7 : NILAI TUKAR SEIMBANG

1433 Words
Selama beberapa hari, Yura menghabiskan banyak waktunya untuk mencari tahu lebih banyak tentang Puri. Mulai dari berbagai berita, web, bahkan sampai akun media sosial perempuan itu tak luput dari buruannya. Tentu saja diantara perasaan terhinanya, Yura tetap harus mengakui bahwa perempuan itu nyaris sempurna. Sebagai seorang wanita muda, dia memang tangguh untuk menjadi seorang pebisnis. Bahkan, Puri adalah satu dari beberapa gelintir eksekutif muda dengan jenis kelamin perempuan. Dia demikian tangguh dan kokoh bertarung dalam dunia usaha sebagai pemegang perusahaan property, tanpa ada sedikitpun rasa gentar menghadapi beberapa rival perusahaan yang digawangi oleh laki-laki. Tak heran sebenarnya, karena Puri terlahir dan besar dalam lingkungan keluarga pengusaha yang handal. Pun bisa saja itu diwarisi dari darah orang tuanya. Itu yang Yura tahu selama ini. “Mar, apakah kau tahu siapa perempuan muda yang kemarin dibawa oleh Bu Puri?” Yura menghubungi Umar —rekan kerja di bidang penyediaan bahan baku bangunan proyek yang biasa dikerjakan Yura— melalui hubungan telepon. Terdengar tawa Umar di seberang. “Kenapa, Yura? Apakah orientasi seksualmu sudah mulai normal, sehingga tertarik dengan perempuan?” nada mengejek tak bisa Umar sembunyikan, mengingat selama ini Yura tak pernah terlihat menjalin hubungan dengan perempuan manapun. Bahkan Umar seringkali mengejek Yura bahwa laki-laki itu memikili orientasi seksual yang menyimpang. “Sial!” Yura mengumpat kesal yang hanya disambut oleh gelak tawa Umar di seberang. “Aku serius, Umar. Dan aku jelas normal di sisi seksual, jadi kalau kamu masih  meragukanya mungkin kamu boleh memberikan sekretarismu yang cantik itu dan aku akan membuatnya mengemis padaku untuk kembali bergelung di ranjang bersamaku,” lanjut Yura dengan ejekan tak kalah telak, membuat Umar menggerutu dengan u*****n kasar. Masalahnya tentu saja jelas karena Yura tahu ada skandal antara Umar dan sekretarisnya. “Sial! Jangan sekali-sekali melirik sekretarisku, karena dia property pribadiku!” terdengar ancaman dan u*****n balik di seberang, membuat Yura tersenyum kecil. “Bagaimana? Apakah kamu bisa memberiku sedikit informasi?” Yura melanjutkan pertanyaannya yang belum mendapatkan jawaban. “Setahuku, Puri memang memiliki adik perempuan. Tapi bagaimana kehidupannya, aku tidak begitu paham. Puri tidak terlalu mengobral mengenai kehidupan pribadinya. Ngomong-ngomong apa yang membuatmu menanyakan perihal perempuan?” “Tidak ada, hanya sekedar ingin tahu saja,” jawab Yura ringan. Toh dia tentu saja tak akan mengatakan bahwa dia memiliki banyak rencana yang ―oke, mungkin sedikit jahat― berhubungan dengan Puri, atas kelancangannya menyabet tender proyek pembangunan rumah sakit tempo hari, juga masa lalu pahit mereka. “Oke, terima kasih atas informasinya, Mar,” lanjut Yura sebelum kemudian menutup sambungan telepon. Yura kemudian menyandarkan bahunya pada sandaran kursi kerjanya. Jarinya mengusap dagunya, tanda bahwa dia sedang berpikir keras. Buntu. Sejenak Yura merasakan pikirannya buntu. Memutuskan untuk ke coffee shop Yura berharap akan membuat pikirannya sedikit cerah. Setidaknya kenangan tentang Puri akan teralihkan sejenak. “Bapak mau keluar?” Sinta menodong Yura dengan pertanyaan ketika laki-laki itu melewati meja Sinta yang berada tepat di depan ruangan kerja Yura. Laki-laki itu mengangguk. “Apakah ada agenda penting untuk hari ini?” tanya Yura berhenti sejenak sembari menggulung lengan kemeja yang dikenakannya sampai ke siku. “Sepertinya tidak. Hanya saja sore nanti lepas tengah hari ada kunjungan dari sebuah sekolah menengah untuk mengajukan ijin magang.” “Aku hanya akan minum kopi, Sinta, dan kupastikan akan segera kembali. Atau kau bisa menghubungiku kalau aku belum tiba ketika pihak sekolah datang.” Yura berlalu tanpa ekspresi. Ketika Yura hilang di balik tikungan lorong ruangan kantor itu, Sinta mengepalkan tangannya geram. Sungguh, sepertinya dia harus mempersiapkan surat pengunduran diri sesuai keinginan Rafael. Bekerja lama-lama dengan boss kaku seperti itu hanya akan meningkatkan tensi darahnya sepuluh kali lebih cepat. “Mengapa kau kelihatan geram, Sayang?” tanya seseorang yang ada di layar teleponnya. Rupanya sejak tadi Sinta sedang melakukan video call dengan Rafael, laki-laki m***m yang anehnya berhasil membuat Sinta jatuh cinta tak peduli usia mereka yang bahkan lebih tua dirinya dari pada Rafael. “Sepertinya aku harus ikut dengan saranmu, Raf,” jawab Sinta murung. “What?” Rafael terbelalak di ujung sambungan. “Bukan berarti aku akan masuk ke perusahaan kamu, ya? Aku akan memilih jadi ibu rumah tangga biasa.” “Yeeaaayyy…!!!” Rafael mengacungkan kedua tangannya ke atas, tanda bahwa dia menyukai keputusan Sinta. “Apakah itu artinya kita akan menambah anak untuk meramaikan rumah kita?” Sinta akhirnya mengakhiri sambungan video call-nya tanpa menunggu persetujuan Rafael. Dia tahu, jika pembicaraan itu mereka lanjutkan tentu tidak akan sehat untuk kesehatan mental mereka. Diakui atau tidak, sekecil apapun hal yang akan dilakukan Rafael, yang berhubungan dengan hubungan fisik mereka, selalu membuat Sinta menggelenyar. Sinta tak tahu kapan penyakit m***m itu menular padanya, yang pasti kini mereka kompak dalam urusan ranjang. Sementara di ujung sambungan, Rafael mengumpat gemas dengan kelakuan Sinta. Tapi dalam hati dia tertawa karena berhasil menggiring Sinta pada titik dimana perempuan itu akhirnya bersedia mengundurkan diri dari kantor Yura —sialan itu— sesuai keinginannya, dimana dia sukses membuat Sinta sangat sensitive hanya dengan sebuah sentuhan kecil saja. Dan Rafael berjanji, malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk keduanya.   * * *   Meski jam kerja, tapi coffee shop ini terlihat ramai tenang. Yura yang sudah menjadi langganan tetap caffee shop itu mengambil kursi di meja sudut dekat dengan jendela lebar yang menghadap ke jalan. Coffe shop yang dominan dengan nuansa warna coklat kayu itu memang elegan meskipun sederhana. Dan yang pasti, Yura nyaman menikmati secangkir kopi di sini.  Seorang pelayan datang menanyakan pesanan. “Memesan apa, Pak?” “Kopi seperti biasa,” jawab Yura sambil membuka telepon pintarnya untuk kembali browsing tentang Puri. Dan Yura kemudian mendesah kesal ketika menyadari mengapa tangan dan pikirannya tak bisa beranjak dari segala hal yang berhubungan dengan Puri. Tidak hanya kecantikan Puri, dan ciumannya waktu itu, tapi juga tentang cara tidak etis yang dilakukannya ketika menyabet proyek yang nyaris dimenangkannya tempo hari. Beberapa akun yang dimiliki Puri terus dibuka oleh Yura. Dan sialnya, akun-akun itu seolah sudah tak aktif semenjak setahun terakhir. Sudah barang tentu Yura tak mendapati wajah gadis belia itu ada bersama Puri, karena bisa saja dia adalah orang lain dan bukan siapa-siapa Puri. ‘Tapi kalau bukan siapa-siapa, mengapa Puri membawa gadis itu bergegas meninggalkan ruangan pertemuan siang itu? Bukankah itu mencurigakan Atau barangkali benar bahwa gadis muda itu adalah adik Puri? Kalau memang adiknya, kenapa hubungan keduanyansepertinya tidak baik?’ Yura mengolah kembali pikirannya, karena mendadak ide-ide yang tempo hari cemerlang di kepalanya kini menjadi padam. ‘Beni. Sepertinya aku memerlukan jasa Beni dalam hal ini,’ Yura membathin kemudian mencoba menghubungi Beni, namun hanya ada panggilan tunggu. Yura kemudian memutuskan untuk menghubungi Beni nanti. Dddrrttt…dddrrrttt…. beberapa saat kemudian telepon pintar yang dipegang Yura bergetar tanda panggilan masuk, bersamaan dengan datangnya seorang pelayan kafe yang mengantar pesanan kopinya. Harumnya kopi yang menghampiri penciuman Yura membuatnya sejenak lupa bahwa ada panggilan masuk ke teleponnya. Tapi rupanya Yura tak bisa mengabaikan panggilan yang tak berhenti itu. “Halo, Ben?” Yura menyapa karena sudah tahu bahwa itu adalah Beni. Beni adalah salah satu anggota rekan bisnisnya yang menghandle berbagai kesukaran yang kadang dihadapi oleh pengusaha. Laki-laki dengan wajah bercambang lebat menjadi salah satu bodyguard andalan rekan kerjanya. “Selamat siang, Boss? Tadi telepon saya, Boss?” terdengar suara Beni di seberang. “Ya. Tapi kamu sibuk,” jawab Yura sambil menyeruput kopi yang masih mengepul panas, menguarkan aroma khasnya yang membangkitkan semangat. Beni tertawa di seberang. “Maklum, Boss, beginilah nasib pekerja. Apakah ada sesuatu, Boss?” “Aku ada sedikit masalah yang membutuhkan dirimu, Ben. Apa kamu bisa ke sini sekarang?” “Boss ada di mana posisi?” “Aku ada di kafe depan kantorku,” jawab Yura ringan. “Baik, Boss. Aku akan datang dalam sepuluh menit.” “Aku tunggu, Ben.” Kemudian Yura kembali menyeruput kopinya. Aromanya yang khas sedikit memberi Yura ketenangan. Setidaknya dia akan menggali gagasan yang mungkin bisa dilaksanakannya untuk membalas kekurangajaran Puri padanya. Ya, Yura memutuskan bahwa Puri harus membayar sakit hati yang terlanjur menggores di dadanya akibat perempuan cantik itu. “Apa yang bisa saya bantu, Boss?” tanya Beni begitu dia sampai di kafe dan mendatangi Yura yang masih duduk dengan gadget di tangannya. “Aku ada sedikit pekerjaan untukmu, Beni. Aku ingin kamu mengambil seorang gadis.” Beni terkesiap. “Mengambil? Maksudnya menculik?” “Kurang lebih seperti itu.” “Tunggu, Boss. Menculik perempuan?” Beni bertanya penuh kecurigaan dan ketidakpercayaan karena selama ini Yura tak pernah memberinya pekerjaan menyangkut perempuan. Apalagi ini sebuah penculikan. “Buang pikiran kotormu itu! Aku hanya akan menjadikannya sandera dengan nilai tukar yang seimbang dengan seseorang.”   * * *  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD