PILIHAN KEDUA

1138 Words
Hari ini. Bersamaan dengan hari saat Bilqis hendak memesan gaun pengantin. Sebenarnya, ia hendak mengajak Desy untuk pergi bersama menuju sebuah butik gaun muslimah. Hanya saja, Desy mengeluh jika migrain yang ia punya, mendadak kambuh. Sehingga, Bilqis terpaksa pergi seorang diri. Beruntung, Hari itu, Ghibran sedang pergi keluar bersama Karina. Ibu dan anak tersebut, pergi berbelanja untuk persiapan seserahan. Di sela Ghibran menuntaskan agenda berbelanja, ia mengirim pesan pada Bilqis untuk menanyakan perihal persiapan gaun. Di saat itulah, Ghibran memutuskan untuk menemani Bilqis. ****** Di dalam perjalanan. “Ghibran, mengapa arah tujuan kita berbeda dengan jalan menuju rumah? Memang, kita hendak mampir ke mana?” Karina bertanya. “Kita hendak menuju ke rumah orang tua Bilqis, Ma. Kebetulan Ummi Desy sedang migrain. Jadi, Ghibran memutuskan untuk menemani Bilqis mencari gaun pengantin.” Mendengar jawaban Ghibran, Karina bergumam. Dasar wanita yang merepotkan. Belum menjadi istri saja, sudah membuat Ghibran menjadi kerepotan. ****** Kini, mobil Ghibran baru saja menepi. Tepatnya, pada sebuah halaman rumah yang terlihat rindang. “Ma, apakah Mama tidak ingin turun?” Ghibran bertanya. Memandang gurat di wajah Karina. Sebuah raut yang menunjukkan pertanda enggan. Bagaimana bisa putraku menikahi seorang wanita dari keluarga sederhana seperti ini? Alih-alih menjawab, sang ibunda justru mencibir penampakan rumah sang calon besan. Melihat Karina tak menanggapi, Ghibran beralih seorang diri. Ia berjalan menuju sisi depan ambang pintu utama. Tak lama setelahnya, pria tersebut keluar bersama seorang wanita berbalut pakaian muslimah; sama persis dengan gambaran yang Karina lihat di dalam tangkapan layar sebuah ponsel. Dan, Astaga! Mengapa Ghibran harus seperhatian itu pada dia? Lagi-lagi, Karina membatin penuh rasa kesal. Tak terima saat melihat sang putra sulung berjalan berdampingan dengan Bilqis. Terlebih lagi, saat Ghibran sengaja membuka daun pintu mobil untuk wanita tersebut. ****** Di dalam mobil. “Assalamualaikum, Ma,” Bilqis menyapa. Menyodorkan tangan kanan yang hendak meraih tangan sang calon ibu mertua. What? Dia memanggilku dengan panggilan Mama? Menjadi menantuku saja, belum. Lantas, percaya diri sekali dia. Kemudian, “Ma?” Ghibran sedikit menghentak. Menyadarkan lamunan sang ibunda. “Sudahlah! Tak perlu bersalaman dan memperkenalkan diri. Aku sudah mengetahui namamu,” Karina berujar. Memandang Bilqis sekilas. Lalu, melengos tanpa menghiraukan isyarat pandang dari sang putra. Astagfirullah. Mama keterlaluan! Bagaimana bisa bersikap demikian pada saat perjumpaan pertama. Ghibran membatin tak menyangka. Sementara itu, nyali Bilqis menciut. Apakah Mama Karina enggan menerima kehadiranku? Bukankah, Mas Ghibran berkata jika kedua orang tua mereka sudah setuju? Lantas, mengapa beliau sedingin itu padaku? Kini, mereka bertiga sedang membahu jalanan di dalam satu kendaraan. Jika, Karina bersibuk dengan telepon genggam. Ghibran dan Bilqis lebih memilih melantunkan sholawat. ****** Tak terasa, Ghibran telah memberhentikan mobil. Mereka baru saja tiba di sebuah butik muslimah. “Ghibran, mengapa kita datang ke mari?” Karina bertanya heran. Sesaat usai melihat gambaran butik yang dipenuhi dengan busana tertutup. “Lantas, Mama hendak meminta Ghibran melajukan mobil ke mana? Menuju butik-butik yang kerap dikunjungi putri dari teman-teman Mama? Jangan harap, Ma. Ghibran dan Bilqis lebih memilih memesan gaun pengantin di butik muslimah saja." Tring! Suara penanda pintu kaca terdengar. Daun pintu tersebut baru saja dibuka dan ditahan oleh Ghibran. Sang pria mengijinkan agar dua orang wanita itu, masuk lebih dulu. Sontak, Karina mengedarkan pandangan. Sungguh, netra sang wanita paruh baya merasa keberatan melihat gaun-gaun di sana. Dan, “Mbak, apa tak ada gaun dengan model yang sedikit terbuka? Kalian membuat gaun atau membuat busana untuk pergi ke pengajian?” Karina mengeluarkan suara. Sesaat usai menjumpai sosok pegawai wanita di dalam butik. Refleks, sang pegawai melebarkan bola mata. Ia menahan ucapan saat hendak memberi jawaban. Beruntung, Ghibran segera menyegah pertanyaan dari Karina. “Maaf, Mbak. Jangan dihiraukan ucapan dari Mama saya. Kami ke mari hendak melihat-lihat gaun muslimah. Maksud kami, kami akan segera memesan usai menjumpai gaun yang cocok,” Ghibran berujar. Melirik sekilas pada sosok Bilqis, yang sedang melempar senyum pada si pegawai wanita. “Baik, Pak-Bu. Silahkan. Kami akan merekomendasikan koleksi terbaru di butik kami.” Saat itu, Ghibran dan Bilqis berjalan mengikuti langkah seorang pegawai. Sementara, Karina? Jangan ditanya. Ia enggan untuk turut serta. Wanita paruh baya itu, lebih memilih untuk menjejalkan p****t pada dudukan yang telah disediakan. ****** Lima belas menit berlalu. Bilqis sedang mencoba gaun pertama yang sudah ia pilih bersama Ghibran. Selagi menunggu Bilqis keluar dari dalam kamar ganti, Ghibran menghampiri posisi sang ibunda sedang berada. Memanggil, “Ma? Mengapa berdiam diri di sana? Mari, ikut bersama kami.” “Mama tak yakin harus ikut bersama kalian. Apa lagi, harus menyaksikan wanita itu mencoba gaun pengantin. Issh! Mama tak sudi.” “Astagfirullah, Ma. Sampai kapan Mama menolak kehadiran Bilqis seperti itu? Sadar, Ma. Sadar! Sebentar lagi, Ghibran akan menikahi dia,” Sang putra berucap penuh penekanan. Setelah itu, Bilqis terlihat berjalan menggunakan gaun muslimah berwarna putih. Kulit Bilqis benar-benar memancarkan keindahan alami dengan balutan busana tersebut. Wajah wanita muslimah itu, benar-benar mengalihkan dunia Ghibran. “Jadi bagaimana, Ma?” Ghibran bertanya. Meminta pendapat sang ibunda. Cih! Karina berdecik lirih. Berkata, “Gaun itu tak cocok dengan dia. Lagi pula, wanita kampungan seperti Bilqis, takkan cocok menggunakan busana apa pun.” GLEK! Kali itu, tak hanya Bilqis yang menelan ludah. Melainkan, seorang pegawai wanita yang tak sengaja mendengar ucapan Karina, spontan memaksakan saliva agar tertelan. Sontak, “Ma! Apa yang baru saja Mama katakan?” Ghibran menghentak. Berusaha menyadarkan ucapan Karina yang terlampau kelewatan. “Sudahlah, Ghibran. Kalian bergegas saja. Pilihlah gaun mana pun. Dan, jangan bertanya pendapat Mama. Lagi pula, selera calon istrimu benar-benar berbeda dengan selera Mama.” Meski begitu, “Baiklah, Ma. Jika, Mama tak menyukai gaun pertama ini. Bilqis akan mencoba gaun pada pilihan kedua,” Sang wanita muslimah berujar. Ia sama sekali tak merasa keberatan dengan kalimat pedas, yang dilontarkan oleh Karina. ****** Beberapa saat kemudian. Kini, Bilqis telah berganti pakaian. Ia menggunakan gaun muslimah pada pilihan kedua yang dipilihkan oleh Ghibran. Dan, Subhanallah. Sang calon pengantin pria berseru takjub. Kali itu, wajah Bilqis benar-benar memancarkan aura seorang pengantin wanita. Benar-benar sejuk saat dipandang oleh netra. Pada saat bersamaan, Karina menaikkan sudut alis. Bola mata wanita paruh baya tersebut menunjukkan gambaran tak percaya. Sial! Bagaimana bisa, wanita itu tampil cantik dengan sedemikian rupa? Sepertinya, aku harus memeriksakan mata sepulang dari sini. Jikalau, pada saat mencoba gaun pertama, Bilqis berani memandang diri di depan cermin berukuran besar. Berbeda halnya, saat ia mencoba gaun pilihan kedua. Sang wanita muslimah merasa minder, jika gaun tersebut tak lagi disukai oleh ibunda Ghibran. Lalu, “Bilqis, mengapa kau diam saja? Mengapa hanya menunduk? Tak inginkah, kau melihat dirimu di depan cermin?” Ghibran mengeluarkan suara. Memecah rasa rendah diri pada sosok sang calon istri. “Bo-bolehkah, Bilqis melakukannya, Mas?” “Tentu saja. Mengapa tidak? Kau benar-benar cantik, Bilqis,” Ghibran meyakinkan. Namun, Bilqis masih enggan mengangkat kepala. Tiba-tiba, suara Karina terdengar menggelegar. Ia berujar, “Sudah, ganti lagi saja! Gaun itu masih terlihat buruk saat kau gunakan.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD