BAB 11: Pelarian di Atas Awan

1480 Words
​Kabin jet pribadi itu terasa mencekik, seolah oksigen di dalamnya sengaja dikurangi oleh Maksimov untuk membuat Sarah merasa lebih tidak berdaya. Di luar, langit malam yang hitam pekat tampak seperti jurang tak berdasar. Di dalam, badai yang sesungguhnya tengah berkecamuk dalam jiwa Sarah. ​Selama berjam-jam, Sarah hanya menatap tangannya sendiri yang gemetar. Pikirannya terus berputar pada satu titik yang selama ini ia tepis: Pernikahan ini tidak sah. Ia adalah seorang wanita yang memegang teguh agamanya. Dalam keyakinannya, sebuah pernikahan menuntut ijab kabul yang sah, saksi yang jujur, dan kerelaan hati. Tidak ada satu pun dari syarat itu yang terpenuhi saat Maksimov "menjadikannya" istri di depan para bawahannya yang bengis. Di mata Tuhan, ia bukan istri pria ini; ia hanyalah tawanan yang dipaksa tunduk oleh monster yang merasa memiliki hak atas hidupnya. ​"Kau melamun lagi, Ptichka?" suara berat Maksimov memecah keheningan. Ia baru saja keluar dari ruang kendali, melepas jasnya, dan duduk tepat di hadapan Sarah. ​ Sarah menunduk dalam-dalam, menyembunyikan kebencian yang mulai membakar dadanya. Ia tidak menjawab. ​ "Besok kita sampai di Indonesia," lanjut Maksimov, jemarinya yang dingin menyentuh permukaan meja dengan ketukan ritmis yang mengintimidasi. "Aku akan menemui ayahmu. Jika dia benar-benar pria yang aku cari, maka kau akan melihat bagaimana aku menghancurkan segalanya yang dia bangun—dan kau akan berada di sampingku untuk menyaksikannya." ​ Saat Maksimov kembali ke ruang kokpit untuk berbicara dengan pilot, Sarah tahu ini adalah satu-satunya kesempatan. Ia tidak lagi bergerak karena rasa takut, melainkan karena dorongan harga diri yang tersisa. Ia tidak akan membiarkan Maksimov menggunakan dirinya untuk menghancurkan ayahnya—atau sebaliknya, membiarkan ayahnya menggunakan dirinya untuk mengkhianati Maksimov. ​ Ia harus keluar dari lingkaran setan ini. ​Dengan tangan yang gemetar hebat, Sarah merogoh saku gaunnya. Ia teringat alat pembuka baut kecil yang ia ambil diam-diam dari rumahnya tadi sore. Ia merangkak menuju panel kelistrikan di dekat pintu belakang kabin. Ia tahu, jika ia bisa membuat hubungan arus pendek pada sistem kelistrikan pintu otomatis, mungkin ia bisa membuka pintu darurat untuk sesaat. ​Ia menyatukan dua kabel tembaga yang terbuka di balik panel. ​ Czzzt! ​ Percikan api menyambar, membuat lampu kabin berkedip hebat dan mati total. Sistem navigasi pesawat berbunyi nyaring, disusul suara alarm yang melengking. ​ "Sarah?!" Suara geraman Maksimov terdengar dari arah kokpit, disusul suara langkah kaki sepatu bot yang menghentak keras di lantai pesawat. ​ Sarah tidak menunggu. Ia menerjang pintu darurat yang sistem penguncinya sempat terbuka sesaat karena gangguan listrik. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia menarik tuas darurat. Udara dingin yang luar biasa langsung menyerbu masuk, membuat telinganya berdenging hebat akibat perubahan tekanan udara. ​ "JANGAN BERANI-BERANI MELOMPAT!" teriak Maksimov. ​ Sarah menoleh sekilas, melihat sosok pria itu berdiri di kegelapan dengan wajah yang dipenuhi amarah yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tanpa ragu, ia memejamkan mata dan menjatuhkan diri ke dalam kegelapan malam. ​ Angin menghantam tubuhnya seperti dinding batu. Ia membiarkan gravitasi menariknya jatuh, jauh dari pria yang mengklaim tubuhnya, dan jauh dari pernikahan yang ia anggap sebagai sebuah penghinaan terhadap Tuhan. ​ ​Sebelum Sarah sempat menyentuh tuas pintu darurat, Maksimov muncul dari balik bayang-bayang lorong kabin. Matanya tidak lagi menunjukkan kemarahan, melainkan kilatan dingin yang jauh lebih mengerikan. Ia tahu rencana Sarah; sistem keamanan pesawat telah memberitahunya segalanya. ​ "Kau pikir kau bisa lari dariku, Ptichka?" suara Maksimov bergetar karena emosi yang tertahan. ​Maksimov menerjang, tidak memberi kesempatan bagi Sarah untuk bereaksi. Ia mencengkeram pergelangan tangan Sarah, memelintirnya ke belakang punggung gadis itu dengan tenaga yang membuat Sarah meringis kesakitan. Maksimov kemudian mendorong Sarah ke dinding kabin, mengurung tubuhnya di antara lengan pria itu. ​ "Ayahmu..." bisik Maksimov, napasnya panas di telinga Sarah. "Dia bukan korban. Dia adalah pria yang menghancurkan hidup ibuku. Dia mengirimmu kepadaku bukan untuk diculik, tapi untuk memata-matai setiap inci gerak-gerikku dari dalam, agar dia bisa mengambil alih klan Volkov dengan tanganmu." ​ Sarah terbelalak, dunianya bergetar hebat. "Tidak mungkin... Ayahku tidak mungkin melakukan itu!" ​ "Dia melakukannya," potong Maksimov. "Dan sekarang, kau mencoba lari ke arahnya? Ke arah pria yang menjadikanmu senjata untuk membunuhku?" ​ Maksimov kehilangan kendali. Sisi iblis yang selama ini ia tekan akhirnya meledak. Ia tidak lagi mempedulikan ketakutan Sarah. Dengan satu gerakan kasar yang penuh d******i, ia menarik cadar yang selama ini menjadi simbol prinsip Sarah. Kain hitam itu jatuh ke lantai, memperlihatkan wajah Sarah yang pucat, penuh air mata, dan ketakutan yang murni. ​ Sarah memalingkan wajah, berusaha menghindari tatapan pria itu, namun Maksimov mencengkeram dagunya dengan jemari yang kasar, memaksa Sarah menatap matanya. ​ "Kau bilang pernikahan ini tidak sah karena Tuhanmu?" desis Maksimov. "Baiklah. Mari kita buat ini menjadi nyata." ​ Sebelum Sarah sempat berteriak, Maksimov menundukkan kepala dan melumat bibir Sarah dengan ciuman yang kasar, menuntut, dan penuh kepemilikan yang brutal. Itu bukan ciuman cinta; itu adalah klaim—sebuah cara bagi Maksimov untuk menodai segala kemurnian yang selama ini ia benci namun juga ia inginkan dari Sarah. Sarah meronta, memukul d**a Maksimov dengan tangannya yang lemah, namun pelukan pria itu sekuat besi, memastikan tidak ada ruang bagi Sarah untuk menghindar. ​ Ciuman itu berlangsung lama, penuh dengan rasa dendam dan obsesi yang bercampur aduk. Ketika Maksimov akhirnya melepaskan ciumannya, ia menatap bibir Sarah yang bengkak dengan napas terengah-engah. ​ "Ayahmu tidak lagi menginginkanmu setelah tahu kau telah menjadi milikku sepenuhnya," ucap Maksimov dengan nada yang terdengar seperti janji sekaligus ancaman. "Sekarang, kau tidak punya siapa pun di dunia ini selain aku. Tidak ada Tuhan yang akan memaafkanmu, tidak ada Ayah yang akan menyelamatkanmu." ​ Sarah jatuh terduduk di lantai kabin, dunianya hancur berkeping-keping. Pengkhianatan ayahnya adalah luka yang lebih dalam daripada penculikan ini. Ia menatap kain cadarnya yang tergeletak di lantai, merasa bahwa identitasnya telah dirampas, dirusak, dan tidak akan pernah sama lagi. ​ Maksimov berdiri di atasnya, menatap Sarah dengan tatapan yang dingin namun menyiratkan kemenangan. "Kita tidak akan mendarat di Indonesia. Kita akan kembali ke Rusia, ke dalam bunker terdalam. Dan di sana, kau akan belajar bahwa satu-satunya takdir yang kau miliki adalah melahirkan keturunan yang akan menyatukan darah pengkhianat ayahmu dengan darah penguasa klan Volkov." ​ ​Sarah tidak melompat keluar. Tubuhnya membeku di ambang pintu darurat saat ia menyadari bahwa di bawah sana—di balik kegelapan awan—bukanlah kebebasan yang menantinya, melainkan kematian yang pasti. ​ Tangan yang kuat dan kasar segera mencengkeram pinggangnya, menariknya mundur dengan sentakan yang sangat keras hingga ia jatuh tersungkur di lantai kabin yang dingin. Pintu darurat ditutup kembali dengan dentuman mekanis yang mengunci mati. ​ Maksimov berdiri di atasnya, dadanya naik turun dengan napas yang memburu. Wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi guratan kemarahan yang liar. Ia tidak membiarkan Sarah bangkit. Dengan satu gerakan yang sangat kasar, ia merobek cadar yang menutupi wajah Sarah, membiarkan kain hitam itu jatuh tak berdaya ke lantai. ​ "Kau ingin mati, Sarah? Setelah semua pengorbananku untuk memastikan kau tetap bernapas?" desis Maksimov. ​ Sarah terengah-engah, matanya berkaca-kaca menatap pria di depannya dengan keberanian yang nekat. "Aku tidak ingin mati! Aku hanya ingin pulang! Aku ingin bertanya pada Ayah... aku ingin tahu kenapa dia membiarkan putrinya dijual ke dalam neraka ini!" ​ Maksimov tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar seperti pecahan kaca. Ia berlutut, menekan bahu Sarah ke lantai pesawat dengan cengkeraman yang menyakitkan. "Pulang? Kau pikir kau punya rumah untuk kembali?" ​ Maksimov mendekatkan wajahnya, napasnya yang panas dan beraroma alkohol memenuhi ruang di antara mereka. "Dengarkan aku baik-baik, istriku." Ia menekankan kata 'istri' dengan nada mengejek yang menusuk hati. "Pernikahan ini tidak sah di matamu? Baiklah. Aku akan memastikan kau tidak pernah memiliki keraguan lagi." ​ Maksimov menyambar dagu Sarah, memaksanya menatap mata abu-abunya yang gelap. Tanpa peringatan, ia melumat bibir Sarah dengan ciuman yang brutal dan menuntut. Itu adalah ciuman yang merampas napas, sebuah klaim kepemilikan yang tidak menyisakan ruang bagi Sarah untuk menolak. Sarah meronta, memukul d**a Maksimov dengan kepalan tangannya, namun pria itu justru memperdalam ciumannya, seolah ingin menghapus identitas Sarah dan menggantinya dengan jejak miliknya. ​ Ketika Maksimov melepaskan ciumannya, ia membisikkan sesuatu yang membuat Sarah merasa dingin hingga ke tulang sumsum. ​"Kau ingin bertanya pada ayahmu? Kau akan mendapatkannya. Tapi ingat, Sarah... setelah malam ini, dan setelah kita tiba di tujuan, kau tidak akan pernah menyebut dirinya sebagai 'Ayah' lagi. Kau akan melihat sendiri bagaimana pria yang kau banggakan itu menjualmu demi potongan kekuasaan yang bahkan tidak bisa ia nikmati." ​ Maksimov bangkit, membiarkan Sarah tergeletak di lantai dengan napas yang tak beraturan dan air mata yang menetes tanpa henti. ​ "Duduklah di kursimu," perintah Maksimov dingin. "Kita akan mendarat di markas pribadiku di Rusia, bukan di Indonesia. Dan di sana, kau akan menemaniku saat aku mencabik-cabik kebenaran tentang siapa sebenarnya pria yang kau panggil 'Ayah'." ​ Sarah menatap Maksimov dengan kebencian yang mendalam. Ia sadar, pelariannya telah gagal total, dan ia kini benar-benar menjadi tawanan yang telanjang—tidak hanya tanpa cadar, tapi juga tanpa perlindungan dari orang yang selama ini ia anggap pahlawan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD