BAB 15: Perbatasan Berdarah

1638 Words
​Udara di perbatasan Rusia dan Kazakhstan adalah kutukan. Angin badai membawa butiran es yang menghantam helikopter dengan beringas, namun di ambang pintu pesawat, Sarah berdiri dengan ketenangan yang tidak wajar. ​Ia dibalut pakaian taktis yang melekat erat di tubuhnya, namun di luarnya, ia tetap mengenakan abaya hitam longgar dan cadar yang menutupi wajahnya. Di tengah hamparan putih salju yang buta, sosoknya tampak seperti noda tinta yang mematikan—anggun, tertutup, namun menyimpan api yang siap membakar siapa pun yang mendekat. ​ Maksimov berdiri tepat di belakangnya, napasnya yang hangat menerpa tengkuk Sarah, terhalang oleh kain abaya yang tebal. Ia tidak membiarkan Sarah pergi begitu saja. Dengan jemari yang terbungkus kulit sarung tangan taktis, Maksimov mencengkeram bahu Sarah, menarik tubuh gadis itu agar berbalik menghadapnya. ​ Jarak mereka kini tidak menyisakan ruang bahkan untuk sehelai napas. ​"Kau bersikeras tetap memakai ini," bisik Maksimov, suaranya serak, penuh dengan nada posesif yang gelap. Ia menyentuh tepian cadar Sarah, menarik kain hitam itu sedikit hingga ia bisa menatap langsung ke kedalaman mata gadis itu yang kini memancarkan kebencian yang murni. "Kau tahu, di balik kain ini... kau hanyalah milikku. Kau bisa menutupi dirimu dari dunia, Sarah, tapi kau tidak bisa menutupi dirimu dari pandanganku." ​Sarah tidak berkedip. Di balik cadarnya, ia menggeram rendah. "Jangan pernah sentuh prinsipku, Maksimov. Aku memakai ini bukan untuk melindungimu, tapi untuk mengingatkan diriku bahwa aku belum hancur oleh tanganmu." ​Maksimov tertawa kecil—sebuah suara rendah yang terdengar seperti predator yang tengah bermain dengan mangsanya. Ia justru semakin mendekat, menekan tubuh Sarah hingga gadis itu terhimpit ke dinding helikopter. Cengkeramannya pada pinggang Sarah, tepat di atas lipatan abaya, terasa seperti jeratan yang tidak akan pernah lepas. ​"Prinsipmu adalah sesuatu yang manis untuk dihancurkan," bisik Maksimov lagi. Ia membungkuk, menempelkan hidungnya pada cadar Sarah, menghirup aroma dingin salju dan sesuatu yang sangat khas milik gadis itu—aroma yang memabukkannya. "Tapi ingat, Ptichka, saat kita masuk ke dalam sana, setiap peluru yang kau lepaskan, setiap darah yang kau tumpahkan, akan menjadi milikku. Kau bukan lagi gadis yang suci. Kau adalah monster yang aku ciptakan." ​ Maksimov melepaskan cengkeramannya tiba-tiba, membiarkan Sarah terhuyung ke depan. Ia merapikan kain abaya Sarah dengan gerakan yang kasar namun intim, seolah sedang menandai apa yang akan segera menjadi miliknya sepenuhnya. "Fasilitas itu ada di depan sana," ucap Maksimov, suaranya kembali dingin dan penuh otoritas, seolah momen intimidasi barusan tidak pernah terjadi. "Klan Petrov sedang menyiksa ayahmu. Jika kau ingin menyelamatkannya, tunjukkan padaku bahwa kau bisa menjadi sesuatu yang jauh lebih kejam dari mereka." ​ Sarah menarik napas panjang, merapatkan genggamannya pada senapan serbu di tangannya. Ia melompat turun dari helikopter, mendarat di salju dengan langkah pasti. Abaya hitamnya berkibar hebat tertiup angin, menjadi bayangan yang siap menyapu bersih siapa pun yang menghalangi jalannya menuju sang ayah. ​ Maksimov mengikuti di belakang, menatap punggung Sarah dengan senyum tipis yang penuh obsesi. Ia tidak peduli jika Sarah membencinya; ia hanya ingin Sarah tetap berada dalam jangkauannya, terjebak dalam perangkap yang ia buat sendiri. ​ ​Di bawah kegelapan bunker yang pengap, Sarah bergerak seperti bayangan. Abaya hitamnya yang longgar seharusnya menjadi beban, namun baginya, kain itu adalah perisai—sesuatu yang menyembunyikan setiap gerakan taktis yang ia pelajari dari Maksimov. Di belakangnya, sang Tsar berjalan dengan ketenangan predator, tidak memegang senjata, seolah ia yakin tidak ada peluru yang berani menyentuhnya. ​ Tiba-tiba, sebuah alarm berbunyi nyaring. Lorong di depan mereka dibanjiri lampu merah berputar. Sekelompok penjaga klan Petrov muncul dari balik tikungan, mengarahkan senjata ke arah mereka. ​ "Sarah, di belakangku," perintah Maksimov dingin, namun Sarah menolak. Ia melompat keluar dari balik pilar, abayanya berkibar hebat, dan dengan gerakan yang sangat terlatih, ia melepaskan tembakan presisi yang melumpuhkan dua penjaga terdepan. ​ Maksimov tertawa—sebuah tawa yang penuh dengan kepuasan yang gila. Ia membiarkan Sarah bertindak, menikmati bagaimana gadis yang dulu ia kurung itu kini menjadi instrumen kekerasan yang mematikan. ​ Saat area itu bersih, Maksimov menarik lengan Sarah, membawanya masuk ke sebuah ruang interogasi yang tersembunyi. Di sana, di tengah kursi besi yang berkarat, ayahnya terikat dengan kondisi yang mengenaskan. ​ "Ayah!" Sarah berlari, namun Maksimov menahan bahunya dengan satu tangan, memaksa Sarah berhenti tepat di depan pria yang ia cintai itu. ​ "Tunggu," bisik Maksimov di telinga Sarah, napasnya terasa dingin namun sangat dekat. "Jika kau ingin dia selamat, kau harus menunjukkan padanya bahwa kau bukan lagi putrinya yang lemah. Tunjukkan padanya apa yang telah kau pelajari dariku." ​ Maksimov menyerahkan pisau taktis miliknya ke tangan Sarah yang masih terbalut sarung tangan. "Potong ikatan itu, Sarah. Tapi sebelum kau melakukannya, katakan padanya bahwa kau tidak akan pernah pulang ke Indonesia. Katakan padanya bahwa kau sekarang adalah milik klan Volkov." ​ Sarah menatap ayahnya yang memandangnya dengan tatapan nanar dan tidak percaya. Tatapan itu menghancurkan hati Sarah, namun tangan Maksimov yang meremas pinggangnya memberikan tekanan yang brutal, sebuah ancaman tanpa kata. ​ "Katakan," desak Maksimov dengan suara rendah yang mengancam. "Atau aku akan memastikan dia tidak akan pernah melihat matahari lagi setelah ini." ​ Sarah menatap pria di kursi itu, lalu beralih pada Maksimov. Ia bisa merasakan aura d******i Maksimov yang seolah ingin menelan jiwanya. Dengan suara bergetar namun penuh dengan kepahitan, Sarah berkata, "Ayah... aku tidak bisa kembali. Aku... aku sudah menjadi bagian dari dunia ini. Aku milik klan Volkov sekarang." ​ Maksimov tersenyum di balik kegelapan ruangan. Ia menyukai bagaimana Sarah hancur di tangannya, bagaimana gadis itu membuang masa lalunya untuk bertahan hidup. Ia membelai cadar yang menutupi wajah Sarah, menekan kain itu hingga menyentuh kulit bibir Sarah. ​ "Bagus," bisik Maksimov, matanya yang kelabu berkilat penuh obsesi. "Sekarang, tebas ikatan itu dan bawa dia pergi. Tapi ingat, setiap detak jantung ayahmu mulai detik ini adalah utang yang harus kau bayar padaku dengan tubuh dan jiwamu." ​ Sarah menatap Maksimov dengan mata yang penuh kebencian sekaligus ketergantungan yang mengerikan. Ia memotong ikatan ayahnya, namun ia tahu, saat ia melangkah keluar dari bunker ini nanti, ia tidak akan pernah benar-benar bebas. Ia telah terikat pada Maksimov dengan rantai yang tidak terlihat, namun jauh lebih kuat dari baja mana pun. ​ ​Begitu ikatan itu terputus, ayah Sarah jatuh lemas ke lantai bunker yang dingin. Sarah segera berlutut, berusaha menopang tubuh pria yang selama ini menjadi satu-satunya pelabuhan aman dalam hidupnya. Namun, sebelum ia sempat memeluk sang ayah, Maksimov menarik Sarah berdiri dengan satu sentakan kasar, menyeretnya menjauh dari jangkauan pria tua itu. ​ "Cukup sentimentalitasnya," suara Maksimov dingin, nyaris tanpa emosi. ​ Maksimov berdiri di depan mereka, bayangannya menelan sosok ayah Sarah yang tampak kerdil di hadapan sang Tsar. Ia tidak membiarkan Sarah mendekat lagi. Dengan satu gerakan tangan, ia memberi kode pada anak buahnya yang bersenjata lengkap untuk mengapit pria tua itu. ​ "Dia selamat," bisik Maksimov tepat di depan wajah Sarah, napasnya yang hangat dan berbau tembakau mahal menerpa cadar hitam itu. Namun, di balik tatapan posesifnya, terselip kilatan keji yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang memahami kegelapan Maksimov. ​ Sarah menatap ayahnya, lalu menatap Maksimov. Ia bisa melihat kesakitan di mata ayahnya saat pria itu menyadari bahwa putrinya kini bukanlah gadis yang ia kenal. Namun, Sarah tidak tahu—tidak ada yang tahu—bahwa penyelamatan ini hanyalah bagian dari permainan psikologis yang jauh lebih bengis. ​Maksimov mendekatkan wajahnya lagi, tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit kini merayap naik ke leher Sarah, tepat di balik lipatan abayanya. Ia menekan jemarinya dengan cukup keras, sebuah peringatan halus. ​ "Katakan padanya, Sarah," bisik Maksimov, suaranya kini terdengar sangat lembut namun penuh ancaman yang mematikan. "Katakan padanya bahwa kau sudah tidak menginginkan kehidupan lamamu lagi. Katakan bahwa kau memilih tetap bersamaku... bukan karena paksaan, tapi karena kau sudah menikmati kegelapan ini." ​ Sarah menatap ayahnya, lalu berbisik dengan suara yang nyaris tak terdengar, "Ayah... jangan pernah mencoba mencariku lagi. Dunia ini bukan tempat untukmu. Aku... aku sudah menjadi milik klan ini." ​ Maksimov tersenyum puas. Ia menarik Sarah ke dalam pelukannya, mencium puncak kepala gadis itu dengan posesif di depan mata ayahnya sendiri. Itu adalah pertunjukan kekuatan di mana Maksimov tidak hanya merebut tubuh Sarah, tapi juga menanamkan rasa kepemilikan yang absolut. ​ "Bawa pria tua itu ke perbatasan," perintah Maksimov pada anak buahnya tanpa melepas dekapan dari Sarah. "Pastikan dia sampai di rumah dengan selamat... setidaknya sampai dia menyadari apa yang sebenarnya terjadi padanya." ​ Sarah tidak menangkap nada ganjil dalam kalimat itu. Ia hanya melihat ayahnya diseret keluar ruangan oleh dua anak buah Maksimov. Saat pintu baja tertutup, Maksimov mendekatkan bibirnya ke telinga Sarah, mencium kulit sensitif di balik cadarnya dengan gerakan yang menghukum. ​ "Kau pikir dia benar-benar bebas, Ptichka?" bisik Maksimov dengan tawa rendah yang dingin. "Pria tua itu sekarang adalah alat pelacak berjalan. Setiap langkah yang dia ambil menuju rumah, setiap orang yang dia temui, dan setiap kata yang dia ucapkan tentang identitasmu... akan langsung terhubung ke sistemku. Dia tidak diselamatkan untuk hidup, dia diselamatkan untuk menjadi umpan bagi semua musuh yang selama ini bersembunyi untuk menghancurkanmu." ​ Dunia Sarah seolah berhenti berputar. Ia baru saja menukar nyawa ayahnya dengan kebebasan semu, sementara Maksimov justru menjerat pria itu ke dalam jaring yang lebih mematikan. Ayahnya tidak sedang dibawa pulang; ia sedang dibawa masuk ke dalam target buruan yang paling dicari oleh klan Volkov dan musuh-musuhnya. ​ "Kau..." Sarah gemetar, namun ia tidak bisa melawan. Maksimov telah mengunci posisinya. ​ "Sekarang," Maksimov menarik cadar Sarah sedikit, menatap bibirnya dengan nafsu yang gelap. "Kita punya urusan pribadi di jet pribadi kita. Hanya kau, aku, dan kenyataan bahwa ayahmu sekarang sepenuhnya ada di bawah kendaliku." ​ ​Di dalam jet pribadi yang membelah langit malam Siberia, suasana begitu sunyi hingga desing mesin pesawat terdengar seperti ratapan. Sarah duduk di kursi kulit mewah, punggungnya kaku. Ia masih mengenakan abayanya, namun sekarang kain hitam yang biasanya memberinya rasa tenang itu justru terasa mencekik, seolah-olah ia sedang dibungkus kain kafan bagi masa depannya sendiri. ​
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD