Entah harus berapa kali aku menangisi kilasan kejadian prom night itu. Kadang juga aku tidak menyangka jika bertemu Steven namun dia mengaku sebagai Sam. Saat itu juga, dia menceritakan bahwa dia ingin menjadi orang lain dan mencari teman yang tidak melihatnya sebagai anak keluarga Abraham Jhonson.
"Itu kenapa aku selalu mengikutimu, Em. Aku hanya ... kau tahu mencari kebenaran apakah kau memang seperti itu."
"Seperti apa?"
"Membuat penasaran dengan sikap cuekmu."
Kulihat galeri di ponselku yang menampilkan kebersamaan kami berdua setahun lalu sebelum dia benar-benar memutuskan untuk membantu mendiang Billy keluar dari penjara. Seolah semuanya baru saja terjadi kemarin. Suaranya, rayuannya, tatapan matanya, senyumnya, hingga aroma tubuhnya. Kutarik napas dengan bulir air mata yang siap meluncur membasahi pipi setiap kali kepalaku teringat akan Sam. Tapi jika kucoba lupakan dia, bayangannya selalu mengikutiku ke mana saja.
Gilbert menghampiri diriku di kamar membuatku cepat-cepat menghapus air mata. Pria bermata lentik itu duduk di sampingku lalu mengecup kepalaku dengan sayang.
"Kau masih memikirkannya?"
Mau tak mau aku mengangguk. "Padahal dulu aku yang berusaha menghindarinya, kan?"
"Lalu bagaimana dengan perceraian kalian? Apakah mertuamu berhasil membujuk Sam?"
Aku terdiam sejenak lalu membaringkan diriku di pangkuan Gilbert. Dia membelai lembut rambutku. Kugelengkan kepalaku lemah sambil menahan tangis.
"Dia tetap pada pendiriannya. Hubungan kami berakhir, G." Kutarik napas panjang lalu berkata, "Marry menyerah membujuk anaknya. Sam tahu jika tindakannya salah tapi posisinya juga tidak memungkinkan berada di sisiku terus. Apalagi, Elsa akan tumbuh. Dia pasti menanyakan Ayahnya. Sam selalu minder jika tahu Elsa memiliki Ayah seorang tahanan."
"Jika memang seperti itu ... mau bagaimana lagi, Em? Tapi, bagaimana dengan orang tuamu?"
Sejenak aku membisu dengan d**a yang begitu bergemuruh. Jika Marry bisa menyikapi rumah tanggaku dengan kepala dingin, lain halnya dengan ayahku. Dia marah besar bahkan saat aku menelepon tadi, dia mengatakan bahwa aku istri yang tidak tahu diuntung. Ayah juga mengatakan bahwa pernikahan tidak untuk main-main terlebih dia murka ketika tahu aku masih berteman dengan Gilbert.
“Jika kau merasa memiliki tanggung jawab sebagai istri, tidak semestinya kau tinggal dengan pria lain, Emilia. Sekali pun dia teman, dia tetap orang lain. Ke mana otakmu? Sam butuh dirimu untuk menguatkan mentalnya, tapi kau justru tinggal bersama orang lain,” kata ayahku melalui sambungan telepon.
“Dia membantuku, Dad, dia membantuku mencari pekerjaan di sini,” elakku.
“Membantumu? Apakah membantu perlu tinggal di dalam satu atap? Harusnya kau malu dengan dirimu sendiri. Sam tidak salah jika menceraikanmu!”
“Orang tuaku … mereka marah, terutama Daddy. Mereka menyimpulkan bahwa hubungan kita yang membuat Sam meminta bercerai,” ucapku lirih.
“Aku merasa sangat bersalah,” kata Gilbert sendu.
Aku menggeleng cepat. “Tidak, Gilbert. Tidak ada yang salah, memang ini jalan yang terbaik untukku dan Sam. Ini jalan yang kuinginkan sejak awal.”
Bibir Gilbert terkatup namun matanya seperti ingin mengatakan hal lain. Hingga kutunggu beberapa saat, dia tidak kunjung mengatakan hal yang ada di pikirannya. Perlahan, kuraih wajah Gilbert dengan tangan kananku meraba rahangnya yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus yang menggelitik. Sejenak aku tertawa merasa gemas meraba rahangnya.
"Gilbert, apa kau tidak ingin memiliki kekasih?" tanyaku.
"Tidak sekarang, Em," jawab Gilbert sambil menyentuh tanganku. "Aku masih menata hati walau aku ingin.”
Aku mengangguk. "Maafkan aku. Hanya saja aku melihat mantanmu masih sering menanyakanmu kepada Liv.”
“Oh ayolah, itu hanya siasat liciknya Laura yang ingin kembali padaku,” katanya. “Kudengar dari Liv, dia telah putus dengan selingkuhannya. Kurasa karma sudah menjalankan tugasnya dengan baik.”
Lalu Gilbert menunduk untuk menciumku. Kubalas ciumannya yang makin lama makin kasar dan menuntut. Untuk kedua kalinya, aku kembali terlena dalam gairahnya yang menggebu-gebu. Gilbert membuatku lupa dengan Sam, dan dia juga melupakan kenangan mantannya saat bersamaku. Ini seperti simbiosis mutualisme tanpa pamrih hanya saling memuaskan satu sama lain.
Dia memandangku dengan pandangan yang berkabut penuh gairah diatas tubuhku sambil membelai wajahku dengan jemarinya sambil tersenyum membuatku semakin terpesona. Sambil mendekatkan wajah tampannya, dia menghirup aroma setiap inchi tubuhku sambil menciumnya lembut membuatku terlena dalam permainannya lagi dan lagi.
Kami berdua hanyut dalam permainan kami, hanya suara napas dan erangan yang tertahan yang terdengar membuat suasana menjadi begitu sensual.
Kali ini aku mendorong tubuhnya lalu merangkak naik sehingga aku bisa melihat wajahnya dari atas. Kini aku yang mengambil alih permainan ini, jemarinya bergerak mengikuti lekuk tubuh seksinya membuatnya terpejam menahan suaranya.
"Bantu aku melupakannya, G."
####
Proses perceraianku dengan Sam berjalan sangat cepat seperti seolahTuhan memang memberikan jalan untuk kami berpisah. Meski sudah dilakukan mediasi, nyatanya keputusan Sam sudah tidak dapat diganggu gugat. Nama keluarga Jhonson kembali memenuhi hampir semua media sosial. Tapi yang lebih heboh dari semua berita itu adalah Ayahku murka dengan keputusan yang diambil Sam saat bertemu lelaki itu di pengadilan. Ayah menangis memohon untuk Sam memikirkan kembali keputusan yang dia ambil.
“Sam, apa kau tidak memikirkan nasib anakmu? Kau boleh membenci anakku tapi jangan kau hancurkan rumah tangga kalian, Sam,” ucap Ayah saat polisi membawa tubuh Sam kembali ke penjara.
Lelaki itu menatap Ayah lalu menatapku yang berdiri di belakangnya. Kedua mata Sam nampak memerah dengan lingkaran hitam di bawah matanya. Wajahnya terlihat begitu lelah dan penuh luka. Beberapa saat dia menunduk lalu menggeleng tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia berbisik pada polisi untuk membawanya ke penjara.
Ayahku naik pitam, dia berucap keras, “Jika itu adalah pilhanmu, aku berharap kau tidak pernah keluar dari penjara itu, Sam! Camkan ucapanku dalam otakmu!”
Hatiku tercabik-cabik melihat Ayah seperti itu, kupeluk dirinya dengan erat seraya meminta maaf. Ayahku melepaskan pelukanku lalu dia pergi tanpa menatapku. Aku berusaha mengejarnya namun apadaya ketika pengacaraku mencegahku pergi.
“Biarkan Ayahmu tenang dulu, Mrs. Jhonson,” kata pengacaraku yang bernama Michelle.
Bibirku bergetar memandangi punggung Ayah yang menjauh dari pandangan. Langkahnya cepat seolah dia benar-benar membenciku, membenci pernikahanku, dan membenci lelaki yang dulu menjadi pilihanku.
Ayah … maafkan aku…..
Toko roti tempatku berkerja pun akhirnya dapat diendus para pengejar berita. Liv dan karyawan lain begitu terkejut saat tahu aku adalah menantu Abraham Jhonson. Namun, Liv pun tak segera menghakimi diriku ketika kubuka inti masalahku dengan Sam. Justru dia memelukku beberapa kali untuk menguatkan diriku.
"Dia layak mendapatkan hukuman itu, Em," kata Liv setelah dia berhasil mengusir para wartawan dan menutup tirai jendela tokonya. Dia menatapku sejenak lalu berkata,"Tapi, menarik ulur hati perempuan? Apakah dia benar-benar jantan, huh?”
Aku mengangkat kedua bahu. "Awalnya aku yang memintanya pergi. Namun, saat dia pergi rasanya begitu hampa, Liv."
"Meski kau bersama Gilbert?" tanyanya dengan sedikit penekanan sambil duduk di depanku.
"Uhm, ti-tidak. Kumohon jangan salah paham. Aku menyukai Gilbert sebagaimana dia menyukai anakku. Tapi... "
"Apa?"
Aku terdiam lalu mengusap wajahku gusar. "Banyak sekali waktu yang telah kami lalui, Liv. Sekuat apapun dia menyakitiku, nyatanya aku tidak bisa membencinya. Dan Gilbert … dia bahkan tidak mau menjalin hubungan dengan wanita, dia tidak mau berkomitmen. Dia selalu berkata bahwa komitmen hanya membuat dirinya sakit hati."
Ekspresi Liv terlihat sedih. Aku hanya tersenyum kecut mendapat simpati seperti ini. Ah, apakah aku pantas?
Liv memelukku lagi dalam diam. Dia membiarkanku menumpahkan air mata yang kesekian kalinya. Kulirik Elsa yang sedang memainkan bola mainan pemberian Gilbert dengan derai air mata. Ya Tuhan, haruskah gadis kecilku tidak memiliki ayah?
"Perceraian memang membuatmu hancur, Em," kata Liv seraya melepaskan pelukannya. "Tidak ada manusia yang menginginkan perceraian meskipun mereka saling membenci. Tapi jika memang harus terjadi, kita pun tidak boleh terpuruk terus-menerus. Kau pun harus melihat anakmu. Dia lebih membutuhkan perhatianmu saat ini, Em."
"Aku..."
"Jika kau perlu bantuan. Bicaralah padaku atau Gilbert."
Aku tersenyum tipis sambil menghapus jejak air mata dengan kedua punggung tangan. Rasanya cukup senang mendapat teman seperti Liv. Jika seperti ini, aku merindukan sahabatku.
Mungkin Tuhan mendengar kata hatiku, ponselku berdering dan terpampang nama Elisa di sana. Kuraih benda kotak itu dan menjawab panggilannya. Liv mengisyaratkan untuk pergi dan memberiku privasi.
"Hai," kataku sesenggukan saat mendengar suara Elisa.
"Hei, kau di mana? Bisakah aku menemuimu, Em? Apa kau baik-baik saja?" tanya Eliza.
Aku menggeleng lemah namun bibirku tak sanggup mengatakan aku baik-baik saja. Yang bisa kulakukan hanya menangis.
"Aku akan menjemputmu di tempat kerjamu."
"Bagaimana dengan Andre? Dia pasti membenciku, Eliza."
"Jika dia membencimu, maka aku yang akan pergi darinya."
Aku tertawa kecut sambil mengusap ingusku dengan tangan kiri. "Andre takkan melakukannya. Aku tahu dia tergila-gila padamu."
Kami berdua tertawa sejenak. Rasanya aku merindukan saat-saat kami masih satu apartemen. Sayangnya, semua telah berubah semenjak kami menikah. Atau mungkin diriku saja yang masih belum bisa menerima kejadian ini di usiaku yang masih terlalu muda.
"Baiklah kutunggu dirimu," kataku sebelum mengakhiri panggilan.
####
Gilbert sengaja memberiku privasi untuk bertemu dengan Eliza di salah satu cafe di Times Square. Pria itu lebih memilih menjaga anakku dan dua anak kembar Eliza bersama Mrs. Jones di sudut lain cafe ini. Sedangkan aku dan Eliza duduk berhadapan di sisi kiri cafe sembari melihat jalanan New York yang selalu padat.
Bibirku masih belum bisa mengeluarkan sepatah kalimat. Kedua mataku hanya menunduk memandangi diriku di atas bayangan secangkir kopi panas. Hanya suara sesenggukan yang mengisi keheningan di antara kami berdua. Jujur saja, pikiranku sangat kacau. Meski aku sudah terbiasa merawat Elsa sendirian, entah mengapa justru berpisah dengan Sam seperti ini membuatku tak berdaya.
"Satu permintaanku padamu, Em. Tolong jangan katakan bahwa aku adalah ayah biologis Elsa. Aku yakin dia akan malu jika memiliki seorang ayah yang ditahan di penjara. Kau bisa katakan bahwa Gilbert yang menjadi ayah Elsa. Okay? "
Kalimat Sam terus terngiang-ngiang dalam kepalaku. Pria macam apa dia? Kenapa dia menyiksaku seperti ini? Tidak adakah rasa simpati di hatinya untuk mengakui dirinya sebagai ayah Elsa?
"Hei," suara Eliza membuatku mendongak menatap wajah sahabatku. "Are you okay?"
Aku menggeleng. "Aku hancur."
"Ssst... Semua akan baik-baik saja, Em. Sam hanya sedang bimbang dengan kondisinya. Ayah dan Ibumu ….”
Aku mengangguk sebelum Elisa melanjutkan kalimatnya. Orang tua mana yang tidak kecewa jika melihat pernikahan anaknya hancur saat usia pernikahan yang begitu muda. Meski aku telah mencoba menelepon ayah untuk meminta maaf namun tidak ada jawaban, ayah memblokir nomor teleponku. Kucoba menelepon ibu namun yang ada justru ibu menyuruhku untuk tidak menghubunginya beberapa hari agar ayah tidak semakin murka. Aku terombang-ambing, ingin sekali mengakhiri hidup jika tidak teringat anakku. Semuanya terlalu sakit.
Ah, Sam. Apakah kau merasakan hal yang sama denganku? Mencintaimu memang butuh waktu cepat tapi tidak dengan melupakanmu. Bahkan dengan perasaan yang kau tinggalkan bersama kenangan kita dulu. Semuanya terlalu cepat bagiku.
"Bagaimana dengan Andre? Tolong katakan padanya aku sungguh minta maaf atas apa yang terjadi padaku dan adiknya."
Eliza menggeleng lemah. "Kau tidak salah, Em. Sudahlah, semua ini diluar kehendak kita."
Eliza meremas kedua tanganku dengan kedua mata nanar. Meski dia berusaha menguatkanku, aku tahu dia merasa bersalah tidak mendampingiku selama proses perceraianku. Aku pun juga tidak menyalahkan dirinya karena kami memiliki kehidupan masing-masing. Tidak, semuanya tidak ada yang salah kecuali pertemuanku dengan Sam.
"Lalu apa yang akan kau lalukan setelah ini?" tanya Eliza. "Aku bisa membantumu apa saja, bahkan jika kau memintaku menginap di apartemen, aku mau."
"No, please. Jangan membuatku merasa menjadi orang paling terpuruk di dunia, Eliza.Kau tahu aku bukan gadis seperti itu."
"Bagaimana dengan Elsa? Suatu saat dia akan menanyakan ayahnya, Em. Apa kau akan berbohong padanya terus?"
Aku terdiam menatap cangkir kopiku. Entahlah. Berbohong bukan keahlianku. Lalu aku berbalik melihat Gilbert sedang memangku tubuh kecil Elsa yang kini tertawa bersama Allan dan Alice. Gilbert menatapku sambil tersenyum tipis.
Kubalas senyuman pria bermata lentik itu lalu menatap Eliza dan berkata, "I'll be fine, Lizzie.”
####
Setelah menidurkan Elsa, aku dan Gilbert duduk di balkon. Kutatap satu kotak kardus berukuran sedang yang berisi semua kenangan bersama Sam termasuk suratnya yang dikirim kepadaku beberapa minggu lalu. Air mataku masih saja mengalir padahal otakku memaksanya untuk berhenti.
Berulang kali Gilbert mengelus punggungku untuk memberi ketabahan. Dia memeluk bahu dan mencium kepalaku dengan sayang. Kalimat motivasinya juga tak berhenti keluar dari mulutnya.
Kutatap Gilbert lalu kedua jempol besarnya menghapus jejak air mataku. Diciumnya bibirku dengan lembut. Namun kali ini terasa hambar. Pikiranku penuh dengan bayangan Sam. Kenangan saat dia menciumku di prom night, kejutan saat pesta dulu, bualannya yang menyebalkan hingga saat dia memohon ampun padaku pasca kejadian penembakan itu.
"Kau takkan bisa menghapus kenanganmu bersamanya meski kau berusaha menghilangkan semua jejak itu. Yang perlu kau lakukan adalah membiarkan semuanya mengalir hingga perasaanmu hilang dengan sendirinya," kata Gilbert. "Aku tahu kau masih mencintainya meski ... kau memintaku untuk membantumu melupakannya.Tapi, maaf Em. Bukan seperti ini caranya."
Gilbert menyisir rambutku ke belakang telinga sambil tersenyum. "Tidak baik saat wanita patah hati mencari pelampiasan pada pria lain. Itu akan membuat masalah baru di masa depan."
Aku mengangguk. "Maafkan aku,"
"Daripada kau membuang dan membakarnya. Lebih baik berikan pada Elsa saat dia sudah beranjak dewasa."
"Tapi, aku... "
"Meski kau berjanji pada Sam, apapun itu, kau harus memberitahu Elsa. Okay?"
Aku mengangguk lalu memeluk Gilbert dan menghirup aroma tubuhnya. "Terima kasih, Gilbert. Kau benar-benar teman yang baik."
"Apapun untukmu, Em."
Suasana kembali hening. Hanya embusan napas kami yang beradu dan detak jantung Gilbert yang begitu Indah di telingaku. Untuk sejenak aku ingin waktu berhenti supaya aku bisa melupakan apa yang terjadi hari ini.
Aku mendongak memandang dirinya yang sedang memandangi jalanan Kips Bay dari atas balkon. Merasa diperhatikan dia pun melihatku lalu tersenyum. Kucium puncak hidung lancipnya membuatnya terkekeh geli.
"Jangan menggodaku," kata Gilbert sambil mengelus rambutku.
Aku menggeleng. "Bagaimana kau bisa mengatakan sesuatu yang terdengar bijaksana bagiku? Apa ini karena mantanmu?"
Gilbert mendecak lalu berkata,"tidak semua mantan itu perlu dibenci. Kadang dari merekalah kita belajar arti sebuah melepaskan seseorang. Dari mantan juga kita diajarkan bahwa Cinta memang tidak harus memiliki. Jika Tuhan sudah memberimu batas waktu bersama seseorang yang kau sukai, cukup kenang mereka kemudian lepaskan mereka agar bisa bahagia dengan yang lain."
"Seandainya aku berada di posisi seseorang yang kau sukai apa kau akan mengenang dan melepaskanku?"
Gilbert terdiam cukup lama. Matanya memandang sekitar seperti sedang meniti jawaban. Ekspresinya juga berubah. Bibirnya terkatup rapat hingga terlihat rahangnya mengeras.
Bukankah ini hanya pengandaian, kenapa dia begitu lama menjawabnya?
"Kurasa kita harus tidur, Em," kata Gilbert sambil melepas pelukanku di tubuhnya. "Aku tidur di kamarku saja. Oke."
Aku mengangguk saat Gilbert beranjak dari tempat duduk dan melangkah menuju kamarnya. Sejuta pertanyaan muncul di kepalaku. Jika dia pria yang tidak mau berkomitmen dengan wanita kenapa dia enggan menjawab pertanyaan yang hanya pengandaian. Atau mungkin dia teringat mantannya sebagaimana yang dia katakan.
Tidak semua mantan itu perlu dibenci.
Aku tersenyum kecut sambil menarik kembali kotak kardus. Kuambil fotoku bersama Sam dalam diam. Gilbert benar, mantan tidak perlu dibenci hanya perlu dilepaskan agar mereka bahagia bersama yang lain.
Tapi apa aku bisa?