Senyum Maksimov memudar. Ia menatap layar ponselnya dengan tatapan dingin yang kembali menghujam. Ternyata, surga kecil mereka di Jakarta tidak benar-benar tersembunyi seperti yang ia harapkan. Maksimov segera mematikan layar ponselnya sebelum Sarah sempat melihat binar merah dari notifikasi pesan tersebut. Ia menarik napas dalam, memaksakan sebuah senyum tipis yang tampak kaku di wajahnya yang biasanya keras. "Ada apa, Maksimov? Siapa yang menelepon?" tanya Sarah, matanya yang jernih menatap penuh selidik. Ia sudah terlalu hafal dengan perubahan raut wajah suaminya; sedikit saja otot rahang itu mengeras, Sarah tahu ada badai yang sedang mendekat. "Hanya pesan otomatis dari penyedia layanan seluler lokal, Ptichka," bohong Maksimov. Ia mengelus pipi Sarah dengan ibu jarinya, se

