Udara sore terasa sejuk ketika angin berhembus membawa mendung kehitaman. Sepertinya akan turun hari hujan. Di kursinya, Sinta terlihat gelisah karena Yura belum juga keluar dari ruangannya. Padahal, tadi pagi dia sudah janji sama Rafael untuk membawa anak mereka makan malam bersama. Baiklah, Sinta memang sedikit jahat ketika nekat tetap bekerja meskipun ada Rafael yang dengan suka cita memenuhi apapun kebutuhan hidupnya dan anak mereka. Tapi Sinta sudah terbiasa dengan sebuah kemandirian sehingga dia akan limbung jika harus terus berada di rumah tanpa kegiatan sama sekali.
Berulang kali perempuan bertubuh kecil namun terlihat sintal itu melihat ke arah jam tangan yang bertengger manis di pergelangan tangannya. Tapi sepertinya tak ada tanda-tanda Yura akan keluar dari ruangannya. Padahal, jadwalnya Yura akan ke panti sore ini. Tapi nyatanya, laki-laki itu tak keluar dari ruangannya semenjak mereka kembali dari acara lelang tender yang tidak jadi mereka menangkan. Tak tahan dengan kegelisahannya, Sinta beranjak dari kursinya dan memberanikan diri mengetuk pintu ruangan Yura.
“Ya?” terdengar sahutan dari dalam.
Sinta membuka sedikit pintu dan melongok ke dalam, mencari tahu apa yang sebenarnya dilakukan oleh bossnya itu hingga jam segini dia tidak keluar juga dari ruangannya.
“Maaf, Pak. Bapak tidak lupa kan untuk berkunjung ke panti sore ini?” Sinta mencoba mengingatkan jadwal Yura sore ini.
Terlihat Yura tersenyum kecil, seolah tahu bahwa itu bukan tujuan utama asistennya itu nekat mengetuk pintu.
“Apakah kau ingin pulang lebih dulu?”
Sinta tersenyum malu ketika menyadari bahwa Yura mengetahui kegelisahannya. “Apakah Bapak keberatan?” tanya Sinta sopan, meski dia tahu usianya dan usia Yura tak berbeda jauh.
“Pulanglah,” Yura memerintah dengan nada datar.
“Bapak?”
“Aku akan ke panti,” jawab Yura sambil melihat jam mewah yang terpasang di pergelangan tangannya.
Sinta tersenyum cerah dan mengangguk dengan cepat. “Terima kasih, Pak.”
“Hm.”
Kemudian perempuan itu segera berlalu dengan cepat meninggalkan ruangan Yura. Yura tahu, ini sudah sore dan pastinya Sinta juga harus mengurus anak dan suaminya.
Senyum Yura tersungging ketika ingat bagaimana Rafael ―laki-laki tengil, yang sialnya adalah temannya, yang akhirnya memenangkan hati Sinta― mengumpat dirinya ketika tahu bahwa dialah boss Sinta.
“Dia istriku, Yura! Awas kalau kau macam-macam padanya!” ancam Rafael ketika mereka berada pada satu kesempatan yang sama.
Yura hanya tersenyum masam. Entahlah, patah hati dan menjadi seorang workholic sepertinya sudah membuat Yura kehilangan selera tertawanya.
“Raf, harus kau akui bahwa aku jauh lebih tampan darimu. Tentu bukan salahku kalau istri cantikmu itu lebih memilih bekerja padaku daripada menjadi asisten pribadimu,” Yura menjawab dengan kesombongan tingkat tinggi yang membuat Rafael geram.
“Tapi kau tahu, hanya aku yang akhirnya berhasil menikahinya,” balas Rafael tak kalah sombong.
“Kau menikahinya dengan cara licik,” Yura tersenyum mengejek.
Kemudian Rafael tergelak mengakui kebenaran ucapan Rafael. “Aku melakukan segala cara yang aku bisa karena aku sungguh-sungguh jatuh cinta padanya. Dan kurasa kau pun akan melakukan hal yang sama seperti apa yang kulakukan jika kau benar-benar bertemu dengan perempuan yang membuatmu tak bisa tidur sebelum menyentuhnya dan memastikan dia berada dalam pelukanmu saat kau akan tidur malam,” jawab Rafael kemudian dengan penjelasan panjang lebar yang sesungguhnya tak Yura butuhkan.
“Ya..ya..ya.. aku tahu bagaimana rasanya jatuh cinta. Sakitnya seperti apa juga aku bisa merasakannya. Tapi kupastikan, aku tak akan jatuh cinta jika harus merasakan luka yang sama. Tak akan. Apapun alasannya,” Yura seperti jera dengan kisah yang tak pernah terungkap itu.
Rafael tergelak. “Tentu kau bisa bilang seperti itu karena kau belum bertemu dengan perempuan sebagaimana aku bertemu dengan Sinta.”
“Apapun itu, aku tak akan jatuh cinta!” Yura menjawab tegas dan lugas, namun penuh nada kelukaan di dalamnya.
“Dan kau akan merelakan ketampananmu berlalu tanpa penerus?” tanya Rafael.
“Aku bisa membuahi perempuan tanpa harus mencintainya,” Yura menjawab skeptis. Laki-laki dengan potongan cepak dan selalu rai itu membenahi simpul dasinya yang tetiba gerah.
“Kita akan lihat nanti, Yura!” Rafael tersenyum penuh ironi dengan ketakutan Yura untuk jatuh cinta.
Yura kembali tersenyum kering ketika obrolan mereka sore itu kembali terbayang di kepalanya.
Ddrrrttt…ddrrrttt… ponsel Yura bergetar pertanda sebuah pesan sudah masuk. Laki-laki itu meraih ponselnya dan melihat pesan yang masuk di room chat.
“Jangan lupa segera ke panti, Pak.”
Yura tetap tanpa senyum hambar ketika membaca chat yang berasal dari Sinta ini. Yura hanya membalasnya dengan gambar emot sebagai ucapan terima kasih.
Angin di luar gedung PT VIRA ABADI kembali berhembus sedikit kencang. Sepertinya hujan akan segera turun. Bayangan-bayangan masa mudanya yang di dalamnya terdapat juga Puri dienyahkannya dengan paksa dari pikirannya.
Ini bukan saat yang tepat untuk menuruti emosi atas kekalahan lelangnya oleh perempuan yang diakuinya memang cerdas itu.
“Nanti, Puri. Kita akan mempunyai saat yang tepat untuk bertemu dan adu kebolehan. Aku atau kamu yang akan menang!” Yura bergumam lirih sambil meraih jas yang sedari tadi disampirnya di sandaran kursi kebanggaanya.
Langkahnya bergegas meninggalkan kantornya yang berdiri kokoh di tengah kota ini. Tujuannya jelas, panti. Sebuah kerinduan yang terlapisi dendam mengiring langkahnya menuju ke sana.
* * *
“Bagaimana kabar ibu, Sus?” Yura bertanya pada seorang suster yang sengaja dia pekerjakan hanya untuk merawat nyonya Mutia, ibu Yura yang sudah beberapa tahun ini menjadi penghuni panti ini.
“Maaf, Pak. Ibu masih seperti biasa. Pandangannya kosong. Tak pernah menjawab jika saya mengajaknya bicara. Meski kadang terlihat seperti hendak menangis,” Novia menjawab sambil mengiring langkah Yura menuju ke kamar rawat nyonya Mutia.
Yura tak menimpali atau bahkan mengajukan pertanyaan.
“Tapi ibu masih mau makan kan?” Yura terus saja melangkah menyusuri lorong panti yang selalu rapi dan bersih.
“Masih, Pak.”
Yura mengangguk.
Langkah mereka terhenti di sebuah kamar yang juga sengaja Yura pilih khusus untuk ibunya.
“Kembalilah, Sus. Saya ingin bicara empat mata dengan ibu.” Yura meminta Novia meninggalkan mereka.
Novia mengangguk kemudian meninggalkan Yura.
Sepeninggal Novia, Yura menatap pintu yang tertutup namun tak terkunci itu. Kamar ini berada di area tersendiri di bagian timur rumah sakit. Hanya ada beberapa kamar yang serupa dengan kamar nyonya Mutia itu. Dan semuanya sudah terisi pasien, termasuk Nyonya Mutia.
Dengan pelan, Yura memutar handle pintu kamar kemudian masuk dengan pelan. Ketika sampai di dalam, hati Yura sungguh terasa nyeri melihat pemandangan di depan matanya. Di sana, seperti biasa, nyonya Mutia akan betah duduk berjam-jam menatap ke luar, ke arah taman yang sengaja ditata rapi. Pandangan perempuan itu kosong, sementara di dadanya ada sesuatu yang dipeluknya dengan sangat erat.
Kalau saja pantas, Yura akan menangis, meraung sejadinya setiap kali dia mendapati ibunya seperti ini. Laki-laki itu melangkah pelan, mendekati perempuan yang duduk melamun itu.
Sesampainya di tempat itu, Yura jongkok dan menggenggam tangan ibunya, Menciumnya dengan takzim, tak peduli apakah ibunya tahu atau tidak dengan apa yang dilakukannya.
“Yura datang, Bu,” Yura berujar lirih sembari menatap wajah ibunya yang semakin menua. Rambut hitam legam bergelombang yang dulu menjadi mahkota kecantikan beliau, perlahan memudar oleh uban yang mulai tumbuh dan mewarnai kepala beliau.
Yura tak juga melepas genggaman tangannya pada tangan nyonya Mutia.
“Ibu baik-baik saja?” kembali Yura bertanya, meski dia tahu tak akan mendapat jawaban.
Lalu pandangan mata Yura tertuju pada benda yang didekap nyonya Mutia dengan erat itu. Tangan Yura terulur perlahan untuk meraih benda yang didekap erat oleh Mutia itu.
Hati Yura bagai teriris pisau belati yang tajam ketika melihat bahwa yang didekap oleh Mutia itu adalah potret seorang gadis manis dengan senyumnya yang sangat polos. Vira. Ya, itu foto Vira yang selalu Mutia dekap dalam tangis.
Tanpa terasa, mata Yura terasa mengabur oleh air mata yang mendadak merebak. Rasa bersalahnya semakin besar karena Yura merasa bahwa dialah penyebab kematian Vira yang tragis.
Ketika itu, Yura sedang sibuk-sibuknya dengan perusahaan property yang dibangunnya. Beberapa proyek pembangunan gedung satu demi satu dipercayakan oleh perusahaan padanya untuk di bangun.
Berawal dari sebuah proyek kecil-kecilan, Yura semakin mempunyai nama karena hasil pekerjaannya yang memuaskan. Kemudian beberapa relasi merekomendasikan perusahaannya untuk menangani proyek-proyek besar.
Ketika itu …
* * *