Ghibran berpamitan pulang.
Di dalam perjalanan, pria tersebut tak henti menyerukan nama Sang Illahi dengan beragam kalimat puji syukur.
******
Setiba di kediaman Ahmad Faruqi.
Halaman berukuran beberapa hektar itu, menjadi titik pemberhentian. Mobil Ghibran segera terparkir dengan baik di sisi samping mobil sang ayah.
Ceklek!
Daun pintu rumah berbahan dasar kayu jati, terbuka. Ghibran melangkah masuk dan segera menjumpai sosok Ahmad di ruang tengah.
“Ghibran?” Di sela Ghibran hendak menyapa sang ayah, Ahmad terdengar lebih dulu berseru.
Putra sulung keluarga Faruqi tersebut, bergegas menghampiri posisi Ahmad sedang berada. Sang pria paruh baya menyudahi aktivitas membaca koran. Beralih memposisikan duduk sembari merebahkan punggung pada sandaran kursi yang nyaman.
“Ada apa, Pa?”
“Apa kau baru saja pulang dari rumah wanita itu?”
“Maksud Papa, rumah Bilqis?”
“Yah, tentu saja. Siapa lagi wanita yang kau sebutkan namanya di rumah ini? Selain nama Karina dan wanita itu. Tentu, Bilqislah yang sedang Papa maksudkan.”
Ghibran memanggutkan dagu. Ia paham betul dengan kalimat sindiran sang ayah. Mengingat, telah bertahun-tahun, ia memilih untuk melajang; sama sekali tak berkencan.
Dan,
“Benar, Pa. Alhamdulillah kedatangan Ghibran disambut dengan baik oleh kedua orang tua Bilqis.”
Hening sesaat.
Sebelum,
“Jadi, kau benar-benar sudah mantap?” Ahmad memastikan sekali lagi.
“Tentu saja. Bukankah, Papa juga sudah setuju? Lantas, mengapa bertanya seperti itu? Seakan, Papa merasa ragu,” Ghibran bertanya. Menyipitkan mata.
“Bukan Papa yang ragu. Tapi, sepertinya Mamamu memilih untuk berpikir ulang. Ia merasa ragu dengan keputusanmu.”
Spontan, bola mata Ghibran melebar. Ia tahu betul akan alasan Karina merasa bimbang. Mengingat, sosok Bilqis yang sempat ia ceritakan pada Ahmad dan Karina, merupakan gambaran dari seorang wanita muslimah. Sosok wanita yang jauh dari hingar bingar kehidupan sosialita; teramat berbanding terbalik dengan kehidupan sang ibunda.
“Perihal Mama, Papa tak perlu khawatir. Ghibran akan berusaha untuk meyakinkan Mama. Lagi pula, insya Allah Bilqis merupakan jodoh terbaik yang Allah kirimkan untuk Ghibran."
“Ya sudah. Itu terserah padamu saja. Papa mendukung semua keputusan yang kau buat.”
Pada dasarnya, pria paruh baya tersebut tidak masalah dengan siapa pun yang akan menjadi sosok sang menantu kelak. Bagi Ahmad, yang terpenting adalah Ghibran segera menikah. Lalu, memberikan seorang cucu laki-laki, untuk ia jadikan pewaris Perusahaan Faruqi.
******
Setelah menyudahi aktivitas berbincang.
Ghibran beralih dari tempat duduk semula. Ia menghampiri sang ibunda, yang tampak sedang mengurus tanaman di halaman belakang rumah.
“Kau sudah pulang, Ghibran?” Karina bertanya. Seolah, wanita paruh baya itu tahu jika sosok yang sedang berdiri pada sisi belakang ia berpijak, adalah Ghibran.
“Alhamdulillah sudah, Ma.”
Mendengar suara dari sang putra, Karina menyudahi aktivitas menyiram tanaman. Sembari membalikkan badan; hendak menatap wajah Ghibran, ia menghembus napas panjang. Berkata, “Ada yang ingin Mama bicarakan denganmu.”
“Kebetulan, Ghibran juga hendak mengajak Mama untuk berbincang.”
Kini, ibu dan anak tersebut sedang menjejalkan p****t pada dudukan yang ada di area halaman. Sebelum Karina berujar, Ghibran sengaja mendahului obrolan.
“Jika, yang hendak Mama bicarakan dengan Ghibran adalah persoalan keputusan Ghibran untuk melamar Bilqis. Maafkan Ghibran, Ma. Ghibran sudah membulatkan tekad. Ghibran takkan mundur meski Mama yang meminta.”
GLEK!
Karina menelan ludah dengan susah. Alih-alih segera menyahut, ia sedang memikirkan kalimat yang paling tepat.
Lalu,
“Seharusnya, kau tak perlu buru-buru. Kita harus mencari tahu seluk beluk dan latar belakang wanita itu. Jangan sampai, dia menerima ajakanmu untuk menikah hanya karena harta. Kau tahu, bukan? Wanita mana yang enggan dinikahi oleh seorang pria tampan nan kaya raya?” Karina berujar. Memberi penekanan pada kalimat.
Ghibran merekahkan senyum. Menyahut, “Ghibran sudah memastikan jika Bilqis benar-benar calon istri yang paling tepat. Ghibran juga sudah berkenalan dengan kedua orang tua Bilqis. Dan, subhanallah. Sungguh, Allah telah menjawab segala doa yang Ghibran panjatkan. Kini, kami dipertemukan untuk bersatu di dalam mahligai pernikahan.”
Mendengar sahutan Ghibran, Karina mencibir pelan. Berkomat-kamit sebal.
“Ma? Mengapa Mama terlihat kesal? Bukankah, Mama seharusnya senang? Akhirnya, putra yang selama ini Mama jodoh-jodohkan, akan menuju ke jenjang pernikahan?” Ghibran memecah gerutuan sang ibunda.
“Kau benar, Ghibran. Tapi, tak dengan seorang wanita seperti dia. Di luar sana, Mama bisa mencarikanmu wanita lain yang lebih baik, lebih cantik, lebih kaya, lebih pintar, dan lebih—”
“Astagfirullah, Ma. Sudahlah! Pokok, Ghibran sudah membulatkan tekad. Ghibran takkan berubah pikiran,” Sang putra menyergah kalimat Karina. Ia menangkupkan kedua tangan. Menahan rasa kesal, yang bisa saja akan terluapkan begitu saja.
Haish!
“Baiklah. Terserah kamu saja,” Karina meninggikan nada. Beranjak dari duduk. Meninggalkan sang putra seorang diri di sana.
******
Sesaat usai menapakkan tungkai di dalam kamar.
Lagi-lagi, telepon genggam menjadi titik tujuan. Saat itu, Karina meraih ponsel di atas nakas sisi kanan ranjang. Mendudukkan diri pada sisi empuk tempat tidur. Menggulir jemari pada layar ponsel yang menyala.
*Grup obrolan ibu-ibu sosialita*
Ibu A : “Jeng Karina, calon menantu Jeng bernama siapa?”
Ibu B : “Benar, Jeng. Kami penasaran. Apakah Sasa? Atau, Rubi? Atau, Marisa? Sebenarnya, calon menantu Jeng, putri dari teman kita yang mana?”
Ibu C : “Kasih bocoran dong, Jeng. Kami penasaran.”
Tiba-tiba,
Ibu D : “Kudengar, nama calon menantu Jeng Karina adalah Bilqis.”
Ibu B : “Benarkah?”
Ibu A : “Tapi, nama itu asing di dalam telinga kita.”
Ibu D : “Tentu saja, Jeng Karina sempat mengobrol berdua denganku. Ternyata, wanita pilihan Ghibran adalah seorang pemilik Butik Khumairroh. Dia bernama Bilqis.”
Ibu C : “Butik Khumairroh? Apakah butik yang ini, Jeng?”
Ibu C : Foto terkirim (berisi gambaran butik milik Bilqis)
Ibu C : Foto terkirim (berisi sosok pemilik butik)
Ibu A : “Jeng Karina, apa benar itu adalah calon menantu Jeng Karina?”
Saat itu,
Karina spontan melebarkan bola mata. Bukan karena merasa tersinggung usai dibicarakan secara terang-terangan oleh para teman wanita. Namun, karena foto yang menggambarkan sosok Bilqis di sana.
Apa benar, wanita seperti ini yang Ghibran pilih? Karina bergumam. Memperbesar gambaran.
Wajah Bilqis terlihat cantik alami. Tak ada satu pun riasan yang menempel di wajah. Lalu, perihal pemilihan pakaian, sungguh teramat jauh dari selera Karina yang kerap tampil cetar membahana. Bilqis hanya menggunakan gamis serta khimar bermodel polos dan berwarna netral. Benar-benar menyuguhkan penampilan yang amat sederhana.
Dan,
Mengapa Ghibran memilih wanita tak berlekuk seperti dia? Lihatlah, Bilqis amat berbeda dengan wanita-wanita yang kupilihkan. Mereka terlihat cantik, bertubuh molek dan seksi. Sedangkan, Bilqis? Astaga, Ghibran! Mama benar-benar tak bisa memahami wanita yang kau pilih.
Drrt drrt!
Ponsel yang sedang Karina pegang, kembali bergetar.
Ibu C : “Jeng Karina, bagaimana? Mengapa hanya membaca pesan kami saja?”
Ibu A : “Benar, Jeng. Jangan diam saja.”
Haish!
Karina mengeram kesal. Menggerutu. Bisa-bisanya, kau mempermalukan Mama seperti ini, Ghibran?