5 : CIUMAN AMARAH

1904 Words
Yura merasa ditampar oleh tangan tak kasat mata karena ucapan Puri yang membuatnya terhempas oleh kekuatan luar biasa yang membuatnya malu tak terkira.. Yura tak bisa berpikir jernih, yang tiba-tiba memenuhi kepalanya adalah bagaimana memberi pelajaran pada mulut pedas perempuan ini. Maka dengan nekat tanpa memikirkan akibat apapun, laki-laki itu mendekati Puri dan tanpa terduga segera meraih pinggang gadis itu dan mendorongnya pada dinding setengah tinggi yang membatasi ruangan toilet itu. Dan serta merta, bibirnya menyambar bibir Puri membuat gadis itu terperangah dengan tindakan Yura yang begitu tiba-tiba dan hanya dalam hitungan detik Yura sudah mendominasi bibirnya.. Puri terdiam beberapa saat, antara terkejut dan takjub yang datang tiba-tiba hingga membuat otaknya mendadak tak berfungsi normal. Hal ini jelas membuat Yura makin leluasa mengekploitasi bibirnya dengan ciuman yang panas dan penuh amarah. Tapi di menit berikutnya, Puri segera menyadari kesalahan yang kini menimpa dirinya. Dengan sekuat tenaga, dia berusaha mendorong tubuh Yura dengan penuh amarah. Tapi Yura yang sudah gelap mata itu tak menghiraukan apapun tindakan yang dilakukan Puri. Laki-laki itu masih saja mencoba meraup kenikmatan dari indahnya bibir Puri yang lembut dan manis, meski getaran amarah jelas terasa oleh Yura. Lalu dari arah pintu masuk ruangan toilet itu terdengar tepuk tangan, yang membuat Puri refleks mendorong tubuh Yura yang sejak beberapa saat lalu mengurung dirinya dengan ciuman rakusnya, yang entah mengapa kemudian melembut hingga membuat Puri terbawa arus. Puri merasakan mukanya panas menahan malu ketika di sana, di dekat pintu terdapat Ilham, cowok yang juga sedang melakukan pendekatan pada Puri, namun Puri jinak-jinak merpati. “Fantastis. Sangat fantastis ketika ternyata ada adegan tujuh belas tahuan ke atas di toilet ini. Hei, Bung, apa tak ada tempat yang lebih rendah dari ini? Tapi aku maklum, karena aku tahu bahwa kau tak akan punya cukup uang untuk membayar sebuah hotel yang sedikit berkelas untuk mengajak Nona Puri yang jelita ini kencan. Bukan begitu Puri?” Ilham mengejek Puri dan Yura dengan senyum sinis karena merasa kalah oleh Yura. “Apapun yang kami lakukan bukan urusanmu, Ilham,” Yura menjawab tenang, membuat Puri geram. Maka dengan spontan Puri melayangkan tamparannya ke pipi Yura. Plakk!!! Yura merasakan pipinya panas. Dan sejujurnya Yura malu mendapat tamparan itu. “Kamu b******k, Yura! Kamu akan membayar semua ini!” Yura mengumpatnya kasar penuh amarah kemudian berlari meninggalkan toilet wanita. Meninggalkan Yura yang masih terpaku dengan tindakan brutalnya. Tiba di dekat Ilham, Puri menatap galak pada pada laki-laki itu yang masih saja tertawa sinis itu, tanpa mengucapkan apapun karena Puri sudah kehilangan kata-kata. Tapi Ilham tahu, Puri sebenarnya malu kepergok dirinya sedang berasyik masyuk dengan laki-laki yang sangat tidak elegan di mata siswa siswi sekolahan ini. Dengan langkah kasar, Puri berlalu dari sisi Ilham. Sepeninggal Puri, pelan, Yura mengusap bibirnya. Ada sebuah aroma mint yang manis yang tertinggal di bibirnya. “Sepertinya kamu beruntung bisa mendapatkan kembang sekolah ini, Yura? Ya, meski aku tak habis pikir, bagaimana mungkin Puri yang elegan mau-maunya kencan murahan di toilet ini.” Yura tersenyum, masam, kemudian meninggalkan toilet wanita untuk kembali ke kelasnya, tanpa membalas apapun yang dikatakan Ilham, membuat Ilham geram, sendirian. ….. Malam terlalu hening, hingga Puri mampu mendengar desahan lirih yang tanpa sengaja lolos dari bibirnya ketika ingatan itu berkelebat kembali di kepalanya. Tanpa disadarinya, dia meraba bibir dan terkejut ketika mendapati bibirnya berkedut lembut seolah usai bersilat bibir. Entahlah, meski dia mati-matian membenci peristiwa di ruang toilet itu ―yang bahkan sudah bertahun-tahun berlalu― tapi seringkali pula Puri merasakan bibirnya berkedut panas, seolah ciuman itu baru saja terjadi kemarin. Bahkan aroma maskulin Yura ―yang sempat membuat dia hanyut selama beberapa jenak― waktu itu, masih sangat terekam jelas di otak Puri. Dan yang lebih menyebalkan adalah ketika dia menyadari bahwa dia tak bisa melupakan Yura dan ciuman panasnya. Sekeras apapun dia menimbun kenangan itu dengan kencan-kencannya bersama sesama pengusaha muda yang bergerak di bidang yang sama dengannya. Dan Puri berjanji dalam hati, Yura akan membayar semua kelakuan kurang ajarnya ketika itu. * * * Jam delapan pagi Yura sudah tiba di kantornya. Tapi dia kesal ketika mendapati bahwa kursi sekretarisnya kosong. Sinta yang biasanya sudah duduk manis di sana, pagi ini tak kelihatan batang hidungnya. “Kemana Sinta pagi ini, Andi? Biasanya dia sudah ada sebelum saya datang?” Yura yang tak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya akhirnya bertanya pada OB yang kebetulan sedang mengantar secangkir kopi pekat ke meja Yura. “Kurang tahu, Pak,” Andi menjawab singkat kemudian segera undur diri. Yura tak menimpali kalimat Andi. Laki-laki itu hanya melepas jas abu-abu pekat yang dipakainya sejak dari rumah, kemudian menyampirkannya di sandaran kursi. Tangan kanannya kemudian mengambil telepon genggam yang dia kantongi. Ragu, Yura menimang teleponnya sebelum akhirnya memutuskan untuk menghubungi Sinta. Tiga nada tunggu yang dia dengar tak ada tanda-tanda dijawab, akhirnya Yura mencoba menghubungi nomor Rafael, suami Sinta yang juga temannya. “Halo, Yura? Apakah kau ingin menanyakan mengapa Sinta belum tiba di kantormu pagi ini?” suara dengan nada mengejek terdengar dari seberang, bahkan sebelum Yura membuka mulut untuk bertanya. “Yaaa…setidaknya aku tahu kemana pekerjaku, karena aku tak mau membayar pegawai yang suka mangkir,” Yura menjawab tak kalah sadis, membuat Rafael menggeram kesal karena istri tercintanya disebut sebagai pegawai. “Dia sekretaris, Yura! Bukan pegawai!” Rafael tak bisa menyembunyikan kegeramannya. “Apapun yang kau sandangkan untuk istrimu itu, yang pasti dia adalah pegawai yang kubayar karena dia bekerja di kantorku,” Yura menjawab dengan nada tenang, membuat kegeraman Rafael melonjak pada level yang lebih tinggi. “Sial!” Rafael menggerutu. “Kalau kamu masih punya anggapan bahwa Sinta adalah pegawai biasa, maka kupastikan bahwa mulai hari ini dia tak akan bekerja di kantormu yang sangat tidak bergengsi