Kupu-Kupu 5

1845 Words
“Hai Keysha lama gak ketemu!” sapa lelaki tersebut. Tercetak senyuman di wajah tampan lelaki itu. “Keysha, dia anak kamu? Udah besar ya..” lanjut lelaki tersebut sambil mengayunkan tangannya seolah ingin mengelus kepala Rosi yang kemudian ditepis secepat kilat oleh Key. “Rosi gak pernah punya ayah kayak kamu! Kemana kamu waktu aku pergi karena orang tua kamu ngusir aku? Kemana kamu waktu aku sengsara karena kamu? Kemana kamu waktu aku ngelahirin Rosi?” “Mamaa kenapa sih ma? Mama kok marah-marah gitu ma? Rosi takut ma” “Maafin mama yaa Rosi, kamu jadi ketakutan kayak gini.. Mama janji kejadian kayak gini gak bakal terjadi lagi” sambil memeluk putri tercintanya Key juga menepuk-nepuk pelan punggung Rosi untuk meredakan kesedihannya.   ***   “Aku namanya Deriz, punya banyak teman-teman.. Ada yang namanya Rosi, ada yang namanya …” Pagi ini terdengar para murid di sekolah Rosi semuanya sedang bersemangat. Mereka memulai absen pagi mereka dengan bernyanyi bersama. Kejadian kemarin membuat Rosi benar-benar ketakutan. Rosi menangis sepanjang perjalanan pulang. Sesekali Rosi juga bertanya apa benar kalau lelaki kemarin itu adalah ayahnya. Key tak ingin menjawabnya, dia hanya memeluk Rosi sambil menciumi kepala Rosi dengan perasaan yang tidak karuan. Antara rasa bersalah dan juga rasa takut. Key masih tidak ingin membayangkan jika Rosi harus marah pada dirinya karena menyembunyikan fakta bahwa ayah kandungnya masih hidup. Key memang tidak pernah mengatakan jika ayah kandung Rosi sudah tiada, tetapi Key tidak pernah bercerita sedikit pun tentang ayah kandungnya. Key terlalu menyayangi Rosi sehingga dirinya harus menutupi semua itu demi kebahagiaan Rosi. Begitulah yang ada di pikiran Key. Sepertinya Rosi juga sudah tidak ketakutan lagi sekarang. Dia belajar dengan penuh semangat dan terlihat tawa sudah tercetak di wajahnya. Key merasa sedikit lega karena hal tersebut. Key menunggu Rosi di depan kelasnya seperti biasa. Begitu juga dengan ibu-ibu lainnya. Namun Key tetap tak ingin membaur dengan mereka. Key tahu betul bahwa sesekali mereka melirik ke arah Key dan memulai ghibah mereka. Key tak perduli. Toh, dia juga sudah terbiasa dijadikan bahan perbincangan orang lain. Namun berbeda dengan ibunya Deriz, dia selalu menghampiri Key sambil sesekali menawari makanan yang dia bawa. Key bertanya padanya kenapa dia sangat rajin membawa lauk ke sekolah. Ibu Rita, ibunya Deriz, menjawab jika dia sangat suka memasak namun orang-orang di rumahnya tidak hobi makan, jadi daripada mubazir terbuang lebih baik di bawa ke sekolah untuk dimakan bersama ibu-ibu lainnya sembari menunggu anak-anak belajar. Sudah sekitar 2 jam Key menunggu Rosi di depan kelasnya. Key tak beranjak sedikitpun walau hanya untuk ke toilet. Perasaan Key masih khawatir, takut Ardi akan muncul tiba-tiba. Entah dia mendapat keyakinan seperti itu dari mana. Key hanya ingin memastikan jika buah hatinya baik-baik saja. Anak-anak di kelas Rosi sudah mulai berlarian keluar. Key langsung bangkit dari kursinya dan mendekati pintu kelas. Dilihatnya Rosi yang sedang mengambil tasnya. Key melambaikan tangannya pada Rosi saat mata Rosi melihat ke arahnya. Rosi langsung berlari keluar menghampiri mamanya itu.   ***   Key melihat sebuah mobil kijang berwarna hitam terparkir di pinggir jalan di depan rumah kos nya. Key tak pernah melihat plat mobil tersebut sebelumnya. Insting Key sedikit berkata jika itu mobil Ardi. Dan benar saja, melihat Key dan Rosi yang semakin mendekat tiba-tiba pintu mobil tersebut terbuka. Ardi! Itu Ardi! “Keysha, aku mau ngobrol sebentar boleh ya” pinta Ardi pada Key. Melihat Ardi, Rosi langsung memegang lengan Key dengan erat. Key menggiring Rosi ke balik badannya seakan takut Ardi akan mengambil Rosi. “Mau ngobrol apa? Disini aja” jawab Key. “Dia itu anak aku kan?” tanya Ardi sambil mengarahkan matanya pada Rosi yang berada di belakang Key. Key terdiam sejenak. Tak ingin dia mengakui bahwa Ardi adalah ayah kandung dari Rosi. Mengingat kejadian di masa lampau yang sangat menyakitkan untuk Key, tak semudah itu Key mengakui Ardi adalah ayah kandung dari Rosi. Rosi yang berdiri di belakang Key kemudian memunculkan wajahnya mengintip ke arah Ardi. Key melihat wajah Rosi yang seolah merindukan sosok ayah yang tak pernah dimilikinya selama ini. Kali ini Key mengubur perasaan bencinya demi putri tercintanya. Key juga membuang semua ketakutan yang ada dalam dirinya tentang Rosi yang akan direbut oleh Ardi. Key membuang semua itu untuk sesaat demi melihat senyum di wajah Rosi. Key menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Ardi. Ardi pun tersenyum dengan tatapan mata yang berbinar. Semua itu terlihat tulus walaupun Key belum bisa memastikan ketulusan yang muncul dari Ardi saat ini. Ardi sedikit membungkukkan badannya lalu mengulurkan tangannya pada Rosi. “Halo cantik anak papa, sini sayang. Nama kamu Rosi ya? Sini nak ini papa kamu” suara Ardi sedikit bergetar untuk memanggil Rosi. Seperti memang Ardi juga merindukan keduanya. Rosi anak kandungnya dan juga Key mantan istri sirinya. Rosi hanya diam terpaku. Key dengan berat hati menarik lengan Rosi menggiring Rosi untuk menerima uluran tangan Ardi. Rosi pun mengikuti arahan Key. Dijabat tangan Ardi, sang ayah yang tak pernah dia lihat sebelumnya. Kemudian Ardi menarik Rosi ke dalam pelukannya. “Rosi sayang, maafin papa ya nak. Papa gak pernah ketemu sama Rosi. Rosi jangan benci sama papa ya nak” Ardi meminta maaf pada anaknya sambil menitihkan air mata. Key masih tidak bisa memastikan air mata yang menetes itu air mata karena penyesalannya, kebahagiaannya, atau hanya kepalsuannya. Akan tetapi, Key melihat itu semua dan hanya bisa menahan tangisnya. Key seolah flashback ke masa dimana dia harus berjuang seorang diri membesarkan anaknya tanpa seorang suami. Namun kini lelaki yang pernah menghancurkan hati Key berkeping-keping muncul di hadapannya sedang memeluk buah hati mereka. Tak pernah terbesit sedikitpun di benak Key kalau Ardi akan muncul lagi dihadapannya. “Keysha, aku mau ajak Rosi jalan-jalan ya. Sekalian mampir ke rumah sebentar” pinta Ardi. Dia tetap menempatkan Rosi dalam pelukannya sehingga Key sulit untuk menggapai tangan Rosi. “Enggak! Gak boleh” dengan tegas Key menolaknya. “Please Keysha hari ini aja.. Rosi kan juga anak aku. Aku janji gak bakal lama” pinta Ardi mulai memohon. “Enggak Ardi! Udah cukup kamu jangan ganggu hidup aku lagi. Sekarang kembaliin Rosi sama aku!” Direbutnya Rosi dari pelukan Ardi. Namun tak disangka Rosi menolak Key dan tetap memeluk erat Ardi. Hal tersebut membuat hati Key terasa sakit. Sakit karena untuk pertama kalinya Rosi menolaknya. Sepertinya Rosi memang sudah sangat merindukan ayahnya. Key tak ingin melihat Rosi bersedih. Akhirnya Key mengalah dan dengan sangat berat hati Key membiarkan Ardi membawa Rosi. “Keysha, kalau kamu mau mampir juga gak apa-apa. Rumahku masih di alamat yang sama. Ini satu lagi, kartu nama aku, ada no handphone aku disitu” disodorkannya selembar kartu nama pada Key. Setelah menerima kartu nama tersebut, Key hanya dapat menyaksikan Rosi dan Ardi pergi dari hadapannya. Setelah melihat mobil Ardi semakin menjauh, Key berkata dengan nada lirih, “Rosi, apa suatu saat nanti kamu juga akan tinggalin mama?”. Tatapan Key menunjukkan kesedihan. Dia tidak akan sanggup jika Rosi juga harus meninggalkannya seorang diri, seperti Ardi meninggalkannya dulu.   ***   Mobil Ardi melewati gerbang sebuah rumah. Rumah tersebut terbilang cukup besar dengan terparkir sebuah mobil lainnya dan juga sebuah motor sport di garasi. Ardi memarkirnya si kijang hitamnya di halaman rumahnya. Ardi turun terlebih dahulu dari mobil, kemudian dia membukakan pintu mobil untuk Rosi yang duduk di kursi depan sebelah kursi kemudi. Rosi sedikit takjub melihat rumah papanya yang cukup besar. Ardi menuntun Rosi untuk masuk ke dalam rumah. Dengan senang Rosi melangkahkan kakinya memasuki rumah Ardi. Tak lupa digandengnya erat tangan sang papa seolah tidak ingin kehilangan. “Nahh Rosi kamu mau makan apa? Mau minum apa? Mau pesen pizza?” Ardi menghujani Rosi dengan berbagai pertanyaan. Ardi terlihat sangat antusias dengan kedatangan Rosi di rumahnya. Saat sedang menanyai Rosi, terlihat seorang wanita cantik mengenakan kaos oblong berwarna putih dan celana kulot berwarna biru dongker menghampiri Ardi dan Rosi. “Mas, udah pulang? Loh ini anak siapa mas?” tanya wanita tersebut pada Ardi. Dipandangnya Rosi dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Ah Mona, sini deh kenalan dulu sama Rosi” tanpa ragu Ardi mengenalkan Rosi pada Mona, istrinya yang sekarang. Mona sedikit bingung dengan Ardi. Mengapa dia membawa seorang anak perempuan ke rumah mereka. “Halo tante, aku Rosi” dikecupnya punggung tangan Mona tanda hormat. Rosi sangat tahu sopan santun, Key mengajarinya dengan baik untuk hal ini. “Rosi, kamu mau nunggu pizzanya di dalam gak? Di dalam sana ada kolam ikan, kamu bisa kasih makan ikan di sana” “Yauda pa, aku lihat ikan dulu ya.. Boleh kan pa?” jawab Rosi dengan antusias. Tentu saja antusias karena di tempat tinggalnya dengan Key tidak ada kolam ikan. Mereka hanya tinggal di rumah kos. Tidak leluasa untuk memelihara binatang peliharaan walau hanya sekedar ikan hias di dalam aquarium kecil. Wajah Mona semakin kebingungan mendengar Rosi memanggil suaminya itu dengan panggilan papa. Ardi seperti tak memperdulikan Mona. Ardi menuntun Rosi ke dalam menuju kolam ikan, kemudian Ardi hadir kembali menemui istrinya. “Mas, itu anak siapa sih? kok manggil kamu papa?” tanya Mona. “Itu anak aku. Anak dari istri aku sebelumnya” jawab Ardi tanpa basa-basi. Mata mona langsung terbelalak. Sedikit terlihat kemarahan dari paras cantik itu. Namun Ardi bersikap tak perduli. Dia langsung mengambil ponsel dari dalam saku celananya dan memesan pizza yang dia janjikan pada Rosi. “Tante tante sini lihat deh!” teriak Rosi memanggil Mona. Mona menarik nafas panjang untuk memendam amarahnya lalu menghampiri Rosi. “Tante itu ikannya kok ada banyak banget? Aku gak punya ikan di rumah. Boleh gak minta satu tan? Dibungkus plastik aja” keluguan Rosi membuat Mona tersenyum. Mona duduk di pinggir kolam dan meminta Rosi duduk di sampingnya. “Nama kamu siapa cantik?” “Rosi tante. Boleh kan ya tan aku minta ikannya satu.” “Boleh kok Rosi cantik, mau dibawa semua juga boleh” Mona membelai lembut kepala Rosi. Melihat wajah Rosi yang sangat gembira membuat Mona ikut merasakan kegembiraannya. Pernikahan Ardi dan Mona sudah berjalan hampir 4 tahun namun keduanya belum juga dikaruniai seorang anak. Mona awalnya merasa marah melihat Ardi pulang dengan membawa anak dari istri masa lalunya. Mona bukan marah pada Rosi, namun pikirannya bergerilya seolah mencari tahu kapan suaminya itu bertemu kembali dengan wanita masa lalunya. Apakah Ardi dan mantan istrinya itu juga sering bertemu secara diam-diam? Perasaan yang tak karuan tersebut hilang saat Rosi memanggilnya barusan. Mona sangat menginginkan seorang anak perempuan. Melihat Rosi yang lugu membuat Mona juga sedikit ingin menganggap Rosi sebagai anaknya. Mona sudah jatuh cinta pada Rosi. Senja pun tiba. Sudah waktunya Ardi harus mengembalikan Rosi pada Key. Dalam hati terdalam Ardi dia ingin Rosi tinggal untuk sementara bersamanya, namun dia sangat mengerti Key pasti akan sangat marah dan mendatanginya. Baru juga Ardi meminta Rosi untuk bersiap pulang, terdengar seseorang memencet bel rumahnya. Dilihatnya Key yang sudah berdiri di depan pagar rumahnya. Berkat kartu nama yang diberikan Ardi tadi kini Key sudah tiba di kediamannya. “Ya ampun Keysha kan aku udah bilang nanti aku anterin Rosi pulang” sambut Ardi yang berjalan menghampiri Key di depan pagar. “Rosinya mana? Gak usah kamu antar biar aku sama Rosi naik taksi online aja” “Mau masuk dulu gak? Rosi lagi ganti baju di dalam” “Gak usah deh aku nunggu disini aja. Bilang Rosi cepetan ya!” “Iya iyaa Keysha..” Ardi kembali masuk ke dalam dan meninggalkan Key menunggu di depan pagar rumahnya. Key melihat ke sekeliling rumah Ardi. Sudah 6 tahun tapi rumah Ardi masih tak berubah seperti sebelumnya. Kembali Key mengingat masa lalu yang menyakitkan itu saat orang tua Ardi menolaknya. Key menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran itu. Setelah menunggu sekitar 10 menit akhirnya Ardi pun muncul bersama Rosi. Melihat mamanya sudah berdiri di depan pagar langsung saja Rosi berlari ke arah mamanya itu dan memeluknya. Key melihat seorang wanita yang berdiri di pintu rumah Ardi memperhatikan mereka. Key langsung bisa menebak jika wanita itu adalah istrinya Ardi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD