BAB 10: Kebenaran yang Tersembunyi

1132 Words
​Suasana di penthouse Volkov Tower setelah kekacauan malam itu terasa lebih mencekam daripada penjara manapun. Sarah duduk di tepi tempat tidur besar, masih mengenakan gaun yang kini sedikit koyak di bagian ujung. Ia tidak berani menatap cermin, karena yang ia lihat di sana bukanlah lagi seorang mahasiswi yang lugu, melainkan seseorang yang terjerat dalam konspirasi besar yang bahkan tidak ia pahami. ​ Maksimov berdiri di balkon, menghadap ke arah kota Moskow yang tertutup badai. Ia sedang berbicara melalui telepon satelit dengan nada yang sangat rendah namun penuh intimidasi. Di tangannya, sebatang cerutu menyala, asapnya menari-nari tertiup angin dingin yang masuk dari celah pintu balkon. ​ "Cari tahu semua tentang yayasan pendidikan yang menaungi keluarga Anindita di Jakarta," suara Maksimov menggelegar meski pelan. "Aku ingin daftar donor, aliran dana, dan catatan perjalanan orang tuanya selama sepuluh tahun terakhir. Jika ada satu nama dari klan musuh yang terselip, bakar yayasan itu sampai menjadi abu." ​ Ia menutup telepon dan berbalik. Mata abu-abunya yang dingin kini tertuju tajam pada Sarah. Maksimov berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa berat, menuntut perhatian penuh dari Sarah. ​ "Mereka mencoba bermain dengan takdirku, Sarah," ucap Maksimov, suaranya kini terdengar lebih dekat, lebih menekan. Ia berhenti tepat di depan Sarah, menunduk hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Katakan padaku satu hal yang jujur. Apakah selama ini, ayahmu pernah menyebutkan sesuatu tentang aliansi dengan klan di Rusia?" ​ Sarah menggeleng lemah, air mata mengalir di balik cadarnya. "Tidak pernah... ayahku hanya seorang dosen sejarah. Kami... kami hanya liburan biasa. Aku tidak tahu kenapa mereka melakukan ini padaku." ​ Maksimov terdiam sejenak. Ia memegang dagu Sarah dengan jemarinya yang dingin, memaksa gadis itu menatap matanya. Ia tidak melihat kebohongan di sana, hanya ketakutan yang murni dan keputusasaan. ​ "Jika kau berkata benar, maka kau hanyalah korban yang terjebak di tengah perang dua dunia," bisik Maksimov, suaranya sedikit melunak, namun masih membawa d******i yang mencekik. "Tapi, dunia bawah tanah tidak mengenal istilah 'korban'. Setiap tindakan memiliki konsekuensi. Malam ini, aku sudah mengirim tim untuk mengamankan keluargamu di Indonesia. Mereka akan dibawa ke tempat yang aman di bawah pengawasanku." ​ "Apa maksudmu dengan 'diamankan'?" tanya Sarah, suaranya bergetar hebat. ​ "Artinya mereka adalah tawanan kehormatanku sekarang," jawab Maksimov tanpa rasa bersalah. "Selama kau tetap di sisiku, patuh, dan tidak mencoba menyembunyikan rahasia apa pun dariku, mereka akan hidup seperti raja di sebuah villa di pegunungan Alpen. Tapi jika kau mencoba berkhianat... kau tahu apa yang akan terjadi." ​ Sarah merasa dunianya seolah runtuh. Maksimov bukan hanya memenjarakannya, tapi juga telah mengubah keluarganya menjadi bidak catur yang tak berdaya. Ia kini benar-benar terjebak dalam sangkar emas yang sesungguhnya. ​ "Kau mencintaiku atau membenciku, Maksimov?" tanya Sarah tiba-tiba, sebuah pertanyaan yang selama ini tersimpan di lubuk hatinya. ​ Maksimov tertawa sinis, sebuah tawa yang kering. Ia membelai pipi Sarah dengan lembut, namun tatapannya tetap sedingin es. "Cinta adalah konsep yang lemah bagi pria sepertiku. Aku memiliki obsesi, Sarah. Aku memiliki kebutuhan. Dan saat ini, kau adalah kebutuhan yang paling mendesak dalam hidupku. Jangan pernah bertanya soal cinta, karena bagiku, kau adalah milikku—dan kepemilikan tidak butuh cinta." ​ Ia beranjak pergi, namun berhenti di ambang pintu kamar. "Besok, kita akan berangkat ke Indonesia. Kita akan mencari tahu siapa sebenarnya ayahmu, dan mengapa mereka begitu ingin menghancurkanku melalui putrinya." ​ Pintu kamar tertutup dengan bunyi klik otomatis yang mengunci ruangan itu. Sarah terduduk lemas, menyadari bahwa perjalanan pulang ke negaranya bukan berarti ia akan bebas. Ia akan pulang sebagai "nyonya" dari monster yang paling dibenci oleh orang-orang yang mungkin saja pernah mengenal keluarganya. ​ Perjalanan menuju Indonesia tidak terasa seperti kepulangan bagi Sarah. Di dalam jet pribadi yang mewah namun terasa sesak oleh aura otoriter Maksimov, gadis itu hanya bisa menatap awan yang bergulung di bawah mereka. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, bayangan ancaman Maksimov tentang "pewaris takhta" kembali menghantuinya. ​ Begitu pesawat mendarat di landasan pribadi di pinggiran Jakarta, suasana di luar sudah disterilkan oleh puluhan tentara bayaran Rusia yang berpakaian sipil. Sarah merasa asing di tanah kelahirannya sendiri. ​ Mereka tiba di rumah masa kecil Sarah. Namun, tempat yang dulu penuh dengan tawa dan buku-buku sejarah ayahnya kini tampak seperti rumah hantu. Pintu depan terbuka lebar, furnitur terbalik, dan di dinding ruang tamu, terpampang simbol elang perak—lambang klan Volkov—yang disemprot dengan cat merah darah. ​ "Mereka sudah di sini lebih dulu," gumam Maksimov, langkahnya tidak terburu-buru, namun pistol di balik jasnya sudah siap dalam jangkauan. ​ Sarah berlari masuk ke ruang kerja ayahnya. Ia mendapati laci-laci terbuka paksa. Di atas meja, terdapat sebuah amplop tua yang tertinggal. Ia membukanya dengan tangan gemetar. Isinya bukan surat, melainkan foto pernikahan ayahnya dengan seorang wanita Rusia yang wajahnya sangat familiar—wanita itu memiliki mata abu-abu yang sama persis dengan milik Maksimov. ​ Di balik foto itu tertulis sebuah tanggal dan alamat di pedalaman Siberia. ​ "Apa ini?" suara Maksimov menggelegar di belakangnya. Ia menyambar foto itu, dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Sarah melihat tangan pria itu gemetar hebat. ​ "Ibuku," desis Maksimov, matanya memerah karena amarah yang bercampur dengan kebingungan. "Wanita ini... dia menghilang dari klan Volkov tiga puluh tahun lalu. Ayahmu... dia bukan hanya seorang dosen sejarah. Dia adalah pria yang membawa ibuku lari dari klan ini." ​ Tiba-tiba, Maksimov mencengkeram lengan Sarah, bukan dengan kekasaran seperti biasanya, melainkan dengan cengkeraman yang penuh rasa frustrasi yang mendalam. Ia menyeret Sarah keluar dari rumah itu, menuju ke mobil yang sudah menunggu. ​ "Kita tidak jadi ke tempat persembunyian keluargamu. Kita akan kembali ke Rusia, ke tempat di mana semuanya dimulai," ucap Maksimov dengan suara yang sangat dingin. ​ "Maksimov, lepaskan! Apa yang terjadi?" teriak Sarah. ​ Maksimov menghentikan langkahnya, menoleh dengan tatapan yang kini bukan lagi sekadar posesif, melainkan sebuah bentuk klaim yang lebih gelap dan mengerikan. Ia menekan tubuh Sarah ke badan mobil hingga gadis itu tidak bisa bergerak. ​ "Ternyata hubungan kita bukan sekadar tawanan dan penculik, Sarah. Kita adalah dua ujung dari satu dendam lama," bisik Maksimov, wajahnya sangat dekat, membuat Sarah merasa sesak. "Dan itu artinya, tidak ada lagi alasan untuk menunggu. Kau ingin tahu kapan aku akan memaksamu punya anak?" ​ Maksimov membisikkan kata-kata itu dengan nada yang membuat bulu kuduk Sarah berdiri. "Malam ini, saat kita sampai di udara, di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh hukum mana pun. Kau akan mengandung pewarisku. Jika darah ayahmu yang menodai garis keturunan keluargaku, maka darahmu harus menyatukan mereka kembali di dalam rahimmu. Itu adalah harga yang harus kau bayar untuk keselamatan orang tuamu." ​ Tanpa menunggu jawaban, Maksimov mengangkat tubuh Sarah dan memasukkannya ke dalam mobil dengan kasar. Sarah tersungkur di kursi belakang, menyadari bahwa ia baru saja masuk ke dalam labirin yang lebih gelap dari yang bisa ia bayangkan. Pria itu tidak lagi hanya menginginkan kekuasaan; ia menginginkan pembalasan melalui tubuh Sarah. ​
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD