Hari sudah menunjukkan jam sembilan malam ketika sebuah mobil hitam memasuki sebuah rumah mewah di komplek perumahan elite itu. Seorang sopir yang terlihat muda dan gagah keluar dari mobil tersebut ketika sampai di teras depan rumah mewah itu. Dengan langkah tergesa, sopir segera membuka pintu samping untuk memudahkan seseorang yang duduk di jok tengah, keluar.
“Jangan lupa besok pagi kamu harus stand by lebih awal, Haikal. Aku ada pertemuan pagi di kantor walikota, jadi kuharap kamu tidak bangun terlambat,” seorang wanita yang keluar dari dalam mobil memberi peringatan.
“Baik, Bu,” si sopir yang dipanggil dengan sebutan Haikal itu mengangguk patuh, yang kemudian menutup kembali pintu mobil setelah si empunya melangkah anggun meninggalkan dirinya di teras.
Hari ini, Puri –perempuan anggun yang keluar dari mobil itu– terlihat penat. Jadwal hari ini demikian menguras tenaganya. Sesungguhnya dia sangat lelah.
Sampai di ruang tamu yang luas dan megah itu dia berhenti dan memandang ke atas. Menyapukan pandangan matanya mengelilingi seantero ruangan.
‘Kalau saja semua kemewahan ini bisa aku dapatkan dengan mudah tanpa harus bersusah payah bekerja, mungkin aku tak akan sepenat ini,’ Puri membathin.
Lalu sekelebat wajah lelahnya berganti dengan sebuah wajah sinis. Sorot mata cantiknya berubah menjadi tajam dan sedikit bengis. Kemudian seulas senyum terlihat di bibirnya yang seksi.
“Tidak akan lama. Semua ini akan menjadi milikku selamanya,” Puri bergumam kemudian melangkah anggun menuju ke kamarnya yang berada di belakang ruang tamu mewah itu.
Tapi di lorong depan kamarnya, Puri berpapasan dengan bu Tina, kepala asisten rumah tangga.
“Selamat malam, Non,” Bu Tina menyapa sopan.
Puri hanya mengangguk.
“Bagaimana Mayla hari ini, Bik? Apakah dia baik-baik saja?” Puri menanyakan kondisi adiknya itu sebagai rutinitas basa basi.
Bu Tina mengangguk. Hatinya berdesir pelan setiap kali mendengar pertanyaan yang sama dari mulut Puri. Bu Tina memang selalu mendengar Puri menanyakan keadaan Mayla, bahkan setiap hari. Tapi bu Tina tahu, Puri menanyakan keadaan adik tirinya itu bukan karena dia peduli, melainkan karena Puri merasa bahwa Mayla memang harus baik-baik saja, sampai nanti dia sudah cukup dewasa untuk menandatangani semuanya.
“Non Mayla baik-baik saja, Non,” bu Tina menjawab dengan menunduk, takut menatap Puri.
“Gurunya datang hari ini?”
“Datang, Non.”
Puri mengangguk kemudian tanpa senyum ramah meninggalkan bu Tina yang masih menunduk.
Perempuan lima puluh lima tahun itu kemudian baru bisa bernapas lega ketika terdengar suara pintu kamar Puri tertutup. Perempuan itu menatap daun pintu yang sudah tertutup dengan mengelus dadanya menahan kesabaran. Sungguh, kalau bukan demi Mayla, bu Tina pasti sudah angkat kaki dari rumah ini.
Tapi kebaikan budi ibu kandung Mayla-lah yang membuat bu Tina masih bersabar dan bertahan di rumah ini. Dengan langkah bergegas, perempuan setengah baya itu meninggalkan lorong ruangan itu menuju ke kamarnya.
Sementara di kamarnya, Puri menghempaskan tubuh indahnya di atas kasur berlapis sprei halus kualitas import itu. Matanya menerawang menatap langit-langit kamarnya. Ingatannya melayang pada peristiwa siang tadi.
Memang sudah menjadi obsesinya untuk memenangkan tender pembangunan gedung rumah sakit swasta itu. Sementara beberapa relasinya yang ikut dalam acara lelang tadi memberinya informasi terkait harga yang di tawarkan oleh CV Vira Abadi sangat menggoda. Maka dengan mengambil keputusan cepat, Puri segera membantai harga lelang yang ditawarkan oleh CV Vira Abadi.
Dan sebenarnya bukan lagi hal istimewa jika Puri memenangkan tender ini, karena di sepanjang kariernya meneruskan perusahaan ayahnya, Puri nyaris selalu jadi pemenang lelang.
Tapi hari ini ada yang istimewa. Puri yakin bahwa dia merasa puas hari ini karena berhasil menghitung angka kekalahan lawan proyeknya kali ini. Ya, permainan pembalasan sepertinya sudah dimulai, hari ini.
Karena di sana, di gedung tempat lelang berlangsung, tanpa sengaja Puri melihat sekelebat bayangan yang berhasil membesut hatinya untuk berdesir ngilu.
Bayangan itu…adalah bayangan sesosok laki-laki yang bahkan aroma tubuhnya yang ―harus Puri akui dengan serendahnya harga diri bahwa aroma laki-laki itu begitu― maskulin masih sangat Puri ingat. Bahkan dengus napasnya yang memburu penuh kenekatan waktu itu, masih terasa panas di kulit wajah Puri.
Puri membenci semua hal yang ada sangkut pautnya dengan laki-laki itu. Sungguh, Puri ingin melupakan peristiwa paling memalukan yang pernah dialaminya beberapa tahun lalu. Tapi dewi bathin yang menghuni lorong hatinya tak bisa berbohong, bahwa dia pernah terbawa suasana.
Ketika itu …
Sekolah mulai ramai pagi ini ketika dengan langkah tergesa, Yura mengejar pintu gerbang yang beberapa menit lagi akan ditutup oleh satpam. Karena jika terlambat, itu artinya Yura tak bisa mengikuti pelajaran sekolah untuk hari ini. Tapi jelas bukan pelajaran itu yang dikejar Yura, karena dia akan dengan mudah mengejar ketinggalan pelajaran. Tapi satu yang dia hindari adalah bertambahnya point kesalahan jika dia terlambat lagi hari ini. Karena itu artinya dia akan mendapat peringatan keras bahkan mungkin akan berpengaruh pada nilainya.
Tidak, Yura harus mempertahankan nilai-nilainya karena hanya nilai-nilai itu yang membuatnya bisa berada di sekolahan mewah dan penuh persaingan prestasi ini. Karena nilai-nilainya itulah Yura mendapatkan beasiswa penuh dari sekolah ini.
Sejujurnya, memang keberadaannya di sekolah ini memang atas kebaikan hati bapak kepala sekolahnya terdahulu yang merekomendasikan prestasinya ke sekolah bergengsi ini. Beberapa fasilitas beasiswa total diterima Yura. Selain bebas uang sekolah yang nominalnya membuat geleng kepala, Yura juga bebas biaya lain-lain yang biasanya dibebankan pada siswa reguler . Bahkan, uang saku juga selalu diterima Yura dari pihak yayasan, karena yayasan memiliki donatur tetap yang bersedia membiayai siswa yang benar-benar berprestasi dengan tingkat ekonomi di bawah standar.
Berada dalam kelas beberapa jam pelajaran, Yura merasa ingin buang air kecil. Maka dia segera pamit pada guru yang mengajar kelasnya pagi ini untuk ijin ke kamar kecil.
Toilet sekolah yang lumayan luas itu terlihat lengang karena memang jam pelajaran sedang berlangsung. Dan Yura segera melenggang ke sana untuk menyelesaikan urusan pribadinya itu.
Usai dengan urusan pribadinya, laki-laki itu keluar ketika dilihatnya kelebat siswi yang memasuki toilet perempuan yang letaknya memang bersebelahan dengan toilet laki-laki, dengan keluasan yang sama. Yura sangat hapal gesture siswi yang barusan melintas memasuki toilet. Jantung Yura berdegup kencang. Ya, jantung Yura memang selalu berdegup kencang setiap kali ia melihat sosok gadis itu.
Namanya Puri. Puri Indraswari. Perempuan yang sangat cantik ―setidaknya menurut Yura, karena Yura jelas kasmaran dengan Puri― dan tentu saja kaya raya. Karena konon, Puri adalah anak salah seorang donatur tetap yayasan yang mengelola sekolah ini. Berbadan tinggi semampai dengan kulit tubuh yang putih bening membuat Puri terlihat menonjol diantara teman yang lain. Rambutnya yang hitam legam sebahu itu semakin membuat keberadaan Puri sempurna di mata Yura.
