Sabar yaa sayang, maafin mama gak bisa jadi yang baik buat kamu.
Hati mama sebenarnya menangis dengan profesi ini,
Tapi mau bagaimana lagi?
Mama gak mungkin tega membiarkan kamu hidup dalam kesulitan.
Sabar sebentar lagi yaa sayang,
Mama janji, suatu saat nanti mama akan jadi mama terbaik di dunia ini.
Ya, suatu saat nanti..
***
Drrrttt… Drrrttt.. suara ponsel Key berbunyi kencang. Key segera meraih ponsel yang diletakkan di samping ranjangnya. Dengan mata setengah terbuka dia melihat layar ponselnya ingin mengetahui siapa yang meneleponnya pagi-pagi. Ardi. Ngapain juga dia menelepon Key pagi-pagi seperti ini.
Memang setelah Rosi diajak ke rumahnya Ardi sesekali mengirim pesan pada Key menanyakan tentang Rosi. Tentang keadaannya, sekolahnya, dan juga hanya sekedar basa basi menanyakan apakan Rosi sudah makan apa belum. Namun tak pernah sekalipun Ardi meneleponnya. Baru kali ini Ardi menelepon Key lagi setelah sekian lama.
Dengan mata yang masih mengantuk Key menerima panggilan telepon tersebut.
“Halo” suara Key terdengar seperti mewakilinya menunjukkan jika dia baru terbangun dari tidurnya.
“Keysha, kamu baru bangun?” suara Ardi terdengar sangat bersemangat saat Key menerima panggilan teleponnya.
“Kamu ada perlu apa telepon pagi-pagi gini? Gak tau apa aku masih ngantuk banget gini” ucap Key ketus.
“Ya ampun Keysha masih pagi udah marah-marah aja sih! cepet tua nanti kamu” jawab Ardi usil. Ardi merindukan candaan seperti ini saat dia masih menjadi sepasang suami istri dengan Key. Namun yang dibercandakan di seberang telepon sana tidak merespon sama sekali. Cuek.
“Keysha, si cantik udah bangun belum? Aku mau ajak dia main ke rumahku lagi” kini Ardi mencoba menanyakan tentang Rosi, putri kandung dari pernikahan siri dengan Key beberapa tahun yang lalu.
“Ngapain sih kamu ngajak Rosi ke rumah kamu lagi? Jangan keseringan deh!” kembali Key menanggapi Ardi dengan ketus.
“Emangnya kenapa? Kan aku papanya Rosi jadi aku juga punya hak yang sama dong untuk nyenengin Rosi” Ardi tidak mau kalah kali ini, dia merasa jika dia juga mempunyai hak pada Rosi mengingat dia adalah ayah kandungnya.
“Enggak deh enggak” Key langsung menolak tanpa berbasa-basi.
Namun seorang Ardi tak akan langsung menyerah begitu saja. Dia akan tetap memaksa Key untuk memperbolehkannya bertemu dengan Rosi, darah dagingnya tersebut.
“Keysha, aku janji aku gak bakal ngapa-ngapain Rosi. Cuma mau ajak dia main aja kok. Dia seneng banget main sama ikan di kolam yang ada di rumah. Percaya deh” Ardi melontarkan kalimat tersebut berusaha untuk meyakinkan Key jika dia tidak ada niatan lainnya. Dia hanya ingin bertemu dengan Rosi, dia merindukannya.
“Enggak Ardi! Udah cukup yaa ngajak-ngajak Rosi ke tempat kamu. Lagipula emang gak kasihan sama istri kamu? Nanti dia ngomong apa kamu bawa-bawa anak dari mantan pacar kamu” Key tetap bersikukuh tidak mengizinkan Ardi mengajak Rosi.
“Kok mantan pacar sih Keysha? Maksud kamu mantan istri kali? Kan kita sudah pernah nikah”
“Huuff..” Key menghela nafas sesaat sebelum menjawab pertanyaan Ardi. “Mantan istri? Iya sih.. kita juga pernah nikah, tapi kan cuma nikah siri”
“Serius deh Keysha aku cuma mau ketemu anakku aja kok. Aku kan kangen sama dia. Lagian …” tuutt.. tuutt.. tuutt.. tuutt.. belum juga Ardi menyelesaikan kalimatnya Key sudah menutup panggilannya. Ardi menggaruk kepalanya sambil menggerutu. Sepertinya ada maksud lain dibalik keinginan Ardi bertemu dengan Rosi. Ya, Ardi ingin mendekati Key kembali melalui Rosi.
Ardi adalah seorang anak tunggal. Ayahnya adalah pemilik salah satu perusahaan cabang yang bergerak di bidang IT. Ibunya adalah pemilik sebuah toko roti yang saat ini sudah mulai berkembang. Bisa dibilang keluarga Ardi adalah keluarga yang mapan. Ardi sendiri saat ini sudah mulai dipercaya oleh sang ayah untuk turut mengurus perusahaan milik ayahnya itu.
