Penghakiman

1049 Words
“Heh… jangan takut, orang ini hanya menggertak! Kalian semua, serang dia ini!” Para prajurit yang tadi mulai ketakutan mulai mengumpulkan keberanian, berlari mereka ke arah Azrael. Mata Azrael menatap tajam ke arah mereka, dia melakukan lirikan cepat untuk memeriksa sekitar. Di saat semua sudah sesuai dengan keinginan, tangan Azrael mengeluarkan api. “Ignis!” Menyebar api tersebut layaknya cincin berdiameter besar hingga melukai tubuh para prajurit, mereka merasakan luka bakar yang menyakitkan. Pria berwajah sangar yang ternyata adalah pemimpin para prajurit, melihat anak buahnya kesakitan dia menjadi bingung untuk bertindak. Azrael terus maju ke arah pria itu, pandangan menusuk terus memeranginya. Pria itu mencoba melawan Azrael, dia berlari dengan cepat lalu dari atas tangannya mengayunkan pedang. “Inferno Fire Hell!” Azrael membuka telapak tangannya, seketika tubuh pria itu hangus dimakan api yang membara. Begitu cepatnya api melumpuhkan tubuhnya hingga dia terjatuh ke belakang dengan posisi terlentang, kedua tangannya membentang lebar. Bau gosong dari tubuh pria itu bisa tercium oleh semua orang yang ada di sana. Azrael menyadari satu hal dari peristiwa itu, tubuhnya seolah sangat menikmati pemandangan di mana dirinya telah membunuh seseorang. Para prajurit yang masih hidup mencoba untuk kabur, Azrael segera melihat ke arah mereka. Dia sedang mencari cara bagaimana untuk bisa langsung menghabisi setiap prajurit, di dekat kakinya terdapat pedang yang berasal dari pria yang tadi gosong. Tanpa banyak pikir langsung pedang itu langsung dia ambil. “Acceleratio!” Tidak ada yang bisa lepas, setiap prajurit yang terlihat telah ditebas oleh Azrael menggunakan gerakan pedang yang cepat. Tebasan itu membuat seluruh penduduk menjadi sangat ketakutan, tepat di depan mata pria itu tidak tampak seperti seorang yang ingin membantu mereka, semua lebih terlihat seperti monster kejam yang sedang mengamuk. Setiap nyawa para prajurit telah melayang, Azrael lalu melepaskan para penduduk. Mereka memasang wajah ketakutan terhadap pria itu, tidak perlu bagi dirinya untuk mendapatkan sanjungan atau rasa terima kasih. Azrael langsung pergi meninggalkan orang-orang itu. *** Azrael mendekati aliran sungai yang ditemukannya, di sana dia melihat wajahnya. Bayangan itu tiba-tiba muncul, Azrael langsung memasang wajah marah. “Akan aku balas perbuatan mereka, terutama kepada wanita b******n itu!” Azrael melihat telapak tangannya, benar-benar hampa telapak tangan itu. Dia yakin kalau telapak tangannya akan menjadi saksi dari dendam yang akan segera dibalaskan olehnya. Azrael tidak menyadari bahwa tindakan yang dia lakukan telah mengundang sebuah kegelisahan di Kerajaan Alocasia. “Yang Mulia!” Seorang kesatria masuk ke dalam ruangan, dengan gagah dia bertekuk lutut Raja Zaeria. “Adora, sekarang ini aku sudah memiliki misi untuk dirimu!” “Baik!” “Aku telah mendapatkan laporan bahwa ada sebuah penghalang kecil, saat para prajurit melakukan perburuan terhadap para makhluk setengah manusia telah terjadi serangan!” Adora mengangkat kepalanya dengan wajah kaget. “Apakah yang menyerang itu adalah pasukan dari kerajaan lain?” “Aku tidak tahu, tapi bisa dipastikan itu adalah perbuatan dari para petualang atau kesatria yang tidak sengaja ikut campur dalam urusan kerajaan!” “Begitu rupanya, baiklah! Saya akan mencari dan menangkap siapa yang telah ikut campur dalam urusan kerajaan ini!” Zaeria mengangguk. “Aku mengandalkan dirimu!” Adora langsung pergi, senyuman tipis terukir di bibirnya saat kakinya melangkah keluar ruangan singgasana. “Benar-benar menarik, mungkinkah di dunia ini ada hal yang akan membuatnya menjadi jauh lebih menarik?” Adora mengarahkan pandangannya ke arah kota, sungguh pemandangan yang indah seolah adalah lukisan yang ada di dinding. Deru suasana kota yang baru saja dimasuki Azrael begitu nyaring di telinga, dia sangat berhati-hati dalam melangkah, kemungkinan akan ada prajurit yang mengenali wajahnya. Azrael langsung masuk ke dalam jalan gang kecil, suasana itu sangat sepi berbeda daripada kota yang ramai. Dua prajurit tadi dia lihat sedang memeriksa dagangan para penjual, sebelum masuk ke dalam gang dia menyaksikan penjual itu seperti sedang berusaha untuk membuat para prajurit tersebut menjadi senang. Ini adalah cara licik dari para prajurit yang hanya ingin mendapatkan kesenangan, mereka sering meminta bayaran kepada para pedagang dengan harga mahal. “Hehehe… ayolah Nona manis!” Seorang gadis sudah ditahan oleh prajurit, gadis itu dipojokkan di dinding bangunan. Gadis itu berusaha melawan dengan menepis tangan prajurit yang memegangi dagunya. “Jangan sentuh aku!” “Dasar kurang ajar!” Dengan berani pria itu menampar gadis tersebut, lalu dia tabrakan kepala gadis itu ke dinding hingga darah mengucur deras meninggalkan bekas di dinding bangunan. Gadis itu terus meronta, tapi semakin ganas prajurit itu menghantamkan kepala gadis tersebut ke dinding. Tidak ada yang mendengar jeritan dari kesakitan yang dirasakan oleh gadis tersebut, setelah cukup puas dan gadis itu sudah tidak berdaya, barulah prajurit itu mulai melucuti pakaian gadis tersebut. Satu persatu kain yang menutupinya dibuka bahkan dirobek dengan paksa, gadis itu masih bisa melihat tindakan prajurit tersebut, tapi sudah tidak ada lagi tenaga yang bisa digunakan untuk melawan. Dia hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi, satu tetesan air mata keluar. “Hehehe… kau akan aku nikmati di sini sekarang juga!” Pria itu sudah dikuasai oleh nafsu liarnya, dia membuka armor dan pakaian miliknya, lalu…. Crash!!! Bukan kenikmatan yang didapatkan olehnya melainkan tebasan menyakitkan yang mengucurkan darah segar yang berasal dari belakang tubuh, prajurit itu menoleh secara perlahan. “Apa yang….” Tidak sempat dia menyelesaikan kalimat, pedang sudah terlalu cepat menebas kepalanya. Tubuh prajurit itu langsung tersungkur jatuh menimpa tubuh gadis itu, segera gadis tersebut menyingkirkannya. Dari mata yang penuh darah dia melihat wajah pria asing yang sudah menyelamatkan dirinya, tidak ada ucapan dari pria itu, pria tersebut langsung pergi. “T-Tunggu!” Meski sudah berlumuran darah dan merasa sedikit pusing gadis itu masih berusaha untuk bangun. Azrael mendadak berhenti, kepalanya menoleh ke arah belakang. “Terima kasih!” Setelah mendengarnya, Azrael langsung pergi. Tidak ada kesan penting dari hal tersebut, dia hanya tidak suka melihat bagaimana prajurit b******n itu memperlakukan wanita. “Tidak laki-laki, perempuan juga sama! Mereka semua akan mendapatkan karma akibat melakukan hal itu semua, dan aku tidak keberatan menjadi makhluk yang kejam untuk menghapus setiap kehidupan keji yang ada di dunia ini!” Azrael menjadi membayangkan bagaimana dunia dia hancurkan dan wajah para prajurit atau pendosa tersiksa oleh dirinya, dia mendapatkan semangat dari imajinasi tersebut. Azrael sampai di ujung lorong, satu jalanan yang ramai terlihat di depannya, dari sana dia melihat ada jarak lorong lain yang terlihat seorang pria berpakaian rapi sedang berjalan ke arahnya. Dia tersenyum menatap Azrael. __To Be Continued___
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD