Bab 9

487 Words
"Kau bisa istirahat di apartemen, biar aku yang menjaga Elsa," ucap Gilbert setelah Elsa tertidur. Tangan kirinya terulur menyentuh pipiku membuat getaran itu muncul lagi.  "Kau benar-benar terlihat sangat lelah." "Aku tidak bisa.  Elsa juga membutuhkanku," jawabku. "Lagipula kau juga harus bekerja, Gilbert." Lelaki itu menghela napas sambil mengusap wajahnya. Dia pun terlihat lelah sepertiku. Kedua iris mata itu seperti sedang menyembunyikan sesuatu. "Kenapa kau kemarin menghilang?" tanyaku membuat Gilbert membuka mulutnya.  Kukira dia akan mengatakan sesuatu namun semuanya hanya mengambang di udara.  Dia tidak menjawab, hanya memandangku dengan tatapan ragu.  Kali ini aku mengelus pipinya dengan kedua tangan. Dia memejamkan kedua mata menikmati sentuhanku. Diciumnya telapak tanganku dengan sayang. "Laura mengajakku untuk kembali padanya," ucapnya begitu lirih namun terdengar sangat jelas di telinga. Kepalaku serasa dibenturkan ke tembok. Kutarik kembali kedua tanganku dari pipinya, aku gemetaran. Sorot mata Gilbert menyiratkan bahwa dia dilema. Aku tahu dia tidak bisa memegang ucapannya sendiri mengenai mantan dan komitmen. Sebesar apa pun dia melupakan mantannya,  nyatanya pertemuan Laura di swalayan membuatnya goyah seketika. "Aku tahu kau belum melupakannya," ucapku dengan nada sedih. Entah mengapa aku merasa kecewa jika Gilbert kembali ke pelukan Laura. "Itu sebabnya kau menolakku." Lelaki itu menggeleng cepat. "Tidak. Hanya saja aku takut, Emilia." "Kenapa? Kau takut patah hati lagi atau kau takut jika kau tidak bisa memilih?" Gilbert menunduk memerhatikan ujung sepatu kami.  Dia menggeleng sambil melirikku dadi balik bulu matanya. "Aku hanya takut keputusanku salah. Aku memang membenci Laura, tapi...." Gilbert menggantungkan kalimatnya di udara membuat dadaku semakin terasa sesak. "Apa kau masih mencintainya?" "Aku tidak tahu." "Kau hanya memanfaatkanku untuk melupakan Laura,  begitu?" Dia mendongak,  menatapku tak suka.  aku tidak peduli,  nyatanya dia memang begitu. Hubungan kami tidak lebih dari sekadar teman yang saling melampiaskan untuk melupakan mantan.  "Aku tidak mengatakan hal itu," ucap Gilbert sedikit emosi. "Bukankah kau juga sama? Bahkan kita bercinta pun agar melupakan masa lalu, kan?" "Ya,  awalnya memang begitu hingga secara tak sadar aku menaruh harapan padamu. Namun kau sudah menghancurkannya,  Gilbert. Dan kau lebih memilih tenggelam dalam dilemamu sendiri. Oke,  lebih baik kita tidak usah bertemu jika akhirnya seperti ini." Aku membuang muka menahan gejolak amarah yang begitu membara di d**a. Gilbert menghela napas lalu menarik daguku untuk menatap wajahnya. "Hey,  dengar,  Emilia. Aku suka denganmu bukan berarti tak Cinta. Hanya saja aku tidak bisa memberimu sebuah komitmen, Em." "Lalu?" "Apa yang terjadi di antara kita karena kita saling membutuhkan. Aku butuh kau,  dan kau butuh aku. Kau bisa menganggapku pelarianmu, pelampiasanmu,  terserah. Asal kau tidak menyuruhku untuk berkomitmen. Itu berlaku untuk Laura juga, Em." "Jadi, kau....  Kembali kepadanya?" "Tidak. Tidak akan pernah. Kumohon jangan bahas ini lagi,  Em." Aku mengangguk meski dalam hati masih banyak pertanyaan yang ingin kuajukan kepadanya. Dia tersenyum tipis lalu mencium keningku. Ada rasa hangat yang masuk ke dalam relung hatiku. Aku suka dengan perlakuan Gilbert, tapi bersamaan dengan itu pula dia menusukkan seribu pisau pada ratusan harapan yang kutanam untuknya. Gilbert, mengapa kau harus hadir jika kau hanya membawa kebahagian yang tidak bisa kau janjikan untuk selamanya? ####
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD