kayak gini” bisik Key pelan tak ingin suaranya membangunkan Rosi. Dikecupnya kening Rosi dengan lembut sebelum meninggalkannya. Key berjalan keluar kamar lalu menutup pintu rapat dengan perlahan. Kemudian Key melangkahkan kakinya pergi menuju ke tempat dimana dia mencari nafkah, tempat yang penuh dosa.   ***   Penampilan Key malam ini benar-benar dapat menarik perhatian semua lelaki. Bahkan para perempuan yang seprofesi dengan Key pun tak dapat memalingkan pandangan mereka kearahnya. Key berjalan dengan sangat anggun melewati beberapa meja yang sudah terisi dengan pasangan bukan suami istri. Lelaki hidung belang yang ada disana langsung menoleh pada Key, melemparkan tatapan genitnya yang di balas dengan kedipan oleh Key. Key masuk ke dalam sebuah ruangan kecil yang berada di pojokan. Ada beberapa wanita yang berpenampilan sama menariknya dengan Key sedang berbincang-bincang. Satu di antara mereka sedang asik menghitung lembaran-lembaran uang yang bertumpuk di atas meja kecil di hadapannya. “Key malam ini kamu temenin orang yang duduk di meja nomor 10 itu” kata seorang wanita yang sepertinya adalah bos dari para gadis malam di klub tersebut. “Yang mana mami? Itu yang lagi main hp ya?” Key menunjukkan jarinya ke luar jendela yang cukup besar yang menjadi pembatas antara ruangan kecil tersebut dengan ruangan klub yang ada di sebelahnya. Terlihat sosok lelaki yang duduk sendirian sambil serius bermain dengan ponselnya di meja nomor 10 yang dikatakan oleh bosnya Key. “Iya yang itu. Gih sana kamu buruan kesana!” perintah wanita yang dipanggil mami itu. Key menurutinya dan segera berjalan menuju ke meja nomor 10. Key berdiri di samping meja untuk meminta perhatian si lelaki muda itu. Namun tetap lelaki itu terus fokus pada ponselnya. “Hai serius amat sih sama hp nya sampai aku diri disini dicuekin” sapa Key dengan manja dan dilanjutkan duduk disamping lelaki tersebut. Tahu jika wanita yang dipesannya sudah duduk disampingnya, lelaki itu menghentikan kegiatannya dan melirik wajah Key yang cantik. “Kamu Key?” tanya si lelaki muda dan tampan itu. “Iya mas” jawab Key dengan nada manja. “Saya Irwan, salam kenal” lelaki ini sedikit kaku memberikan salamnya pada Key sambil mengulurkan tangannya seolah ingin berjabat tangan. Key tersenyum simpul sambil menerima jabatan tangan si lelaki bernama Irwan itu. “Kamu belum pesen minum mas? Aku pesenin ya” “Boleh, pesenin saya minuman bersoda aja. Saya mau ngerokok” “Cuma itu? Gak mau minuman yang bisa bikin melayang gitu?” “Melayang maksudnya? Bisa terbang gitu?” tanya Irwan dengan nadanya yang polos membuat Key tertawa. “Kamu bisa ngelucu juga ya mas. Yakin nih ya cuma minuman bersoda aja. Gak mau vodka gitu?” “Oh maksudnya bikin melayang tuh bikin mabok? Enggak usah, aku minuman bersoda aja. Kalau kamu sih terserah mau minum apa nanti bill nya saya yang bayar” Unik juga lelaki ini. Sepertinya baru pertama kali ke klub malam. Aku udah seksi gini juga dia masih aja gak melotot ngeliatnya. Cuma minum minuman bersoda lagi. Kalau dilihat sih masih muda banget. Mungkin seumuran sama aku, atau bahkan lebih muda. Anak orang kaya nih, kulitnya bersih banget gitu. Cara berpakaiannya juga oke banget. Kemeja flannel lengannya digulung dan bawahnya pakai levis biru dongker. Oke juga nih cowok. Key bermain-main dengan pemikirannya sendiri menebak-nebak tentang Irwan. Irwan memang terlihat tampan mengenakan kemeja seperti itu. Walaupun rokok sekarang berada di ujung bibirnya, namun hal itu tak sedikitpun melunturkan ketampanannya. “Nah mas pesenannya udah datang nih. 1 pitcher aku pesen buat kita berdua” key menuangkan minuman yang dipesan tadi ke gelas mereka. “Kamu gak jadi vodka?” tanya Irwan. “Enggak, kan biar bareng-bareng. Nih minum dulu mas. Udah lama kan nungguin aku tadi pasti udah haus” disodorkan gelas yang sudah terisi minuman bersoda ke hadapan Irwan. “Key, saya tahu kamu dari orang sekantor” “Temen kantornya suka kesini juga emangnya mas? Udah punya istri belum temennya itu?” “Bukan teman, kan tadi saya bilang orang sekantor gak berarti teman saya” Key mengangkat kedua alisnya saat mendengar Irwan mengatakan hal seperti tadi dengan nada suara yang datar. Tatapannya juga ikut datar seperti suaranya. “Hahaha kamu lucu juga ya mas” Key tertawa kecil lalu menenggak gelas yang berisi minuman bersoda miliknya. “Ternyata benar kata dia, di klub sini ada gadis malam yang cantik banget namanya Key. Saya penasaran aja makanya saya agak maksa tadi pas ditawari cewek yang lain saya gak mau saya maunya yang namanya Key” “Sampai segitunya kamu mas penasaran sama aku, yang lain juga cantik kok gak cuma aku aja” Mereka melanjutkan bincang-bincang mereka tanpa beranjak sedikitpun dari meja mereka. Tak ada niatan Irwan untuk membawa Key ke hotel. Dia hanya meminta untuk ditemani mengobrol dan merokok. Ya, hanya itu saja. “Key, boleh saya minta no hp kamu? Jadi sewaktu-waktu saya butuh teman ngobrol saya hubungi kamu” dikeluarkan ponsel dari saku celana Irwan untuk menyimpan nomor Key. Tentu saja Key memberikan nomor ponselnya tanpa ragu toh memang banyak juga pelanggan Key yang langsung menghubunginya tanpa perlu datang ke klub. Namun disini Key belum tahu jika akan ada cerita yang lain di antara dirinya dengan Irwan di kemudian hari nanti.             ***   “Yakin kamu cuma saya antar sampai sini aja? Gak mau saya antar sampai depan rumah?” Irwan menghentikan mobilnya di ujung jalan. Hari sudah hampir subuh dan Irwan berinisiatif mengantar Key pulang. Awalnya Key menolak karena dia baru mengenal Irwan, namun karena terlalu asik mengobrol sehingga dia lupa waktu dan harus pulang dengan terburu-buru. Ada Rosi yang sedang menunggunya. Begitulah pikir Key. “Iya mas gak apa-apa disini aja. Gak enak juga kalau sampai depan kosan nanti ada orang yang lihat terus ngomong macam-macam” Key menolak dengan halus. Irwan tak bisa memaksa dan dia membukakan kunci pintu mobilnya. Key turun dari mobil Irwan dan segera menyusuri jalan ke arah tempat kos nya. Irwan memperhatikan Key dari dalam mobilnya. “Saya jatuh cinta sama kamu” ucap Irwan pada Key yang sudah tidak terlihat lagi sosoknya. Irwan menginjakkan gas dan mengendarai mobilnya berlalu dari tempat tersebut. Key sampai di kamar kos nya. Dia melihat Rosi yang masih tertidur dengan tenang. Entahlah apa Rosi terbangun saat dia tidak ada atau memang Rosi tidur dengan nyenyaknya. Key hanya bisa mengira-ngira. Tanpa sadar jatuhlah bulir air mata membasahi wajah Key. Sedih hatinya setiap kali harus memikirkan nasib dirinya dan juga buah hatinya itu. Apa mungkin sebaiknya Rosi dia titipkan pada ibunya yang tinggal di kampung saja? Jadi Rosi tak akan merasa kesepian di setiap malam karena ada nenek yang akan menemaninya. Key membaringkan tubuhnya disebelah Rosi tanpa mengganti baju dan menghapus makeupnya. Dipeluknya tubuh kecil Rosi dan diciumi keningnya. Key membisikkan sesuatu di telinga Rosi. “Maafin mama ya sayang”.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD