Tubuh Azrael perlahan mulai tumbang, ternyata itu bukan karena mereka bersiap untuk melakukan hubungan, namun wanita itu sudah menyiapkan sebuah jarum yang dilumuri obat bius sehingga saat jarum itu tertusuk sedikit saja sudah bisa menumbangkan Azrael.
“Huh…!” Tatapan mengerikan diberikan kepada Azrael yang tidak sadarkan diri. “Dasar makhluk rendahan.”
***
“Uh?” Mata Azrael tidak beberapa lama, terbuka kembali. Dirinya sungguh kaget dengan situasinya sekarang. “Apa ini?” Tidak bisa mengeluarkan suara, mulutnya dililit satu kain.
Azrael sangat bingung dirinya tiba-tiba berada di dekat jurang, yang di bawahnya terdapat air mengalir deras. Melihatnya saja sudah langsung bisa memberikan rasa ngeri di dalam tubuh.
Tidak berapa lama beberapa orang muncul dari dalam hutan, Azrael langsung tidak bisa mengedipkan matanya. Semua orang itu adalah pihak kerajaan. Sang Raja Zaeria, orang tua yang pertama kali dia temui, serta wanita yang kemarin malam telah masuk ke dalam kamarnya, hadir di sana.
“Apa ini? Kenapa aku diikat lalu, kenapa mereka menatap diriku seperti itu?” Hati Azrael dipenuhi oleh tanda tanya. Matanya melotot, dengan air keringat dingin. Kakinya mulai mati rasa, rasa takut yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
“Hehehehehehahahaha!” Raja Zaeria tertawa dengan nada lepas. Wajah orang di sekitarnya juga ikut memberikan intimidasi yang sangat kuat. “Selamat datang Pahlawan! Terima kasih, kau akan menambah kekuatan dan kejayaan kerjaan kami. Darahmu, akan selalu memberikan kebahagiaan dan kemakmuran di tanah kerajaan. Dengan kata lain, kau memang sengaja untuk dipanggil, dan dijadikan sebagai tumbal.”
Azrael tidak percaya apa yang dia dengar. “Yang benar saja, aku datang ke sini bukan karena keinginanku, aku hanya ingin menemukan kehidupan layak, tapi sepertinya itu salah!”
“Amelia!”
“Iya Ayahanda!”
“Cepat, kau berikan salam perpisahan untuk Tuan Pahlawan yang Agung ini.”
“Baik!”
Nada bicara mereka, adalah ungkapan ejekan untuk pahlawan bodoh yang sudah masuk ke dalam perangkap mereka.
Wanita bernama Amelia yang tadi malam telah menggodanya, mulai menghampirinya. Wajah wanita itu tersenyum menyeringai, tatapan matanya sangat licik.
“W-Wanita ini… dasar…!” Alis mata Azrael meruncing tajam, mengingat apa yang telah dilakukan Amelia, ingin sekali dirinya memotong bibir manis wanita itu.
“K-Kenapa kau begitu marah Tuan Pahlawan, seharusnya kau itu bangga bisa berguna untuk kerajaan. Darahmu itu akan menjadi sebuah simbol kejayaan.”
“Jangan bercanda, kau…!” ucap Azrael dalam hatinya, meski tidak mengeluarkan suara tatapan tajam matanya mengungkapkan emosi.
Seorang prajurit lalu membawa satu pedang, yang dipersembahkan untuk Amelia. Amelia mengambil pedang itu.
“Shiings!”
Bunyi nyaring pedang yang ditarik dari sarungnya, pertanda kalau Azrael tidak akan bisa menikmati hidupnya.
“Selamat tinggal Tuan Pahlawan!”
“Crash!”
Tubuh Azrael ditusuk bagaikan buah apel, darah mengalir dari luka tusukan. Wajah menderita itu bagaikan sebuah hiburan yang sangat menyenangkan bagi pihak kerajaan.
Tidak hanya sekali namun, berkali-kali pedang itu menusuk tubuhnya. Azrael mulai kesulitan untuk bernapas, rasa sakit yang dia derita menghilangkan indera perasa dalam tubuhnya. Tubuhnya mulai tidak merespon, rasa sakit dari robekan pedang itu, menjalar ke seluruh tubuh, ingin dia berteriak akan tetapi suaranya terbelenggu oleh kain yang sengaja menutup lontaran kata yang keluar dari mulutnya.
Setelah puas menusuk tubuh Azrael, beberapa prajurit berbadan besar membawa tiang yang menahan Azrael.
