Bab 35

1133 Words
Masih dengan keangkuhan Meisha. Haruskah Meisha minta maaf? Tentu jawabannya, tidak! Kenapa Meisha harus meminta maaf, menurutnya dirinya nggak bersalah. Ia ingin mencurahkan perasaannya saja. Meisha masih anteng di tempat duduknya, tanpa bergeming. "Lebih baik kau pergi sekarang! Tinggalkan aku sendirian." Evans ingin Meisha segera pergi dari hadapannya, sebelum di benar-benar naik pitam. Tangannya mengepal keras menahan emosi. "Okkey! Tapi ingat, aku akan selalu ada waktu untukmu. Kapan pun kau memintaku datang, aku siap." Meisha berdiri dari tempat duduknya dan melenggang keluar ruangan. Dengan keras Evans memukulkan tangannya beberapa kali di atas meja kerjanya. Terlihat, tangannya memerah saat ini. Sial! Dengan santainya, Meisha seoalah-olah terlihat senang setelah keluar darin ruangan Evans. Meski saat ini Evans marah kepadanya. Meisha keluar dari ruangan Evans, dengan wajah tersenyum. Ah, tenang jangan panik. Esa memperhatikan Meisha dari kejauhan. Di pikirannya, sudah memikirkan yang tidak-tidak tentang mereka berdua di dalam ruangan. Membuat perasaan Esa sedikit kecewa denvan rasa cemburu yang berlebihan. Merasa di perhatikan, Meisha berjalan menuju sepasang bola mata milik Esa itu. "Hey! Apa kabar, Sa?" Meisha berbasa basi. Esa terpaksa tersenyum. "Eh, Meisha mau pulang ya?" "Iya, Evans menyuruhku pulang. Ia nggak tega, meelihatku terlalu lama menemani dia di ruangannya. Kepalaku sedikit pusing, makanya dia memintaku untuk istirahat saja di rumah!" Meisha mulai mengada-ada tentang perhatian Evans kepada dirinya. "Apa itu benar?" Batin Esa nggak percaya begitu saja kepada Meisha. Dia yakin Meisha nggak jujur. "Oh, kalau begitu. Hati-hati di jalan," jawab Esa seolah-olah percaya dengan apa yang Meisha katakan. "Tentu! Tolong bantu jaga Evans ku ya? Jangan sampai dia merasa kelaparan dan haus, saat sibuk dengan pekerjaannya," sahut Meisha. Memberi mandat sekebon kepada Esa. "Cih! Sok perhatian banget!" Esa berdecih dengan rasa cemburu yang tiba-tiba datang melanda. Meisha pun berlalu pergi meninggalkan restoran. "Kenapa pergi! Harusnya nginep sini aja. Palingan juga besok kesini lagi!" Gumam Esa sendirian, dengan kedua netra memandang jauh ke arah Meisha yang tengah berrada di luar restoran, yang hanya berdinding kaca bening. Sejurus kemudian, Esa kembali bekerja kembali setelah memastikan Esa benar-benar pergi. *** Di rumah Vania Olivia. Vania tangah duduk di sofa, tepatnya di ruang keluarga. Netranya mengarah ke sebuat acara televisi, dengan tangan kiri memegang remote tv. Sementara tangan kanan Vania, sibuk menyuapi dirinya sendiri dengan sebuah roti buatan Mamanya. Terlihat asik, dan serius ia menonton acara televisi itu. Hingga tak menyadari, keberadaan Esa yang kini berada di belakangnya. "Kayaknya enak tuh, roti! Jadi ngiler," selorohnya yang membuat Vania terperanjat keget. "Dih! Esa, ngagetin orang aja! Sejak kapan kapan kamu berdiri di belakangku?" Omel Vania, setelah menoleh ke arah belakang dan tau siapa yang membuatnya kaget. "Dari tadi aku panggil-panggil di depan pintu, nggak ada yang nyaut. Makanya, aku langsung masuk aja deh! Taunya kamu ada di sini!" "Masa sih! Aku nggak denger." "Ya lumayan, sampe suaraku serak mau habis juga, nggak ada yang nyaut!" Tangan Esa mengelus tenggirikannya, yang di kata berasa suaranya serak mau habis. Sejurus kemudian, ia melangkah dan mendudukkan diri di samping Vania. Vania tersenyum memdengar Esa, lucu! Masa iya sampek mau habis tuh suara. "Nih, makan!" Ucap Vania menodongkan piring berisi beberapa potong roti buatan sang mama, kepada Esa. "Woah! Thankyou!" Esa menjulurkan tangannya, menganbil sepotong roti yang dia kata, bikin ngiler tadi. "Udah pulang, Sa?" "Udah, aku ijin pulang duluan tadi," jawab Esa dengan mulut penuh dengan roti. "Emang mau kemana kok ijin," tanya Vania dengan kedua netra yang tetap Vokus ke arah acara televisi. Dengan susah Esa menelan gumpalan roti yang terlalu banyak, di dalam mulutnya tadi. "Ya kesinilah! Mau kemana lagi." "Ooh, aku kira meu kemana," sahut Vania lalu tersenyum. "Sepi banget, Tante Wulan kemana?" Esa menoleh kanan kiri, tak mendapati Wulandari di sana. Biasanya Mama Vania, langsung menyambutnya ketika dia datang. "Mama, masih keluar. Udah lama kok, palingan bentar lagi pulang." Esa mengangguk, lalu kemudian ia mengambil botol air mineral lalu meneguknya. "Oh, ya, Sa! 3 hari kedepan aku ijin nggak masuk kerja. Seperti kata Dokter Haris, aku harus banyak istirahat dulu." Vania memberitahu Esa yang belum tau itu. Daripada besok Esa bingung nyari dirinya, tidak ada di tempat kerja. Esa mengangguk mengerti. "Udah ngomong sama Evans?" "Udah, tadi Mama yang minta ijin, pagi tadi. Pas dia masih di sini!" "Jadi beneran, Evans tadi jemput kamu di rumah sakit?" Vania mengangguk membenarkan. "Uuh, nggak salah lagi aku suka sama Evans. Perhatian dan baik gitu," ungkapnya, dengan mendongakkan wajah dengan netra menerawang. Seperti membayangkan sesuatu. Vania heran dengan Sahabatnya itu. Kok bisa! Esa nggak cemburu dengannya . Sebab Evans lebih memperhatikan dirinya, di banding Esa. Esa nggak pernah berpikir yang aneh-aneh keoada Vania. Dia selalu positif thinking! Itu juga salah satu alasan Vania, nggak ingin menodai persahabatan mereka. "Mikirin apa, Sa?" "Mikirin Evans!" Esa tersenyum. "Kamu tadi udah deketin dia lagi?" "Belum, tadi ketemu dia, cuma ijin aja. Keliatannya dia sibuk banget tadi." Evans merasa sedikit canggung ketika berhadapan dengan Esa. Setelah dengan berani Esa mencium nya kemarin. "Eh, ada Esa ternyata. Udah lama kamu, Sa?" Sapa Wulandari. Ia terlihat baru datang dengan membawa 2 kantung plastik di masing-masing tangannya. Esa tersenyum, lalu berkata, "Belum lama kok Tante." "Ya udah, lanjutin ngobrolnya. Tante ke dapur dulu ya!" Terlihat barang belanjaan Wulandari begitu banyak. Ia berjalan menuju dapur lalu mengeluarkan setiap barang belanjaannya dari kantong plastik berwarna merah besar itu. Beberapa bahan untuk membuat kue, minyak, gula serta beberapa sayuran di jejernya di meja. Untuk memastikan tak ada satu pun barang belanjanya yang ketinggalan. Sejurus kemudian, ia meninggalakan barang belanjaannya itu. Untuk membuatkan secangkir teh untuk Esa. Nggak jadi secangkir, Wulandari membuat 3 cangkir teh, satu cangkir untuk Esa, satu cangkir untuk putrinya dan satu cangkirnya lagi untuk dirinya sendiri. Ia pun tak lupa memotong roti bolu buatannya. Untuk teman ngeteh bersama. Ia berjalan menuju ruang keluarga. Dilihatnya, putrinya dan Esa tengah asik bercengkrama. Ia membawa nampan berisikan teh dan roti itu, lalu kemudian meletakkannya di atas meja tepat di depan mereka duduk. "Esa, diminum teh, nya!" Ucap Wulandari kemudian mendudukkan diri di samping putrinya. "Terimakasih, Tante. Esa jadi nggak enak setiap kali kesini, selalu ngrepotin Tante." "Ya nggaklah, Sa. Repot kenapa? Tante seneng kalau kamu sering kesini, kan jadi rame. Vania juga jadi, ada temennya di rumah." Kedatangan Esa membuat suasana rumah Vania, bertambah ramai. Esa dan Vania pun tersenyum lepas. Lalu mereka asik bercengkrama, sambil menikmati tek dan roti yang Wulandari suguhkan. *** Sementara itu. Restoran sudah saatnya tutup. Evans juga bersiap untuk pulang ke rumah. Akan tetapi bayangan Vania selalu saja muncul di pelupuk mata. Ia ingin sekali mengunjungi Vania, tapi Evans bingung. Mengingut hari sudah gelap, masa ia dia mau datang ke rumah Vania dengan penampilan yang sama. Maksutnya, paling tidak ganti bajulah. Biar lebih PD! Meskipun penampilannya masih rapi dan aroma parfumnya masih tercium wangi. Evans selalu ingin menjaga penampilannya setiap kali, bertemu dengan Vania. "Jadi aku harus gimana? Kerumah Vania atau pulang saja!" Gumamnya mempertimbangkan. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD