bc

PEREMPUAN BIDAK, Ketika Cinta Kehilangan Jejak

book_age16+
699
FOLLOW
6.1K
READ
love-triangle
possessive
goodgirl
drama
city
office/work place
first love
sisters
classmates
gorgeous
like
intro-logo
Blurb

Yura adalah laki-laki dewasa berusia 29 tahun yang terjebak cinta pertamanya dengan Puri, teman masa SMA nya yang memang cantik dan nyaris sempurna karena kekayaan orang tuanya. Tapi nasib baik tak berpihak kepada Yura, ketika pernyataan cintanya kemudian dihempas mentah-mentah oleh Puri tersebab perbedaan status sosial keduanya. Meski dalam hati Puri ada simpati terhadap Yura, tapi logikanya berjalan lebih dominan dibandingkan dengan perasaan yang mulai sedikit bersemi di hatinya.

Kemudian nasib baik membuat keduanya bertemu tanpa unsur kesengajaan, dalam sebuah lelang tender perusahaan yang membuat mereka menjadi rival satu sama lain.

Yura yang masih tak bisa mengenyahkan bayangan Puri dari kepalanya, mencari cara bagaimana mendapatkan perempuan itu.

Tapi ketika semua nyaris berjalan sebagaimana yang Yura inginkan, dunia tak berpihak kepadanya. Karena ada Mayla, adik tiri Puri yang keberadaannya menjadi sandungan bagi Puri dalam mendapatkan hak waris ayahnya, dijadikan umpan oleh Yura untuk mendapatkan Puri, ternyata memasuki hati Yura hingga menyentuh ruang terdalam yang selama ini tak terjamah oleh perempuan manapun.

Bagaimana nasib Yura yang kini berada di persimpangan?

Mengejar cintanya yang menggelora pada Puri ? Atau memilih Mayla yang berhasil membuat hidupnya jauh lebih berwarna dan penuh kejutan?

chap-preview
Free preview
1 : PERTEMUAN TAK TERDUGA
Udara pagi ini cerah ketika sebuah mobil terlihat keluar dari sebuah rumah mewah dan megah yang berdiri di pinggiran kota. Sebuah rumah bertingkat tiga dengan bangunan bergaya eropa yang khas dengan cat putih dan pilar yang tinggi. Sebuah mobil mewah melaju pelan keluar dari pekarangan luas rumah itu. “Langsung ke gedung lelang, Tuan?” sopir yang duduk di belakang kemudi melirik pada seorang laki-laki yang berdiri gagah di jok belakang, melalui kaca spion. Laki-laki yang duduk di kursi belakang itu melihat pada jam elegan dan mewah yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Masih ada waktu, Pak. Kita ke kantor dulu saja. Ada beberapa berkas yang harus saya ambil di kantor,” jawab laki-laki itu dengan tenang. “Baik, Pak.” Kemudian sopir itu  melajukan mobil yang mereka kendarai menuju ke kawasan perkantoran dimana laki-laki majikannya itu biasa ngantor. Kota mulai padat oleh mobil-mobil yang menuju ke lokasi kerja masing-masing. “Selamat pagi, Pak,” Sinta, sekretaris Yura yang sudah datang lebih awal itu berdiri menyambut kedatangan Yura. “Hm. Apa jadwalku selain hadir pada lelang rumah sakit itu, Sinta?” Yura menjawab pertanyaan Sinta dengan balik bertanya sembari berlalu memasuki ruangannya. Sinta bergegas mengambil buku agenda jadwal kegiatan Yura yang sudah sejak tadi dicermatinya kemudian berjalan mengikuti Yura memasuki ruangan kerja yang terlihat sangat elegan dan minimalis itu. Ruangan luas dengan interior hitam putih yang sangat maskulin, dengan pencahayaan dari matahari yang sangat maksimal semakin membuat ruangan itru tereasa nyaman dan sehat. “Jadwal Bapak pukul dua siang ke rumah sakit, Pak.” “Sudah kau siapkan draft anggaran yang akan kita ajukan pada lelang nanti, Sinta?” “Sudah, Pak.” Yura mengangguk. “Persiapkan segala sesuatunya, Sinta. Setengah jam lagi kita berangkat!” “Baik, Pak.” Dan perempuan cantik bernama Sinta itu kemudian meninggalkan ruangan Yura untuk berkemas. (Untuk tahu siapa Sinta, silahkan baca novel saya yang berjudul ASMARA SUNGSANG). Pagi ini mereka akan menghadiri lelang tender pembangunan sebuah rumah sakit swasta yang konon bernilai milyaran. Sambil menunggu Sinta berkemas, Yura membuka gadget-nya untuk mengecek beberapa email yang masuk. Lalu masuk sebuah pemberitahuan dari rekan sesama pengusaha kontraktor melalui ruang chat. Yura membukanya dan membaca isinya yang berisi daftar nama perusahaan yang akan hadir dalam acara lelang hari ini. Dan nama sebuah perusahaan sedikit menyita perhatian Yura ketika laki-laki itu membaca sebuah nama yang menjadi direktur utamanya. Puri Indraswari. Nama yang sepertinya sangat tidak asing di kepala Yura. “Maaf, Pak, sekarang sudah jam sembilan,” wajah Sinta menyembul  dari balik pintu, tentu setelah beberapa kali ketukannya terabaikan oleh boss-nya itu makanya dia nekat untuk memasuki ruangan dengan sekat kaca transparan itu. Yura menatap Sinta dan mengangguk mengerti. Kemudian laki-laki itu bangkit sambil meraih beberapa berkas kemudia memasukkan berkas-berkas itu ke dalam tas. Sinta hanya mengamatinya dan kemudian menerima tas tersebut yang kemudian diserahkan padanya. Yura berjalan gagah mendahului Sinta menuju ke lift khusus direktur dan beberapa manajer. Sementara Sinta berjalan bergegas mengikuti laki-laki yang sudah beberapa tahun ini menjadi boss-nya. Meski dalam beberapa hal Sinta sering geram dengan sikap dan sifat bossnya ini, tapi ini adalah pilihannya. Bagaimanapun, Yura adalah boss yang sangat royal dan memiliki etos kerja yang sangat bagus. Meski kadang kurang stabil, tapi Sinta memakluminya karena meski Yura sudah berusia matang tapi dia belum juga berkeluarga. Sejujurnya, Sinta sudah ditawari untuk menjadi asisten pribadi Rafael, suaminya sendiri. Tapi dia menolak karena berasumsi bahwa kariernya akan stuck di tempat jika dia bekerja pada perusahaan yang ditangani oleh Rafael. Awalnya Rafael mencak-mencak dengan penolakan Sinta. Tapi tentu saja senyuman Sinta membuat amarahnya menguap, dan berakhir dengan persetujuan atas pilihan Sinta untuk bekerja di perusahaan konstruksi yang dikelola oleh Yura, teman SMA Rafael yang juga saingannya dalam beberapa hal. * * *   Suasana lelang di gedung ini berjalan sangat kondusif karena semua berjalan sesuai protokol. Dan beberapa perusahaan yang melakukan penawaran lebih awal terpaksa harus mundur teratur ketika di akhir sesi, Yura mengajukan penawaran dengan cashback paling fantastis pada pihak yang bersangkutan. Tepuk tangan terdengar meriah ketika juru lelang mengumumkan harga lelang yang ditawarkan oleh PT VIRA ABADI, perusahaan yang ditangani oleh Yura. “Baiklah bapak dan ibu sekalian, saya memberi waktu sepuluh menit lagi untuk berunding, siapa tahu ada yang bisa memberikan harga lelang lebih mahal,” juru lelang memberi waktu pada seluruh undangan yang hadir. Tak ada reaksi karena semua tak ada yang berani memberi cashback lebih tinggi lagi dari yang ditawarkan oleh perusahaan PT VIRA ABADI. “Baiklah, Saudara sekalian. Jika tidak ada yang bisa menawar lelang dengan harga yang lebih efisien lagi, maka kita sepakati dan putuskan, bahwa lelang pembangunan Rumah Sakit Duta Husada ini akan jatuh pada perusahaan….” “Tunggu!” Suasana yang semula sedikit riuh oleh hasil lelang, kini mendadak hening karena ada sebuah interupsi dari sebuah suara yang berasal dari pintu masuk ruangan lelang. Semua mata tertuju pada sumber suara. Dan di sana, terlihat  seorang perempuan dengan penampilan yang sangat elegan dan berkelas memasuki ruangan lelang diikuti oleh seorang ajudan perempuan dan seorang laki-laki yang sepertinya adalah ajudan si wanita cantik. Rambutnya yang panjang bergelombang terlihat sempurna membingkai wajahnya yang cantik luar biasa, mencerminkan kecerdasan yang tak bisa disembunyikan. Perempuan tinggi langsing dengan kemeja soft pink, yang dipadu dengan blazer mini warna hitam, senada dengan rok manis yang melilit pinggangnya itu memasuki ruangan dengan langkah lebar dan penuh percaya diri. Sebuah kepercayaan diri yang sangat Yura kenal dengan baik, yang terbangun semenjak dulu, ketika mereka masih sama-sama remaja. Dan sebuah kursi yang memang disediakan atas nama perusahaannya yang dituju oleh si wanita cantik. “Saya berani memberi penawaran sepuluh persen lebih mahal dari yang ditawarkan oleh PT Vira Abadi!” si wanita dengan sangat percaya diri berkata lantang menghadap pada juru lelang, tanpa menghiraukan keberadaan Yura yang mukanya sudah merah padam menahan geram karena merasa dibantai secara terang-terangan oleh lawan lelangnya kali ini. Seketika tepuk tangan menggema memenuhi ruangan itu, disusul oleh gemuruh lirih kasak-kusuk peserta lelang. Lalu ucapan keputusan juru lelang itu tak lagi terdengar oleh Yura karena laki-laki itu sibuk meredam gejolak antara rasa marah dan rasa lain yang menggema di dadanya saat ini. Yura merasa sangat tersinggung dengan apa yang dilakukan oleh wanita cantik itu, yang seolah tak menghiraukan harga yang sudah ditawarkan sebelumnya. Tapi sejujurnya bukan hanya karena harga cashback yang lebih tinggi yang mampu diberikan oleh perusahaan perempuan cantik itu. Melainkan karena sosok yang bicara dengan suara lantang dan tegas itu sontak membuat Yura nyaris seperti tersengat arus listrik ribuan volt. Meski ribuan hari terlewati, nyatanya Yura tak bisa mengenyahkan sosok cantik itu dari kepalanya. Karena ada satu kisah pahit yang tak sengaja tercipta antara dirinya dan si cantik itu. Puri. Nama itu seperti sebuah momok yang menghantui kehidupan Yura bertahun-tahun ini. “Sinta, berkemaslah! Kita pulang sekarang!” Yura berkata dengan nada datar dan rendah,  namun terdengar jelas dan tandas di telinga Sinta. “Tapi, Pak? Acara belum selesai,” Sinta menjawab lirih dan tertahan sembari menatap Yura dengan pandangan bingung. Bagaimanapun, acara masih berlangsung dan sepertinya tidak etis kalau mereka meninggalkan ruangan hanya karena kalah lelang tender pembangunan rumah sakit itu. Bukankah menang dan kalah adalah hal biasa dalam sebuah permainan lelang? “Tidak ada yang akan kita dapatkan di sini, Sinta. Perempuan itu sudah membantai harga yang kita tawarkan,” Yura menyipitkan matanya ke arah si perempuan cantik yang masih dengan anggun mempresentasikan konsep keuangan yang ditawarkannya. “Bagaimana kalau mereka menganggap kita kurang sopan, Pak?” Sinta masih berusaha menahan keinginan Yura untuk segera hengkang dari gedung ini. “Sinta!?” Yura menggeram tanpa menatap ke arah Sinta. “Baik..baik, Pak,” Sinta segera mengemasi beberapa berkas dan segera menutup tanpa mematikan laptop yang dibawanya. Perempuan cantik ini tahu, kalau Yura sudah menggeram dengan mulut terkatup erat, itu tandanya dia sedang tak ingin dibantah. Setelah melihat Sinta usai berkemas, Yura kemudian berdiri dan berjalan meninggalkan kursinya, keluar dari ruangan ini. Sinta segera mengikuti langkah Yura setelah berpamitan dengan kikuk dengan tamu yang ada di kanan dan kiri bangkunya tadi. Sinta lantas berjalan dengan langkah tergesa karena ketinggalan langkah Yura yang panjang. Sampai di parkiran, Tono sudah menunggu. “Jalan, Pak!” Yura memberi perintah setelah Sinta duduk di sebelahnya dengan napas ngos-ngosan. Dan Yura tak peduli meski Sinta melotot kesal. “Baik, Pak.” Dalam beberapa menit, mobil yang mereka kendarai bergerak meninggalkan pelataran parkir. “Sudah selesai lelangnya, Pak?” Tono iseng bertanya ketika mereka tiba di jalanan yang masih tetap padat merayap. “Lelangnya belum selesai, Pak. Tapi Pak Yura sedang sakit perut, makanya beliau minta pulang lebih awal,” kali ini Sinta yang menjawab dengan nada ketus untuk menyindir Yura. Seperti sebelum-sebelumnya, Yura sama sekali tak terprovokasi sepedas apapun sindiran Sinta. Pak Tono mencoba melirik reaksi majikannya itu dari kaca spion, tapi yang ada Yura hanya diam, tak membalas sindiran yang dilakukan oleh Sinta. Yang ada di kepala Yura kali ini hanya rasa malu dan tersinggung atas sikap dan tindakan perempuan anggun dan cantik yang sepertinya akan memenangkan tender rumah sakit itu. Selama bertahun-tahun menangani berbagai proyek pembangunan gedung, baru kali ini Yura merasa dibantai hidup-hidup. Tentu saja dia akan melawan dengan menjatuhkan siapapun rivalnya dalam lelang, kalau saja Yura tidak mengenali perempuan anggun itu. Ya, hanya karena secara tiba-tiba Yura terhantam oleh pikirannya sendiri yang membuatnya tak melakukan perlawanan dengan membanting harga proyek. Cukup sudah kehadiran perempuan itu yang memporak-porandakan hati yang disusunnya selama beberapa tahun ini. Lalu kelebat bayangan Yura muda kembali berlalu-lalang di kepalanya, membuat serpihan kenangan-kenangan yang dulu hancur dan terhempas itu seolah nyata di depan matanya. Meski tak yakin, tapi Yura tahu, cepat atau lambat mereka akan bertemu kembali. Karena sejak saat itu, Yura tahu, dimana perempuan itu berkecimpung. Dan itu yang membuat Yura membangun usaha dari nol di bidang yang sama dengan yang digeluti oleh wanita itu. Meski untuk itu, dia harus kehilangan dua wanita paling berharga dalam hidupnya. Ah!!! Yura menggelengkan kepala tegas, mencoba mengenyahkan rasa pedih yang bercokol gagah di hatinya ketika nama dua wanita itu terlintas di kepalanya. Ibunya dan Vira. Dia kehilangan dua wanita itu dalam waktu yang hampir bersamaan, tepat ketika dia mulai tegak dalam mendirikan perusahaannya itu. “Sudah sampai, Pak,” Sinta masih saja ketus ketika memberitahu Yura ketika mereka tiba kembali di kantor. Yura mengangguk tanpa menjawab. Dia hanya membuka pintu mobil dan bergegas keluar, membiarkan Pak Tono dan Sinta membawa beberapa berkas yang ditinggalkan Yura. “Tuan kenapa, Mbak Sinta?” Sinta mengangkat bahunya, tak mengerti kenapa majikannya yang judes itu mendadak meninggalkan ruang lelang. “Lagi PMS kali, Pak,” Sinta menjawab asal. “PMS?” Pak Tono menatap Sinta penuh tanya. “Iya, Pak. PMS,” Sinta menegaskan lagi. Pak Tono mengerutkan keningnya, memikirkan apa maksud perkataan Sinta. Tapi sampai Sinta memasuki gedung dengan banyak beban kertas dan berkas, pak Tono belum juga menemukan jawaban PMS yang dimaksudkan oleh Sinta. “Istilah kok aneh-aneh,” pak Tono menggerutu.   * * *

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.6K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.8K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook