Esoknya setelah pulang kerja, aku memutuskan untuk pergi mengunjungi Marry di Madison Avenue. Setidaknya, Ibu Sam itu harus mengetahui bahwa hubungan kami akan berakhir, aku juga tidak ingin mencoret nama baik keluarga besar mereka. Lagipula, Marry sudah terlalu baik membantuku selama kehamilan hingga kelahiranku.
Taksi yang membawaku ke bangunan super mewah itu berhenti di depan lobi. Aku turun setelah membayar. Sambil susah payah menggendong Elsa yang bertambah berat badannya, kulangkahkan kedua kaki menuju menemui Maxx yang berdiri tak jauh dariku. Wow, aku baru sadar, pengawal bertubuh besar itu apakah di deportasi ke sini tidak di rumah si Andre itu? Jika kuingat, rumah Andre sekarang nampak lebih sepi dibandingkan yang dulu.
"Hai, Maxx," sapaku.
Pri itu tersenyum. "Oh, Mrs. Jhonson, Anda akan menemui mertua Anda?"
Aku mengangguk. "Apakah dia ada?"
"Ya tentu, Nyonya Maria sedang di dalam."
Aku mengangguk lalu berpamitan dengan Maxx. Kubuka pintu bercat putih gading itu dan disambut beberapa pekerja wanita di sini yang memakai baju khas pelayan di cafe. Mereka menyambutku dengan hangat dan menawarkan diri untuk membuat minuman dingin selagi cuaca sedang panas. Aku hanya menuruti seraya mendudukan diri di atas sofa empuk berwarna nude ini.
Kupandangi tempat ini, rasanya seperti kembali pada saat Sam membawa dan mempertemukanku dengan keluarganya. Bibirku menyunggingkan seulas senyuman ketika tidak menyangka bahwa kami dipertemukan kembali. Tapi aku percaya, bahwa jika manusia sudah ditakdirkan berjodoh maka sejauh apa pun mereka, pasti akan dipertemukan pada momen yang tidak disangka.
Setelah dipoles oleh teman Clara di Executive salon and spa, aku duduk sembari menunggu Lisa yang sedang disulap menjadi cantik. Kuputuskan untuk membuka majalah dengan tak minat. Tak sengaja kedua mataku menangkap judul salah satu artikel di majalah tersebut.
Tampan, kaya, dan misterius! Samuel Jhonson akhirnya menduduki ranking ketiga pria tersukses di Amerika serikat. Alumnus Universitas Florida 2016 ini mampu membuktikan dirinya bahwa dia sanggup bersaing dengan sang kakak, Alexandre Jhonson.
"Alumnus 2016?" tanyaku monolog sambil berpikir keras. "Kampus Florida?"
Akhirnya k****a artikel itu, untuk mengetahui siapa sosok Samuel Jhonson. Jujur saja, walau aku bisa dianggap stalker handal, tapi jika menyangkut adik Alexandre Jhonson yang wajahnya hampir tidak ada di internet ini membuatku penasaran setengah mati. Jika dia alumni kampusku harusnya aku tahu, bukan?
Apalagi, kami sama-sama satu kampus dan wisuda pun sama waktunya. Aku terkejut saat membaca pernyataan bahwa dia mendapat IPK tertinggi di jurusan Administrasi Bisnis. Mulutku menganga lebar, itu jurusan Elisa, lalu kenapa aku tidak tahu sosok si Samuel ini?
Kubanting keras majalah itu dengan kesal di atas meja karena tidak bisa mengingat satu anak pun di jurusan itu.
"Ah, persetan denganmu Samuel Jhonson sok misterius! Memangnya kau tampan hingga terlalu percaya diri menyembunyikan dirimu!"
"Siapa yang kau sebut persetan?"
"Tentu Samuel Jhonson aneh ini!" seruku tak sadar bahwa ada sosok pria yang berdiri di depanku. Kedua pupilku melebar bahkan aku bisa merasakan rahang bawahku merosot menyentuh lantai. Mendadak rasanya aku lupa cara bernapas melihat dia.
Pria itu tersenyum begitu manis seolah dia telah menemukan sesuatu yang telah lama hilang. Kedua mata hazel serta rambut cokelat dan wajah baby face-nya masih sama seperti dulu. Jika dulu dia mengenakan kacamata dan bertingkah culun dengan katak kesayangannya yang selalu dibawa kemana pun, nyatanya dia jauh berbeda.
Aku harus menelan ludah, ketika dia mengulur sebelah tangannya padaku. Tubuhku seperti terhipnotis, tangan kananku menuruti perintahnya. Aku beranjak dari dudukku memandang pria yang menjulang tinggi itu.
"Kau... "
"Ya, ini aku," katanya. "Samuel... "
Plakk!!!
Satu tamparan keras mendarat di pipinya. Aku pasti bermimpi, dia bukan Samuel Jhonson si milyader tapi anak aneh yang suka menggodaku saat sekolah menengah dulu. Dulu ia dipanggil Steven Anderson, kami semua tahu itu. Dan sekarang dia muncul dan mengaku sebagai Samuel Jhonson? Dia pasti gila!
"Emy?"
Suara lembut Marry membuyarkan lamunanku. Wanita itu duduk di sampingku sambil mencium anakku dengan sayang.
"Bagaimana kabarmu? Kenapa kau jarang datang kemari?" tanya Marry. “Elsa sungguh semakin mirip dengan Sam.”
Aku terdiam sejenak memandangi Elsa yang tertawa melihat neneknya. "Iya, dia memang mirip dengan ayahnya. Aku baik-baik saja tapi ... ada hal yang harus aku katakan padamu."
Marry menatapku dengan tatapan bingung. "Ada apa?"
Kutarik napas lalu berkata, "Sam meminta cerai denganku, Marry."
Seketika Marry terdiam dengan ekspresi terkejutnya. Kedua manik birunya memandangku cukup lama. Aku tahu dia pasti syok mendengar berita tidak menyenangkan ini. Mana ada orang yang bahagia ketika mendengar sebuah kata perceraian? Terlebih usia pernikahanku juga terbilang masih baru, usia anakku juga belum menginjak satu tahun, dan pertemuan kami setelah lima tahun berpisah semenjak prom night terakhir di sekolah dulu. Saat kutinggalkan dirinya tanpa sebuah alasan.
"Apa kau yakin dengan keputusan Sam?" tanya Marry, "apa dia sudah memikirkan hal ini dalam-dalam?"
Aku menunduk sambil menggeleng kepala. "Dia bilang bahwa dirinya tidak pantas menjadi suamiku atau Ayah Elsa, Marry. Dia juga bilang jika aku tak sanggup menunggu dirinya selama di penjara. Dia mengira jika aku tinggal bersama pria lain itu berarti semuanya berakhir, Marry."
"Kau tinggal bersama temanmu Gilbert itu?"
Aku mengangguk. "Dia membantuku banyak tapi tidak ada hubungan apa-apa diantara kami. Lagipula Gilbert juga tidak mau berkomitmen dengan perempuan, Marry."
“Tapi, harusnya kau tidak melakukan hal itu jika kau ingin menghormati Sam,” kata Marry dengan nada kecewa. “Jika seperti ini, siapa yang harus disalahkan, Em?”
Bibirku terkatup rapat, aku menunduk merutuki kebodohanku sendiri. Apakah salah jika aku satu apartemen dengan Gilbert? Toh, kami hanya berteman, mengapa orang lain memandangnya sebagai sesuatu yang berbeda.
“Maafkan aku, Marry. Aku salah … Aku pun tidak ingin merepotkan semua orang.”
“Dengan cara tinggal bersama pria lain?” Marry menaikkan sebelah alisnya.
Aku menggeleng lemah. “Tidak. Maafkan aku.”
Mertuaku terdiam seperti memikirkan sesuatu. Berulang kali kudengar dia menghela napas berat. Jika seperti ini aku merasa bersalah, sungguh sepertinya aku telah gagal menjadi istri sekaligus menantu.
Marry menatapku kembali kali ini pandangannya sayu. "Aku tidak bisa memutuskan apa pun, Em. Sam mengalami hal yang tak terduga di waktu bersamaan bukan? Aku yakin dia butuh waktu untuk merenungi dirinya. Anakku bukan tipe pria yang gegabah meski kadang dia salah memutuskan sesuatu. Dia pasti memiliki alasan tersendiri. Aku akan bicara dengannya untuk memikirkan kembali keputusan Sam tentang perceraian kalian."
Aku mengangguk. "Terima kasih, Marry."
"Aku tahu bagaimana rasanya permasalahan yang semakin rumit setelah menikah itu. Menikah bukan sekadar komitmen dan mengikat janji belaka, tapi ini tentang mempertahankan apa yang kalian ucapkan di hadapan Tuhan. Perceraian bukan jalan terbaik jika masih ada cara lain untuk menyelesaikannya, kan? Tapi jika itu memang akhirnya, kuharap kalian bisa menyikapinya secara dewasa."
Aku mengangguk, lalu kupeluk Marry dengan sayang. Mertuaku yang berhati malaikat itu benar-benar memahami apa yang kurasakan. Dia tersenyum tipis lalu mencium Elsa dengan sayang.
"Bagaimana pun juga, Elsa berhak mengetahui Ayah kandungnya. Jangan sampai dia salah persepsi tentang Gilbert yang tinggal di apartemenmu."
####
Kentucky,USA.
Senior high school
2011
"Steven! Steven!"
Suara sorak penonton memenuhi lapangan baseball ketika Steven Anderson si pangeran katak melambaikan tangan kanannya membuat para gadis-gadis berteriak histeris seperti melihat artis. Timnya baru saja memenangkan pertandingan baseball melawan kakak kelas dalam acara perlombaan antar kelas musim panas.
Aku berdiri di sudut lapangan di bawah pohon sambil melipat kedua tangan dan mengunyah permen karet lalu meniupnya seperti balon. Entah setan apa yang merasuki diriku untuk melihat pertandingan anak nerd itu. Kadang aku heran dengan para gadis-gadis yang meneriakkan nama Steven Anderson si pria nerdy yang pintar tapi dia selalu membawa katak ke mana pun dia pergi bahkan ke toilet sekali pun. Mereka mengelu-elukan dirinya terutama saat dia melepas kacamata buluknya itu.
Si Anderson itu melihat ke arahku lalu mengerlingkan sebelah matanya sambil tersenyum lebar membuat balon permen karetku meletus menutupi mulut dan hidung.
Hah! Dia pikir dia siapa? Batinku kesal.
Tapi, melihatnya menang pertandingan baseball artinya aku harus mau diajak ke acara prom night minggu depan sekaligus perpisahan satu angkatan sebelum acara wisuda bulan depan. Sebelumnya, saat ujian bulan lalu Steve menantangku karena selama ini dia menganggapku adalah rival yang seimbang sekaligus gadis keras kepala baginya.
"Berdebat denganmu rasanya bisa membakar kaloriku, Watson. Kurasa aku tak perlu berolahraga berat untuk memperindah tubuhku, kan?" sindirnya sambil tertawa saat selesai kelas Biologi.
Jika diingat, kadang aku juga tidak tahu kenapa aku merasa kesal setiap melihat si Anderson itu muncul dimana-mana. Dia mirip dengan seorang penguntit. Saat aku makan di kantin, saat di perpustakaan, saat di atas gedung menikmati langit sore bahkan dia muncul di depan toilet wanita. Camkan toilet wanita! Dan dia sekedar say hi sambil menunjukkan wajah baby face - nya itu tanpa merasa bersalah.
"Hi, Watson! " sapanya ketika dia memergoki diriku sedang membuang pembalut kewanitaan di tempat sampah.
Aku membelalakkan kedua mata segera membuang benda bersejarah milik perempuan itu ke dalam tempat sampah lalu memandang pria itu tajam. Si Anderson tertawa sambil menepuk pantatnya dengan tangan kanannya seolah mengolokku.
"Kau bocor ya, harusnya kau beli karet untuk menambal pantatmu, " katanya lalu tertawa terbahak-bahak.
Begitulah hubunganku dengan si Anderson, kami tak pernah dekat seperti teman pada umumnya. Dia selalu mengejek dan menguntitku seenaknya membuatku bosen melihat wajahnya itu. Untung saja kami hanya bertemu di kelas biologi setiap hari Rabu. Lain dari hari itu, aku dan dia tidak satu kelas.
Steve menyebalkan itu berjalan ke arahku sambil membawa katak hijau berukuran cukup besar di tangan kanannya. Rasanya mulutku ingin muntah melihat betapa joroknya pria itu. Dia malah tersenyum penuh kemenangan.
"Ini untukmu, Watson, " katanya sambil menyerahkan sebuah kotak dengan brand ternama. "Ingatkan perjanjian kita? Aku menang pertandingan, maka kau akan jadi pasangan prom night besok."
Memutar bola mataku. "Ya ya ya, aku tahu itu. Apakah ini gratis? "
Si Anderson itu mendecak."Tentu saja gratis asal kau jadi pasanganku, kalau kau tidak mau, kau ganti rugi uangku. "
"Berapa? "
"1500 dollar," katanya dengan begitu santai.
Kedua bola mataku hampir mencuat keluar mendengar nominal angka harga gaun di dalam kotak itu.
"Kau gila atau apa? Itu uang bukan daun, Anderson! Kenapa tidak kau gunakan untuk membeli segudang burger dan ice cream saja? Astaga ... kau berusia 18 tahun dan..., "
"Aku kaya, " kata Si Anderson memotong kalimatku dengan tatapan sok keren.
Memutar bola mataku kesal. "Orang tuamu yang kaya, bukan kau!"
"Tapi aku anak orang kaya dengan uang saku setidaknya 2000 dollar per hari. Baiklah, kujemput dirimu nanti, " katanya Steve. "Aku harus memandikan katakku."
"Tidak usah, kita ketemuan di depan gerbang sekolah pukul tujuh," kataku sambil mengambil kotak itu lalu melangkah pergi.
####
Tepat pukul tujuh malam dengan diantar Ayahku dengan mobil tua ala Mr. Bean, kulihat dari jauh si Anderson berdiri dengan was-was dengan setelan jas hitamnya yang begitu pas di tubuh kurusnya. Saat mobil ayahku mendekat pada sosok kurus itu, dia melihatku lalu tersenyum simpul. Entah kenapa aku jadi malu sendiri dengan gaun pemberiannya. Midi dress putih dengan potongan lebar di d**a serta ada bordiran bunga warna merah di bagian perut dan ujung kedua bahu terlihat sangat kontras dengan kulit pucatku. Rambutku hanya kugulung biasa dengan beberapa anak rambut yang kubiarkan tergerai. Tak butuh make up heboh karena aku tidak suka menjadi pusat perhatian.
Si Anderson membuka pintu mobilku dan menawarkan tangan kanannya ke arahku layaknya pangeran katak sedang menawarkan dansa kepada sang Putri. Aku tersenyum malu lalu menerima tangannya lalu keluar dari mobil, kulihat Ayahku hanya bisa tersenyum lalu ia melambaikan tangan kanannya pergi meninggalkan kami berdua.
"Aku takut kau tak datang, " kata si Anderson membuatku menoleh ke arahnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Kenapa? "
"Aku takut kau kabur setelah kuberikan gaun Indah itu, " katanya sambil tertawa, "aku membelinya dengan susah payah, kau harus tahu itu. "
Aku mendengkus kesal mendengar ucapan si Anderson lalu melangkah mendahului dirinya dengan langkah panjangku.
"Harusnya seperti ini, " kata si Anderson tiba-tiba sambil menarik lengan kiriku ke dalam lengan kanannya, "kita kan kekasih."
"Dalam mimpimu. "
Gedung olahraga sekolah didekor sedemikian rupa menjadi begitu cantik dengan hiasan lampu warna-warni serta beberapa balon dan bunga yang digantung di beberapa tempat. Lantai dansa dibuat mirip seperti club dengan lampu disko yang digantung di tengah-tengah.
"Hai, Sam! " sapa si Dicky, teman se-club baseball sambil melambaikan tangan kanannya melangkah menuju ke arah kami.
"Hai bro," kata si Anderson, "mana pasanganmu?" katanya lagi dengan nada mengejek sambil merangkul bahuku.
"Oh jangan mengejekku Anderson, kau tahu bahwa aku belum bisa mendapatkan pasangan sampai sekarang. "
Si Anderson tertawa sedangkan aku hanya bisa nyengir berusaha ikut menanggapi percakapan tak penting kedua makhluk itu.
Dicky melihat ke arahku lalu bersiul sambil memainkan sebelah matanya dengan pandangan jahil. Jika aku tak memakai gaun ini, sudah kupastikan kaki panjangku mendarat di wajah tampannya itu.
"Kau cantik Watson, apa kau sudah luluh pada musuhmu ini, huh? "
Aku memutar bola mataku sambil mendengus kesal tak menanggapi ucapan Dicky.
"Dia ini pacarku meski aku harus memberikannya gaun gratis agar mau ikut ke acara ini, " kata Sam terdengar mengejek.
Dicky tertawa terbahak-bahak membuat wajahku merah padam menahan marah.
"Apa kau semurah itu, Watson? Berapa harga gaun itu huh? " ejek Dicky
Kutatap wajah Anderson itu lalu kulepas tangannya yang masih Setia merangkul bahuku dengan kasar lalu kutinggalkan dia ke sudut gedung yang sedikit sepi.
Jika dia lelaki sejati tak harusnya dia mengatakan bahwa dia memberikanku gaun gratis walau sebenarnya itu adalah kenyataan. Tapi tetap saja itu tidak boleh karena dia melecehkan harga diriku sebagai gadis. Dengan menghela napas kasar kulihat si Anderson menyebalkan itu masih berdiri di tempat yang sama bersama Dicky dan satu gadis lagi yang entah namanya siapa.
"Harusnya aku tidur saja di rumah, " lirihku sambil menahan air mataku karena kesal.
####
Si Anderson melangkah mendekatiku ke sudut gedung di mana hanya aku dan beberapa anak nerd yang duduk diam menikmati beberapa camilan meski di tengah gedung. Sedangkan anak-anak lain berdansa dengan pasangannya diiringi lagu "kiss me" . Aku membuang muka ke arah lain ketika lelaki berkacamata itu berdiri dengan gagah di depanku karena masih kesal dengan sikapnya.
"Maafkan aku, Watson," kata Steve sambil jongkok di depanku,"tatap kedua mataku, please."
Kuabaikan perkataannya sambil melihat anak laki-laki di samping kananku yang sedang makan snack.
"Kau keras kepala sekali, " kata Steve sambil menangkup kedua wajahku lalu menghadapkannya lurus menatap wajahnya.
"Kau marah?" tanyanya menatapku lekat.
Aku diam.
"Kau marah padaku dan Dicky, kan? "
Aku tetap diam. Malam menanggapinya.
"Astaga, itu hanya lelucon para pria, Watson."
"Tapi kau tidak menghargaiku sebagai gadis, Anderson!" seruku kesal sambil menampik kedua tangannya di wajahku. “Kau kira dengan gaun 1500 dollar ini kau bisa mengajakku ke acara sialan ini, huh!"
Si Anderson melengkungkan sebelah alisnya, "bukankah kemarin kau mau datang karena kubelikan gaun ini? "
Aku mengembungkan pipiku semakin kesal karena dia mengatakan kebenarannya membuatku malu.
"Apakah gadis lain akan seperti ini, huh?"
“Tanyakan saja pada mereka, bukankah kau memiliki banyak penggemar?” ketusku sambil membuang muka.
"Maafkan aku, oke, itu tadi kesalahanku dan kutarik semua ucapanku yang membuatmu sedih, " kata si Anderson sambil mengusap jejak air mataku dengan kedua jempolnya.
Aku sedikit luluh dengan sikap Anderson itu entah mengapa sikapnya menjadi begitu romantis.
kiss me beneath the milky twilight
Lead me out on the moonlit floor
Lift you open hand
Strike up the band, and make the fireflies dance silvermoon's sparkling
So kiss me
Entah karena terbawa suasana atau tidak tanpa kusadari bibir tipis Anderson sudah menempel pada bibirku bersamaan dengan alunan musik yang semakin keras membuatku merah merona.
"Jangan marah, kau jelek seperti bebek jika cemberut seperti itu, " katanya setelah melepas ciuman kami.
Aku hanya tersenyum begitu juga Steve. Sudah kupastikan sekarang wajahku pasti merona karena jantungku berdetak begitu cepat.
####
Pukul sebelas malam, puncak acara prom night ini. Aku dan Steven berdiri di antara kerumunan anak-anak menunggu pengumuman siapakah yang akan menjadi pasangan terbaik tahun ini. Aku tidak berharap banyak lagipula syarat menjadi pasangan terbaik adalah mereka yang terlihat serasi, kompak, dan romantis. Sedangkan aku tidak serasi dengan Steven apalagi kompak, romantis saja dia barusan melakukannya tadi.
"Oke guys, sekarang kita akan mengumumkan siapakah king and queen malam ini," kata si pembawa acara yang kuingat namanya adalah Alex dengan nada semangat.
"Kau tahu Alex, bahwa malam ini kita akan mendapatkan pasangan yang takkan kau duga, " kata pembawa acara yang bernama Laura sambil mengerlingkan sebelah mata.
"Wow, siapa? Apakah dia gadis dan pria yang terkenal? Apakah dia adalah musuh seperti tom and jerry yang sedang gencatan senjata hingga menjadi pasangan kekasih? Kalian penasaran? " kata Alex membuat semuanya mengangguk penasaran.
"Kira-kira siapa? Apakah si Kylie dan Adam? Mereka kan kekasih yang sudah lama menjalin hubungan, " lirihku dengan banyak spekulasi dalam otakku.
"Kalau yang menang kita, apa yang akan kita lakukan?" sahut Steven mendengar perkataanku.
"Itu takkan terjadi, Steven," ucapku sambil memutar bola mata.
"Okay guys, dan the king of prom night 2011 is... "
"Steven Anderson!" seru Alex dan Laura bersamaan diiringi riuh tepukan dan siulan anak-anak.
"Wow selamat Anderson," kataku diiringi smirk pria itu dengan sok keren.
"And the queen of prom night 2011 is... "
Tiba-tiba kurasakan ponselku bergetar, segera kuambil ponsel dari dalam clutch milikku. Nama ibuku terlihat di layar membuatku mengerutkan kening.
"Mom?" kataku sambil berteriak setelah mendengar suara ibuku. “Ada apa? "
"Em, cepat pulang, Mrs. Gwen sedang kritis di rumah sakit, " kata ibu.
Tubuhku serasa lemas ketika mendengar kabar Mrs. Gwen, ibu pengasuhku di panti asuhan Kanada. Ya Tuhan, apakah sakit stroke yang dideritanya sejak 10 tahun lalu tambah parah?
"Cepat pulang Em, mom dan dad menunggumu, kita akan berangkat bersama, " kata ibu.
Aku mengangguk sambil menahan air mataku lalu memutus sambungan telepon.
"Emilia Watson!" seru Mia sambil menepuk bahuku membuatku terkejut, "kau terpilih menjadi queen-nya! "
Aku melongo namun pikiranku kosong, aku tidak mendengar jika aku menjadi queen karena terlalu fokus pada kabar Mrs. Gwen dan tanpa kusadari Sam telah berdiri di atas panggung sambil menatapku bingung.
"Maafkan aku, tadi ada telpon penting.”
Mia tersenyum, "cepatlah, namamu sudah dipanggil sejak tadi. "
Aku melangkah cepat menuju sisi kiri panggung dan menghampiri Patrick sebagai operator sound system.
"Pat," panggilku, "maaf aku harus pergi. "
Patrick memberi isyarat pada Alex untuk memberi jeda acara untuk pemberian mahkota king and queen.
"Kenapa? Kau terpilih menjadi queen, apakah ada masalah?" tanya Patrick
"Maaf, katakan pada Alex dan Laura serta Sam bahwa aku harus pergi sekarang. "
"Tapi kau harus dinobatkan dulu Em, ini sudah fix , please setelah itu kau boleh pergi. "
Aku menggigit bibir bawahku lalu dengan berat hati, aku pun mengangguk mengiyakan Patrick lalu melangkah menaiki tangga menuju panggung.
"Kau kenapa? Kau seperti orang bingung, Watson," tanya Sam
Aku menggeleng lemah sambil tersenyum tipis tapi dalam hatiku ingin mengakhiri acara ini.
Kemudian Alex dan Laura pun membacakan kembali nama kami yang terpilih sebagai queen and king dan memanggil Joshua dan Winzzy sebagai king and queen tahun lalu untuk memasangkan mahkota dan selempang kepada kami.
Entah mengapa penobatan ini begitu terasa lama. Kuyakin ayah dan ibuku menunggu dengan was-was belum lagi sejak tadi ponselku bergetar tanda panggilan masuk.
Sam menggenggam tangan kiriku membuatku menoleh ke arahnya dan akhirnya aku tidak bisa menyembunyikan rasa gelisah.
Kemudian datang Winzzy dengan wajah cantiknya sambil tersenyum kepadaku. Dia memasangkan mahkota yang begitu cantik di atas kepalaku dan memasangkan selempang yang melingkar manis di bahuku. Oh ya Tuhan, jika saja Mrs. Gwen baik-baik saja, tentu aku akan tersenyum bahagia.
"Selamat Emilia Watson, " kata Winnzy sambil menjabat tangan kananku.
Setelah penobatan selesai, Alex dan Laura menyuruhku dan Sam untuk berjabat tangan namun suara penonton menyuruh kami untuk berciuman membuatku semakin gelisah.
"Aku harus pergi, Anderson," kataku saat Steven menjabat tanganku dengan erat. Dengan kuat aku pun melepas jabatan tangannya dan mengabaikannya yang berteriak ke arahku.
"Watson, kemana kau? Kau meninggalkanku? "
Aku menoleh sambil menangis, “Maaf, " ucapku lirih.