Pandangan mat Azrael mulai mengabur, dia sudah lemas akibat menahan rasa sakit serta kehilangan banyak darah. Bukan hanya darah namun semangat dan impian yang ingin dia rencanakan sudah hilang.
Kini Azrael hanya menunggu nasibnya, kedua prajurit lalu melempar tubuhnya bersama tiang yang menahannya. Saat tubuhnya terlempar terlihat jelas senyuman bahagia orang-orang kerajaan.
“Oh… apakah ini memang benar akhir dari hidupku? Rasanya, tidak lama lagi aku akan kehilangan napas ini.” Cahaya kehidupan tidak tercermin lagi di wajah Azrael.
“Byur!”
Tubuh Azrael jatuh bagaikan sebatang kayu yang sudah tidak berguna. Tubuhnya sudah basah akibat air yang mengalir deras, air itu terus menyeret mengikuti jalur sungai.
Perlahan kelopak mata itu tertutup, dan bayangan kehidupan sudah sirna dari dirinya.
***
Tubuh Azrael terus dibawa arus hingga terdampar di sebuah goa. Goa yang sunyi, kegelapan memberikan efek menakutkan.
“Uh!”
Sosok yang memiliki mata bersinar di gelapnya goa melihat jelas, seorang tubuh manusia tergeletak di tepi sungai.
Dengan kekuatannya, dia mendekatkan tubuh manusia itu hingga berada di depannya. “Hmm… siapa manusia ini? Bagaimana dia bisa sampai ke sini?” Makhluk itu memiliki suara berat yang menggema ke seluruh ruangan. “Sungguh malang, pasti dirinya telah mengalami kejadian buruk,” ungkapnya setelah melihat beberapa bercak darah yang menempel di pakaian.
Nyawa Azrael sudah tidak bisa ditolong, napasnya sudah hilang. Sosok itu memahami hal tersebut, muncul rasa iba dalam hatinya. Maka dari itu dirinya, mulai melakukan sesuatu.
Gelombang energi besar, pancaran cahaya berwarna putih menyelubungi tubuh Azrael. Perlahan sebuah percikan kecil cahaya masuk ke dalamnya.
“Dug!”
Detak jantung, mulai berdenyut kembali. Wajah pucat itu memudar dengan sendirinya. Tidak beberapa lama mata Azrael terbuka lebar.
“Haaagh!” Napas panjang tertarik masuk ke dalam paru-paru. “Uhuk… uhuk…!” Hingga membuatnya harus memuntahkan air.
“Humph!”
Gerakan Arzael terhenti, saat mendengar suara cukup berat. Secara pelan dia mulai mengangkat kepalanya, langsung tubuhnya tersentak ke belakang. Sosok mengerikan bertubuh besar sedang menatapnya dengan serius. Memang tubuhnya tidak terlihat oleh gelapnya goa, namun pancaran kedua bola mata itu, sudah cukup memberikan aura menakutkan.
“S-Siapa kau?” tanya Azrael dengan ketakutan.
“Apakah begitu caramu berterima kasih kepada orang yang telah menyelamatkan hidupmu. Bukan, tapi orang yang telah mengembalikan kehidupanmu.”
Azrael termenung, dia mencoba mengingat apa yang sudah terjadi. Saat ingatan itu melintas, matanya langsung menjadi tegang, gigi merapat dengan kuat. Matanya benar-benar memancarkan sebuah emosi yang sangat dalam.
“Uh? Kenapa dia ini? Pasti dia sudah mengalami hal buruk sebelum tiba di sini.” Sosok itu menjadi tertarik dengan raut wajah Azrael. “Jawab aku, kenapa kau bisa ada di sini?” tanya sosok tersebut dengan nada yang lantang.
“Aku, di sini karena para b******n itu yang telah memperlakukan diriku seenaknya!” balas Azrael dengan tangan yang mengepal kuat.
“Begitu rupanya, apakah kau ingin balas dendam!”
“Balas dendam?” Sedikit keraguan muncul di dalam hati Azrael, memang kebencian itu ada di dalam hatinya, namun dirinya ragu untuk membalas perbuatan mereka dengan balik menyakiti.
“Hooh dia merasa ragu! Apakah ini yang dinamakan hati manusia yang lemah!” Bagi sosok itu tontonan menarik melihat manusia yang bimbang dengan perasaannya sendiri.
“Ya, jikalau aku bisa membalaskan dendam maka akan aku lakukan. Akan aku buat mereka menyesal!” jawab Azrael dengan nada penuh kebencian. Tumpahan emosi tersiram di setiap lotaran kata-kata yang keluar dari mulutnya.
“Benar, memang harusnya seperti itu!”
__To Be Continued__S