Oleh karena itu dulu hubungan Ardi dan Key sangat ditentang oleh orang tuanya. Bagaimana tidak, Key hanyalah gadis kampung berpendidikan rendah. Dia juga mengenal Ardi secara kebetulan saja saat Ardi sedang berlibur di villa yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Mereka sering bertemu dan akhirnya saling jatuh cinta. Saat itu Ardi masih menjadi seorang mahasiswa di salah satu universitas ternama di Jakarta, dan Key sudah tidak bersekolah lagi karena harus membantu ibunya bekerja. Key adalah seorang anak yatim.
Yang membuat Ardi jatuh cinta adalah sikap Key yang sangat santun, juga cara berpakaiannya yang sangat sopan. Mungkin karena Key besar di daerah perkampungan yang masih sedikit jauh dari kota, jadi dia tidak teracuni oleh fashion yang kekurangan bahan saat itu.
Ardi juga ingin menebus kesalahan terbesarnya pada Key. Meninggalkan Key yang sedang hamil anaknya saat itu. Ardi sadar saat itu usianya masihlah sangat muda dan belum benar-benar memahami tanggung jawabnya. Bukan dia tidak mau menikahi Key, namun dia masih belum bisa bersikap berani menghadapi orang tuanya sendiri, dia masih takut jika nantinya dia tak akan menerima sepeser warisan pun dari orang tuanya. Oleh karena itu Ardi hanya bisa terdiam saat Key diusir pergi.
***
“Key, kita ketemu ya di hotel dekat klub kamu”
“Oke deh. Aku siap-siap kesana ya”
Key menerima sebuah tawaran dari pelanggannya untuk bertemu di sebuah hotel yang letaknya berada tak jauh dari klub tempat Key bekerja. Dengan segera Key menuju ke tempat yang sudah ditentukan itu. Namun kali ini Key merasa mood nya sangat bagus untuk melayani pelanggannya. Ada yang berbeda dengan pelanggan Key yang satu ini.
Dan disinilah mereka berada, di dalam sebuah ruangan dengan hanya tersedia satu tempat tidur saja. Seperti biasa penampilan Key sangatlah menggoda. Dress mini dan wajah yang dipoles make up membuat Key terlihat sangat sensual.
“Kamu tadi ke sini naik apa?” tanya Irwan sambil membuka sebotol air mineral untuk diberikan pada Key.
“Aku kesini naik taxi biasa, kalau naik yang online takut nanti kamu nunggu makin lama” jawab Key.
“Mas, tumben kamu langsung telepon aku nyuruh kesini? Gak dateng ke klub dulu?” lanjut Key bertanya pada Irwan.
“Ramai disana, saya lagi pengen suasana yang tenang saja. Kalau kamu gak mau disini kita bisa cari tempat yang lainnya” jawab Irwan santai.
“Gak apa-apa kok dimana aja bebas aku mas. Kan memang udah kerjaan aku buat nemenin dan men-service para pelanggan aku” Key menjawab dengan menatap wajah Irwan dengan tatapan yang menggoda.
Pelanggan yang tadi meminta untuk bertemu di hotel adalah Irwan. Mungkin karena itu Key juga dengan senang hati langsung menghampiri Irwan. Karena menurut Key, Irwan berbeda dengan pelanggan-pelanggannya yang lain.
Irwan segera melepaskan kancing kemejanya satu per satu. Dibukanya kemeja yang menempel di tubuhnya tersebut. Kini terlihat jelas tubuh bagian atas Irwan yang kekar dengan dadanya yang bidang. Apa ini artinya Irwan sudah ingin meminta Key untuk melayaninya?
Key berusaha mengikuti alur yang sudah mulai mengalir di dalam ruangan tersebut. Key melepaskan ikatan rambut yang menguncir rambut indahnya, kemudian berjalan perlahan dengan tatapan sensual ke arah Irwan yang sudah berdiri di samping ranjang. Entah apa yang dipikirkan Key, dia berusaha memulai permainannya malam ini. Tangan Key mulai menyentuh d**a bidang yangada di hadapannya kini, kemudian merambat ke arah tengkuk Irwan. Sedikit berjinjit Key berusaha melabuhkan ciumannya ke bibir Irwan yang hanya diam saja.
“Kamu mau ngapain?” spontan Key terkejut setelah tangan Irwan menutup mulutnya.
“Saya minta kamu kesini buat nemenin saya, gak buat memperkosa saya” ucap Irwan dengan santainya. Key melongo kebingungan. Emang kita gak mau macem-macem ya? ucap Key di dalam hatinya.
“Mas? Kamu kan ngajak aku ke hotel buat nemenin kamu kan? Ngelayanin kamu di ranjang?” tanya Key dengan sedikit bingung.
“Nemenin. Bukan melayani” Irwan menjawab dengan wajah datar. Key yang tadinya melongo kebingungan kini matanya ikut melotot kebingungan mendengar jawaban Irwan. Ini orang serius apa gimana sih? gak lagi bercanda kan ini? Malu dong gue udah nyosor duluan.
“Terus kamu buka kemeja itu kenapa mas? Aku kan jadi mikir kamu minta aku layanin di atas ranjang” tanya Key memastikan. Karena biasanya para pelanggan hidung belang Key selalu seperti itu. Membuka pakaian mereka tanda mereka ingin segera dilayani di atas ranjang.
“Ya saya mau ganti pakai kaos oblong aja, biar lebih nyaman. Itu kaosnya di dalam tas dekat tempat kamu duduk sebelumnya” dilirikkan matanya ke arah yang dimaksud.
Ya ampuunn malu banget sumpah. Kirain minta dilayanin. Anyway ini cowok masih waras kan? Masih normal kan? Ngeliat gue udah seksi gini masih gak mau ngapa-ngapain? Ehh nanti dia tetap ngasih fee kan? Kini Key mulai bermain sendiri dengan pikirannya. Masih tak bisa dia sangka ada seorang lelaki yang tak ingin berbuat aneh dengannya di hotel.
“Key, saya lagi jenuh. Mungkin mood saya bisa berubah kalau ngobrol sama kamu. Saya ajak kesini biar gak ramai aja. Kalau di klub kamu kan ramai, suara musik juga kencang, sudah pasti kalau kita bicara harus dengan nada kencang jadi saya gak mau”
“Ohh gitu mas, yauda kalau begitu” jadi ternyata itulah alasan Irwan mengajak Key untuk bertemu di hotel. Dia tidak ingin terganggu sama sekali. Key sudah salah paham pada Irwan. Kemudian Key berpikir kembali, bagaimana nasib fee yang akan diterimanya?
“Gak usah khawatir saya akan tetap kasih fee untuk kamu” ucap Irwan dengan nada datar. Wajah Key langsung memerah karena malu. Tak disangka Irwan seolah bisa membaca pikirannya yang tadi.
Irwan kini mengenakan kaos oblong lengan pendek berwarna abu-abu. Kemudian dia duduk di atas ranjang dengan menyandarkan tubuhnya di dinding. Irwan meminta Key untuk duduk di sampingnya. Irwan juga meminta Key untuk menceritakan alasan mengapa dirinya lebih memilih menjadi wanita malam. Irwan adalah orang dengan pemikiran terbuka. Dia yakin semua orang mempunyai alasan tersendiri mengapa harus mengambil keputusan yang bisa dibilang bukanlah yang baik di mata orang lain. Tanpa segan Key menceritakan kisahnya. Juga menceritakan tentang Rosi, buah hatinya. Di malam itu mereka hanya menghabiskan malam dengan bertukar cerita.
“Key, saya tidak bilang kalau keputusan yang kamu ambil ini benar. Tetapi saya cukup salut dengan diri kamu yang berjuang sendirian untuk menghidupi buah hati kamu.” Mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Irwan barusan membuat hati Key menghangat. Dia semakin yakin jika Irwan berbeda dengan orang-orang diluar sana yang hanya bisa memandang dirinya dengan sebelah mata.
“Tapi kamu juga tidak bisa terus melakukan pekerjaan seperti ini. Sebaiknya pelan-pelan kamu juga cari pekerjaan lain yang lebih baik dari ini” Key mengangguk pelan. Wajahnya tertunduk lesu. Dia memang akan mencari pekerjaan lain, tetapi tidak sekarang, mungkin nanti. Dia masih mencari info pekerjaan yang sesuai dengan dasar pendidikannya.
Tiba-tiba Irwan menepuk-nepuk kepala Key pelan kemudian membelainya. Irwan menyadari jika perjuangan Key sebagai seorang wanita yang membesarkan buah hatinya seorang diri itu sangatlah berat. Irwan belum bisa melakukan apa-apa saat ini. dia hanya bisa memberikan Key sedikit semangat.
Key mengangkat wajahnya yang tertunduk lesu tadi, dia menatap wajah Irwan yang berada di hadapannya. Wajah Irwan sangat tampan namun kaku. Irwan pun menatap lurus ke mata Key. Kemudian keduanya menyunggingkan senyum di wajah mereka. Sesuatu yang terasa hangat kini sudah menyelimuti hati Key. Sudah sangat lama Key tidak merasakan kehangatan di hatinya seperti saat ini.
Bagaimanakah kelanjutan hubungan antara Key dan Irwan? Apa mereka akan tetap menjadi seperti sekarang ini? Apa Irwan akan tetap menjadi sekedar pelanggan bagi Key?