Zahra sedang duduk di sofa ruang kerja. Berhadapan dengan sosok sahabat yang sudah lama ia kenal. Sebuah gurat sedih, kecewa dan rasa penasaran seolah bergerombol di wajah Bilqis. Zahra tak kuasa menahan lidah yang kerap kompak mengucap pertanyaan. Pada akhirnya kalimat tanya itu segera terlontar, “Apa ada yang sedang mengganggu pikiranmu, Bilqis?” Bilqis menoleh ke arah Zahra. Suara merdu wanita itu berhasil memecah lamunan. Membuat Bilqis teringat akan suatu hal. “Oh iya, Zahra. Apa Mamamu masih sering ikut arisan?” Bilqis bertanya. Tanpa menyahut pertanyaan yang dilontarkan oleh Zahra sebelumnya. Zahra mengerucutkan bibir. Tak biasa Bilqis penasaran akan hal tersebut. “Tentu, tentu saja Mama masih sering ikut arisan. Lagi pula, mengapa kau tiba-tiba bertanya?” Bilqis menekan posi

