Kupu-Kupu 8

1712 Words
“Keysha, aku janji aku gak bakal ngapa-ngapain Rosi. Cuma mau ajak dia main aja kok. Dia seneng banget main sama ikan di kolam yang ada di rumah. Percaya deh” Ardi melontarkan kalimat tersebut berusaha untuk meyakinkan Key jika dia tidak ada niatan lainnya. Dia hanya ingin bertemu dengan Rosi, dia merindukannya. Irwan segera melepaskan kancing kemejanya satu per satu. Dibukanya kemeja yang menempel di tubuhnya tersebut. Kini terlihat jelas tubuh bagian atas Irwan yang kekar dengan dadanya yang bidang. Apa ini artinya Irwan sudah ingin meminta Key untuk melayaninya? Bagaimanakah kelanjutan hubungan antara Key dan Irwan? Apa mereka akan tetap menjadi seperti sekarang ini? Apa Irwan akan tetap menjadi sekedar pelanggan bagi Key?   ***   Setelah malam terakhir yang mereka habiskan untuk bertukar cerita, kini Irwan dan Key menjadi lebih dekat. Kedekatan mereka sudah layaknya seorang teman. Mungkin juga bisa dibilang kedekatan mereka seperti sepasang anak muda yang sedang PDKT. Irwan sering mengajak Key untuk hanya sekedar makan siang. Mereka kini lebih sering bertemu di tempat terbuka seperti mal atau restaurant, tidak lagi bertemu di klub malam apalagi hotel. Pagi ini mobil Irwan sudah terparkir di depan kosan Key. Sebelumnya Irwan meminta izin pada Key untuk bisa mengantarkan Rosi ke sekolah. Awalnya Key menolak karena tidak ingin merepotkan, dan tidak ingin jadi bahan pembicaraan lagi tentunya. Tapi Irwan bisa meyakinkan Key jika tidak akan ada yang berbicara buruk terhadapnya dan Rosi, dan pada akhirnya Key pun mengizinkannya. Key dan Rosi sudah keluar dari pintu rumah kos mereka. Rosi terlihat sangat bersemangat hari ini. Dia mengenakan seragam sekolahnya dan menggendong tas yang sedikit agak besar untuk ukuran tubuhnya. Seperti biasa, seolah takut mamanya hilang Rosi menggandeng lengan mamanya dengan erat. Sesekali Key menjahilinya dengan melepaskan gandengannya namun kemudian Rosi berlagak ngambek agar Key kembali menggandengnya. Semua itu tak luput dari perhatian Irwan yang melihat mereka dari dalam mobil. Terlintas di benak Irwan jika Key sangatlah keibuan setelah melihat keakrabannya dengan sang anak. Key sangat berbeda ketika sedang menjalankan profesinya. Mulai sedikit tumbuh rasa yang lain di dalam hati Irwan. Irwan memutuskan untuk keluar dari dalam mobil untuk menyapa mereka. Key yang melihat Irwan menuruni mobilnya langsung mengarahkan Rosi untuk menghampirinya. “Rosi, yuk kenalan dulu sama teman mama” Key mengarahkan pandangannya ke arah Irwan yang sudah berdiri di samping mobil. “Itu siapa ma? Aku gak mau ah. Gak kenal” tolak Rosi sambil menarik tangan Key. Rosi memang tidak terbiasa dengan orang asing atau yang baru dikenalnya. Dia akan memilih bersembunyi jika ada orang asing yang ingin berkenalan dengannya. “Gak apa-apa sayang, sini yuk mama kenalin. Om nya baik kok” Key berusaha membujuk Rosi agar bersedia untuk berkenalan dengan Irwan. Rosi pun mengiyakan dan menuruti permintaan mamanya. Mereka kini menghampiri Irwan. Rosi yang masih takut dengan kehadiran orang yang baru dia kenal itu sedikit bersembunyi di balik tubuh sang mama sambil sesekali melirik ke Irwan. “Hai Key kita mau langsung berangkat?” tanya Irwan dengan nada datar. Pandangan mata Irwan langsung tertuju pada Rosi yang bersembunyi di balik tubuh mamanya. Kemudian Irwan menampilkan senyum di wajah tampannya itu. “Iya boleh mas. Hmm ini kenalin dulu anak aku, Rosi namanya. Maaf ya mas dia emang gini kalau sama orang yang baru dia kenal. Agak malu” Key menarik tangan Rosi perlahan menggiringnya untuk menunjukkan dirinya. “Gak usah malu. Ayo berangkat sekolah diantar sama om” bujuk Irwan sambil meraih tangan Rosi. Tanpa diduga Rosi tidak menolaknya. Dia menyambut tangan Irwan dan kemudian mengikuti Irwan masuk ke dalam mobil. Key sedikit takjub melihat pemandangan yang ada di depannya. Tidak biasanya Rosi langsung menerima kehadiran orang baru. Bahkan Rosi dan Irwan saling bergandengan layaknya seorang ayah dan anak. Jarak antara tempat tinggal Key dan Rosi ke sekolah tidak jauh. Cukup lumayan dekat. Hanya butuh waktu lima menit saja jika menggunakan motor atau mobil. Sesampainya di sekolah, Irwan tidak ikut turun dari mobilnya. Dia bilang dia harus segera pergi karena ada urusan dan berjanji untuk menjemput Key dan Rosi sepulang sekolah. Sesuai janjinya, sepulang sekolah Rosi dan Key dijemput kembali oleh Irwan. Key merasa tak enak hati. Sebenarnya bisa saja Key memesan taksi online untuk langsung pulang, tapi sepertinya Key juga ingin dijemput oleh Irwan. Ingin bertemu dengannya lagi. Jadi Key meminta Rosi untuk sabar menunggu sambil menikmati segelas s**u cokelat dingin yang dibeli di warkop dekat sekolahnya. Kini mereka bertiga sudah berada di dalam mobil dan Irwan langsung fokus mengemudikan mobilnya. Irwan tidak mengarahkan mobilnya ke arah tempat kos Key. Dia mengemudikan mobilnya dengan sedikit lebih cepat ke arah yang lainnya. Karena Irwan tak berkata apa-apa maka Key mulai bertanya kemana Irwan akan membawa mereka. “Mas, ini kita mau kemana? Kalo mau antar kami pulang itu tadi harusnya belok kanan mas bukan lurus. Apa mas lupa ya?” tanya Key pada Irwan karena mengira Irwan lupa arah pulang ke kosan. “Saya belum mau antar kalian pulang. Ikut saya sebentar” jawab Irwan singkat tanpa sedikitpun melihat ke arah Key yang duduk di kursi sebelahnya. Sikap Irwan ini memang sangat sulit di tebak. Dia bersikap semau pikirannya saja. Seringkali Key salah paham terhadap sikapnya tersebut. Sebut saja saat terakhir mereka di hotel, Key sudah main nyosor duluan saja padahal Irwan hanya mau mengganti pakaiannya. Mobil Irwan terus melaju menerobos jalanan Jakarta. Entah kenapa Jakarta hari ini terlihat sedikit lengang. Tidak banyak kendaraan seperti hari-hari kerja biasanya. Kini mobil Irwan berhenti di sebuah restoran pizza dan pasta. Jadi dia mau ajak makan siang ya? Atau cuma mau numpang toilet saja? Entahlah. Key tidak ingin berspekulasi terlebih dahulu. “Kita makan dulu ya, saya lapar dari pagi belum makan” pinta Irwan pada Key. “Oh gitu. Oke deh mas” jawab Key. Jadi benar jika Irwan mengajaknya untuk makan terlebih dahulu. Bukan hanya menumpang toilet saja. “Ma, kita mau kemana ma? kok mobilnya om berhenti disini?” tanya Rosi pada Key karena bingung Irwan tidak mengantarnya pulang. “Kita makan dulu sebentar ya sayang. Om nya udah lapar belum makan” ucapan Key dibalas anggukan oleh Rosi. Dan mereka bertiga melangkahkan kaki masuk ke restoran tersebut. Orang-orang yang melihatnya sudah pasti mengira jika Key dan Irwan adalah pasangan suami istri yang masih muda, lalu Rosi adalah anak mereka. Pelayan mengarahkan mereka menuju meja dengan kursi sofa sesuai permintaan Irwan. Dia ingin Key dan Rosi merasa nyaman. Irwan mulai memesankan makanan untuk Key dan Rosi, juga untuk dirinya. Irwan memesan sebuah pizza ukuran large dengan topping daging cincang, paprika dan keju. Kemudian Irwan juga memesan satu porsi spaghetti bologna ditambah satu porsi beef fettuccine. Untuk minumnya dia memesan 1 pitcher lemon tea. Rosi yang mendengar Irwan memesan makanan hanya terbengong karena sama sekali tak pernah mendengar nama-nama makanan tersebut. Mamanya biasa mengajaknya makan di restoran cepat saji yang menunya hanya ayam, kentang dan burger. Sekitar setengah jam menunggu akhirnya semua pesanan sudah tersedia di atas meja mereka. Mata Rosi mulai berbinar melihat semua makanan yang berjejer di atas meja. Aroma dari makanan tersebut membuat air liurnya tak tertahan lagi. Harum keju dari pizza mulai membuat perutnya ikut berbunyi. Rosi melirikkan matanya ke arah Irwan seolah bertanya apa dia sudah boleh memakan semuanya. Irwan yang seolah mengerti dengan tatapan Rosi langsung memberikan sepotong pizza ke piring Rosi untuk dimakan. Tanpa basa-basi langsung saja Rosi menyantap pizza yang ada di piringnya itu dengan lahap. Irwan tak melepaskan pandangannya dari bocah 6 tahun itu. Sikap Rosi yang polos seolah menyihir Irwan. Kini terlihat Irwan senyum-senyum sendiri melihat Rosi yang sangat lahap makan seakan takut kehabisan. Irwan juga sangat melayani Rosi dengan menuangkan minum untuknya atau sesekali menyuapinya. Sikap Irwan yang seperti ini baru pertama kali Key melihatnya. Sikap Irwan sangat kebapakan kali ini. Tidak terlihat aneh atau misterius lagi. Seketika hati Key terasa meggelitik. Tanpa disadari senyum Key sudah menghiasi wajahnya. Ya Tuhan, aku masih boleh meminta kan? Jika Kau mengizinkan aku, aku meminta lelaki ini untuk terus berada di sisi ku. Aku tahu aku tidaklah pantas untuk menjadi pendamping hidupnya, tapi boleh kan aku sedikit berharap dia tetap terus bersamaku? Karena kini aku melihat bidadari kecilku yang sangat bahagia bersamanya. Tolong jangan hadirkan masalah diantara kami. Biarkan aku dan Rosi bisa terus merasakan kebahagiaan kecil ini.   ***   Hari sudah menjelang sore, Irwan pun mengantarkan Key dan Rosi pulang. Dalam perjalanan pulang Rosi tertidur di kursi belakang dengan wajah yang tersenyum. Sudah pasti Rosi merasa senang karena diajak untuk makan makanan yang sangat lezat yang baru dia nikmati. “Mas Irwan, makasih ya udah bikin Rosi senang” ucap Key pada Irwan. “Iya Key” jawaban Irwan datar seperti biasanya. “Kamu nanti mau mampir dulu gak mas ke kosan?” tanya Key berharap Irwan menjawabnya dengan jawaban iya. Key masih ingin bersama dengan Irwan lebih lama lagi. Kencan mereka hari ini sungguh membuat Key merasakan kembali kebahagiaan yang sudah lama hilang. Hmm.. Kencan ya? Bolehkan aku berpikir jika yang tadi itu adalah kencan? Setelah mengantarkan Key dan Rosi, Irwan langsung melajukan kembali mobilnya menuju ke tempat kerjanya. Untung saja posisi di kantornya sangat bagu, jadi Irwan bisa leluasa untuk keluar masuk kantor sesuai yang dia inginkan. Tidak harus menunggu jam istirahat atau jam pulang kerja terlebih dahulu. “Pak Irwan, bapak dari mana saja?” tanya sekretaris Irwan yang langsung berdiri menyambut kedatangan Irwan di kantor. “Saya ada urusan. Memang ada apa?” “Begini pak, salah satu klien kita tadi menelepon ke kantor. Katanya ponsel bapak tidak bisa dihubungi. Dia meminta bapak untuk segera menemuinya di kantornya” suara si sekretaris terdengar seperti ada sesuatu yang serius. Apa ada masalah dengan si klien yang tadi menelepon? “Apa ada masalah?” tanya Irwan. “Iya pak, pokoknya bapak di tunggu di kantornya sekarang juga atau kerja sama kita terancam batal. Klien itu adalah vendor terbaik kita pak” “Baik kalau begitu saya segera pergi kesana. Kamu tolong urus pekerjaan saya yang lainnya di kantor ya” Irwan kembali bergegas pergi meninggalkan kantornya lagi. Sesampainya di kantor sang klien, Irwan langsung dicerca dengan kemarahan sang klien yang merasa Irwan mengabaikannya. Tidak menerima semua panggilan telepon dari si klien tersebut yang masuk ke ponselnya. Irwan hanya bisa meminta maaf dan mengatakan jika dia ada urusan lain di luar kantor. Irwan tidak mungkin mengatakan jika dia pergi berkencan dengan seorang wanita. Berkat sikap professional dan juga pengalaman Irwan di dunia bisnis, maka Irwan dapat meredakan kemarahan sang klien. Irwan juga masih menerima kepercayaan penuh dari klien tersebut. Akan tetapi untuk tetap mempertahankan kepercayaan si klien tersebut Irwan terpaksa untuk bekerja lembur beberapa hari. Itu artinya Irwan tidak akan bisa bertemu dengan Key untuk sementara waktu. Di tempat lain, Key menemani Rosi yang masih tertidur dengan pulasnya. Sepertinya malam ini juga Key ingin tetap terus berada di sisi Rosi. Jadi dia memutuskan untuk tidak pergi malam ini. Dia akan menemai Rosi untuk bermimpi indah malam ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD