8 : SANDERA

1531 Words
Rapat dengan beberapa kolega kali ini berjalan dengan sangat alot dan menguras pikiran, membuat Yura sangat jenuh dengan suasana rapat. Banyak hal-hal di luar agenda yang akhirnya dibahas sehingga rapat tidak berjalan dengan efektif sebagaimana seharusnya. Yura merasa waktunya terbuang sia-sia kali ini. Tapi telepon dari Beni membuat Yura sedikit bersemangat untuk segera mengakhiri rapat. Laki-laki yang diberinya perintah untuk mengerjakan sesuatu itu kini memberinya kabar melalui room chat. “Bisa telepon saya sekarang, Boss?” Beni bertanya melalui room chat. Lalu tanpa menunggu lama, Yura berpamitan dan rapat diikuti oleh Sinta, kemudian dia bergegas keluar dari ruangan rapat untuk menghubungi Beni. “Apakah kau sudah mendapatkan apa yang kuperintahkan?” Yura bertanya dengan suara lirih namun tegas. “Sudah, Boss. Dia bahkan kini sedang terlelap di kursi belakang.” terdengar jawaban Beni di seberang. Yura mengerutkan keningnya. “Secepat itu?” Terdengar suara tawa kecil Beni dari seberang. “Seharusnya boss tidak meragukan kemampuan saya,” terdengar nada sombong dalam suara Beni, meski Yura tahu bukan itu yang ingin diungkapkan Beni. “Ya, aku percaya dengan kemampuanmu. Itulah yang membuatku memberikan pekerjaan ini padamu, Ben.” “Lalu harus dikemanakan barangnya, Boss?” “Bawa saja ke rumahku. Aku akan segera pulang.” “Baik, Boss.” Setelah menutup sambungan telepon genggamnya, Yura bergegas masuk kembali ke ruangan rapat. Tapi tentu saja bukan untuk melanjutkan mengikuti rapat alot dan menjemukan itu, melainkan hanya untuk berpamitan pulang duluan. Bermacam rencana tersusun dengan rapi di kepalanya, seperti potongan-potongan puzzle yang tersusun dengan sendirinya. Senyum Yura tersungging sinis ketika dia meninggalkan area parkir gedung dimana dia mengikuti rapat itu. Jam yang terpasang di pergelangan tangan Yura telah  menunjukkan pukul  sepuluh malam ketika laki-laki itu sampai di rumah. Seorang satpam menyambutnya dengan pemberitahuan mengenai tamu yang datang. Yura tahu, mobil Beni masih terparkir di halaman. “Kau taruh dimana dia?” tanya Yura begitu dia bertemu dengan Beni yang sudah duduk menunggunya di ruang tamu. Laki-laki itu kelihatan sangat tenang meski baru saja melakukan pekerjaan yang bertentangan dengan hukum. “Di kamar atas. Seperti perintah boss.” Yura mengangguk kemudian duduk di kursi di seberang Beni. “Uang yang aku janjikan akan segera aku transfer. Sesuai dengan harga yang kita sepakati, Beni.” Laki-laki berperawakan tinggi tegap itu mengangguk dengan senyum puas, kemudian berdiri dan mengulurkan tangannya pada Yura. “Terima kasih, Boss. Sebaiknya saya segera pulang. Terima kasih atas kepercayaannya, Boss.” Yura mengangguk dan berdiri untuk menyambut jabat tangan yang diulurkan Beni padanya. “Aku akan tetap menghubungimu bila nanti aku membutuhkan sesuatu, Ben. Kuharap kamu tak bosan dengan perintah-perintahku di masa mendatang.” “Tentu, Boss. Anda bisa mengubungi saya kapan saja,” Beni menyambut kalimat Yura dengan senang hati. Selama ini, hubungan kerjasama kelabu mereka selalu berjalan dengan baik. Yura selalu memberi hak Beni dengan sempurna sesuai kesepakatan, dan Beni selalu menjalankan tugasnya dengan baik tanpa cacat sedikitpun. Sepeninggal Beni, Yura menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Otaknya kembali dia peras untuk menyusun potongan puzle rencananya yang masih berantakan, belum tersusun sistematis. Lelah, Yura beranjak menuju ke kamarnya di lantai atas. Ketika sampai di depan kamar yang tertutup rapat, Yura berhenti. Tangannya menggapai handle pintu dengan ragu. Tapi kemudian dia membulatkan tekadnya untuk melihat ke dalam demi memastikan bahwa Beni tidak salah orang. Bukan Yura meragukan kemampuan Beni dalam menjalankan tugasnya, tapi setidaknya Yura yakin bahwa dia memiliki umpan yang bagus untuk menundukkan Puri. Membuat perempuan cantik itu mengemis padanya. Dan seorang gadis dengan gaun soft pink terlihat tertidur pulas di atas kasur yang selama bertahun – tahun ini kosong tak ada yang menempati. Semenjak kematian Vira, Yura memang mengosongkan kamar ini. Namun untuk tetap membuat kamar ini hidup, Yura selalu memerintahkan Bik Siti untuk membersihkannya setiap hari, mengganti sepreinya setiap satu minggu sekali dan selalu membuka jendela-jendela dengan lebar agar sirkulasi udara berganti sempurna. Pun dengan sinar matahari agar bisa masuk maksimal. Yura menyempatkan diri untuk duduk di sisi ranjang yang masih terlihat rapi ini. Sejenak Yura mengamati dan tersenyum ketika yakin bahwa Beni tidak salah ambil. “Aku akan mengembalikanmu ke rumahmu jika tujuanku sudah tercapai, Anak Manis. Maaf jika harus membawamu dalam urusan pribadiku. Aku janji, aku tak akan menyakitimu,” Yura berkata lirih sambil tangannya membelai wajah manis perempuan belia itu tanpa bisa dikendalikan. Tak ada jawaban sama sekali karena memang Beni memberikan obat bius sehingga gadis itu tertidur paksa. Yura berdiri dan kemudian meninggalkan kamar itu, setelah mengunci pintunya dari luar. Malam ini, sepertinya Yura akan tidur dengan nyenyak. Umpan besar sudah dia genggam kini.   * * *   Tidur Yura yang malam ini terasa sangat pulas tiba-tiba terusik ketika telinganya menangkap keributan yang terdengar dari kamar yang terletak di depan kamar tidurnya. Laki-laki yang selalu tertidur dalam keadaan setengah telanjang itu mencoba mengabaikan suara yang konstan seolah tak kenal lelah dengan terus menggedor pintu itu. Tapi tetap saja dia tak bisa mengabaikannya. Maka dengan menggerutu kesal, laki-laki dengan kulit coklat liat itu bangkit dan meraih piyama yang dia letakkan di ujung tempat tidur kemudian bergegas keluar. Sebenarnya dia sangat ingin marah ketika paginya yang biasanya nyaman harus terusik oleh suara berisik berupa gedoran pintu dan kata-kata protes ingin keluar. Tapi kemudian Yura ingat, bahwa semalam Beni telah mengantar umpan untuk pancingan yang ingin dia lakukan terhadap Puri. Puri? Ah, ya… perempuan cantik itu selalu berhasil membuat sisi liar Yura bangkit hanya dengan mengingat kenangan buruknya di toilet bertahun-tahun lalu. Yura memutar kunci kamar depannya dan membuka pintunya. Di depannya, kontan dia melihat perempuan muda yang kemudian melangkah mundur dengan wajah terkejut tak mampu menyembunyikan bias rasa takut yang sangat kentara di wajahnya yang imut dan polos itu. Sejenak keduanya saling pandang dan gadis belia itu semakin terkejut ketika menyadari bahwa dia pernah bertemu dengan laki-laki yang kini menjulang di atasnya itu. “Anda?!” Mayla, gadis itu terkejut bertanya dengan gugup, seolah meyakinkan dirinya bahwa laki-laki yang kini ada di depannya itu adalah benar laki-laki yang ditemuinya tempo hari. “Ya, ini aku, Nona. Kuharap kamu tidak lupa bahwa kita pernah bertemu beberapa waktu lalu,” Yura menjawab seolah mengerti akan keraguan Mayla. Mayla tergagap dan melangkah mundur. “Apa yang anda lakukan di sini? Lalu mengapa…mengapa saya di sini? Mengapa anda membawa saya ke sini?” Mayla memberanikan diri untuk memberondongkan pertanyaan yang sudah antri di kepalanya sejak semalam, ketika dia siuman dari obat bius yang dibekapkan Beni kepadanya. “Pertanyaan yang bagus, Nona Kecil. Pertama, aku di sini karena ini memang rumahku. Jadi harap kamu mengerti bahwa di rumah ini akulah yang berkuasa. Jadi jangan bersikap macam-macam jika kamu tak ingin lebih payah lagi. Kedua, aku membawamu ke sini karena aku ada sedikit kepentingan dengan kakakmu. Jadi sebelumnya aku minta maaf karena harus melibatkan dirimu di sini,” kalimat panjang yang diuraikan oleh Yura sebagian tak dimengerti oleh Mayla. “Kak Puri?” Mayla bergumam lirih, seolah mencari jawaban mengapa dirinya dilibatkan oleh laki-laki ini dalam urusannya dengan Puri, saudara perempuan satu-satunya yang dia tahu dia miliki di dunia ini. “Ya. Puri. Kakakmu itu ada hal yang belum lunas padaku.” Mayla terkejut dengan jawaban Yura. Berbagai pikiran buruk tiba-tiba menghambur di kepalanya ketika Yura menyebutkan kata lunas. Apakah itu berarti ada urusan hutang piutang sehingga dirinya dijadikan jaminan atau…atau bahkan untuk membayar hutang? Mayla menggeleng dengan wajah horor, seolah menepis pikiran buruk yang terlanjur mengisi kepalanya. “Tak perlu takut. Aku berjanji tidak akan membuat kamu celaka asal kamu bisa bekerja sama denganku. Aku akan mengembalikanmu pada Puri jika urusan di antara kami sudah selesai.” Yura masih berdiri di tempatnya semula. “Lalu, mengapa…mengapa saya harus terlibat dalam urusan kalian?” Mayla mengutarakan rasa ingin tahunya. Mendengar pertanyaan sarat rasa ingin tahu gadis itu, Yura tersenyum kecil sembari berjalan menuju ke jendela kamar. Tangan kokohnya kemudian membuka jendela itu lebar-lebar sehingga kamar terlihat terang benderang. “Kamu masih terlalu belia untuk mengetahui semuanya. Nanti, jika waktunya tiba kau akan tahu dengan sendirinya. Jadi tetaplah menjadi anak yang baik dan penurut, karena hanya itu satu-satunya hal yang bisa kutawarkan,” jawab Yura spontan berbalik menatap Mayla dengan tatapan tajam, membuat nyali gadis belia itu mengerut seketika. “Kamu akan tinggal di sini untuk beberapa waktu ke depan. Kupastikan kamu akan mendapat pelayanan layak dari Bik Siti. Dia yang akan melayani kamu, memenuhi kebutuhan makanmu. Tapi maaf, untuk sementara aku harus tetap mengurungmu di sini. Sampai semua urusan selesai.” Usai berkata seperti itu, Yura berjalan menuju pintu keluar. “Tapi, Oom? Saya… saya…” suara Mayla tercekat di tenggorokan ketika Yura kembali berbalik dan menatapnya. “Apa?” Yura bertanya dengan nada tak suka dengan panggilan oom yang disematkan gadis itu pada dirinya. Setua itukah dirinya? Gadis itu menggeleng dengan wajah ketakutan. Air mata terlihat mulai menggenang di matanya. Dan sungguh, Yura tak akan sanggup melihat seorang perempuan menangis karena itu hanya akan menyeretnya pada kenangan tentang Vira. Demi tak ingin mengurungkan niatnya menculik Mayla, Yura segera keluar dari kamar itu dengan tetap mengunci pintunya. Sejenak, Yura mematung di depan pintu ketika samar dia mendengar tangisan lirih dan tertahan dari dalam kamar. Tapi Yura harus menguatkan hati, membulatkan tekad demi sebuah dendam dan obsesi konyol yang terus bertahta di kepalanya.   * * *  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD