Evans terdiam. Netranya memperhatikan Vania yang lagi ngambek. Padahal Evans nggak merasa melakukan kesalahan apa pun. Dia hanya menjawab apa yang di katakan Vania. Itu pun nggak terlalu penting bagi Evans.
"Haruskah aku ngajak, Esa. Setiap mau ketemu Vania! Kenapa harus seperti itu? Konyol!" Batinnya kemudian menarik napas panjang.
Pandangan Evans dan Vania, kini tertuju pada pintu yang di dorong dari luar hingga terbuka lebar. Wulandari melenggang masuk dengan senyuman ramah.
"Mama, dari mana aja sih lama bener!" Protes Vania merasa di tinggal berjam-jam. Padahal kan cuma sebentar.
"Sebentar aja kok lama, sih. Kan udah ada temennya."
Netra Wulandari seakan menunjuk ke arah Evans. Yang terlihat tenang duduk di sofa. Dengan sedikit bergeser dari posisi sebelumnya.
Pun dengan Vania, dengan malas netranya menatap Evans. Yang juga menatap ke arahnya.
Evans tersenyum dengan mengerlingkan sebelah matanya kepada Vania.
Rasanya Vania ingin pingsan saat itu juga. Evans selalu berhasil membatalkan acara ngambeknya. Tapi perasaan cemburu, masih menyelimuti hati dan pikiran Vania. Ah, Vania jadi bingung sendiri dengan perasaannya.
"Dokter Haris masih lama, ya, Ma. Biasanya jam 8 udah datang. Kok ini belum?" Tanya Vania mencoba mengatasi rasa canggungnya.
Dia juga nggak sabar cepet-cepet keluar dari rumah sakit. Terlihat cairan infusnya juga hampir habis. Akan tetapi, dokter Haris tak kunjung juga datang.
"Mungkin sebentar lagi. Sabar, sabar," tutur Wulandari menenangkan putrinya.
Kedua netra Vania melihat ke arah pintu, dengan harapan, dokter Haris segera datang membuka pintu itu. Dan membolehkan dia kembali pulang.
"Apa mungkin dokter Haris lupa, Ma," tanya Vania polos.
Masa iya, ada dokter lupa dengan kewajibannya.
Wulandari hendak menjawab pertanyaan putrinya. Namun, suara terkekeh Evans mendahuluinya.
Evans terkekeh mendengar pertanyaan Vania.
"Mana ada dokter lupa sama pasiennya. Vania, Vania!"
Vania tertegun melihat Evans tertawa. Entah kenapa, seolah-olah Vania terhipnotis olehnya. Ketampanan Evans lebih memukau ketika tertawa seperti itu. Di tambah sikap Evans yang selalu perhatian, dan peduli kepadanya. Membuatnya ingin berlama-lama berada di sisi Evans. Juga mampu membuatnya luluh, sampai lupa kalau dia sedang ngambek.
"Kan, pasien dokter Haris, banyak! Nggak cuma Vania aja! Bisa aja kalau lupa," jawabnya polos.
Maklum saja! Yang Vania tau, dokter itu tugasnya memeriksa dan mengobati pasien. Sedangkan pasiennya nggak cuma 2, 3 orang. Buanyak! Jadi bisa saja ada pasien yang terlewatkan karena lupa. Itu menurutnya.
Wulandari pun tersenyum lepas, melihat kepolosan putrinya. Lucu! Menurutnya.
Vania terheran-heran melihat Evans dan Mamanya yang terkekeh saat ini. Sementara menurutnya, nggak ada yang lucu.
Vania manggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Pada ngetawain apa sih!" Ucapnya bingung.
Tiba-tiba seseorang membuka pintu. Lalu kemudian masuk.
"Pagi, Vania," sapanya hangat.
Seketika senyum sumringah menghiasi wajah cantik Vania. Setelah ia melihat dokter Haris masuk mengenakan jas panjang berwarna putih, lengkap dengan stetoskop yang di kalungkan di lehernya. Di ikuti seorang suster berjalan di belakangnya.
"Pagi juga, Dokter Haris," jawab Vania yang terlihat lebih ceria ketika dokter yang dia tunggu-tunggu sedari tadi, akhirnya datang juga.
"Gimana kabarnya, baik kan?"
"Sangat baik, Dok. Aku kira dokter lupa nggak kesini! "
"Ya nggak lah. Katanya, kamu mau pulang hari ini? Mari saya priksa dulu," tuturnya kemudian hendak mulai memeriksa keadaan Vania.
Vania mengangguk, lalu kemudian berbaring dengan harapan hasil pemeriksaan kesehatannya membaik. Mengingat dirinya sudah merasa lebih baik dari sebelumnya.
"Oke, selesai. Sus!"
Dokter Haris mengangguk kepada suster yang mendampinginya tadi. Seakan memberi isyarat kepada suster itu.
Pun dengan suster itu, ia terlihat membalas anggukan dokter Haris. Sejurus kemudian, dengan hati-hati dan perlahan. Ia melepas jarum infus yang melekat erat di punggung tangan Vania.
"Tahan ya, mbak," ucapnya kepada Vania.
Seketika Vania meringis menahan sakit, saat jarum infusnya di lepas.
Wulandari menggenggam tangan sebelah kiri Vania. Untuk menguatkan putrinya.
Evans yang sudah beranjak dari duduknya. Kini berdiri di samping dokter Haris.
"Gimana, Dok? Vania sudah boleh pulang hari ini," tanyanya memastikan Vania di ijinkan boleh pulang atau tidak.
Dokter Haris mengangguk, meng-iyakan.
"Vania sudah boleh pulang hari ini. Saya akan memberikan resep obat dan vitamin, yang harus di tebus terlebih dahulu. Untuk di minumkan Vania, sesampainya di rumah nanti. Vania, kamu juga harus banyak istirahat. Saran saya, jangan memaksa kan beraktifitas yang berlebihan," tutur dokter Haris di tujukan kepada keluarga pasien.
Terutama kepada Wulandari, Mama Vania.
Vania mengangguk.
"Baik, Dok. Saya akan memastikan, Vania beristirahat dengan cukup dan meminum vitamin dari dokter. Terimakasih, Dokter Haris," ucap Wulandari tersenyum senang, akhirnya putrinya di bolehkan pulang.
"Kalau begitu. Silahkan salah satu dari keluarga Vania, ikut keruangan saya. Untuk mengambil resepnya."
Dokter Haris melangkah keluar meninggalkan ruangan Vania. Dengan suster yang sudah selesai meleoas infus Vania tadi.
"Baik, Dok," sahut Wulandari hendak melangkahkan kaki mengikuti dokter Haris.
"Tante!"
Evans menghentikan langkah Mama Vania.
"Ya, ada apa nak Evans?"
"Biar saya saja yang keruangan dokter Haris. Tante sama Vania lebih baik, berkemas dan menunggu di sini," ucap Evans.
"Tapi, nak Evans. Nggak usah, biar tante saja yang mengurusnya. Nak Evans, tolong temenin Vania, di sini ya."
Wulandari menolak saran Evans. Mengingat dirinya juga masih mau mengurus biaya administrasi pengobatan Vania.
"Udah, Tante. Biar Evans saja yang mengurus semuanya. Tante, tunggu disini aja."
Belum sempat wulandari ngomong. Evans pergi berlalu meninggalkan mereka. Sejurus kemudian, ia menyusul di ruangan dokter Haris Alatas.
"Mama,"
Panggil Vania begitu melihat Wulandari mematung, setelah Evans berlalu dari mereka.
"Ya, sayang," jawabnya begitu mendengar panggilan dari putrinya.
Sejurus kemudian, ia mendekati putrinya yang kini terduduk di atas bed pasien.
"Ada apa, kok aku liat Mama berdebat dengan Evans," tanya Vania penasaran, karena dia tidak begitu mendemgar pembicaraan mereka.
"Evans ngengkel ingin menebus obat kamu. Mana biaya administrasi juga belum Mama urus. Gimana dong, Van?" Wulandari merasa nggak enak.
"Kalau begitu, lebih baik sekarang, Mama cepetan pergi urus biaya administrasi. Sebelum Evans sampai di sana. Kemungkinan, Evans saat ini masih berada di ruangan Dokter Haris," sarannya kepada Mama nya.
"Betul, juga kata kamu, Van. Kenapa Mama nggak kepikiran seperti itu. Kalau gitu, Mama tinggal dulu ya. Nggak apa-apa kan, kamu sendirian?" Tuturnya nggak yega meninggalkan Vania, tanpa seorang yeman.
"Udah, Ma. Nggak apa apa, nanti keburu ke duluan Evans lhoh!" Sambungnya, meyakinkan sang Mama. Supaya cepat pergi mengurus semua biaya pengobatannya selama di rumah sakit.
Wulandari mengangguk menangggapi saran putrinya. Sejurus kemudian, ia melangkah keluar dari ruangan inap Vania.
Vania tersenyum, akhirnya sebentar lagi dia kembali pulang ke rumah. Kini wakahnua kembali ceria seperti sedia kala.
Sedangkan Wulandari berjalan dengan cepat menuju tempat administrasi. Untuk membayar semua tagihan rumah sakit. Setelah selesai, ia segera kembali ke kamar inap putrinya lagi.
Di lihatnya putrinya tengah tersenyum senang menyambut dirinya.
"Gimana, Ma. Udah selesai?"
"Sudah, sayang. Kalau gitu yuk, kita susul nak Evans di ruangan dokter Haris." Ujarnya kemudian menenteng tas berukuran sedang. Yang sudah ia kemas sejak pagi.
Vania nurut saja, apa kata Mamanya.
Wulandari menggandeng putrinya dengan hati-hati, berjalan keluar kamar inap itu, menuju ruangan dokter Haris Alatas. Namun, sesampainya di depan ruangan dokter Haris. Mereka memutuskan untuk menunggu, di kursi tunggu.
Tak lama kemudian, Evans keluar dari ruangan dokter Haris.
"Lhoh! Tante sama Vania, sajak kapan ada di sini?"
Evans kaget mendapati mereka duduk di kursi tunggu. Tengah menunggu dirinya.
"Baru aja kok, nak Evans. Dari oada kita nunggu di kamar inap. Lebih baik kita menunggu nak Evans disini," jawab Wulandari lalu tersenyum.
Vania pun juga tersenyum. Tapi senyumannya sperti memaksa. Kenapa begitu? Sebab, tiba-tiba saja Vania teringat curhatan Esa semalam. Jika Esa sudah mengungkapkan perasaannya lewat sebuah ciuman.
Vania merasa harus benar-benar mulai menjauh dari Evans. Demi kelancaran Esa, mendekatinya.
"Kalau begitu, mari pulang, tante. Sini! biar saya bantu bawa tasnya," ucap Evans yang kemudian meraih tas, dari tangan Wulandari.
"Udah, biar Tante bawa sendiri, nggak papa kok."
Lagi-lagi mereka berdebat demi berebut tas.
"Biar saya aja Tante, saya kan cowok. Harusnya membantu Tante."
"Nggak papa, orang nggak berat juga kok. Lagi pula nggak enak kalau di lihat orang. Cowok kok bawa tas beginian!" Kata Wulandari.
Emangnya kenapa? Jaman sekarang, cowok menenteng tas kan, udah biasa. Kan karena membantu juga! Apa salahnya? Dan kenapa harus di buat perdebatan lagi.
Vania mengeryitkan dahi karena bingung. Lalu ia memeilih berjalan meninggalkan Mamanya dan Evans saat itu juga.
Setelah sadar Vania sudah jalan jauh kedepan. Evans, segera menyusul dengan langkah cepat. Hingga akhirnya, jalan berdampingan dengan Vania.
Begitu pun, denvan Wulandari mengikuti mereka dari belakang.
"Van, tunggu! Pelan-pelan saja jalannya. Ingat pesan Dokter Haris!"
Evans menegur cara berjalan Vania, yang di anggapnya terlalu cepat. Sedangkan, dokter menyarankan agar Vania benar-benar menjaga kesehatannya. Akan tetapi, Vania nggak menggubris Evans.
Vania, malah mempercepat langkahnya menuju mobil Evans yang sudah terparkir.
Evans membukakan pintu depan, sebelah ia mengemudi. Akan tetapi dengan cepat tangan Vania membuka pintu mobil belakang.
"Duduk di belakang saja, sama Mama," ucapnya kemudian masuk kedalam mobil.
Evans bingung eengan sikap Vania, yang tiba-tiba berubah dengan cepat. Kadang ramah dan baik, kadang juga berubah jadi cuek dengan tiba-tiba. Huft! Susah di mengerti!.
Wulandari pun, tersenyum kearah Evans. Sejurus kemudian masuk ke dalam mobil bagian bangku belakang, bersama putrinya.
Evans tersenyum menutupi kebingungannya, terhadap sikap Vania itu. Perlahan ia menutup pintu mobilnya kembali. Sejurus kemudian, ia pun masuk ke mobilnya juga. Bersiap melajukan mobilnya, keluar dari pelataran parkir rumah sakit yang luas itu. Sesekali Evans melihat Vania, dari spion tengah dalam mobil.
Di lihatnya Vania, duduk di samping Mamanya dengan pandangan mengarah ke samping jendela mobil. Entah apa yang ada di pikiran saat ini, Evans tidak tau.
Evans melajukan mebilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Agar cepat sampai di rumah Vania.
"Tante, masih mau pergi kemana?" Tanya Evans basa basi memecahkan keheningan di dalam mobil.
"Langsung pulang saja, nak Evans." Wulandari tersenyum.
Evans membalas senyuman lalu kemudian mengangguk.
Mengingat jarak rumah Vania dengan rumah sakit yang tidak terlalu jauh. Akhirnya mobil Evans sampai di depan rumah Vania. Setelah memastikan mobilnya berhenti, dan menurunkan hand brake. Evans segera turun, lalu membukakan pintu belakang tepat di bangku yang gengah Vania duduki.
Vania turun dari dalam mobil milik Evans.
Begitu pun dengan Mama Vania, turun dari pintu yang berlawanan.
Evans mengulurkan tangannya, berniat untuk membantu Vania. Akan tetapi, Vania malah berlalu begitu saja mangabaikan uluran tangan dari Evans untuknya.
Vania duduk di kursi teras menunggu Mamanya membukakan pintu. Evans pun ikut duduk berhadapan dengan Vania, dengan senyum yang selalu mengembang di wajahnya.
"Mari masuk ke dalam nak, Evans," ucap Wulandari setelah pintu rumahnya terbuka.
"Iya, Tante," jawab Evans tak meleoaskan pandangannya dari Wajah Vania, yang terlihat cuek.
"Nak Evans, tunggu dulu ya. Tante mau bikin sarapan. Pasti sudah lapar kan? Tante pun perut sudah keroncongan," ujar Wulandari tersenyum. Lalu kemudian masuk kedalam rumah. Meninggal kan putrinya, dan Evans duduk di kursi teras.
"Kenapa menatapku seperti itu!" Tanya Vania merasa diperhatikan oleh Evans.
"Nggak papa. Kamu terlihat begitu cantik hari ini," goda Evans agar Vania terus meresponnya.
Ia lebih suka Vania berbi ara dengannya, walau pun dengan wajah yang cuek. Daripada Vania mendiamkan dirinha.
"Kenapa lama-lama kamu mirip Dion. Suka membual!" Sahut Vania menyamakan.
"Nggak lah, aku hanya berkata jujur. Apa itu salah?"
"Sama saja," ucap Vania datar.
Evans senyam senyum, dengan tangan memangku wajah. Mencoba mengetes Vania. Seberapa lama dia akan tetap bersikap seperti itu kepadanya.
Kalau saja Vania nggak ingat kebaikan Evans terhadapnya. Mungkin dia sudah mengusirnya. Niatannya untuk menjauh dari Evans, kembali memaksa muncul di pikirannya.
"Terimakasih atas semua kebaikanmu. Besok-besok, kamu nhgak usah repot-repot lagi seperti ini," sambungnya.
Vania menghindari bertatapan mata dengan Evans. Ia takut niatnya akan mengendurkan, jika melihatnya. Lelaki tampan memang mampu melemahkan hati seorang wanita.
"Aku nggak merasa repot. Semua yang aku lakukan adalah murni dari ketulusanku, Van. Pasti kau tau itu."
"Tau apa! Aku nggak tau dan nggak mau tau!" Sahut Vania ketus, masih tetap tidak berani menatap Evans.
Sedari tadi pandangan Vania hanya tertuju ke arah benda pipih yang berada di tangannya.
"Kau tau itu. Hanya saja pura-pura nggak tau. Dan pura-pura nggak peduli. Kenapa kau melakukan ini, Vania?"
Kali ini Evans berbicara serius, tangannya yang tadi memangku wajahnya sekarang terjalin di atas meja.
Perasaan Vania, mulai tersentil dengan pertanyaan Evans. Namun tetap saja ia menutupinya.
"Aku! Melakukan apa? Aku rasa nggak melakukan apa-apa. Pertanyaanmu terlalu berlebihan."
"Asal kamu tau saja. Aku semakin suka dengan sikapmu seperti saat ini!" Evans merasa tertantang.
Hah! Vania nggak habis pikir. Harusnya Evans marah atau kecewa dengan sikapnya. Tapi Vania salah! Berharap Evans akan menjauh, tapi malah sebaliknya membuatnya semakin mengejar.
Vania mendengus kasar.
"Lebih baik jangan banyak bertanya. Kau membuatku pusing!"
Tiba-tiba kepala Vania merasa sedikit pusing.
Seketika Evans pun panik, mengingat Vania juga baru keluar dari rumah sakit. Ia segera berdiri mendekati Vania yang duduk dengan kedua mata terpejam, dengan tangan kanannya yang terlihat memijit pelipisnya, dengan perlahan.
"Saharusnya kau banyak istirahat. Ini semua salahku! Maafkan aku." Evans merasa bersalah, membuat Vania merasa tertekan. Tapi bukan maksut hati, dia seperti itu.
Vania, dia sendiri yang membuat perasaan dan pikirannya menjadi tertekan. Bukan Evans!
"Lupakan saja! Aku nggak apa-apa. Bukan salahmu, aku hanya butuh istirahat saja," sahut Vania.
Kemudian Evans duduk di dekat Vania.
"Nak Evans, mari masuk! Tante sudah selesai membuat sarapan. Ayo kita sarapan sama-sama! Yuk, sayang."
Wulandari keluar dari dalam rumah, setelah selesai membuat sarapan. Ia menuntun putrinya menuju ke meja makan.
Begitu pun dengan Evans. Mengingat sejak pagi buta ia sudah berangkat menuju rumah sakit. Kini perutnya mulai merasa lapar.
"Tante masak seadanya saja, maklum belum sempat belanja," ungkapnya kemudian memberi dua centong nasi di piring Evans.
Terlihat beberapa potong ayam goreng di wadah piring. Dan sambal tomat pedas yang membuat Evans semakin terasa lapar. Nggak sabar untuk menyantap menu yang ada di depannya. Sedangkan untuk Vania, Wulandari sudah membuatkan bubur untuknya. Mengingat pesan dokter Haris, lebih baik Vania menghindari makanan berbau pedas dulu. Sampai kesehatan Vania benar pulih.
"Mari dimakan," ajak Wulandari memulai sarapan.
Evans pun mulai makan dengan lahapnya. Masakan Mama Vania memang enak, ia begitu menikmatinya. Namun, seketika Evans merasa kenyang padahal baru saja menelan makanan. Setelah ia melihat Vania , terlihat tidak nafsu makan.
Bersambung...