Senang rasanya bisa kembali ke tempat kerja bertemu dengan Liv dan karyawan lain. Paula menyambutku dengan membawakan camilan yang dibuatkan khusus untuk Elsa. Aku mengucapkan terima kasih lalu kami sedikit berbincang di ruang karyawan, banyak hal yang ingin kutanyakan tentang Laura bahkan Dokter David. Sejak semalam Gilbert seperti sedang mendiamiku, meski aku berusaha mengajaknya mengobrol tentang film yang kami tonton.
Namun pagi ini, justru lelaki bermata lentik itu bersikap sangat berbeda. Dia bangun pagi-pagi buta untuk menyiapkan makanan serta memandikan Elsa sebelum berangkat kerja. Dia juga bersikap begitu manis dengan memelukku erat dan mengucapkan kata-kata romantis seolah apa yang terjadi semalam tidaklah pernah terjadi. Itu bukanlah Gilbert, aku tahu itu. Dia lelaki yang tidak mudah mengucapkan hal romantis seperti Andre--suami Eliza. Aku tidak tahu apa yang merasuki pikiran Gilbert hari ini.
"Jadi dia akan kembali ke pelukan si wanita berdada besar itu?" tanya Paula.
Aku mengedikkan bahu. "Dia bilang tidak, tapi dari matanya aku tahu dia masih mencintai Laura."
Paula menepuk bahu kiriku, "Yang kutahu dari Liv, Gilbert itu pria yang sangat susah jatuh cinta. Mungkin saja Laura adalah cinta pertamanya sekali pun hatinya sudah diremukkan oleh wanita itu. Kau tahu kan kekuatan cinta pertama itu memang paling berkesan dalam hidup, Em. Selama aku bekerja di sini, banyak wanita yang mencoba mendekati sepupu Liv itu, tapi tidak ada satu pun yang bisa menaklukan hatinya. Kalau pun ada, selalu berakhir dengan one night stand semata."
"Benarkah?"
Paula mengangguk. "Aku tahu itu dari Cecilia, perempuan yang ada di dapur sebelum kau bekerja di sini. Dia pernah menjadi wanita one night stand Gilbert, dan kau tahu? Esoknya dia dicampakkan oleh sepupu Liv begitu saja. Cecilia marah dan akhirnya dia keluar dari sini untuk melupakan Gilbert."
"Lalu apa maksud dari perlakuannya padaku hari ini?" tanyaku bingung.
Paula nampak berpikir sejenak lalu menggeleng. "Entahlah, tapi bagaimana jika kau coba mendekati dokter itu?"
"Dokter David? Kau gila," kataku sambil tertawa.
"Hei, kita takkan pernah tahu apa yang dipikiran pria sampai kita berhasil membuatnya cemburu buta, Em. Jika dia benar-benar cemburu, itu tandanya dia menyukaimu, oke."
####
Wanita itu kembali datang, namun ketika matanya bertemu denganku, dia memandangku sinis meski bibirnya tersenyum begitu manis. Laura dengan setelan tanktop putih dan celana jeans ketat yang begitu memeluk pantatnya terlihat begitu molek. Kini wanita bertubuh jenjang itu berdiri di hadapanku dengan begitu angkuh seraya berkata,
"Kukira kau sudah tidak bekerja di sini lagi."
Bibirku terkatup menahan sumpah serapah yang ingin kulemparkan kepadanya. Kutarik napas dan mengembuskannya perlahan sambil tersenyum paksa.
"Boleh aku menerima pesananmu, Nona?"
"Brownies satu dan red velvet cookies tiga, please," katanya.
Aku mengangguk sambil mengetik pesanan.
"Apa Gilbert masih betah tinggal bersama mantan istri narapidana?" sindirnya sambil membaca deretan menu di belakangku.
"Maaf, apa maksdmu?" tanyaku dengan sedikit emosi.
"Kau. Bukankah kau mantan istri Samuel Jhonson? Oh, ayolah, apa kau sudah melupakan dia karena ada Gilbert di sisimu?"
Tanganku terkepal erat. Jika tidak ada meja pembatas antara pelanggan dan kasir, mungkin sudah kuhajar wajah mulusnya itu. Dia tidak berhak mencampuri urusan pribadiku sekali pun dia pernah menjalin asmara dengan Gilbert. Jika seperti ini, Gilbert adalah pria buta yang masih menggilai Laura. Wanita bermulut ular ini sungguh tidak menawan di mataku lagi.
"Maaf, setidaknya aku tidak mengkhianati seseorang dengan cara bercinta bersama pria lain, Nona."
Kedua mata Laura membulat, aku yakin dia tahu apa yang kumaksudkan. Aku tersenyum tipis ketika dia tidak bisa melawan kalimatku lagi. Kuberikan pesanannya dengan malas dan menerima uang 20 dollar darinya. Tanpa mengatakan apapun wanita itu pergi dengan langkah panjangnya di atas heels tingginya.
"Kau hebat."
Suara Paula membuatku memutar kepala. Dia berdiri di depan pintu dapur sambil membawa satu nampan berisi cupcake.
"Aku mendengar apa yang kalian katakan," ucapnya lagi seraya menaruh sepuluh cupcake di etalase.
"Aku tidak akan berkata seperti itu jika dia tidak memantik api, Paula."
Paula tertawa menampakkan gigi kelincinya. "Aku tahu. Setidaknya harus ada wanita yang melawan dia. Mantan ya mantan, mengapa dia begitu kekeuh mengejar mantan jika kisah mereka sudah berakhir? Itu sama saja memungut sampah, kan?"
Sebelum aku menjawab, ponselku berdering dan menampakkan nomor tak dikenal. Kujawab panggilan itu ketika mendengar suara bariton di sana.
"Ya, ini Emilia Watson," ucapku. "Ini siapa?"
Suara bariton di seberang tertawa. "Apa kau sudah melupakanku, Mrs. Watson? Ini aku Dokter David."
Mataku seketika membesar, kutatap Paula sambil membisiki bahwa lelaki yang meneleponku adalah dokter yang menangani anakku. Paula nampak kegirangan lalu dia menempelkan telinga kirinya untuk ikut menguping.
"Oh, maafkan aku, Dok. Darimana kau mendapatkan nomor ponselku?"
"Dari rekam medismu, maaf tidak bermaksud untuk menerormu, Mrs. Watson."
Aku tertawa dengan pipi yang bersemu merah. "Tidak. Tidak masalah. Apa ada yang bisa kubantu, Dok?"
"Panggil saja David, Please. Anakmu sudah bukan pasienku lagi. Apakah dia baik-baik saja?"
"Ya, dia baik-baik saja, David." Aku melirik Paula bingung harus berkata apa pada dokter itu.
"Oh, Syukurlah. Ehm, jika boleh, aku ingin mengunjungimu akhir pekan ini. Mungkin kita bisa jadi teman baik," tawarnya.
Kugigit bibir bawah menahan rasa yang tiba-tiba datang menggelitik perutku. Kupegang erat baju Paula sedangkan temanku itu hanya bisa mengisyaratkan untuk mengiyakan ajakan Dokter David.
"Boleh."
"Oh, Syurkulah, aku sangat senang jika kau menerimaku bertamu ke apartemenmu. Baiklah, kurasa aku harus kembali bekerja, Mrs. Watson."
"Emilia saja, David. Panggil Emilia."
"Oke, Emilia. Sampai jumpa akhir pekan."
Setelah sambungan telepon terputus, aku dan Paula berteriak histeris seperti dua anak remaja yang mendapat tiket konser Blink-182.
"Aku penasaran dengan wajah doktermu itu, Em, apakah dia tampan dan ... seksi?" goda Paula sambil mengerlingkan sebelah matanya. "Oh, Ini jadi rencana yang bagus."
"Oh, ayolah, Paula. Aku takkan mungkin memanfaatkan David untuk membuat Gilbert cemburu. Dia terlalu baik, kau tahu...."
Paula menggeleng sambil tertawa. "Tidak, sampai kau menjadi rebutan dua pria ini."