Bab 8

1131 Words
Gilbert tidak kunjung kembali sejak menerima telepon misterius. Ini sudah hampir pukul delapan malam namun lelaki itu tak kunjung memberiku kabar. Aku gelisah menunggu dirinya di ruang tamu. Belum lagi tiba-tiba Elsa yang mendadak demam disertai muntah-muntah entah karena apa. Sejak dua jam lalu anakku terus menangis meski sudah kuberi plester kompres demam. "Sebentar Elsa,  Mom,  sedang menelepon Uncle Gilbert," ucapku sambil menahan air mata karena tidak tega dengan anakku.  Kucoba menelepon Gilbert untuk kelima kalinya,  namun tak kunjung dijawab.  Aku hampir menangis, merasa bingung dengan kondisi Elsa.  Belum pernah dia sakit seperti ini. Akhirnya kuberi sirup demam sesuai takaran di dus obat dengan susah payah karena anakku memuntahkannya. Kususui dia malah menolak sambil terus menangis. Kuambil tas dan mantel untuk menyelimuti Elsa lalu melangkah keluar apartemen. Aku harus membawa Elsa ke rumah sakit daripada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.  Lagipula demamnya juga tidak kunjung turun. "Sabar ya, Nak," ucapku lirih sambil menghentikan taksi di depan apartemen. Di rumah sakit, Elsa ternyata harus menjalani rawat inap.  Kata dokter,  anakku mengalami dehidrasi sedang akibat muntah disertai tumbuh gigi seri yang membuat dirinya tidak nyaman. Mendengar suara Elsa yang menjerit karena dipasang selang infus membuat air mataku menangis.  Sungguh lebih baik aku yang sakit daripada anakku.  Kutelepon sekali lagi nomor Gilbert dan berharap dia menjawabnya.  Dewi fortuna tidak memihakku sama sekali. Yang terdengar hanya customer service yang menyuruh untuk meninggalkan pesan suara. "Sial!" geramku sambil me-reject panggilan.  #### Aku terbangun di kursi ruang tunggu pasien ketika ponselku berdering nyaring.  Sembari mengerjapkan mata, kulihat jam di layar ponsel menunjukkan pukul dua pagi dan Gilbert akhirnya mencariku. Kuabaikan panggilannya dengan menekan reject. Ponselku kembali berdering, lalu ku-reject lagi. Kemudian pesan w******p masuk dari orang yang sama.  Gilbert : Kau di mana? Gilbert : Jawab teleponnya, Emilia! Kuabaikan pesan itu dan memilih mematikan ponselku. Berusaha memejamkan mata namun hingga beberapa menit tak bisa tidur lagi.  Aku bangkit sambil memijat kening dengan tangan kanan sedangkan tangan kiri menghidupkan kembali ponselku.  Kuputuskan untuk menelepon balik Gilbert.  Tak berapa lama kudengar suaranya seperti nada khawatir,  aku memutar bola mata sambil menahan rasa kesal.  "Kau di mana?  Mengapa apartemen begitu sepi?" tanya Gilbert dari seberang.  "Mengapa kau tidak menjawab teleponku?" "Kau sendiri?" tanyaku. "Apa kau tak sadar bahwa aku telah meneleponmu berulang kali? Tidak sadarkah bahwa kau yang salah?" "Aku tadi ada urusan mendadak,  Emilia," ucapnya dengan intonasi sedikit tinggi. "Urusan apa hingga kau tidak sempat menjawab teleponku sedetik saja?" Sejenak tidak terdengar suara Gilbert. Aku mendengar dia mengumpat. "Aku tidak ingin kita bertengkar, Em," kata Gilbert. Aku menghela napas,  kepalaku sungguh pusing dengan pertengkaran ini. "Terserah kau saja." Klik! Aku mematikan sambungan telepon. Gilbert kembali mengirimiku pesan. Gilbert : jangan kekanakan. Aku tahu kau merajuk padaku. Gilbert : aku khawatir padamu. Kembalilah Emilia. Emilia : tanyalah pada dirimu sendiri,  Gilbert.  Tak ada jawaban lagi dari lelaki itu hingga aku kembali tertidur lelap.  #### Esoknya kondisi anakku sudah lebih baik meski sudah tidak muntah seperti kemarin malam. Namun sekarang anakku justru tidak mau makan makanan pendamping ASI,  dia hanya mau menyusui saja. Seperti sekarang,  dia masih menghisap dadaku seraya menatap wajahku dengan mata bulatnya. Sesekali pula kedua alis Elsa mengkerut dan memukul dadaku entah karena apa.  "Apa kau merindukan uncle Gilbert?" tanyaku pada Elsa.  Anakku terdiam lalu melepas hisapannya di dadaku.  Mulut kecilnya mengerucut seperti ingin bicara. "Da.... Da.... " Hanya kata itu yang diucapkan anakku. "Mom sedang merajuk pada uncle Gilbert sayang," ucapku. Lalu kuambil ponsel yang berdering di atas nakas.  Gilbert kembali memanggil, sedangkan Elsa bertepuk tangan dengan riang mendengar suara ponselku. Dengan malas, kujawab panggilannya sambil berkata, "Ada apa?" "Ya Tuhan,  kau di mana Emilia? Aku menunggumu hingga tidak tidur semalaman," kata Gilbert dengan mengerang pelan. "Da...  Da... " "Elsa? Apakah itu Elsa? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Gilbert seperti kesetanan. Aku memutar bola mata. "Iya dia baik-baik saja." "Aku video call ya," pinta lelaki itu. Kemudian permintaan video call muncul. Beberapa saat aku ragu, kuyakin Gilbert pasti sangat khawatir melihat Elsa sedang terpasang infus di tangan kirinya. Sambil menghela napas, kutekan ikon video call dan seketika muncul wajah tampan Gilbert dengan rambut cokelat yang berantakan.  Dia sungguh seksi... Astaga... Kedua alis tebal lelaki itu bertaut dengan kantong mata yang begitu jelas. Seketika ekspresinya terkejut melihat sebuah tiang infus di sisi kiriku.  "Kau sakit?" tanya Gilbert. "Bukan aku,  tapi Elsa," ucapku. "s**t! Kenapa kau tidak memberitahuku? Katakan di mana Elsa di rawat? Kau pasti kelelahan Emilia,  biarkan aku membawa baju ganti kalian dan sarapan. Oke?" "Gil--" "Kumohon,  kau nampak buruk, Em," potong Gilbert. "Bisakah aku melihat Elsa?" Kuarah layar ponsel ke wajah anakku. Ekspresi anakku dan Gilbert berubah,  mereka berdua tersenyum satu sama lain seperti dua orang yang tidak pernah bertemu. Elsa menyentuh layar ponsel dengan tangan kanannya yang bebas sambil menjulurkan lidah mungilnya. "Da.. Da.... " "Hai,  gadis kecil, kau sakit? Apa kau merindukan Daddy?" tanya Gilbert membuat Elsa hanya bisa tertawa. "Mommy sedang marah pada Daddy, Elsa. Bisakah kau katakan kepadanya untuk memaafkan Daddy?" Sekali lagi Elsa hanya tertawa menepuk-nepuk layar ponsel sedangkan aku memilih diam mendengarkan percakapan Gilbert yang tak terbalas dengan anakku. "Elsa... Daddy rindu padamu sayang, rindu suaramu. Kau cepat sembuh ya." Kuarahkan ponsel ke wajahku sambil berkata, "Sudah ya. Jika kau ingin aku tidak marah padamu, tolong bawakan kami pakaian ganti ke Mount Sinai Kravis Children's Hospital." Tanpa menunggu kalimat balasan dari Gilbert, kuputuskan sambungan telepon. Bukan karena tidak ingin meneruskan pembicaraan melainkan detak jantungku yang tak karuan mendengar suaranya. Suaranya saat memanggil namaku ketika kami saling bersentuhan.... #### Butuh waktu sekitar dua jam akhirnya Gilbert datang membawa tas berisi pakaian bayi dan pakaianku serta membawa beberapa makanan untuk kami. Jangan tanya bagaimana reaksi Elsa saat bertemu lelaki bermata lentik itu. Anakku begitu bahagia hingga keluarga pasien lain menoleh. Elsa berteriak nyaring sambil mengucapkan kata-kata yang hanya bisa dipahami oleh dirinya sendiri dan mungkin dipahami bayi lain. Kemudian tanpa aba-aba dia menarik tanganku yang sedang menyiapkan baju untuk anakku. Diciumnya bibirku dengan lembut membuat saraf di tubuhku mendadak mati. Kedua iris mata birunya memandangku lekat lalu dia mencium keningku dengan sayang. "Aku minta maaf atas apa yang kulakukan kemarin,  Emilia," lirihnya. Aku menunduk tidak berani memandang dirinya. Jika ini bukan di rumah sakit tentu saja sudah kulumat bibirnya itu untuk meredam emosi di antara kami.  Sayangnya aku tidak cukup berani melakukan itu di depan umum. Aku hanya bisa mengangguk. Otakku masih belum bisa menyusun kalimat setelah ciuman Gilbert yang tiba-tiba. "Em?" panggilnya. Aku mendongak menatap wajahnya namun mataku fokus pada bibir tebalnya yang merekah. Dalam hati aku mengutuk keras bibir Gilbert yang membuatku candu akan dirinya. "Aku memaafkanmu," jawabku cepat sambil berpaling tuk mengambil pakaian Elsa. Kuberikan satu setel pakaian bayi berwarna pink dengan gambar beruang. "Tolong pakaikan kepadanya, aku harus ke kamar mandi." Setidaknya aku harus menormalkan perasaanku dulu setiap kau memperlakukanku seperti kekasih namun hubungan kita hanyalah sekadar teman.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD