Usai bolos bekerja; untuk memanjakan diri dan melampiaskan rasa sedih dengan menonton televisi, Bilqis memilih mengerjakan pekerjaan yang sempat tertunda. Tepatnya, pada pukul setengah sepuluh malam, Bilqis masih sibuk menggulir pena elektronik di sebuah tablet kerja. Menggambar rancangan pakaian yang harus ia selesaikan jahitannya dalam waktu sepekan. Namun, di saat Bilqis sibuk bekerja. Ghibran justru sibuk dengan ponsel genggam pribadinya. Sudah satu jam berlalu. Namun entah mengapa, pria itu masih sibuk dengan benda elektronik keluaran terbaru. Tampak sedang berkirim pesan dengan seseorang. Bilqis merasa heran. Tak biasanya Ghibran berperilaku demikian. Apalagi, seorang CEO perusahaan tak memiliki alasan untuk berkirim pesan dengan para kolega di waktu malam. Sudah pasti, mereka lebi

