Lampu gantung kristal di ruang makan kastel itu membiaskan cahaya yang tajam, memantul di atas piring perak dan botol-botol vodka mahal. Sarah duduk di sebelah kanan Maksimov, merasa seperti domba yang dikelilingi oleh sekumpulan serigala lapar. Abaya hitamnya tampak kontras dengan kemewahan ruangan yang berlebihan itu.
Di meja panjang tersebut, duduk para petinggi klan Volkov—pria-pria kasar yang tangannya berlumuran darah. Mereka menatap Sarah dengan tatapan merendahkan, namun tak satu pun berani bersuara sebelum sang Tsar membuka mulutnya.
"Makanlah, Sarah," suara Maksimov terdengar rendah, hampir menyerupai perintah yang dibalut kelembutan palsu. Ia memotong daging steak di piringnya dengan gerakan yang sangat presisi. "Kau butuh tenaga untuk menyaksikan kepulangan ayahmu besok pagi."
Sarah menatap piring di depannya tanpa minat. "Kau bilang dia aman, tapi kau menjadikannya umpan. Bagaimana aku bisa makan dengan tenang sementara kau memegang kendali atas nyawanya?"
Maksimov meletakkan pisaunya, menimbulkan suara denting yang membuat suasana di meja itu mendadak sunyi senyap. Ia menoleh ke arah Sarah, matanya yang kelabu berkilat dingin. "Keamanan adalah barang mewah yang harus dibayar mahal di duniaku. Dan kau membayarnya dengan kehadiranmu di sini, di sampingku."
Tiba-tiba, letnan Maksimov yang bernama Viktor—pria dengan luka parut di dahi—bersuara kasar, "Tsar, kenapa kita harus menjamu wanita yang bahkan tidak mau menunjukkan wajahnya pada kita? Di Rusia, seorang ratu menunjukkan kecantikannya untuk membakar semangat para prajurit, bukan bersembunyi di balik kain hitam."
Ruangan itu menjadi sangat tegang. Sarah bisa merasakan tangan Maksimov di bawah meja mengencang, mencengkeram kain abayanya tepat di atas lutut.
Maksimov tidak langsung menjawab. Ia justru menuang vodka ke gelasnya, meminumnya dalam satu tegukan, lalu menatap Viktor dengan pandangan yang membuat pria itu menunduk seketika.
"Dia tidak menunjukkan wajahnya padamu, Viktor," desis Maksimov, suaranya mengandung ancaman yang mematikan, "karena keindahannya adalah hak eksklusifku. Jika kau berani meminta lagi, aku akan memastikan mata itu tidak akan pernah bisa melihat cahaya lagi."
Maksimov kemudian beralih ke arah Sarah. Di depan semua orang, ia menarik kursi Sarah agar lebih dekat dengannya, hingga bahu mereka bersentuhan. "Tunjukkan pada mereka, Sarah. Bukan wajahmu, tapi keberanianmu. Katakan pada mereka siapa kau sebenarnya di klan Volkov."
Sarah menarik napas panjang di balik cadarnya. Ia tahu ini adalah ujian. Jika ia terlihat lemah, para serigala ini akan menerkamnya. Jika ia terlalu berontak, nyawa ayahnya terancam.
"Aku bukan bagian dari klan kalian," suara Sarah keluar dengan tegas dan tenang, membuat beberapa orang di meja itu terkejut. "Aku adalah tawanan yang kalian takuti karena bahkan dengan seluruh senjata kalian, kalian tidak bisa menyentuh jiwaku."
Maksimov tertawa keras—sebuah tawa yang penuh kegilaan dan rasa bangga yang aneh. Ia mencium pelipis Sarah yang tertutup kain, seolah ingin memamerkan bahwa dialah pemenang atas wanita pemberani ini.
"Kau dengar itu?" Maksimov menatap anak buahnya. "Itulah alasan kenapa dia adalah satu-satunya orang yang pantas duduk di sini."
Namun, di tengah tawa Maksimov, seorang anak buah masuk dengan tergesa-gesa dan membisikkan sesuatu di telinga Maksimov. Wajah sang Tsar langsung berubah gelap. Ia melirik ke arah Sarah dengan tatapan yang sulit diartikan—antara kemarahan dan kecurigaan yang mendalam.
Ketegangan di ruang makan itu kini bisa diiris dengan pisau. Maksimov melepaskan cengkeramannya pada paha Sarah, berdiri perlahan hingga kursinya berderit di atas lantai marmer. Tatapannya yang tadi penuh obsesi kini berubah menjadi dingin yang membekukan, tertuju langsung pada Sarah.
"Bawa dia ke ruang kendali," perintah Maksimov kepada Viktor tanpa mengalihkan pandangan dari Sarah. "Dan pastikan dia melihat apa yang telah dilakukan 'sekutu' rahasianya."
Sarah ditarik paksa dari kursinya. Ia tidak melawan secara fisik, namun matanya memancarkan api perlawanan di balik cadar. Mereka menelusuri lorong kastel yang remang menuju sebuah ruangan yang dipenuhi layar monitor raksasa.
Di layar utama, terlihat rekaman kabur dari pelabuhan tempat ayahnya berada. Namun, pemandangannya telah berubah. Asap membubung tinggi, dan terlihat beberapa pria bersenjata yang bukan merupakan anak buah Maksimov sedang terlibat kontak senjata sengit dengan tim pengawal ayahnya.
"Lihat itu, Sarah," desis Maksimov, berdiri tepat di belakangnya dan mencengkeram bahu Sarah hingga gadis itu meringis. "Ponsel satelit yang kau temukan di laci tadi... kau tidak menyentuhnya, tapi seseorang telah menggunakannya untuk melacak frekuensi markas ini dan mencoba melakukan serangan balasan di titik penjemputan ayahmu."
Sarah terbelalak. "Aku tidak menyentuh ponsel itu! Kau sendiri yang bilang itu jebakan!"
Maksimov tertawa sinis, suaranya terdengar seperti pecahan kaca. "Aku tahu kau tidak menyentuhnya. Tapi siapa pun yang mengirimkan pesan misterius itu padamu, mereka menggunakan ponsel itu sebagai 'suar' untuk memicu kekacauan ini.
Mereka tidak mencoba menyelamatkan ayahmu, Sarah. Mereka mencoba melenyapkannya agar kau tidak lagi memiliki alasan untuk tunduk padaku!"
Di layar, Sarah melihat ayahnya terjepit di antara dua baku tembak. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat melihat seorang pria dengan senapan laras panjang membidik tepat ke arah mobil yang mengangkut ayahnya.
"Hentikan mereka, Maksimov!" teriak Sarah, ia berbalik dan mencengkeram kerah mantel Maksimov, melupakan statusnya sebagai tawanan. "Kau yang memulai permainan ini! Selamatkan dia!"
Maksimov menatap tangan Sarah yang gemetar di mantelnya. Ia kemudian meraih tangan itu, menggenggamnya dengan kekuatan yang menyakitkan, dan mendekatkan wajahnya ke wajah Sarah.
"Aku akan menghentikannya," ucap Maksimov dengan nada yang sangat rendah dan berbahaya. "Tapi harganya baru saja naik. Bukan lagi sekadar kehadiranmu di sampingku, Sarah.
Mulai detik ini, kau akan menandatangani kontrak pengabdian mutlak kepada klan Volkov. Kau akan melepaskan identitas lamamu, dan kau akan menjadi milikku sepenuhnya—tanpa Tuhanmu, tanpa ayahmu, hanya ada kau dan aku di neraka ini."
Layar di depan mereka tiba-tiba menunjukkan ledakan besar di dekat dermaga. Sarah berteriak tertahan, menutup mulutnya di balik cadar.
"Pilih sekarang, Sarah," desak
Maksimov, matanya berkilat penuh kemenangan yang keji. "Ucapkan sumpahmu padaku, atau aku akan memerintahkan anak buahku untuk mundur dan membiarkan mereka membakar ayahmu hidup-hidup di pelabuhan itu."
Ruang kendali itu mendadak sunyi, hanya menyisakan suara statis dari layar monitor yang menampilkan kepulan asap di dermaga. Sarah merasa oksigen di sekitarnya menipis. Cengkeraman Maksimov pada tangannya terasa seperti borgol baja yang perlahan menghancurkan tulang-tulangnya.
"Waktumu habis, Sarah," bisik Maksimov. Jemarinya yang bebas kini merayap ke belakang kepala Sarah, menggenggam kain cadarnya seolah siap untuk merenggutnya kapan saja.
"Satu kata darimu, dan aku akan meratakan mereka semua. Satu kata, atau kau akan menyaksikan kematiannya secara live di layar ini."
Sarah menatap monitor itu dengan mata yang basah oleh air mata kemarahan. Ia melihat bayangan ayahnya yang merangkak di balik beton, terhimpit di antara peluru yang berseliweran. Di dunianya yang tertutup, ia selalu diajarkan bahwa kesetiaan tertinggi adalah kepada Pencipta, namun di sini, iblis di depannya memaksanya untuk menukar segalanya demi nyawa orang yang ia cintai.
"Aku..." Suara Sarah pecah. Ia memejamkan mata, membayangkan wajah ayahnya yang penuh kasih. "Aku bersumpah."
Maksimov menyeringai. "Lanjutkan. Katakan dengan jelas."
"Aku akan tetap di sampingmu... aku milik klan Volkov," ucap Sarah dengan nada datar, seolah jiwanya baru saja meninggalkan tubuhnya. "Selamatkan dia, Maksimov. Sekarang!"
Maksimov tidak membuang waktu. Ia menyambar radio panggil di meja kendali dan memberikan perintah singkat dalam bahasa Rusia yang terdengar seperti guntur. "Unit Alpha, bersihkan area. Lindungi target utama dengan nyawa kalian. Hancurkan siapa pun yang mencoba mendekat.
Do it now!"
Di layar, sepasang helikopter tempur hitam muncul dari balik cakrawala pelabuhan, memuntahkan peluru panas ke arah para penyerang misterius. Dalam hitungan detik, situasi berbalik. Anak buah Maksimov bergerak cepat, menarik ayah Sarah ke dalam kendaraan lapis baja yang aman.
Sarah jatuh terduduk di lantai, kakinya lemas. Abaya hitamnya menyapu lantai marmer yang dingin. Ia menangis tersedu-sedu di balik cadarnya—bukan karena lega, melainkan karena ia tahu ia baru saja menjual kebebasannya pada monster yang paling ia benci.
Maksimov berlutut di depan Sarah. Ia tidak menunjukkan belas kasihan. Ia justru meraih wajah Sarah dengan kedua tangannya, memaksa gadis itu menatapnya.
"Kau milikku sekarang, Sarah. Secara hukum, secara kontrak, dan secara darah," ucap Maksimov. Ia mencium kening Sarah yang tertutup kain dengan ciuman yang sangat lama, sebuah ciuman kemenangan. "Jangan pernah lagi berdoa untuk kematianku, karena jika aku mati, ayahmu akan menyusul dalam hitungan detik. Kita terikat selamanya."
Maksimov bangkit dan mengulurkan tangan, menanti Sarah untuk berdiri dan kembali ke sampingnya sebagai tawanan yang kini telah resmi memiliki "label" Volkov.