BAB 14: Harga dari Sebuah Kebenaran

1057 Words
​Suara dentuman ledakan di kejauhan bunker terasa seperti detak jantung bumi yang sedang sekarat. Di balik reruntuhan beton yang berantakan, Maksimov berdiri tegak, sama sekali tidak tersentuh oleh kekacauan itu. Bahunya tegap, matanya yang kelabu tampak tenang namun mematikan. Ia baru saja menghabisi sisa penyusup dengan presisi yang membuat siapa pun akan bergidik ngeri. ​Ia menatap Sarah yang terduduk gemetar, menggenggam kunci kristal kecil pemberiannya. Sarah masih tidak percaya bahwa pria ini—Tsar yang begitu kejam—bisa berdiri tanpa goresan sedikit pun di tengah hujan peluru. ​"Kenapa kau membawaku ke tempat ini, Maksimov?" tanya Sarah dengan suara yang pecah. Ia menatap panel dinding rahasia di depannya, tempat kunci kristal itu harus dimasukkan ​Maksimov melangkah mendekat, bayangannya menelan sosok Sarah yang mungil. "Karena ayahmu, pria tua yang hanya seorang dosen sejarah dari Indonesia itu, adalah satu-satunya orang di dunia yang memegang bukti otentik tentang asal-usul klan ini. Selama dua puluh tahun, dia menyimpannya tanpa sadar, mengira itu hanyalah catatan sejarah biasa." ​ Sarah tertegun. "Ayahku hanya seorang saksi? Dia tidak terlibat dalam rencana klan kalian?" ​ "Tepat sekali," sahut Maksimov dingin. "Dia hanya orang asing yang kebetulan menemukan kepingan puzzle yang hilang saat melakukan riset di arsip tua Rusia. Dan kepingan itu... adalah bukti bahwa darah yang mengalir di nadimu bukanlah darah sembarangan." ​ Sarah bangkit, tangannya gemetar saat ia menempelkan kunci kristal itu ke panel. Sistem biometrik berdenging, dan dinding besi yang tebal bergeser, menyingkap ruang arsip yang penuh dengan dokumen kuno. ​Sarah berjalan masuk ke dalam ruang kecil itu. Di sana, ia menemukan bukti-bukti yang disusun oleh ayahnya—bukan sebagai perancang strategi, melainkan sebagai seorang saksi sejarah yang ketakutan. Ada foto ayahnya yang tengah melakukan wawancara dengan mantan pejabat tinggi Rusia, serta catatan kaki yang ditulis tangan dalam bahasa Indonesia mengenai asal-usul klan Volkov yang sebenarnya. ​ Ia melihat foto dirinya sendiri saat masih bayi dalam pelukan wanita Rusia yang wajahnya sangat mirip dengannya. Di balik foto itu, ayahnya menulis pesan: 'Aku hanya seorang dosen yang membawa anak ini pulang untuk melindunginya dari monster-monster yang saling memburu. Sarah tidak tahu apa-apa. Biarkan dia tetap tidak tahu.' ​ "Dia tidak pernah mengkhianatimu," bisik Sarah, air matanya menetes jatuh ke atas kertas tua itu. "Dia hanya mencoba melindungiku dari dunia mafia kalian yang sakit." ​ Maksimov berdiri di ambang pintu, menatap tumpukan arsip itu dengan tatapan yang sulit dibaca. "Dia saksi yang naif. Dia pikir dengan membawamu pulang ke Indonesia, dia bisa menyembunyikanmu dari takdir. Tapi takdir memiliki cara yang kejam, Sarah." ​ Maksimov melangkah masuk ke dalam ruang arsip, menatap Sarah dengan intensitas yang membuat gadis itu merasa seolah ia adalah pusat dari seluruh konspirasi ini. "Ayahmu sekarang adalah tawanan klan Petrov. Mereka ingin membungkam saksi kunci ini. Dan sekarang, setelah kau tahu bahwa ayahmu hanyalah seorang saksi yang tidak bersalah... apakah kau akan tetap berdiam diri, atau kau akan menggunakan bukti ini untuk menghancurkan mereka semua?" ​ Sarah menatap Maksimov. Kini ia sadar, bukan hanya ayahnya yang terancam, tetapi ia sendiri telah ditarik menjadi bagian dari sejarah berdarah ini karena ia adalah satu-satunya saksi yang tersisa. ​ ​Hening menyelimuti ruang arsip yang dingin itu, hanya terdengar deru sistem pendingin bunker yang beradu dengan napas Sarah yang tak beraturan. Di depannya, jejak-jejak masa lalu ayahnya—seorang dosen sejarah sederhana yang terjerat dalam konspirasi besar—terpampang jelas. Dokumen-dokumen itu bukan sekadar tumpukan kertas, melainkan bukti bagaimana hidup pria itu dihancurkan hanya karena dia adalah seorang saksi yang terlalu tahu banyak. ​ Maksimov melangkah masuk ke dalam ruang arsip, auranya yang dominan memenuhi setiap sudut ruangan. Ia tidak lagi menatap Sarah dengan tatapan menuntut, melainkan dengan tatapan yang lebih dingin, seolah ia sedang mengamati bidak catur yang baru saja menyadari bahwa ia telah dikorbankan. ​ "Ayahmu bukan musuhku, Sarah," ucap Maksimov memecah keheningan. "Dia adalah pion yang mencoba melawan arus. Dan bagi orang-orang seperti klan Petrov, pion yang tahu terlalu banyak hanya memiliki satu akhir: dihapuskan." ​ Sarah menoleh tajam ke arah Maksimov. "Jadi kau membiarkan mereka menangkapnya? Kau membiarkan mereka menyiksa pria yang tidak tahu apa-apa ini hanya untuk kepentingan politik klanmu?" ​ Maksimov menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang jauh dari rasa bersalah. "Dunia ini tidak dibangun di atas keadilan, Sarah. Dunia ini dibangun di atas hierarki. Ayahmu tidak cukup kuat untuk melindungi rahasia ini, dan dia tidak cukup kuat untuk melindungi dirimu. Sekarang, kau berada di titik di mana kau harus memilih." ​ Maksimov menyalakan proyektor holografik di tengah ruangan. Sebuah peta jaringan menunjukkan lokasi penyekapan ayah Sarah—sebuah fasilitas terpencil di perbatasan antara Rusia dan Kazakhstan. ​ "Pilihannya sederhana," lanjut Maksimov. "Kau bisa terus menangisi kebenaran yang baru saja kau temukan dan membiarkan ayahmu dieksekusi oleh klan Petrov dalam waktu dua puluh empat jam. Atau, kau bisa menggunakan informasi ini—data yang telah dihimpun ayahmu selama puluhan tahun—untuk memberiku keunggulan mutlak atas musuh-musuhku. Jika kau melakukannya, aku akan turun tangan sendiri untuk mengambil kembali ayahmu dari tangan mereka." ​ Sarah menatap proyektor itu, lalu menatap dokumen asli di tangannya. Ia kini memahami bahwa bukti-bukti sejarah ini adalah kekuatan luar biasa. Jika ia memberikan data ini kepada Maksimov, ia akan menjadi sekutu sang Tsar, namun ia juga akan menjadi target permanen dari musuh-musuh Maksimov yang lain. Jika ia tidak melakukannya, ayahnya akan mati. ​ "Kau memaksaku," bisik Sarah, suaranya kini lebih tegas meski masih menyisakan getaran kepedihan. "Kau selalu memaksaku berada di sudut yang tidak memiliki jalan keluar." ​ "Hidup memang jarang menawarkan jalan keluar yang bersih," jawab Maksimov sambil mendekat, jemarinya menyentuh dagu Sarah dengan posesif namun hati-hati. "Tapi aku menawarkanmu perlindungan. Di bawah namaku, di bawah perlindunganku, ayahmu akan hidup. Dan kau... kau akan belajar bahwa di dunia ini, kau tidak perlu menjadi pion. Kau bisa menjadi pemainnya." ​ Sarah memejamkan mata, memikirkan wajah ayahnya. Ia mengambil keputusan. Ia bukan lagi gadis yang hanya bisa menangis di balik cadar. Ia adalah saksi dari kejahatan yang ingin ia hentikan. ​ "Bawa aku ke sana," kata Sarah dengan mata yang berkilat penuh tekad. "Dan buat kesepakatan itu. Setelah ayahku selamat, aku akan memberikan semua akses data ini padamu. Tapi ingat, Maksimov... jangan pernah berpikir kau bisa memperlakukanku sebagai tawanan lagi." ​ Maksimov tertawa pelan, sebuah tawa yang terdengar sangat puas. "Aku tidak akan pernah memperlakukanmu sebagai tawanan, Sarah. Aku akan memperlakukanmu sebagai orang yang setara... selama kau mampu bertahan hidup di sisiku."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD