Bab 16: Sujud dalam Sangkar Tsar

1284 Words
Jet pribadi itu mendarat di landasan privat yang tersembunyi di balik pegunungan Alpen. Saat pintu kabin terbuka, udara dingin yang menggigit menyambut mereka. Sarah melangkah turun dengan tubuh kaku, abaya hitamnya berkibar tertiup badai salju di puncak gunung. ​Di belakangnya, Maksimov melangkah dengan langkah yang tenang namun mengintimidasi. Ia tidak memegang tangan Sarah, namun kehadirannya terasa seperti rantai tak terlihat yang menarik leher gadis itu. Mereka menuju sebuah kastel bergaya gotik yang berdiri angkuh di atas tebing, dikelilingi oleh hutan pinus yang sunyi dan penjagaan bersenjata yang ketat. ​Begitu sampai di dalam, Sarah langsung diarahkan ke sebuah ruangan yang mewah namun terasa seperti sel isolasi. Jendela besar di sana hanya memperlihatkan jurang curam di luar. ​"Di sini kau akan tinggal, Ptichka," suara Maksimov terdengar di belakangnya, nyaris berbisik. Ia berjalan mendekat dan menyentuh tepian cadar Sarah, menariknya sedikit untuk melihat tatapan kosong di mata gadis itu. "Dan jangan membayangkan kau bisa melarikan diri. Ayahmu sedang dalam perjalanan menuju 'rumah' yang kau inginkan. Tapi ingat, setiap langkah yang dia ambil dipantau oleh anak buahku. Jika kau mencoba membuat keributan di sini, atau mencoba mengirim sinyal pada siapa pun, pelacak pada ayahmu akan mengirimkan sinyal kematian." ​Maksimov tersenyum tipis—sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya yang dingin. "Kau harus menjadi boneka yang penurut jika ingin ayahmu tetap bernapas sampai dia tiba di tujuannya." ​Maksimov berbalik dan keluar, menutup pintu berat itu dengan suara klik kunci elektronik yang menggema. Sarah ditinggalkan sendirian di kamar yang sunyi itu. Ia tidak menangis; ia tidak punya lagi air mata untuk dikeluarkan. Ia hanya merasa marah yang membara di balik cadarnya. ​Ia mulai menggeledah ruangan itu, bukan mencari jalan keluar—karena ia tahu kastel ini adalah benteng—melainkan mencari sesuatu yang bisa ia gunakan sebagai pegangan. Di balik laci meja rias, di bawah tumpukan perhiasan mewah yang tampak seperti sogokan, ia menemukan sebuah earpiece kecil dan sebuah ponsel satelit terenkripsi. ​ Tiba-tiba, ponsel itu bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal: ​"Dia tahu kau membencinya, tapi dia tidak tahu kau sedang belajar caranya untuk menghancurkannya. Gunakan alat ini jika kau ingin informasi tentang posisi ayahmu yang sebenarnya di balik jebakan itu." ​Sarah mematung. Jantungnya berdegup kencang. Ia menyembunyikan earpiece itu ke dalam lipatan abayanya, tepat di dekat kulitnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin—wajah yang tertutup cadar, mata yang kini menyimpan bara rahasia. Ia sadar, ia tidak bisa lagi menjadi gadis yang hanya bisa meratap. Untuk menyelamatkan ayahnya dari jebakan Maksimov, ia harus menjadi aktor yang lebih hebat dari sang Tsar. ​Di balik pintu kamar yang terkunci rapat, dunia luar seolah lenyap, menyisakan keheningan yang menyesakkan di dalam kamar kastel yang megah namun dingin itu. Sarah tidak membuang waktu. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia meraih mukena yang selalu ia simpan di sela-sela pakaiannya. ​ Ia tidak melipat abayanya. Ia hanya membiarkan abaya hitam itu meluncur jatuh ke lantai, menumpuk seperti bayangan di bawah kakinya, lalu dengan cepat menyampirkan mukena putih ke atas kepalanya. Cadar hitamnya ia lepaskan, membiarkan wajahnya yang pucat dan mata yang lelah terpapar udara ruangan yang beku. ​Di atas permadani tebal yang mewah, Sarah bersujud. ​ Ya Allah, bisiknya dalam hati, suaranya tercekat di tenggorokan. Di tengah kegelapan ini, hanya Engkau yang melihatku. Hanya Engkau yang tahu bagaimana perihnya hatiku karena telah membiarkan ayah menjadi umpan. ​ Di balik pintu kayu jati yang tebal, Maksimov berdiri mematung. Ia tidak mengetuk. Ia tidak masuk. Ia justru sengaja meredam suara langkah kaki anak buahnya yang melintas di koridor dengan isyarat tangan yang tajam. Ia tahu Sarah sedang beribadah—ia mengenali pola waktu gadis itu, dan entah mengapa, ada sesuatu yang memicu obsesinya setiap kali ia menyadari Sarah sedang berserah diri kepada sesuatu yang lebih besar dari kekuasaannya sendiri. ​ Maksimov bersandar di pintu, mendengarkan keheningan di balik sana. Ia tidak merasa terganggu. Justru, ia merasa seolah-olah ia adalah satu-satunya penjaga yang berdiri di depan "altar" Sarah. Baginya, Sarah adalah miliknya, dan bahkan di saat gadis itu sedang mengadu kepada Tuhan, Maksimov merasa dialah pemilik hak eksklusif atas waktu dan ruang Sarah. ​ Di dalam, Sarah menyelesaikan rakaat terakhirnya. Ia memanjatkan doa dengan air mata yang mulai jatuh, membasahi kain mukenanya. Ia memohon kekuatan, memohon agar ia tidak hancur saat harus kembali berpura-pura tunduk di hadapan iblis yang telah mengurungnya. ​ Selesai dengan doanya, Sarah segera melepas mukena dengan gerakan cepat dan kembali mengenakan abayanya. Ia kembali memasang cadarnya, menutup rapat-rapat semua celah emosi di wajahnya hingga hanya menyisakan sorot mata yang tajam dan penuh perhitungan. ​ Ia tahu, pintu itu akan segera terbuka. Ia harus kembali memerankan perannya sebagai "boneka" yang patuh sebelum Maksimov masuk untuk menagih "pembayaran" atas keberadaan ayahnya yang kini berada dalam bahaya. Suara kunci elektronik berbunyi klik yang tajam, memecah kesunyian kamar. Maksimov melangkah masuk dengan keanggunan seorang predator. Ia tidak terburu-buru. Matanya yang kelabu langsung menyapu ruangan, berhenti sejenak pada tumpukan mukena yang baru saja diletakkan Sarah di atas ranjang, lalu beralih ke mata Sarah yang masih sedikit kemerahan di balik cadarnya. ​ "Aroma surga di dalam nerakaku," bisik Maksimov, suaranya rendah dan serak. Ia berjalan mendekat, aroma wiski dan dinginnya salju Alpen yang masih melekat di mantelnya menyerang indra penciuman Sarah. ​ Sarah berdiri kaku di samping ranjang, tangannya meremas kain abayanya. "Apa yang kau inginkan lagi, Maksimov? Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau. Aku di sini, dan ayahku sedang kau jadikan umpan mati." ​ Maksimov tertawa kecil, suara yang tidak mengandung keramahan sama sekali. Ia menjangkau dagu Sarah, memaksa gadis itu mendongak menatapnya. Jemarinya yang kasar mengusap pinggiran cadar Sarah dengan gerakan yang seolah-olah ingin merobeknya, namun ia menahan diri. ​ "Aku menginginkan kepatuhan yang tulus, bukan sandiwara doa yang kau lakukan barusan," desis Maksimov. Ia menarik tubuh Sarah lebih dekat, hingga d**a mereka bersentuhan. "Kau pikir Tuhanmu akan menghentikan peluru yang akan menembus kepala ayahmu jika kau tidak menuruti perintahku?" ​Sarah gemetar, bukan karena takut, melainkan karena amarah yang ia tahan sekuat tenaga. "Kau monster yang tidak punya jiwa." ​ "Jiwa?" Maksimov menyeringai gelap. Ia menunduk, menempelkan keningnya pada kening Sarah yang tertutup kain cadar. "Jiwaku sudah mati sejak lama, Sarah. Dan sekarang, aku akan memastikan jiwamu juga mati bersamaku di kastel ini. Kau akan belajar mencintai rantai yang aku pasang di lehermu." ​ Maksimov tiba-tiba merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan sebuah tablet kecil. Ia menyalakannya dan menunjukkannya tepat di depan mata Sarah. Di layar itu, terlihat rekaman CCTV real-time dari sebuah pelabuhan kecil. Terlihat ayahnya Sarah berjalan lunglai, dikawal oleh dua pria berbadan besar yang tampak seperti turis biasa. ​ "Lihat itu," gumam Maksimov di telinga Sarah. "Dia sedang menunggu kapal menuju Indonesia. Tapi di sudut sana—" Maksimov menunjuk ke arah bayangan di belakang kontainer, "—ada penembak jitu dari klan Petrov yang sudah mulai mencium bau umpanku. Satu gerak-gerik yang salah darimu di kamar ini, dan aku akan membiarkan penembak itu menarik pelatuknya." ​ Sarah memejamkan matanya rapat-rapat, dadanya sesak oleh rasa bersalah yang menghimpit. Maksimov menikmati kehancuran mental Sarah. Ia mencium pelipis Sarah dengan ciuman yang lambat dan menyakitkan. ​"Sekarang," ucap Maksimov sambil menjauh sedikit, namun tangannya tetap melingkar di pinggang Sarah dengan posesif. "Ganti pakaianmu. Kita akan makan malam di bawah. Aku ingin kau duduk di sampingku sebagai ratuku, bukan sebagai tawanan yang meratap. Hapus sisa air mata doamu, atau aku yang akan menghapusnya dengan caraku sendiri." ​Maksimov melepaskan Sarah dan berjalan menuju pintu, namun sebelum ia keluar, ia menoleh kembali. "Ingat, Sarah... jangan coba-coba menyentuh ponsel satelit yang kau temukan di laci itu. Aku yang meletakkannya di sana untuk melihat seberapa cepat kau akan mengkhianatiku." ​Sarah mematung. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ternyata pesan misterius itu adalah bagian dari tes Maksimov.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD