Bab 10

1225 Words
Marry menelepon pagi-pagi buta saat aku sedang terbuai dalam mimpi di pangkuan Gilbert di sofa kamar rawat inap. Seraya mengerjapkan mata, kujawab panggilan dari mertuaku itu. Waktu masih menunjukkan pukul 5.30 pagi. Aku duduk saat mendengarkan suara Marry memanggil namaku dan mencari Elsa. "Maafkan aku, Marry,  Elsa sedang di rawat di rumah sakit. Dua hari lalu dia muntah-muntah," ucapku sambil menguap lebar. "Bagaimana bisa dia muntah-muntah? Apa kau benar-benar bisa memberikan nutrisi untuknya?" "Ya,  tentu saja. Dia anakku, Marry,  akan kuberikan apa pun yang terbaik untuknya. Dokter mengatakan bahwa ini hal wajar untuk seusia Elsa yang baru mencoba makanan pendamping ASI," ucapku dengan sedikit kesal. Gilbert terbangun karena suaraku. Dia menatapku dengan alis yang berkerut. Sejenak dia mencium bibirku lalu memposisikan kepalanya di atas pahaku,  kemudian dia tidur lagi. "Bukannya aku tidak percaya padamu, Emilia,  tapi mengapa kau tidak segera memberitahuku?" tanya Marry dengan nada kecewa.  "Bukan berarti jika kau bercerai dengan Sam,  maka semua berbeda,  tidak. Kau tetap sama, kau menantuku, Elsa adalah cucuku, Emilia." Aku terdiam dengan rasa bersalah. Kupandangi Gilbert yang kini menatapku dengan sorot mata penuh pertanyaan. "Aku minta maaf, Marry. Aku tidak ingin kau begitu khawatir tentang kami." "Apa ini karena temanmu?" "Gilbert? Oh tidak," aku menggeleng keras. "Bahkan kemarin dia pergi karena ada urusan pekerjaan.  Sungguh maafkan aku." Marry terdiam dengan suara helaan napas. "Nanti aku akan menjenguk cucuku." "Baiklah,  Marry. Aku yakin Elsa akan senang bertemu grandma." Marry pun memutuskan sambungan telepon setelah mengucapkan selamat tinggal. Aku mendongak memandangi langit-langit ruangan ini yang sedikit temaram sambil mengelus rambut Gilbert di pangkuanku.  Aku sungguh merasa bersalah dan tidak bisa menjadi menantu baik untuk Marry.  Kukira setelah perceraian kemarin,  otomatis aku bukan menjadi anggota Jhonson lagi. Namun nyatanya tidak,  Marry masih menganggapku menantunya sekali pun hubungan rumah tanggaku sudah tidak bisa disatukan lagi. Maafkan aku.... #### Sekitar pukul delapan,  Marry datang ke rumah sakit. Dia menatap Gilbert tak suka meski lelaki itu berusaha sopan.  Marry memilih buang muka membuatku sudah memahami inti dari semua ini. Marry bukanlah orang yang suka memandang kasta,  namun sepertinya itu pengecualian bagi gilbert. Auranya begitu menyeramkan tanpa membalas sapaan lelaki bermata lentik itu. "Aku harus pergi," pamit Gilbert sambil tersenyum kaku tanpa memberiku sebuah kecupan.  Aku mengangguk kemudian lelaki itu pergi dan menghilang dari balik pintu bercat cokelat. Kini kulihat Marry menggendong Elsa. Anakku terlihat begitu gembira melihat neneknya sambil bertepuk tangan dan mengoceh yang hanya bisa dipahami oleh bayi itu sendiri. "Kau bisa menginap di rumahku kapan saja, Em," ucap Marry sambil menatapku. "Rumahku selalu terbuka untukmu, lagipula kau terlalu lelah harus mengurus Elsa dan bekerja, kan?" Aku mengangguk membenarkan kalimat mertuaku tapi aku pun juga tidak ingin selamanya bergantung pada orang lain sekali pun dia adalah keluargaku. "Apa kau masih menjenguk Sam?" tanya wanita paruh baya itu. Aku menggeleng. "Dia tidak ingin menemuiku lagi, Marry." Raut wajah Marry berubah sedih, dia mendekatiku lalu mengelus rambutku seraya tersenyum tipis. "Aku yakin dia masih mencintaimu, Em. Hanya saja mungkin ini cara terbaik untuk berpisah. Maafkan aku." Bulir mataku menggenang setiap kali kami membicarakan Sam. Dia lelaki dengan sejuta kenangan, dia lelaki yang sanggup menorehkan luka menganga dan hanya dia yang bisa menyembuhkannya. Tapi, waktu kini tidak memihak sama sekali, bahkan semesta pun seakan setuju dengan waktu. Aku dan Sam ... entah kapan kami akan bersatu ketika dia sudah tak mau menemuiku walau inginku percaya bahwa masih ada aku di hatinya. Aku tidak tahu.... #### Dokter datang saat aku sedang bermain dengan anakku. Lelaki berkacamata dengan papan nama bernama David Miller dengan rambut hitam legam serta sorot mata tajam nampak tersenyum menyapa Elsa. Dia menyuruhku untuk membaringkan tubuh Elsa di atas kasur untuk diperiksa sejenak. Elsa nampak tidak rewel ketika menatap wajah dokter anak itu, justru sibuk menghisap jempol mungilnya sambil sesekal tertawa. "Apa Elsa sudah makan dengan baik? Maksudku tidak ada mual dan muntah?" tanya dokter David sembari menempuk perut Elsa, mungkin mengecek apakah anakku kembung atau tidak. "Tidak, sejak kemarin dia sudah banyak makan, Dok. Elsa juga tidak lemas seperti awal masuk ke sini." "Bagus," katanya. "Hari ini Elsa boleh pulang, akan saya jadwalkan untuk kontrol sekaligus jadwal pemberian imunisasi." Aku mengangguk. "Terima kasih." Dokter itu tersenyum, kali ini sorot mata elangnya tak setajam tadi. Dia menghela napas seraya berkata,"Jaga anakmu, perhatikan kembali makanan yang perlu diberikan sesuai usianya, Mrs. Watson." "Baiklah, terima kasih atas sarannya, Dokter." Setelah dokter itu pergi, segera aku menelepon Gilbert untuk mengabari bahwa anakku sudah diperbolehkan pulang. Gilbert nampak antusias dan berjanji akan menjemputku lebih awal. "Bisakah kita merayakan hari ini dengan makan malam yang istimewa? Menonton film bersama?" pinta Gilbert melalui sambungan telepon. Aku tertawa sambil berpikir. "Boleh, kurasa aku punya ide makan malam enak." "Keren. Baiklah, aku harus kembali bekerja." #### Hampir dua jam, aku menunggu Gilbert di kamar rawat inap, namun lelaki itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Beberapa kali aku keluar ruangan melihat lorong untuk mencari sosok Gilbert namun dia tak ada. Kucoba menelepon dirinya juga tak dijawab. Apa mungkin dia masih sibuk di stasiun TV? Karena beberapa hari ini media massa juga disibukkan dengan aksi demo di beberapa tempat terkait masalah pemerintahan. "Mrs. Watson?" panggil seseorang membuatku menoleh. Dokter David menyapaku, sepertinya dia selesai bekerja, terlihat dari bajunya yang begitu santai dengan mengenakan jaket dan celana jeans serta ransel di punggungnya. "Kukira kau sudah pulang. Apa sedang menunggu jemputan?" tanyanya seraya membenarkan letak kacamatanya. Aku mengangguk. "Ya, aku menunggu temanku menjemput, tapi sepertinya dia sibuk." "Di mana apartemenmu? Mungkin arah jalan kita sama," tawarnya. AKu terdiam sejenak. Jarang sekali aku menyebutkan alamat kepada orang baru namun menunggu Gilbert pun juga tak tahu sampai kapan. Ini sudah sore bahkan kuyakin jalanan juga semakin macet di luar. "Di 377 E 33rd St, Dok." Seketika kedua iris mata bulat itu membesar. Dia tertawa lebar menampakkan kerutan di sekitar matanya. Namun, aku bingung mengapa dia tertawa padahal tidak ada yang lucu. "Astaga, maafkan aku Mrs. Watson," ucapnya. "Tidak kusangka kita satu apartemen. Kau lantai berapa?" Aku menganga, ini sebuah kebetulan yang sangat beruntung. Oke, kurasa aku tidak perlu menunggu Gilbert. "Lantai dua belas." "Aku lantai paling atas," katanya. Aku mengangguk. "Sebuah pertemuan yang tidak disangka, bukan?" "Jika berkenan, kau bisa pulang bersamaku," tawarnya lagi. Sebelum aku menjawab, Gilbert datang dengan membawa sebuah boneka teddy berwarna cokelat terang. Melihat Dokter David , raut wajah lelaki itu berubah. Dia menarik lengan kiriku seolah kami memiliki hubungan erat. Dia pun tak sungkan mencium keningku di depan dokter David membuat dokter itu salah tingkah. "Kurasa lain kali kita bisa bicara, Mrs. Watson," ujar Dokter David. "Iya, senang bisa berkenalan denganmu, Dok," ucapku yang dibalas sebuah senyum tipis. Dokter bertubuh tinggi besar itu pergi menjauh. Lalu aku menatap Gilbert dan berkata,"Kau sungguh lama." "Maafkan aku, tadi aku membeli ini untuk Elsa," kata Gilbert. "Aku tidak suka kau bicara dengan pria itu, Em." Kedua alisku mengerut. "Kenapa? Dia dokter yang merawat anakku. Lagipula tadi dia menawarkan tumpangan gratis." Gilbert menatapku dengan tatapan penuh arti dengan mulut terbuka seperti ingin mengatakan sesuatu. Tapi dia hanya menggeleng lalu menarik diriku ke dalam pelukannya. "Kau boleh berteman dengan orang lain, siapa pun itu, tapi jangan dia, oke." Aku menatap dirinya dengan tak percaya. "Kau ini bicara apa? Apakah kau mengenalnya?" "Tidak." "Ya sudah jika kau mengatakan tidak, haruskah kita membuat masalah ini besar?" ujarku kesal. "Tidak, sungguh maafkan aku. Baiklah, lupakan masalah tadi. Ayo kita pulang," ajaknya seraya masuk ke ruangan untuk menyusul Elsa. Kutatap dirinya dengan jutaan pertanyaan di benakku. Aku yakin ada sesuatu yang disembunyikan Gilbert. Aku tahu dia bukan lelaki yang mengekang wanita tanpa sebuah alasan. Lalu apa hubungannya dengan dokter David seolah lelaki berkacamata tadi tak pantas untuk kuajak bicara? Apakah mereka berdua memiliki sebuah masa lalu yang sama?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD