Bab 7

1132 Words
Alarmku berbunyi cukup nyaring memekakkan telinga. Mengernyitkan alis sambil membuka mata lalu melihat jam beker di sisi kananku. Pukul tujuh pagi. Hidungku mencium aroma butter yang begitu menggoda perut. Aku bangkit sambil menggaruk kepala lalu melangkah keluar kamar. Mataku membulat ketika melihat sosok lelaki bertelanjang d**a sedang disibukkan dengan peralatan dapur, tak jauh darinya anakku sedang duduk di bouncer bayi sambil sesekali menertawakan Gilbert. Melipat kedua tanganku dan bersandar di pintu kamar sambil bersiul. Gilbert membalikkan badannya lalu tersenyum begitu manis hingga lesung pipinya tercetak jelas. "Pagi, Em," sapanya sambil membawa spatula. "Pagi. Kau libur kerja?" tanyaku mendekati Elsa. Kucium tubuh kecilnya membuat Elsa memekik kegirangan. "Kau sudah memandikan anakku?" Gilbert mengangguk sambil menaruh french toast di atas piring. "Aku rasa, kau harus beristirahat Em. Biarkan aku merawat Elsa hari ini." Aku bangkit sambil menggendong Elsa. "Boleh, tapi bisakah kita pergi belanja hari ini? Popok dan stok makanan sudah mulai habis." "Baiklah," ucap Gilbert lalu mencium Elsa. "Kurasa dia akan cantik seperti dirimu." Kedua tangan anakku ingin meraih wajah Gilbert sambil tertawa. Gilbert mendekat lalu Elsa menggigit hidung lancip Gilbert membuat lelaki itu berteriak. Elsa tertawa kencang sambil bertepuk tangan membuat hatiku terasa begitu tentram melihatnya. "Da ... da...." ucap Elsa Kami berdua terdiam dan saling berpandangan. "Apa itu kalimat pertamanya?" tanya Gilbert. "Daddy?" Elsa tersenyum lebar dengan mata bulatnya memandang Gilbert. "Da... da...." Kami tertawa bahagia mendengar suara Elsa yang begitu lucu. Gilbert bersorak kegirangan menggoda Elsa dengan wajah lucunya. "Ayo, kita sarapan dulu," ucapku sambil membawa Elsa duduk dipangkuan. Anakku menepuk-nepuk dadaku seperti ingin menyusu. "Iya, Momy tahu kau lapar sayang. Nanti Mom buatkan bubur untukmu, ya" #### Dengan mendorong troli bayi, aku dan Gilbert berjalan beriringan menuju swalayan untuk membeli beberapa bahan makanan dan perlengkapan bayi. Cuaca tidak terlalu panas, mungkin karena efek musim dingin yang akan datang bulan depan. Pintu swalayan terbuka, kami pun disuguhkan dengan deretan rak-rak berisi sayur, buah, makanan kaleng, hingga produk lain. Kuambil keranjang melangkah menuju deretan buah dan sayur terlebih dahulu. "Aku ingin asparagus, Em," ucap Gilbert seraya mengambil beberapa asparagus. "Jamur juga boleh, sepertinya kita bikin sup jamur dengan asparagus bakal cocok." "Apa kau sedang diet?" ejekku sambil tertawa. "Oh, ayolah, Nyonya, aku sedang merindukan sup jamur asparagus yang kau masak dulu," rajuk Gilbert. "Astaga kau ini," kataku sambil menggeleng kepala. "Gilbert!" suara seorang wanita membuat kami berdua memutar kepala. Memandang wanita yang berdiri di atas sepatu olahraga dengan leging yang begitu indah membalut kaki jenjangnya membuatku terdiam. Gilbert bergerak mundur perlahan ketika wanita itu mendekat. Laura. Wanita yang selalu datang ke toko roti yang menjadi bahan perbincanganku bersama Paula. Seperti tidak ada bosannya dia beli roti yang sama setiap hari. Namun, kali ini entah apa yang akan dibelinya di swalayan. Kadang aku berharap tidak pernah bertemu dengan wanita itu. "Apa kabar?" ucapnya dengan nada dibuat-buat. Lalu Laura memandangku dan mengernyitkan alisnya. "Kau? Emilia kan? Apa yang kau lakukan di sini?" "Sedang beli tiket konser," ucapku asal merasa jengah. Jelas-jelas keranjang yang kubawa berisi sayuran tentu saja aku ke sini untuk belanja. Laura tersenyum miring. "Aku merindukanmu, Gilbert." Gilbert memandang wanita seksi itu dengan tatapan jijik. "Aku tidak. Bisakah kau membiarkanku pergi belanja dengan tenang?" Tanpa menunggu jawaban, Gilbert menarik sebelah lenganku untuk pergi menjauhi wanita itu. Aku menahan tawa melihat wajah Laura yang memerah karena malu. "Katamu mantan tidak perlu dibenci," sindirku pada Gilbert. Kedua mata lentik lelaki itu memutar. "Pengecualian untuk dia." "Dia melajang." "Aku tidak peduli." "Dia selalu bercerita tentangmu di toko." "Aku tidak peduli, Em." Gilbert berhenti lalu memandang Laura yang sudah tidak terlihat. Sejenak iris matanya memandang sekeliling lalu menatapku lekat." Dengar, aku tidak peduli dan tolong jangan libatkan aku tentang dia lagi." Aku mengangguk. "Maafkan aku." Gilbert tersenyum tipis lalu menarik wajahku untuk mencium bibirku. "Kuharap dia melihat ini dan berpikir bahwa aku menjalin hubungan denganmu." Kugigit bibir bawahku. "Dan menjadikan pelampiasanmu?" Dia menggeleng. "Tidak." "Lalu?" Gilbert tidak menjawab dan memilih pergi membawa troli menuju deretan buah di depannya. Aku terdiam memandang lelaki itu tidak paham. Dia tidak berkomitmen tapi ingin membuat mantannya berpikir kami sedang menjalin hubungan tapi dia tidak ingin menjadikanku pelampiasan. Lalu apa? ### Di apartemen, kami memasak bersama. Untungnya Elsa sudah tertidur pulas setelah kumandikan dan menyusui anakku. Gilbert tidak banyak berbicara seperti sebelumnya. Aku bisa menebak bahwa ini karena kehadiran Laura atau mungkin sebenarnya lelaki itu belum bisa melupakan mantannya. Kulirik lelaki itu yang sibuk memotong paprika dalam diam tanpa memandangku sama sekali. Aku menunduk mencoba melihat wajahnya. Dia menoleh sambil menaikkan sebelah alisnya. "Kau kenapa?" tanya Gilbert. "Hanya memastikanmu baik," ucapku. "Ayolah, aku tidak menyedihkan seperti yang kau katakan," elaknya tanpa memandangku. "Masa lalu adalah masa lalu, Em. Jika yang pikirkan Laura, maka itu salah. Aku tidak memikirkannya." "Tapi, kedua matamu tidak bisa bohong." Dia terdiam merasa tertohok dengan kalimatku. "Kau salah, Em." "Bagaimana bisa? Sejak dari swalayan kau diam, Gilbert, bukankah itu yang membuat semuanya jelas?" Gilbert meletakkan pisaunya di atas meja. "Aku tidak tahu ke mana arah pembicaraan ini, oke. Asal kau tahu, hidupku tidak ada sangkut pautnya denganmu." Dia pergi meninggalkanku menuju kamarnya tanpa menoleh ke belakang. Aku mengekorinya tidak terima dengan perkataannya. Aku hanya mencoba bersikap sebagai temannya dan justru dia menanggapinya berlebihan. Apakah salah jika lelaki masih tidak bisa melupakannya mantannya? Toh, aku pun tidak melarangnya jika dia kembali kepada Laura. Kubuka pintu kamarnya dengan kasar. Gilbert menoleh dengan tatapan tidak suka. "Jika kau masih menganggapku teman, harusnya kau tidak berkata kasar padaku seperti itu!" ucapku dengan nada tinggi. "Memangnya aku salah?" "Salah! Kau mencampuri urusanku dengannya, Emilia!" teriaknya dengan mata melotot. Gilbert meraih tasnya lalu bergegas pergi. Aku berbalik dan berseru," Because I love you!" Lelaki itu terpaku mendengar ucapanku. Dia menoleh dengan ekspresi terkejut. Bahkan aku sendiri merasa aneh setelah mengucapkan hal itu. Dadaku begitu berdegup kencang ketika kami saling menatap. Atmosfer pun berubah, rasanya begitu panas. Dalam hati, aku merutuki diri sendiri mengapa begitu bodoh mengucapkan hal yang seharusnya tidak kukatakan. Bahkan ini belum satu bulan aku menjadi janda muda. "Jangan menaruh harapan padaku, Emilia," ucapnya dengan nada rendah. Kini mata itu begitu sayu. Aku menunduk memandang lantai yang dingin karena pendingin ruangan. Ya, aku seharusnya tidak banyak menaruh harapan. Harusnya aku ingat dia tidak suka berkomitmen. Dan semua alasan yang keluar darinya adalah karena Laura. Ya, dia masih mencintai Laura sekalipun dia mengelak. "Aku tahu," ucapku lirih seperti seseorang yang kalah perang. Gilbert menaruh tasnya kembali lalu melangkah mendekatiku. DItariknya daguku dengan tangan kananya. . Mata kami bertemu, pantulan wajahku di iris matanya begitu menyedihkan. Dia merengkuh tubuhku tanpa bersuara begitu juga denganku. Kami hanya saling memeluk meredam emosi kami seraya mendengarkan detak jantung yang berdetak cepat dengan irama yang begitu merdu. "Maaf telah berteriak padamu," ucap lelaki itu. Aku mendongak. "Maaf juga telah membuatmu berkata kasar padaku. Maaf telah mengucapkan kata yang seharusnya tidak kau dengarkan." Lelaki itu terdiam dan sebelum dia mengucapkan sesuatu, ponselnya berdering. Dia meraih benda itu dari celananya dan wajahnya seketika berubah. "Aku keluar dulu," pamitnya tanpa menunggu jawabanku. Aku menatap kepergiannya dengan sejuta pertanyaan. Siapakah yang menelepon Gilbert hingga membuat lelaki itu ingin privasi? padahal dia biasanya tidak perlu keluar apartemen untuk menjawab sebuah panggilan. Lalu siapa penelepon itu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD