Bab 4

1826 Words
Setelah sarapan, Gilbert membawaku ke rumah Andre yang kini berpindah di Brooklyn yang memakan waktu sekitar setengah jam dari Kips Bay. Aku ingin menemui Eliza sekaligus kakak Sam untuk mencari tahu di mana adiknya di penjara. Jujur saja, selama di pengadilan, Andre sama sekali tidak memperbolehkan diriku ikut sidang. Dia bilang bahwa dia takut aku akan menangis dan histeris mendengar tuntutan juri terkait hukuman Sam. Namun, pada akhirnya aku tahu bahwa Sam diberi hukuman selama dua puluh tahun penjara melalui media televisi. Saat mendengarnya tubuhku rasanya tak bertulang, dua puluh tahun? Bukankah sama saja kami berpisah secara tidak langsung? Dan bagaimana bisa aku memperkenalkan Elsa tentang Ayah kandungnya dan bagaimana pula jika dia mempertanyakan keberadaan Ayahnya nanti? Sesampainya di rumah bercat merah pucat itu, kami di sambut oleh Mrs. Jones yang sedang menggendong si kecil Allan yang nampak begitu menggemaskan dengan mata biru dan rambut tembaga khas seperti Andre. Kuciumi Allan tak peduli dia menangis keras sambil memukuli wajahku, hingga Eliza keluar dari kamar mandi sambil menggendong tubuh Alice. Aku menjerit saat dia terkejut melihatku datang mengunjunginya. "Oh, Astaga! Kenapa kau tidak mengabariku?" tanya Eliza. "Kau selalu sibuk dengan si kembar, apa Andre tidak membantumu? Kau kelihatan repot sekali." Eliza tertawa sambil membawa Alice ke ruang tamu. Mrs. Jones bergabung sedangkan Gilbert sudah terlebih dahulu duduk di sofa sambil memangku Elsa. Sahabatku itu menarik tanganku dan membisiki diriku bahwa kami berdua terlihat lebih cocok sebagai pasangan suami istri. Aku merona terlebih kejadian kemarin membuatku tak bisa melupakan wajah Gilbert yang begitu seksinya. "Aku hanya sedang berusaha move on. Lagipula, Gilbert tidak suka membuat komitmen, Lizzie. Kadang aku juga bingung dengan hubungan kami," kataku lirih. “Aku rindu bercerita banyak denganmu.” “Ya Tuhan, aku juga, aku begitu melewatkan banyak hal denganmu, Em,” ucapnya melankolis sambil memelukku. Aku hanya bisa tersenyum tipis walau dalam hati rasanya pedih. Sejenak pandanganku terlalih pada sosok Andre yang menuruni anak tangga sambil menelepon seseorang. Dia sedikit terkejut melihatku namun sepertinya bukan kehadiranku yang membuatnya seperti itu. Aku yakin dia terkejut melihat Gilbert yang sudah akrab dengan Elsa. Saat Andre menghampiri istrinya itu, dia mengecup kening Alice lalu mengecup bibir istrinya. Eliza masih terlihat malu-malu di depanku saat Andre meluncurkan rayuannya yang membuatku ingin menyumpal mulutnya dengan sepatu. Astaga,  apakah dia tidak tahu bahwa aku bisa iri dengan kemesraan mereka? "Jadi, di mana Sam dipenjara?" tanyaku tanpa basa-basi. Andre menaikkan sebelah alisnya,  sebelum menjawab,  Eliza meminta tolong pria itu menggendong anak perempuannya. Dia melangkah meninggalkan kami ke pantry. Sejenak mata Andre menatap tak suka pada sosok Gilbert lalu dia menatapku. "Kau yakin bersamanya?" tanya Andre terang-terangan membuat Gilbert berdehem keras. Aku melotot pada Andre.  "Apa urusanmu?" desisku. "Katakan saja di mana penjara Sam?" "Kenapa kau begitu ingin bertemu dengan adikku sedangkan kau tinggal bersama pria lain, Em?" kata Andre sarkastik. "Apa kau tidak terlalu jahat pada Sam?" "Kurasa kau salah paham, Mr. Jhonson," sahut Gilbert menatap tajam pada Andre. "Walaupun kami tinggal bersama, asal kau tahu bahwa kami tidak memiliki hubungan apa-apa kecuali aku ingin membantu Emy mengurusi anaknya. Lagipula, jika kau kakak ipar yang baik, kenapa kau tidak membiarkan Emy tinggal di sini bersama istrimu?" Pria bermata biru itu terdiam seperti tertohok kalimat Gilbert. Eliza yang datang sembari membawa beberapa cangkir di atas nampan terlihat bingung dengan suasana yang sedikit panas. Sahabatku itu membagi cangkir kepada kami, Andre mengerjapkan kedua matanya sambil tersenyum manis kepada istrinya. "Dia ada di penjara Sing Sing," kata Andre saat Eliza duduk di sisi kanannya. "Aku tak yakin dia bisa menerima pria lain, Em. Aku hanya mengingatkanmu. Kau tahu, kan, kejadian itu saja dia bisa berbuat nekat. Apalagi sekarang?" "Tapi dia tidak memiliki apa pun kan sekarang?" "Belum, Em. Aku hanya mengingatkan." #### Dua jam berbincang dengan Eliza dan Andre membuatku semakin gelisah. Inginku percaya pada Andre tapi di sisi lain aku tahu bagaimana keadaan Sam. Gilbert meraih tanganku dengan tangan kanannya saat dia menyetir mobil. Dari raut wajahnya aku tahu dia tak suka dengan Andre namun dia berusaha bersikap normal untuk menghormati kakak iparku itu. Sesampainya di penjara Sing Sing kami disambut beberapa polisi berseragam biru muda. Suasana di sini cukup nyaman tak seperti bayanganku selama ini bahwa penjara itu memiliki aura menyeramkan. Seorang polisi berkumis dengan tubuh besarnya tersenyum ke arah kami berdua. "Kami ingin bertemu Samuel Jhonson, Tuan," kataku saat pria itu menanyakan tujuan kedatangan kami. Dia mengangguk lalu kami pun diantar ke ruang khusus di mana ada beberapa bilik berdinding kaca. Aku duduk di salah satu kursi sambil menggendong Elsa yang nampak senang dengan pemandangan baru di sini. Berulang kali anakku mengoceh membuat beberapa orang tertawa melihat tingkah lucunya. Gilbert lebih memilih menunggu di luar karena ingin memberiku privasi untuk berbicara dengan Sam. Setidaknya sebagai keluarga. Beberapa detik, muncul dua orang polisi membawa pria bermata hazel itu. Waktu seolah berhenti saat kami saling bertemu pandang. Kedua mataku bahkan tak bisa beralih ke objek lain. Dia nampak jauh dan jauh lebih kurus. Rambutnya sudah gondrong hampir melewati lehernya. Raut wajahnya begitu suram dengan satu tarikan tipis di bibirnya. Sesekali dia menunduk, bahkan saat dia duduk di depanku. Aku tidak bisa mendengar kalimat yang dikatakan polisi. Tanganku refleks mengulur menyentuh kaca dengan tiga lubang untuk bisa mendengar suara pria di depanku. Bibirku bergetar, dadaku rasanya sesak, berusaha sekuat tenaga aku menahan air mata yang sudah hampir mengalir deras. Aku harus kuat. "H-hai," sapanya memecah keheningan di antara kami. Aku mengangguk berusaha tersenyum. Kedua mata Sam melihat Elsa yang kini bertepuk tangan seolah dia senang melihat kami bertemu. "Elsa?" kata Sam,"kau begitu mirip... " "Denganmu," kataku menyela dirinya. Dia terdiam sejenak lalu mengangguk. "Aku merindukan kalian." Sam kembali menunduk. Kulihat kedua bahunya gemetaran dan terdengar isak tangis di sana. Andaikan bisa, inginku menghacurkan dinding kaca ini dan merengkuh tubuh pria Malang itu. Oke aku akui mungkin aku labil dalam memutuskan untuk move on atau tidak. Sebenci apapun diriku pada Sam,  tapi nyatanya rasa cintaku bisa mengalahkan egoku untuk berpisah dengan Sam. "Sam," panggilku,"hei, kita bisa melewati ini, kan?" Dia mendongak menatapku dengan hidungnya yang memerah. Dia menggeleng lemah sambil mengusap wajah dengan tangan kanan. "Dua puluh tahun,  Em. Apa kau sanggup? Sedangkan aku tahu kau tinggal dengan pria lain, Em. Elsa butuh seorang Ayah dan aku telah gagal menjalani tugasku itu." Kami berdua saling menatap. Semua kalimat dalam kepalaku mendadak hilang entah kemana. Yang bisa kulakukan hanya mencium Puncak kepala Elsa untuk tidak ikut menangis di depan Sam. "Kau tidak ingin, kan, Elsa malu nantinya bahwa Ayahnya seorang tahanan, Em?" "Lalu apa mau-mu?" tanyaku dengan derai air mata yang berhasil memecah pertahananku. "Kita berpisah." Seperti disambar petir, tubuhku membeku. Mulutku menganga lebar mendengar keputusannya yang sangat mendadak. "Berpisah? Dan kau membiarkan Elsa tidak memiliki Ayah!" seruku menatap tajam padanya. "Kau egois, Sam!" "Ini yang terbaik, Em. Gilbert bisa menggantikan posisiku sebagai Ayah Elsa." "Tapi, dia tidak bisa menggantikan posisimu dalam hatiku, Sam!" Sam terkejut. Dia terdiam cukup lama membiarkan aku tenggelam dalam tangisanku. Elsa mulai merengek seperti tahu bahwa Ibunya merasa sangat sedih. Beberapa detik, Elsa menjerit menangisi entah apa. Kukeluarkan botol ASI yang kubawa dalam tas lalu kuminumkan pada Elsa. Sepertinya Elsa tidak suka dengan suasana seperti ini. “Aku tahu, tapi apa kau tidak melihat hancurnya aku ketika melihatmu satu atap dengan pria lain sekali pun itu temanmu? Kau kira aku tidak tahu bahwa bisa jadi kalian telah tidur bersama?” kata Sam dengan mata memerah. “Aku tidak bisa, Em. Silahkan kau pergi jika itu mau-mu.” Bibirku tak mampu berkata ketika apa yang diucapkannya adalah benar. Sekali pun hubunganku dengan Gilbert hanyalah sebatas teman nyatanya kemarin malam kami justru melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan. Aku telah mengkhianati suamiku sendiri. Aku menunduk merutuki kebodohan yang telah kubuat. Mungkin ini adalah karma yang diberikan Tuhan untukku setelah mengkhianati suamiku sendiri. Namun, sisi lain dalam diriku berkata, bukankah perceraian ini yang kutunggu-tunggu? Bukankah dengan berpisah, hidupku takkan terikat dengan Sam? Tapi, aku mencintainya dan membencinya di waktu yang sama. Aku mendongak menatap wajah Sam yang terlihat begitu hancur dengan hubungan kami. “Jika itu mau-mu, baiklah, aku akan mengurus semua surat perceraian kita.” Aku berbalik meninggalkan Sam yang tidak memanggilku sama sekali. Dadaku rasanya sangat sakit mengatakan hal itu. Ini bukan pernikahan yang aku inginkan, aku juga tidak mau memiliki seorang suami sebagai tahanan, tapi bagaimana jika semua ini sudah ditakdirkan Tuhan? Apa aku harus marah pada-Nya? Gilbert terkejut melihatku keluar dari ruangan khusus itu dengan isak tangis. Dengan cepat dia mengambil alih Elsa yang juga menangis. Sebelum dia mengeluarkan kalimatnya, kutinggalkan Gilbert menuju mobil kami. Aku ingin sendirian. Aku ingin