itu!” lanjut Rafael membuat Yura tersenyum sinis, dengan sedikit menahan geli, karena berhasil memancing kemarahan Rafael. “Aku tak butuh ancamanmu, Raf! Aku hanya ingin tahu kemana Sinta, mengapa jam segini belum masuk kerja!” akhirnya Yura bertanya. “Ahai, rupanya seorang Yura yang maha angkuh butuh seorang pegawai?” nada cibiran tak bisa lagi Rafael sembunyikan. Kini gantian Yura yang terlihat kesal dengan ejekan Rafael. “Pagi ini sepertinya ada undangan, Raf. Dan aku lupa waktu dan tempatnya.” “Sinta pasti datang sebentar lagi. Tadi mobilnya mogok, maka kami berangkat bareng, jadi bersabarlah,” jawab Rafael di seberang telepon. “Baiklah,” jawab Yura yang lantas menutup sambungan telepon tanpa basa basi, membuat Rafael mengumpat kesal di ujung telepon. * * * “Sial! Dasar laki-laki tak punya hati!” Rafael mengumpat kasar, membuat Sinta yang sejak tadi duduk diam di sebelahnya menoleh dengan dahi mengkerut. “Hari masih pagi, Pak Rafael. Jadi sebaiknya anda menyimpan emosi,” kata Sinta lembut namun penuh sindiran. “Sayang, boss sialanmu itu menutup teleponnya tanpa basa basi. Dan itu sangat tidak sopan kau tahu?” Rafael kembali mengomel dengan mimik muka yang malah membuat Sinta tertawa. “Dan kau lebih memilih dia sebagai bossmu daripada suamimu yang tampan menawan ini?” Raf semakin kesal dengan suara tawa Sinta. Entahlah, jatuh cinta sampai setengah mati telah berhasil membuat Rafael menjadi laki-laki yang konyol dan menggelikan. Dia selalu hilang jati diri jika sudah menyangkut Sinta. “Rafael, itu sudah sifat pak Yura. Harusnya kamu lebih tahu dia dong, karena dia teman kawakan kamu?” Sinta masih tertawa ketika menjawab kalimat Rafael. “Karena itulah aku masih berharap bahwa kamu akan menyodorkan surat pengunduran dirimu pada boss sialanmu itu, dan aku akan dengan senang hati menerimamu menjadi sekretaris pribadiku, Sayang,” Rafael terus merayu agar Sinta keluar dari kantor Yura. “Ingat dengan kesepakatan kita, Pak Rafael?” Sinta mengingatkan dengan senyumnya yang selalu membuat Rafael luluh. “Tapi, Sayang …” Sinta menggeleng dan Rafael selalu tak bisa menang melawan keteguhan Sinta. Bagaimanapun, Rafael sudah sangat bersyukur dan berterima kasih karena akhirnya Sinta bersedia menjadi istrinya, meskipun dengan jalan sedikit memaksa. Ya, kisah mereka yang penuh air mata membuat Rafael mau tak mau mengalah pada Sinta. Semua ini dia lakukan untuk menebus segala rasa bersalahnya yang telah membuat hidup perempuan itu terlunta dan terhina selama bertahun-tahun hanya karena mempertahankan rahasia identitas bayi yang ada dalam kandungannya. Bayi yang benihnya ditabur Rafael dengan penuh nafsu dan paksaan (Silakan berkunjung ke lapak ASMARA SUNGSANG untuk mengikuti kisah mereka) Dan Rafael tahu, Sinta rela melakukan dan menjalani semuanya itu hanya untuk menjaga nama baiknya, menjaga keutuhan keluarga besarnya agar tidak berlumur aib. “Sinta?” Rafael menegur lirih Sinta yang melamun, membuat Sinta terkejut dan menatap Rafael penuh tanya. “Kau melamun hingga tak menyadari bahwa ini sudah sampai di kantor bossmu yang bujang lapuk sok kecakepan itu.” Sinta menatap keluar dan menyadari bahwa Rafael benar, kini mereka telah tiba di depan kantor CV VIRA ABADI. “Aku tidak melamun,” jawab Sinta sembari berkemas hendak keluar dari mobil. Rafael menarik lengan Sinta dan menahan perempuan itu agar tidak keluar dari mobilnya. “Raf?” Rafael kikuk menatap Sinta. Meski perempuan itu sudah menjadi istrinya, namun kedewasaan Sinta kadang membuat Rafael kembali merasakan bahwa Sinta adalah tantenya, bukan istrinya. “Maaf jika kamu merasa tak nyaman dengan kalimatku tadi. Aku tak bermaksud memaksamu keluar dari kantor bujang lapuk sialan itu. Tapi aku melakukannya karena aku ingin kamu selalu ada di dekatku. Aku khawatir laki-laki sialan itu akan mendekatimu, akan merayumu, hingga akhirnya akan membuatmu meninggalkanku, akan…” “Sssttt…,” Sinta meletakkan jari telunjuknya pada bibir Rafael, membuat laki-laki itu kembali leleh dan menghentikan kalimatnya. “Kalau aku mau, aku bisa saja meninggalkanmu dulu, ketika kamu memberikan benihmu di rahimku. Tapi aku tidak melakukannya. Kau tahu mengapa?” tanya Sinta lirih. Rafael menggeleng. “Karena aku yakin, suatu hari kamu akan menjadi laki-laki yang baik dan pantas dipertahankan. Apakah kamu masih meragukanku? Setampan apapun Pak Yura, sekaya apapun Pak Yura, percayalah, dia bukan laki-laki impianku.” Rafael merasa sangat lega mendengar kalimat Sinta. “Apakah itu artinya aku laki-laki impianmu?” Sinta tak menjawab dan hanya tersenyum ketika jemari Rafael meraih jemarinya dan tetap menempatkannya di bibir. Bahkan dengan konyol, Rafael mencium jari-jari tangan Sinta yang lembut dan wangi dengan kecupan-kecupan penuh pemujaan. Hanya hal kecil memang, tapi ini sudah membuat Sinta tersentuh dengan ketulusan hati Rafael dalam mencintainya. Ya, laki-laki arogan dan egois itu selalu memiliki cara untuk membuat Sinta jatuh cinta berulang kali, bahkan setiap hari. “Mungkin kamu bukan laki-laki terbaik di dunia, Raf. Tapi tahukah kamu, bahwa hanya kamu yang telah berhasil membuatku tak bisa memandang laki-laki lain.” Rafael kembali melambung dengan kalimat Sinta, perempuan cantik yang berhasil dinikahinya, meski dengan cara yang menyusahkan. “Aku mencintaimu, Sinta,” kata Rafael lirih, namun Sinta tahu bahwa itu jujur. Sinta tersenyum dan mengusap pipi Rafael lembut. Dan seketika Sinta menyadari, bahwa kini dia juga mencintai Rafael, sebesar cinta laki-laki itu padanya. “Aku tak perlu mengatakan bagaimana perasaanku padamu, tapi aku yakin bahwa kau tahu apa yang kurasakan.” Rafael kembali tersenyum dan meraih tengkuk Sinta kemudian mendaratkan sebuah kecupan lembut dan lama di dahi Sinta. “Pergilah. Aku tak ingin boss jelekmu itu kelabakan karena tidak tahu jadwal meeting hari ini,” kata Rafael kemudian membiarkan Sinta keluar dari mobilnya. Tentu setelah dia memaksakan ciuman yang dalam tanpa peduli bahwa kelakuan mereka bisa saja terlihat oleh pengendara mobil yang lain. “Tak perlu menjemputku. Aku akan meminta tolong pada pak Tono untuk mengantarku pulang,” ucap Sinta sebelum menutup pintu mobil. Rafael mengangguk kemudian meraih tisu yang ada di dasboard mobilnya untuk menghapus bekas lipstik Sinta yang tertinggal di sekitar bibirnya. * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD