Ya Tuhan, aku masih boleh meminta kan? Jika Kau mengizinkan aku, aku meminta lelaki ini untuk terus berada di sisi ku. Aku tahu aku tidaklah pantas untuk menjadi pendamping hidupnya, tapi boleh kan aku sedikit berharap dia tetap terus bersamaku? Karena kini aku melihat bidadari kecilku yang sangat bahagia bersamanya. Tolong jangan hadirkan masalah diantara kami. Biarkan aku dan Rosi bisa terus merasakan kebahagiaan kecil ini.
“Begini pak, salah satu klien kita tadi menelepon ke kantor. Katanya ponsel bapak tidak bisa dihubungi. Dia meminta bapak untuk segera menemuinya di kantornya” suara si sekretaris terdengar seperti ada sesuatu yang serius. Apa ada masalah dengan si klien yang tadi menelepon?
Untuk tetap mempertahankan kepercayaan si klien tersebut Irwan terpaksa untuk bekerja lembur beberapa hari. Itu artinya Irwan tidak akan bisa bertemu dengan Key untuk sementara waktu.
***
Malam ini tidak seperti biasanya Key sangat tidak bersemangat. Dia merindukan Irwan. Sudah beberapa hari ini tidak ada kabar dari Irwan. Biasanya setiap hari Irwan akan mengiriminya pesan walau hanya mengucapkan selamat pagi saja. Tapi beberapa hari ini tidak ada pesan sama sekali darinya. Bahkan pesan yang dikirim oleh Key juga tidak dibalasnya.
Key masih belum mengetahui jika Irwan sempat mempunyai masalah karena meninggalkan kantor dan pekerjaannya saat terakhir kali mereka bertemu. Irwan kini harus fokus pada pekerjaannya dan tidak menghubungi Key untuk sementara waktu. Key pun tahu diri, dia sama sekali tidak mencoba menghubungi Irwan terlebih dahulu. Key juga tidak ingin terlalu berharap pada lelaki yang belum lama dia kenal.
Dari kejauhan Mita yang melihat sahabatnya tidak bersemangat seperti itu, berinisiatif untuk segera menghampirinya.
“Ehem kayaknya ada yang lagi galau nih” Mita berkata usil sambil menepuk pundak Key.
“Ah galau apaan, cuma ngantuk aja kali” jawab Key sambil menghadapkan wajahnya ke arah Mita.
“Udah deh jujur aja! Gue kenal sama lo udah lama. Gak biasanya seorang Key gak semangat kerja gini. Biasanya selalu tuh semangat gegara keinget tanggal bayar kos atau harus kirim uang ke nyokap” alis Mita naik turun dengan didampingi senyum usil di wajahnya. Key mengerlingkan mata tajam cenderung sinis pada sahabatnya itu.
“Apa sih Mitaa.. Serius ngantuk ini. Apa karena lagi gak enak badan ya?” Key mencoba mengelak. Padahal dari raut wajah Key sudah terlihat jelas jika dia sedang memikirkan sesuatu.
“Hahaha udah sih jujur aja sama gue. Emang si Irwan masih belum ada kabar?” kini Mita mulai bertanya to the point pada Key. Mita sangat mengenal sahabatnya itu. Jika Key sudah mulai tidak bersemangat itu sudah bisa dipastikan ada sesuatu hal yang mengganggu pikirannya. Mita juga sudah mengetahui tentang Irwan dari Key tentunya.
Kembali Key mengerlingkan matanya tajam pada sahabatnya itu. Ini kenapa juga sih si Mita nanya to the point gitu! Kan jadi ketahuan kalau Key memang tidak bersemangat karena memikirkan Irwan.
”Jujur apa sih Mit? Si Irwan? Yaudah sih biarin ja toh nanti kalau dia butuh temen juga telepon gue” Key menjawab Mita dengan nada sedikit kecewa. Key mulai beranggapan jika dia ternyata salah menilai Irwan. Dia pikir Irwan bisa menjadi lelaki yang tepat untuknya, namun setelah tidak ada kabar selama beberapa hari ini membuat Key berpikir jika Irwan memang hanya membutuhkannya disaat dia butuh seorang teman. Disaat merasa kesepian.
Key juga berpikir sepertinya dia terlalu berharap pada Irwan. Seharusnya Key tetap bersikap professional pada para pelanggan yang memintanya untuk ditemani, termasuk Irwan. Seharusnya Key tidak menggunakan perasaannya sama sekali walau hanya setitik saja.
Key menghela nafas sebelum pada akhirnya dia berjalan menjauhi Mita, dia tak mau dihujani pertanyaan lainnya. Key ingin fokus kembali dengan pekerjaannya. Benar juga kata Mita, tanggal bayar kos sudah tinggal seminggu lagi. Belum lagi harus kirim uang ke kampung, ambu ada keperluan juga. Memang lebih baik Key fokus pada semua hal tersebut.
Dilangkahkan kakinya dengan anggun. Walau Raut wajah Key terlihat lesu dan tidak bersemangat, namun kecantikkannya tidak luntur sedikitpun. Mata para lelaki mata keranjang dan juga hidung belang yang dilewati oleh Key langsung saja melirik ke arahnya. Bahkan ada juga yang menggodanya dan memintanya untuk duduk bersama. Namun karena sedang tidak bersemangat, Key hanya menjawab mereka dengan melemparkan senyuman dari wajah cantiknya itu.
“Apaan sih tuh semua laki-laki mata keranjang dan hidung belang. Udah ada yang nemenin masih aja ngajak-ngajak gue. Ogah banget gue! Nanti cewek yang duduk sama mereka ngerasa kesaing sama gue, nah gue lagi yang repot!” Key menggerutu seorang diri sambil melangkahkan kakinya.
Kemudian langkah Key terhenti seketika saat Key melihat siluet lelaki yang baru saja memasuki klub. Siluet itu, Irwan. Hati Key sedikit terobati dengan kedatangan Irwan. Namun otak Key masih saja berpikir kenapa Irwan sama sekali tidak menghubunginya. Irwan langsung berjalan lurus menghampiri Key. Saat sudah sampai tepat di hadapan Key, Irwan dengan tampang serius dan tatapan mata yang tajam langsung menarik Key keluar. Key hanya kebingungan tapi tidak menolak. Dia mengikuti Irwan sampai ke parkiran.
“Mas, kita mau kemana?” pertanyaan Key sama sekali tidak digubris. Irwan hanya membuka pintu mobil dan menyuruh Key untuk masuk ke dalam mobil. Key menurutinya. Setelah memastikan Key duduk kini Irwan berjalan mengitari mobil ke arah pintu kursi pengemudi. Irwan segera masuk dan mulai melajukan mobilnya pergi meninggalkan klub malam tersebut.
Key merasa malam ini aura Irwan sedikit menyeramkan. Irwan sama sekali tidak bicara pada Key. Irwan terus melajukan mobilnya dengan wajah yang serius. Tatapannya tajam memandang lurus ke arah jalan. Key mulai merasa takut. Ada apa sebenarnya pada Irwan? Apa Key membuat kesalahan sehingga Irwan marah padanya?
Mobil Irwan kini memasuki sebuah apartemen yang cukup jauh dari klub malam tempat Key bekerja. Key bertanya-tanya apartemen milik siapakah itu? apa Irwan tinggal di apartemen ini? Dan kenapa Irwan membawanya kesini? Key ingin menanyakan itu semua pada Irwan, tetapi tidak ada keberanian di dalam diri Key karena sikap Irwan yang sangat berbeda.
Setelah memarkirkan mobilnya, Irwan turun terlebih dahulu dari mobil kemudian membukakan pintu mobil untuk Key. Irwan langsung menggiring Key masuk dan menuju lift. Saat pintu lift terbuka Irwan langsung menarik lengan Key masuk ke dalamnya. Hanya ada mereka berdua di dalamnya kini. Sesaat setelah pintu lift tertutup Irwan menarik Key ke dalam pelukannya.
Key hanya kebingungan dengan sikap Irwan. Key bertanya kenapa Irwan tiba-tiba memeluknya. “Mas Irwan? Kenapa tiba-tiba gini mas?” Tanpa menjawab sepatah kata pun Irwan langsung melabuhkan ciuman ke bibir indah Key. Lengan kekar Irwan memeluk Key agar tidak lepas dari sisinya. Irwan terus mencium bibir Key yang kemudian Key juga membalas ciuman Irwan. Merasa Key sudah mulai menyambutnya, Irwan mulai mengarahkan ciumannya ke leher Key dengan tetap sambil memeluknya. Tanpa mereka sadari, mereka telah sampai di lantai tujuan mereka. Pintu lift mulai terbuka. Irwan kembali menarik Key dan menggiringnya masuk ke unit apartemen miliknya. Seperti tak ingin tertunda lama, mereka melanjutkannya di dalam kamar.
Kini mereka berdua sudah melepaskan semua pakaian yang menempel di tubuh mereka, hanya ditutupi selimut tipis yang ada di ranjang tersebut. Tubuh mereka saling bergesekan. Walau masih bertanya-tanya ada apa dengan Irwan malam ini namun Key memberikan service terbaiknya. Untuk pertama kali sejak pertemuan mereka Key melihat wajah Irwan yang seperti itu. Wajah yang sangat serius, lebih serius dari biasanya, cenderung menakutkan. Nafas mereka kini sudah terengah-engah. Dan juga untuk pertama kali dalam hidupnya Key merasa malu untuk bercinta seolah dia sedang bercinta dengan lelaki yang dicintainya.
Setelah aktifitas yang membuat mereka kelelahan, mereka tertidur dengan pulas. Namun naluri seorang ibu tak akan membiarkan Key untuk tidur sampai pagi. Dia terbangun dan melihat jam di ponselnya. Sudah jam 4 pagi. Sudah waktunya dia harus kembali. Rosi akan menangis jika tahu dia belum pulang saat terbangun nanti.
Key beranjak bangun dan menuju ke kamar mandi. Dia ingin sedikit membersihkan dirinya dan juga ingin mengenakan semua pakaiannya. Diliriknya Irwan yang masih tertidur dengan wajah yang tenang. Key tak ingin membangunkannya sekarang. Nanti saja setelah dia sudah siap untuk pergi dia akan membangunkan Irwan untuk berpamitan. Dan sepertinya lebih baik dia memesan taksi online saja. Karena dipikirnya dia akan menunggu lama lagi jika harus meminta diantar oleh Irwan. Saat ini saja kedua mata Irwan masih terpejam. Mungkin masih bermimpi indah.
Tak lama setelah dia berpakaian, Key keluar dari toilet dan ingin menghampiri Irwan. Dia ingin berpamitan. Ternyata Irwan sudah duduk di pinggir ranjang menunggunya. Key menghampirinya untuk berpamitan. Sangat terkejutnya Key saat Irwan menyodorkan sejumlah uang padanya. Key menjadi terdiam sesaat. Matanya terpaku memandang Irwan, bukan memandang sejumlah uang yang disodorkan oleh Irwan.
Tiba-tiba Key merasakan nyeri di d**a kirinya. Jadi ternyata Irwan juga hanya menganggapnya sebagai wanita malam untuk memuaskan nafsunya saja. Ini bukanlah kesalahan Irwan, tetapi kesalahannya yang sempat menaruh sedikit hati dan sedikit berharap pada Irwan. Key seharusnya menyadari jika semua lelaki yang menemuinya di klub malam memang hanya membuthkan servicenya.
Key hanya memberikan senyuman kecil tanpa berkata-kata dan dia menolak uang yang diberikan Irwan. Dia hanya ingin segera berpamitan dan pulang. Dia tidak ingin hatinya merasa semakin sakit.
“Kenapa kamu tolak?” tanya Irwan pada Key. Tatapan mata Irwan kali ini tidak seperti orang yang bertanya-tanya mengapa Key menolak. Tatapannya lebih seperti ada perasaan bersalah karena sudah melakukan hal yang seharusnya tidak dia lakukan.
“Gak apa-apa, anggap saja bonus service buat kamu mas” Key berkata seperti itu namun hatinya seperti ingin menangis. Tetapi Key tetap berusaha menutupi perasaan yang sebenarnya.
“Diterima saja” Irwan memaksa Key menerima uangnya. Key hanya menggeleng pelan dan berpamitan. Key berjalan menuju pintu dan tiba-tiba Irwan memeluknya dari belakang.
“Maafkan saya” bisik Irwan pelan pada Key. Maaf? Kenapa?
“Key, jadilah milikku. Jangan pernah kamu bersentuhan dengan lelaki lain lagi. saya sudah menetapkan hati saya. Saya mau kamu” Irwan mengucapkan kalimat yang membuat Key terpaku dan matanya mulai membesar. Dia tak bisa berpikir. Irwan benar-benar telah mengacaukan hati dan pikirannya kini.
***
Irwan sedang mengemudikan mobilnya menuju arah pulang. Pulang ke rumah yang juga ditinggali bersama kedua orang tuanya. Dalam perjalanan dia memikirkan kembali tentang apa yang sudah dia lakukan pada Key. Kenapa dia tidak bisa menahan gairahnya. Padahal selama ini dia sudah cukup menahan gairah yang muncul di dirinya.
Mungkin ini semua dikarenakan Irwan yang sudah merindukan Key. Sudah beberapa hari ini Irwan tidak menemui Key karena kesibukkannya. Karena klien yang sempat marah sebelumnya membuat Irwan harus tetap fokus pada pekerjaannya. Bahkan beberapa hari itu juga Irwan terus bekerja lembur hingga pulang pagi mengurusi semua dokumen untuk proyek.
“Key, maafkan saya..” Irwan berbisik sendirian di dalam mobil. Dia benar-benar merasa bersalah.
Irwan sendiri sebenarnya juga sudah menaruh hati pada Key. Tidak hanya dari kecantikannya, tetapi juga dari kepribadian Key. Memang awalnya Irwan iseng bertanya pada orang di kantornya yang dipecat karena terlihat masih dalam keadaan mabuk saat datang ke kantor. Irwan penasaran mengapa dia bisa mabuk-mabukan di hari kerja. Padahal tugas di kantor sedan menumpuk.
“Kalau gak karena si Key saya juga ogah Pak ke klub! Mau hari biasa atau hari libur juga saya gak mau pak.” ucap karyawan tersebut pada Irwan dalam keadaan mabuk. Cara bicaranya saja sudah melayang-layang.
“Key itu pacar kamu?” tanya Irwan mencari tahu siapa itu Key.
“Maunya sih Pak, tapi dianya gak mau pak sama saya. Dia cewek langganan saya di bar pak, di klub malam” entah mengapa karyawan tersebut malah mengeluarkan ponselnya dari saku celana, kemudian diperlihatkan foto Key yang dia potret saat sedang bersama. Karyawan tersebut juga memberitahukan Irwan alamat klub malam yang didatanginya.
Irwan langsung mencari alamat klub malam yang dimaksud. Dia penasaran dengan wanita yang bernama Key itu. Dia hanya iseng dan ingin mencari tahu saja, karena pada saat itu Irwan sedang jenuh dengan pekerjaannya dan butuh seseorang untuk menemaninya.
Benar saja, saat bertemu dengan Key Irwan pun bisa langsung jatuh cinta. Tetapi Irwan menginginkan Key lebih dari sekedar wanita yang bisa menemaninya semalam saja. Irwan menginginkan Key juga jatuh cinta padanya. Akan tetapi status diantara mereka akan membuat semuanya sulit. Irwan harus memutar otak dan mencari cara bagaimana agar Key bisa sepenuhnya menjadi milik Irwan. Seperti itulah yang Irwan pikirkan saat pertama kali bertemu dengan Key.
Sesampainya di rumah, Irwan langsung menuju ke kamarnya. Dia ingin mengistirahatkan tubuhnya sejenak sebelum kembali berangkat bekerja. Dia membaringkan tubuhnya di ranjang dan matanya terpaku menatap langit-langit. Diambil ponsel yang ada di saku celananya dan melihat foto Key yang terpampang jelas di ponsel tersebut.
“Key.. saya janji saya akan memikirkan cara untuk memiliki kamu” kemudian diletakkan ponsel tersebut di samping tubuhnya. Irwan memejamkan matanya dan tidur sejenak. Dalam tidurnya pun Irwan memimpikan Key. Dia melihat senyum Key dan menjadikannya mimpi indah di pagi dini hari.