menghilang. Aku ingin berteriak merutuki Sam yang bodoh. Atau aku yang bodoh…. Tanganku ditarik Gilbert saat kami berada di depan parkiran mobil. Tidak ada kalimat yang keluar dari mulutnya, dia hanya merengkuh tubuhku. Isak tangisku semakin kencang, harusnya Sam tahu bahwa Gilbert tidak bisa membuat komitmen dengan wanita manapun. Harusnya dia tahu bahwa apa pun yang terjadi, aku masih mempertahankan pernikahan ini daripada egoku sendiri. Ah,  Sam! Apa kau begitu bodoh membiarkanku dan anak kita berada di pelukan pria lain? Atau memang inikah waktu yang tepat untuk kita berpisah tuk kesekian kalinya? Benarkah kita bukan jodoh, Sam? ### Gilbert tidak langsung mengajakku pulang. Dia melajukan mobilnya ke Central Park sesuai kesepakatan awal. Setelah selesai memarkirkan mobilnya,  dia menatapku dengan wajah penuh tanda tanya. Kucoba berpaling menghindari tatapan selidik Gilbert. Namun dia menarik daguku untuk mempertemukan kedua mata kami. Kuhela napas hingga ketiga kalinya tapi tetap saja aku tidak bisa mengeluarkan satu kalimat pun padanya. Hanya derai air mata yang membasahi kedua pipiku. Aku menunduk menatap Elsa yang tertidur dalam pangkuanku. "Apa yang dia bicarakan padamu?" tanya Gilbert. Aku menarik napas lalu keluar dari mobil. Setidaknya aku butuh lebih banyak oksigen untuk menjernihkan pikiranku. Suasana Central Park terlihat tak begitu ramai di jam kerja seperti ini dibanding saat liburan. Aku mendudukan diriku di salah satu bangku panjang di bawah pohon. Gilbert mengekoriku dalam diam. "Dia meminta bercerai," kataku lirih menatap kosong hamparan tanah hijau di depanku. Ekspresi Gilbert terkejut bahkan dia sempat mengumpat walau tidak keras. Aku tersenyum kecut sambil menengadah ke langit. Ah ... Andaikan hidupku tidak seperti ini. Tapi, jika aku tidak memilih Sam tentunya malaikat kecilku yang tertidur ini takkan ada, kan? Setidaknya dia membuatku bertahan terhadap masalah pernikahan Ibunya yang masih seumur jagung. "Kenapa meminta seperti itu? Bukankah awal dulu kau cerita, bahwa dia ingin mengejarmu?" Aku menggeleng lemah. "Dia bilang bahwa dia gagal berperan sebagai Ayah. Dan ... dia juga tahu bahwa kita tinggal bersama. Dia berpikir jika kau yang pantas menggantikan dirinya." "Aku?" dia menunjuk dirinya sendiri. "Bagaimana dia tahu kita tinggal bersama?" Kugelengkan kepala. Menarik napas lagi lalu menyandarkan kepalaku di bahu Gilbert. "Mengapa Cinta ini selalu membuatku sakit hati? Jika dia mencintaiku kenapa dia begitu mudah melepaskanku?" Gilbert mencium Puncak kepalaku dengan sayang sambil mengelus kepala Elsa. "Tidak semua Cinta itu harus bertahan atau mempertahankan, kadang pula kau harus melepaskannya untuk membuatnya bahagia. Sakit memang tapi inilah hukum alam dari mencintai seseorang, Em." Aku tertawa lalu mencium pipi Gilbert. "Terima kasih, Gilbert. Aku tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikanmu." Dia tersenyum manis dengan bulu matanya yang lentik. "Tidak usah, membantumu membesarkan Elsa sudah membuatku senang." "Satu hal yang harus kuhadapi, Gil," ucapku dengan bibir gemetar. Gilbert mengerutkan alisnya dan berkata, "Apa?" "Apakah ayahku akan menerima ini semua?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD