Jet pribadi itu mendarat di landasan yang tertutup salju abadi di kedalaman hutan Siberia. Tidak ada lampu bandara yang terang, hanya sorot lampu darurat dari beberapa mobil lapis baja yang menunggu di sana. Udara di luar begitu dingin hingga terasa seperti jarum yang menusuk kulit saat pintu pesawat terbuka.
Maksimov tidak menunggu anak buahnya untuk membukakan pintu. Ia menarik lengan Sarah dengan kasar, memaksanya turun ke atas salju yang mulai membeku. Sarah menggigil hebat—bukan hanya karena suhu yang mencapai belasan derajat di bawah nol, tapi karena gaun tipis yang ia kenakan tidak dirancang untuk iklim sekejam ini.
"Selamat datang di tempat di mana tidak ada doa yang bisa didengar Tuhan," bisik Maksimov dingin, suaranya teredam oleh deru angin hutan.
Mereka digiring menuju sebuah struktur beton besar yang terkubur setengah di dalam lereng bukit—sebuah bunker pribadi klan Volkov yang telah beroperasi sejak era Perang Dingin. Begitu mereka masuk, suhu berubah drastis dari dingin yang membeku ke kelembapan yang berbau besi, oli, dan keputusasaan.
Sarah berjalan dengan langkah tertatih, matanya menyapu lorong-lorong bunker yang dindingnya dipenuhi dengan monitor pengintai. Di setiap layar, ia melihat cuplikan kehidupannya sendiri: foto masa kecilnya, rekaman dirinya saat di Turki, hingga dokumen rahasia yayasan ayahnya. Semua disusun seperti papan target.
"Kenapa kau membawaku ke sini?" tanya Sarah, suaranya parau.
Maksimov berhenti di depan sebuah pintu baja berat. Ia tidak menjawab, melainkan menempelkan telapak tangannya pada pemindai biometrik. Pintu itu mendesis terbuka, memperlihatkan sebuah ruang interogasi yang minim cahaya.
Di tengah ruangan, terikat pada kursi besi dengan tangan yang tertahan ke belakang, duduk seorang pria dengan wajah yang dipenuhi memar. Pria itu mengangkat kepalanya dengan susah payah. Rambutnya yang mulai memutih berantakan, namun matanya—mata yang sama dengan milik Sarah—masih memancarkan sisa-sisa kehormatan.
"Ayah?" napas Sarah tercekat. Ia hendak berlari, namun Maksimov mencengkeram bahunya dengan kuat, menahannya di tempat.
"Lihat dia, Sarah," ucap Maksimov. "Lihat pria yang kau percayai sebagai ayah yang penyayang."
Pria itu—ayah Sarah—menatap putrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Tidak ada penyesalan yang mendalam, justru ada kilatan ketegasan yang dingin. "Kau seharusnya tidak datang ke sini, Sarah. Apalagi dengan monster ini."
"Diam!" Maksimov melangkah maju, menendang kursi yang diduduki pria itu hingga terhuyung. "Jangan berani bicara soal moral di depanku. Kau tahu apa yang kau lakukan tiga puluh tahun lalu di Moskow. Kau mencuri sesuatu yang bukan milikmu, dan kau menggunakan putri kandungmu sendiri sebagai bidak untuk menutupinya."
Sarah menatap ayahnya, lalu beralih ke Maksimov. "Apa yang dia curi? Apa yang sebenarnya terjadi?"
Maksimov mengeluarkan sebuah dokumen dari saku jasnya dan melemparkannya ke lantai tepat di depan kaki Sarah. "Dia tidak mencuri harta, Sarah. Dia mencuri identitas. Dia tahu siapa ibuku, dan dia tahu rahasia yang bisa menghancurkan silsilah klan Volkov dari dalam."
Ayah Sarah tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat pahit. "Klan Volkov tidak pantas mendapatkan kebenaran itu, Maksimov. Tidak ada di antara kalian yang pantas memegang kekuasaan."
Sarah merasa seolah jantungnya berhenti berdetak. Ia menatap ayahnya, pria yang selama ini menjadi sosok pahlawan baginya, kini tampak seperti orang asing yang menyimpan rahasia kelam.
Ruangan itu terasa semakin sempit. Bau karat besi dan ketegangan yang pekat membuat napas Sarah terasa seperti menelan serpihan kaca. Maksimov tidak melepaskan cengkeramannya dari bahu Sarah; ia justru menariknya lebih dekat, menggunakan tubuh Sarah sebagai tameng sekaligus saksi atas eksekusi moral yang ia rancang.
"Jelaskan padanya," desak Maksimov, suaranya sedingin es yang membeku di luar sana. "Katakan pada putrimu siapa kau sebenarnya, sebelum aku memutuskan untuk mengakhiri garis keturunanmu di sini."
Ayah Sarah menatap putrinya dengan pandangan yang sulit diartikan—ada rasa bersalah, namun terselip keangkuhan seorang pria yang telah berjuang dalam bayang-bayang.
"Sarah..." suara ayahnya serak, nyaris tak terdengar. "Aku tidak pernah menculikmu dari kehidupan yang tenang. Aku menyelamatkanmu dari monster ini sejak hari pertama kau lahir. Kau bukan sekadar mahasiswi sejarah. Kau adalah anak dari wanita yang menjadi pusat kehancuran klan Volkov tiga puluh tahun lalu."
Sarah tertegun. Kepalanya berdenyut hebat. "Apa maksudmu, Ayah?"
"Ibunya Maksimov tidak kabur karena cinta," lanjut ayahnya, menatap Maksimov dengan tatapan menantang. "Dia kabur karena dia membawa sebuah 'Kunci'—sebuah kode akses perbankan dan data terenkripsi yang berisi bukti kejahatan klan Volkov yang sebenarnya. Dia menyerahkannya padaku agar klan ini bisa dihancurkan. Dia mati saat melahirkanmu... tidak, tunggu. Sarah, dengarkan aku."
Ayahnya memutar pandangannya, seolah mencari kekuatan. "Kau bukan putri kandungku. Kau adalah putri dari wanita yang membawa rahasia itu, wanita yang dibunuh oleh ayah Maksimov. Aku mengambilmu, membesarkanmu, dan menyembunyikan identitasmu karena aku tahu suatu hari nanti, darah itu akan memanggilmu kembali ke sarang serigala ini."
Sarah merasa lututnya lemas. Semua memorinya tentang masa kecil—ayah yang membacakan buku, liburan ke Turki, semua itu terasa seperti panggung sandiwara.
Maksimov tertawa, sebuah tawa yang terdengar sangat hampa. "Dan kau pikir dengan mengatakan itu, kau bisa mengubah takdir? Kau menyerahkan gadis ini padaku di Cappadocia seolah-olah kau sedang menyerahkan bom waktu, berharap aku akan membuangnya atau membunuhnya, dan rahasia itu akan terkubur bersamanya."
Maksimov menarik pistol perak dari balik pinggangnya dan menempelkan moncong dingin senjata itu ke pelipis ayah Sarah. "Kau salah langkah, Tua. Dengan membawanya padaku, kau justru menyatukan Kunci dan Gerbangnya."
Maksimov kemudian menyodorkan pistol itu ke tangan Sarah. Sarah terperanjat, berusaha melepaskannya, namun Maksimov menahan tangan Sarah dengan paksa, mengarahkan moncong pistol ke arah ayahnya sendiri.
"Jika kau ingin tahu siapa dirimu, Sarah, pilihlah," perintah Maksimov dengan suara yang lebih lembut namun mematikan. "Tembak dia, dan kau akan mengetahui seluruh rahasia ibumu—termasuk di mana data yang dia sembunyikan. Atau biarkan dia mati, dan aku akan menghancurkan yayasan serta semua kenangan yang kau miliki tentang hidup lamamu."
Sarah gemetar hebat. Pistol itu terasa sangat berat, seolah menanggung beban dosa dari dua klan yang saling membenci. Ia menatap ayahnya, pria yang membesarkannya, lalu menatap Maksimov, pria yang telah menghancurkan dunianya.
"Aku tidak bisa..." bisik Sarah, air mata mengalir deras dari balik cadarnya yang sudah tersingkap.
"Kau harus," balas Maksimov dingin. "Dunia ini tidak mengenal belas kasihan bagi mereka yang tidak berani memilih."