Dan sumpah demi Neptunus, Yura sangat terobsesi dengan Puri. Terlepas dari dirinya yang siswa dengan prestasi cemerlang dan bahkan perilaku yang juga nyaris pendiam karena cenderung minder, Yura adalah laki-laki normal yang memiliki kebutuhan akan sebuah cinta. Dan siapapun pasti akan menilai bahwa Yura cukup tak tahu diri ketika hatinya mulai merasakan debaran tak wajar ketika dia melihat sosok Puri. Kesempurnaan fisik Puri membuat Yura tak bisa melihat perempuan lain.
Dan entah setan mana yang tiba-tiba datang dan membujuknya untuk nekat. Kali ini tanpa terencana, Yura menyelinap ke ruangan toilet wanita dimana ada Puri di sana. Seperti seorang pencuri, Yura mengendap dan mencari sumber suara dimana kira-kira Puri berada. Dan di kamar kecil paling ujung, yang tersekat oleh tembok setengah tinggi layaknya kubikel, disanalah Puri berada dengan urusannya.
Laki-laki itu melangkah tanpa menimbulkan suara agar tidak menimbulkan kecurigaan. Senandung kecil terdengar dari mulut Puri, dan itu sudah cukup membuat Yura demam.
“Astaga!!” Puri berseru dengan wajah penuh rasa terkejut ketika dia kelar dari kamar toilet dan mendapati Yura sudah berdiri di dekat pintu dengan bersedekap. Meski sejujurnya Yura kikuk, tapi dia tak bisa mundur.
Yura mencoba mengulas senyumnya, menyapa Puri dengan keramahan yang canggung.
“Apa yang kau lakukan di sini?” Puri bertanya galak. Nada suaranya jelas mengisyaratkan bahwa dia tak suka dengan apa yang dilakukan Yura.
“Maaf mengejutkanmu,” Yura menjawab datar, meski ada sedikit getaran dalam nada suaranya.
Puri mendengus, kesal. “Minggir! Kamu menghalangi langkahku!” Puri berkata dengan ketus, tanpa menatap ke wajah Yura sama sekali.
“Tunggu dulu!” sergah Yura cepat.
Puri mengerutkan keningnya, terpaksa menatap Yura karena heran, apa gerangan yang membuat laki-laki ini menghadang langkahnya.
“Apalagi?” Puri bertanya dengan mendongakkan dagunya yang runcing, menegaskan betapa dia tak suka.
Yura berdiri kikuk. Tapi demi tidak membuang kesempatan, Yura harus mengatakannya sekarang atau dia akan kehilangan kesempatan ini untuk selamanya.
“Aku suka sama kamu, aku cinta.” Yura mengutarakan isi hatinya dengan spontan.
Demi mendengar kalimat yang rasanya aneh itu, Puri terbengong. Bukan karena terpukau, tapi jelas Puri ingin tahu apakah dia tidak salah dengar.
“Bagaimana?” Yura bertanya.
“Apanya?” Puri balik bertanya.
“Perasaanku.”
Dan tanpa disangka, Puri malah tertawa terkikik.
“Kenapa tertawa?” Yura heran dengan reaksi tawa Puri. Tapi gadis cantik itu semakin terpingkal-pingkal.
“Jadi menurutmu aku harus bagaimana? Apa aku harus menangis terharu? Apa aku harus takjub dengan kata-kata cintamu yang menggelikan itu? Dengar ya, Tuan Yura. Bukan sekali ini saja aku mendengar ungkapan cinta dari laki-laki. Mungkin kamu laki-laki ke seribu yang sudah mengatakan cinta padaku. Tapi selamat, kamu satu-satunya laki-laki yang mengatakan cinta padaku di tempat yang sangat tidak pantas. Dan malangnya...aku sangat tak ingin menerima cintamu yang tak tahu diri itu!” Puri mengatakan isi hatinya dengan tandas, membuat Yura terlempar dan terhina.Meski sejujurnya Yura menyadari bahwa apapun yang dikatakan Puri adalah sebuah kebenaran.
Laki-laki itu merasakan mukanya panas menahan malu atas penolakan yang dilakukan Puri kali ini.
“Aku peringatkan sekali lagi ya, Tuan Yura yang terhormat. Sebaiknya mulai hari ini kamu belajar untuk tahu diri dengan siapa diri kamu! Kamu harusnya ingat, bahwa kamu berada di sekolah ini dengan beasiswa penuh, itu hanya karena kemurahan hati ayahku! Jadi sebaiknya kamu tidak lupa akan hal itu!”