Bab 34

1209 Words
Vania terlihat hanya mengaduk-aduk bubur di dalam mangkuk berwarna putih, yang ada di depannya. Entah kenapa ia merasa tidak lapar sama sekali. "Sayang, kenapa nggak di makan? Bubur buatan Mama nggak enak, ya?" Tanya Wulandari yang melihat putrinya tak kunjung makan bubur buatannya itu. "Emh, Enak kok, Ma! Ini Vania makan," jawabnya kemudian memasukkan sesendok bubur yang masih hangat itu kedalam mulutnya. Evans meneguk segelas air miliknya. Lalu kemudian melanjutkan acara sarapannya lagi. Ayam goreng di piring masih banyak! Rasanya juga nikmat, kan sayang kalau nggak di habiskan. Rasa pedas dari sambal buatan Mama Vania, membuat ketagihan. Semakin lahap, Evans memakan ayam goreng lalapan yang di masak dengan bahan seadanya itu. Lalapannya kurang lengkap! Mentimun bahkan daun kemanginya pun nggak ada. "Tambah lagi nak Evans," ucap Wulandari setelah melihat makanan di piring Evans yang sudah mau habis. "Terima kasih, Tante. Saya rasa udah cukup, udah kenyang, Tan," sahut Evans sedikit mendesis kepedasan. Lalu kemudian ia meneguk lagi segelas air. Yang sudah ia tuang ke dalam gelas. Sejurus kemudian, ia mengusap bibirnya menggunakan tisu. Sementara dengan Vania, masih banyak bubur yang ada di dalam mangkuknya. Itu artinya, dia baru makan bubur itu hanya sedikit saja. "Ma, Vania nggak habis buburnya." Memang dari kemarin Vania makannya berkurang dari biasanya. "Nggak apa-apa, sayang. Yang penting perut kamu nggak boleh kosong ya. Mama ambilkan obat sama vitamin kamu dulu! Masih ada di dalam tas tadi." Wulandari kemudian berdiri dari tempat duduknya, lalu kemudian mengambil obat dan vitamin untuk putrinya. Vania mengusap bibirnya menggunakan tisu. Tak lama kemudian, ia melihat Mamanya berjalan mendekatinya dengan menenteng plastik kecil berwarna putih, berisikan obat dan vitamin untuknya. "Di minum dulu ya, obatnya. Nanti setelah itu, di pakai istirahat aja," tutur Wulandari sembari membuka 3 jenis obat termasuk vitamin yang di berikan Dokter Haris. Sejurus kemudian, Vania mengambil 1 sisir pisang dari keranjang buah yang berada di depannya. Ia mengupas pisang itu. Lalu kemudian, memakan pisang itu bersamaan dengan obat yang sudah di buka Mamanya, satu-persatu. Dengan susah Evans menelan ludahnya yang lekat. Melihat Vania memakan pisang bersamaan dengan obat, yang ukurannya tidak kecil. Menurutnya! Mengingat dirinya sangat susah menelan obat walau pun obat itu kecil, sekecil biji kacang hijau. Wulandari mengulurkan segelas air untuk putrinya, itu. Vania pun meneguk segelas air yang terisi penuh dengan perlahan. Setelahnya Vania mengusap bibirnya menggunakan tisu. Wulandari merasa putrinya harus banyak istirahat. Terlebih penyebab jatuh sakitnya Vania, karena terlalu sibuk bekerja dan kurangnya istirahat. Ditambah lagi, Vania sering mengabaikan waktu makannya. Hingga membuatnya seringakali lupa dan telat makan. Wulandari harus bicara kepada Evans tentang hal ini. "Nak Evans, untuk tiga hari kedepan. Tolong ijinkan Vania, untuk tidak bekerja, ya. Vania biar istirahat dulu, setelah pulih, nanti baru masuk bekerja lagi," tutur Wulandari. Evans mengangguk menanggapi Mama Vania. "Iya, Tante. Sebelum Tante meminta ijin. Saya pun kepikiran, untuk memberi cuti Vania." Evans tersenyum menatap Vania yang tengah memperhatikannya juga. "Terimakasih, nak Evans! Atas pengertiannya, dan atas bantuan nak Evans selama ini," ucap Wulandari. 3 hari bukan waktu yang sebentar bagi Evans. Sehari nggak ketemu Vania saja, rasanya seperti satahun nggak ketemu. Lah ini malah 3 hari. Tapi tak mengapa, dia bisa mengunjungi Vania, nantinya. "Emh, kalau begitu saya pamit mau ke restoran, Tante. Terimakasih banyak, saya sudah di kasih sarapan disini. Nggak enak jadi merepotkan Tante. Van, jaga kesehatanmu ya, aku pamit dulu." "Sama-sama nak Evans," sahut Wulandari. "Terimakasih, Vans," ucap Vania. Sejurus kemudian, Evans berdiri dari tempat duduknya, lalu melangkah menuju pintu depan rumah Vania. Di ikuti di belakangnya Wulandari, mengantarnya sampi di depan puntu. "Hati-hati di jalan, nak Evans," yutur Wulandari kemudian, ia melambaikan tangan melihat Evans melajukan mobilnya masuk ke jalanan. *** Evans melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata, menuju restoran. Netranya memandang jauh ke jalanan yang tampak lenggang. Tak lama kemudian ia sampai di restoran miliknya. Sejurus kemudian, ia turun dari mobil. Seketika ia merasa malas setelah menyadari mobil Meisha sudah terparkir di sana. Meisha lagi! Evans berpikir pasti dia sudah menunggu dirinya sejak pagi. Pastinya juga Meisha akan banyak bertanya dan marah-marah pada akhirnya. Evans melangkah masuk kedalam restoran, lalu menuju tangga hendak menaikinya. "Evans! Tunggu!" Baru menaiki satu anak tangga langkah Evans terhenti, mendengar Meisha berteriak memanggil namanya. Entah dari mana atau di meja mana, Meisha tadi duduk menunggu dirinya. Evans tak memperhatikan sekitarnya saat masuk ke dalam restoran. Evans berbalik badan. Di dapatinya Meisha sudah berdiri di depan matanya. "Ada apa!" "Kamu darimana?" Pertanyaan yang sama yang selalu Meisya tanyakan setiap kali, dia datang. "Dari rumah!" "Bohong! Pasti dari rumah pelayan centil itu!" Julukan untuk Vania eh, lebih tepatnya umpatan untuk Vania di ganti lagi oleh Meisha. Evans membuang muka malas. Ia tau siapa yang tengah Meisha maksut. "Apa kau kesini hanya untuk membahas dari mana dan kemana aku pergi?" Evans geleng-geleng kepala. "Aku nggak ada waktu untuk membahas itu," sambungnya kemudian menaiki anak tangga menuju ruangannya, dan meninggalkan Meisha begitu saja. "Evans, tunggu aku!" Meisha pun mengikuti Evans masuk ke dalam ruangan. Ia harus memastikan dari mana saja Evans sejak pagi. Apapun yang Evans lakukan dia harus tau. "Pokoknya Evans milikku. Aku pasti bisa meluluhkan hatinya," batin Meisha. Evans mendudukkan diri di kursi kerjanya. Pun dengan Meisha duduk tepat di depan Evans. Evans menyibukkan diri dengan membuka beberapa berkas yang sudah ia baca sebelumnya. Berharap Meisha akan segera pergi mengetahui dirinya tengah sibuk. Namun, semua itu tidak mempengaruhi Meisha. Ia malah asyik memperhatikan setiap gerakan yang Evans lakukan. Mau Evans berdiri, duduk, jongkok, bertelur. Eh, bertelur, nggak ya! Meisha senang memperhatikannya. Kalau bisa kemana pun Evans pergi, ia ikut. Kemana pun itu, asal nggak ngikutin Evans masuk ke toilet pria aja! Jangan, dia juga tau malu. Tapi, kenapa dia nggak malu ngejar cinta Evans, yang sudah pasti akan di tolak lagi. Entahlah! Pokoknya di pikiran Meisha hanya ada Evans, Evans, Evans dan Evans. Yang lain minggir! Evans lama-lama merasa risih juga merasa di perhatikan Meisha. Kalau itu Vania, Evans nggak masalah happy aja. Tapi ini Meisha, bukan Vania! "Sebenarnya apa tujuanmu kesini? Kalau mau makan ya dibawah, bukan di sini." "Aku cuma pengen nemenin kamu, Vans." "Nggak perlu di temani. Memangnya aku anak kecil perlu di temani!" "Bukan begitu, aku hanya merasa kamu butuh teman. Jadi aku menemanimu di sini." Evans menggeleng kepala tak habis pikir. Sebenarnya yang butuh teman Meisha bukan dirinya. Lagi pula sudah jelas, Evans selalu menunjukkan sikap tidak sukanya kepada Meisha. Bahkan kehadirannya sangat mengganggu konsentrasinya. "Aku sarankan. Lebih baik kau segera mencari pendamping, Mei." "Aku rasa sudah ketemu. Hanya saja dia nggak pernah menganggapku." "Betulkah! Kenapa begitu?" "Entahlah! Aku nggak tau!" "Mungkin kamu terlalu posesif padanya. Atau mungkin dia memang tidak mencintaimu." Seperti halnya Evans, ia tidak menyukai Meisha. Namun Meisha terus memaksa. Dan asal Evans tau saja, yang Meisha maksut adalah dirinya sendiri. "Bukan itu alasannya. Ada perempuan lain yang mencoba merebutnya dariku!" "Betulkah!" Evans mulai berpikir siapa yang Meisha maksut. Ah, sial! Begitu Evans mengerti, Meisha menyindirnya secara halus. "Apa kau sudah selesai curhatnya?" Tanya Evans yang mulai geram. "Belum, ceritaku masih panjang. Tentang datangnya si pelakor dalam hubungan kami. Belum selesai. Aku ceritakan kepadamu." "Dan tentang penolakan pria itu terhadapmu! Dengan segala aturan atas kemauanmu sendiri!" Ucap Evans menatap tajam Meisha. Meisha tercengang mendengar apa yang baru, Evans ucapkan. "Astaga! Evans sudah tau siapa yang ku maksut!" Batin Meisha dengan oerasaan takut jika Evans marah kepadanya. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD