Ini sudah berlangsung bertahun-tahun yang lalu. Tapi siapa yang sanggup melupakannya? Tidak siapapun, tidak juga Yura. Masih terbayang jelas di kepalanya, ketika itu ...
Hari sudah sore ketika Mutia terlihat gelisah di rumahnya. Rumah yang dibelikan Yura ini sudah lebih dari cukup. Beberapa kali Mutia melongokkan kepalanya untuk melihat ke arah jalan dimana Vira biasa berjalan dari sekolahnya. Tapi ini sudah kali kelima Mutia mondar mandir melihat dan menunggu kedatangan Vira.
“Vira… kemana kamu, Nak?” Mutia bergumam dengan wajah cemas.
Ketika hari menjelang petang, yang dinanti-nanti oleh Mutia akhirnya muncul di pintu pagar. Maka dengan bergegas Mutia mendekati gadis Vira yang datang dengan tergesa-gesa pula.
“Dari mana kamu, Vira? Ini sudah terlalu senja untuk jam sekolah,” Mutia geregetan dengan keterlambatan Vira kali ini.
Vira gelagapan mencari jawaban.
“Tadi…tadi Vira mampir main dulu ke rumah teman, Bu. Vira ke kamar dulu ya?” Vira menjawab dengan agak bingung lalu berlari menuju ke kamar, meninggalkan Mutia yang terbengong dengan sikap aneh Vira sore ini.
Keanehan terus terjadi karena Vira yang periang itu tiba-tiba menjadi sangat pendiam dan tertutup sekarang. Jika Mutia mengajaknya bicara, Vira lebih sering mengelak dan bergegas ke kamar dengan alasan untuk belajar. Mutia hanya geleng kepala dengan tabiat Vira yang akhir-akhir ini berubah semakin aneh.
Tapi Mutia tidak mengatakan perubahan ini pada Yura karena tak ingin mengganggu pikiran anaknya itu dengan menambah lagi beban pikiran tentang Vira. Mutia tahu Yura sibuk dengan usaha yang dirintisnya. Semua Yura lakukan untuk mereka, untuk kehidupan mereka agar lebih baik.
Bahkan ketika Yura menanyakan perkembangan Vira, Mutia hanya mengatakan bahwa Vira baik-baik saja. Karena sebagian impian Vira nyaris terpenuhi.
Dulu, ketika Vira masih duduk di bangku sekolah dasar, ketika kehidupan mereka masih sangat susah, Vira selalu mengatakan bahwa dia ingin suatu saat melanjutkan sekolah di sekolah yang bagus dan bergengsi seperti sekolaha Yura. Hati Yura tersayat mendengar keinginan Vira kala itu. Karena Yura sadar, dia berada di sekolahan elite itu karena mendapatkan bea siswa.
Dan berpijak dari sini, Yura memiliki tekad dan keinginan yang kuat untuk mewujudkan keinginan Vira. Ketika usaha Yura mulai mapan, Vira memang berhasil masuk sekolah favorite sesuai keinginannya. Tapi kesibukan Yura membuatnya lengah menjaga gadis itu, hingga tanpa sepengetahuan Yura, Vira terseret arus pergaulan bebas.
Pulang sekolah lambat, bahkan Vira mulai mengenal minuman memabukkan sehingga dia kehilangan kesadarannya ketika suatu hari dia sedang merayakan pesta ulang tahun seoorang temannya. Dari sejak itu, seks bukan lagi hal baru buat gadis itu.
Prestasi sekolahnya perlahan anjlog. Dan sesuatu yang tak terduga dan kemudian terjadi adalah ketika Yura mendengar jeritan tangis ibunya malam itu.
Bergegas Yura berlari menuju ke sumber suara. Di sana, Yura mendapati ibunya yang menangisi sesosok tubuh yang tergeletak bersimbah darah. Dan yang membuat Yura lemas seketika adalah ketika menyadari bahwa itu adalah Vira.
“Apa yang terjadi, Bu?” tanya Yura panik.
Ibunya hanya menggeleng dengan tangis yang tak bisa terbendung lagi.
Tak sabar, Yura segera melarikan Vira pada klinik seorang dokter untuk memeriksa keadaan Vira. Menit-menit selanjutnya adalah waktu yang penuh siksaan karena menunggu hasil pemeriksaan Vira.
Lalu kecemasan mereka terjawab ketika dokter keluar dari ruangan IGD dengan wajah muram. Meski Yura nyaris tahu apa yang terjadi, tak urung dia bertanya.
“Bagaimana, Dok?” Yura tak bisa menyembunyikan kecemasan dari wajahnya. Sementara Mutia terus menangis di belakang Yura.Raut kecemasan tak tertutupi di wajah keduanya.
“Maaf, Pak. Kami sudah berusaha memberikan pertolongan pada adik Bapak. Tapi Tuhan berkehendak lain. Pendarahan yang dialami adik Bapak terlalu berat.”
Bumi yang dipijak Yura seperti amblas ketika mendengar apa yang dikatakan oleh dokter. Sementara di belakangnya, Mutia luruh kemudian pingsan demi mendengar kabar kepergian Vira.
… …
“Vira?” tiba-tiba terdengar suara Mutia, menatap Yura seolah bertanya dimana dan bagaimana Vira saat ini.
Yura terkejut dan mendongak, menatap Mutia yang masih saja dengan tatapan kosongnya.
“Vira? Ibu memanggil Vira?” Yura bertanya seolah tak percaya dengan pendengarannya. Tangannya segera menghapus cairan bening yang mengalir perlahan dari sudut mata Mutia.
Tapi perempuan setengah baya itu tak memberinya jawaban. Mutia hanya terdiam, tatapan matanya masih kosong.
“Ibu ingat dan merindukan Vira?” Yura kembali bertanya. Tapi keadaan tak juga berubah. Mutia masih tetap tenggelam dalam kekosongan pikirannya.
Entah sudah berapa lama Yura merindukan kehadiran ibunya. Dulu, perempuan ini tak pernah lelah mengingatkannya untuk tidak telat makan. Selalu mengingatkannya untuk jujur dan berhati-hati dalam menjalankan usaha yang dirintisnya. Dan perempuan ini pula yang selalu memberinya seulas senyum sejuk setiap kali Yura pulang kerja.
Tapi kini, semua itu tak lagi Yura rasakan.
“Yura pulang dulu, Ibu, Nanti Yura pasti akan datang kembali dan membawa Ibu pulang jika segala sesuatunya sudah memungkinkan,” Yura berkata lirih, meski dia tahu bahwa ibunya tak akan merespon kalimatnya.
Kemudian dengan berat hati, Yura mengambil potret yang sedari tadi didekap oleh Mutia dan menyimpannya di atas meja yang terdapat di sudut kamar ruangan itu.
“Yura pulang, Bu,” Yura meraih tangan Mutia, menyalaminya dengan sebuah ciuman takzim, kemudian meninggalkan ruangan itu, membiarkan Mutia kembali tenggelam dalam dunianya yang hening.
“Bapak sudah selesai?” Novia bertanya ketika melihat Yura.
Laki-laki itu mengangguk.
“Kirim tagihan ibu ke kantorku, Novia. Dan jangan lupa untuk tetap menjaga ibu,” Yura berpesan tegas.
“Baik, Pak.”
Dan Yura meninggalkan Novia menuju ke mobil yang dia parkir di halaman rumah sakit itu.
“Langsung pulang, Pak?” tanya Pak Tono yang sejak tadi menunggu di parkiran.
“Hm,” Yura menjawab singkat.
Tono tahu, jika majikannya ini menjawab singkat, itu artinya beliau sedang tak ingin mengobrol.
Senja semakin temaram ketika mobil yang dikendarai Yura membelah jalanan. Gerimis mulai turun, menguapkan bau anyir aspal sore ini.
* * *
“Bapak nggak makan malam?” Bu Siti, pembantu rumah Yura menyambut kedatangan Yura malam ini.
“Tidak, Bik. Saya barusan makan setelah dari panti,” Yura berbohong ketika mengatakan bahwa dia sudah makan.
“Bapak dari panti? Bagaimana keadaan ibu, Pak?” Bu Siti bertanya penuh rasa ingin tahu.
“Masih seperti biasa, Bik. Ibu tak bisa melupakan Vira. Dan ini membuatku semakin merasa bersalah,” Yura menjawab dengan raut wajah sendu.
Mendadak suasana hening, dan Bu Siti juga tak bisa menahan kesedihannya. Bagaimanapun, Bu Siti adalah tetangga Yura ketika dulu keluarga ini masih miskin. Bu Siti seorang janda tanpa anak yang ditinggal suaminya menikah lagi karena indikasi bahwa Bu Siti mengalami kemandulan. Beliau selalu baik dengan keluarga Mutia, meski mereka sama-sama hidup dalam keterbatasan materi.
Dan ketika kehidupan Yura berangsur membaik, Yura tak lupa bagaimana ketulusan Bu Siti. Maka tanpa berpikir panjang, Yura mengajak perempuan itu untuk tinggal bersamanya, dengan dalih menemani ibunya yang sering sendirian. Tentu saja Mutia langsung setuju dengan keinginan Yura kala itu. Mutia tahu, Yura laki-laki paling mengerti balas budi.
Bahkan, di awal-awal kepergian Vira, Bu Siti bersikukuh akan merawat Mutia di rumah. Tapi dengan alasan kesehatan dan tenaga medis yang wajib tersedia dua puluh empat jam, Yura membawa Mutia ke panti. Meski dengan iringan tangis Bu Siti.
“Saya turut bersedih, Pak,” bu Siti berucap lirih ketika melihat Yura larut dalam kesedihan panjangnya.
Yura menggeleng dengan senyum hambar.
“Saya ke kamar dulu, Bik.” Yura kemudian beranjak menuju ke kamarnya.
“Silahkan, Pak,” hanya itu yang bisa Bu Siti katakan. Dipandanginya punggung laki-laki jangkung itu dengan tatapan sendu. Masih sangat jelas terekam di benak Bu Siti bagaimana dulu Yura bekerja sambil sekolah hanya demi bisa menyelesaikan pendidikannya.
Banyak ejekan dan cibiran yang diterima Yura ketika itu. Dan sungguh, dia adalah pemuda dengan mental yang hebat luar biasa di mata bik Siti. Sekalipun Yura tak pernah tersinggung dengan cibiran tetangganya. Yura muda hanya menanggapinya dengan senyum kecil, tanpa jawaban sama sekali.
Malam semakin larut, tapi Yura tak bisa memejamkan matanya barang semenit pun. Kejadian hari ini benar-benar tak bisa Yura enyahkan begitu saja dari kepalanya. Acara lelang yang hampir saja dimenangkannya, juga kehadiran seorang perempuan cantik yang tak dia duga sama sekali.
Lalu perempuan cantik itu, yang karenanya Yura tak bisa lagi membuka hati untuk perempuan lain karena rasa sakit hati oleh penolakan yang pernah diterimanya dari perempuan cantik itu, membantai harga lelang yang dia tawarkan atas tender tersebut.
“Kamu menyatakan cinta sama aku? Ngaca dong!” Yura tak akan pernah lupa dengan kata-kata yang pernah didengarnya itu. Menggema, seolah kalimat itu baru didengarnya kemarin sore. Melemparkannya pada sebuah posisi terhina tanpa ampun yang menumbuhkan obsesi jahat untuk memiliki perempuan itu dengan cara apapun, kemudian menghempaskannya dalam rasa sakit seperti yang dulu pernah dia rasakan.
Bahkan malam ini, suara itu kembali bergema di lorong hatinya, menggaung memenuhi gendang telinganya. Hingga kemudian hatinya mendadak berubah muram ketika sebuah kata sarkasme menghajar gendang telinganya.
* * *