Tanpa berpikir panjang. Evans mengangguk pelan seakan membolehkan Esa, ikut dengannya. Sejurus kemudian, Evans berjalan keluar restoran di ikuti oleh Esa di belakangnya.
Evans masuk kedalam mobilnya, begitu pun dengan Esa juga. Lalu kemudian Evans mengemudikan mobilnya ke arah rumah Vania. Dengan kecepatan di atas rata-rata.
Esa terdiam menoleh ke arah Evans, terlihat Evans tengah mengemudi dengan raut wajah sedikit cemas. Esa tau apa yang tengah Evans cemaskan. Pasti Vania, betul!
Tak terasa mobil yang Evans kemudi memasuki halaman rumah Vania. Dengan cepat Esa turun dari mobil, setelah mobil yang ia tumpangi terparkir rapi.
Pun dengan Evans. Dengan cepat ia melangkah, menyusul Esa yang sudah berada di depan pintu rumah Vania.
Esa mengetuk pintu itu dengan keras. Namun, tak ada jawaban dari dalam rumah Vania. Ia kembali mengetuk lagi, kali ini dengan memanggil nama pemilik rumah.
"Van.. Vania.."
Esa terus mengetuk pintu itu.
"Vania! tante Wulan! Ini Esa, tolong buka pintunya!" Suara Esa memekik dengan kerasnya.
Namun, tak kunjung ada jawaban dari dalam. Rumah Vania tampak sepi tak berpenghuni.
Evans semakin cemas dan khawatir. Perasaannya nggak enak.
"Cari siapa neng?" tanya tetangga Vania yang kebetulan lewat. Sepertinya, ia tadi juga mendengar suara Esa yang memekik.
Evans dan Esa memutar ke arah pusat suara itu.
"Ini mbak. Saya nyari temen saya Vania. Tapi, aku panggil-panggil dari tadi kok nggak ada yang jawab," ucap Esa lalu tersenyum.
"Oh, Vania memang nggak ada di rumah. Tadi, pagi-pagi sekali Vania di bawa ke rumah sakit. Kebetulan, saya tadi juga ikut membantu membawa Vania ke rumah sakit terdekat," jelasnya, dia adalah tante Sarah tetangga dekat Vania.
Vania dan Esa terkejut mendengar Vania yang tiba-tiba sakit. Sedangkan kemarin, ia terlihat sehat-sehat saja.
"Rumah sakit mana, ya, mbak?" tanya Evans dengan dengan penuh kecemasan.
"Di Rs. Pandu Sejahtera, nggak jauh dari sini kok. Dari sini lurus saja, nanti ketemu," ungkap tante Sarah.
Evans mengangguk, seakan ia sudah tau tempat rumah sakit itu.
"Baik, terima kasih, Tante."
Tante sarah tersenyum, lalu berjalan menuju tujuannya sebelumnya.
"Ayo kita susul ke rumah sakit!" Ajak Evans spontan menggenggam tangan Esa, agar nggak ketinggalan langkahnya.
Esa nurut saja, dengan perasaannya yang kini berbunga-bunga. Baru pertama kali ini, Evans memegang tangan Esa. Bagaikan seperti mimpi saja, Esa masih tak percaya. Sungguh!
Esa dan Evans segera memasuki mobil kembali. Sejurus kemudian, Evans melajukan mobilnya ke arah rumah sakit yang di tunjukkan tante Sarah.
Tak lama kemudian, mereka sampai di pelataran rumah sakit. Evans segera memarkirkan mobilnya. Sejurus kemudian, mereka melangkah secepat mungkin menuju tempat resepsionis yang di jaga oleh 2 orang perawat. Siap siaga.
"Suster! aku dapat kabar temanku, di rawat, di sini. Baru tadi pagi! Sekarang ada di kamar mana ya? Bagaimana dengan keadaannya sekarang?"
Esa membrondong pertanyaan, begitu sampai di depan kedua perawat yang siap siaga. Maklumlah! baru pertama kali dia menginjakkan kakinya di rumah sakit.
Kedua perawat itu terdiam mendengar brondongan pertanyaan dari Esa. Sepertinya mereka susah menelaahnya.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu Suster itu.
"Begini, Sus. Di sini apa ada pasien yang bernama Vania Olivia," tutur Evans membenarkan pertanyaan Esa tadi.
"Oh, sebentar ya, pak. Salah lihat dulu," jawab Suster Siska. Nama nya jelas terpampang di bajunya.
Evans dan Esa menunggu dengan sabar.
"Iya pak! Ada. Atas nama pasien Vania Olivia, sekarang di rawat di kamar vip, Sakura. Dari sini lurus saja, setelah itu belok kanan." Titah Suster itu, menunjukkan jalan.
"Terima kasih, Sus," ucap Evans sejurus kemudian, berjalan sesuai arahan dari Suster tadi. Pun dengan Esa, membuntuti Evans.
Sesampainya di kamar Sakura. Evans melihat Wulandari yang kebetulan keluar dari kamar pasien.
"Tante! Bagaimana dengan keadaan, Vania?" Tanya Evans dengan nafas tersengal-sengal, sebab ia berlarian menuju kamar Vania menginap.
"Nak Evans, Esa. Kalian kok bisa tau, kita ada disini?" Sahut Wulandari.
Ia terlihat kaget dengan kehadiran Evans dan Esa yang tiba-tiba datang. Mengingat dia juga belum sempat memberi kabar. Karena ponsel Vania, tertinggal di rumah.
"Kita tadi nyamperin ke rumah, Tante. Aku ketok pintu, aku panggil-panggil, tapi nggak ada jawaban. Untungnya ada salah satu tetangga, tante yang lewat. Dia yang kasih tau, kalau Tante sama Vania ada di sini." Esa nyerocos panjang lebar.
Wulandari mendengarkan Esa dengan sabar.
"Vania sakit apa, Tante?" Imbuhnya dengan pertanyaan utama yang belum ia tanyakan, sedari tadi.
"Semalam, badan Vania panas. Paginya tante mau bawa Vania periksa, ke, dokter. Baru saja keluar kamar, Vania lemes, trus, pingsan. Tante panik! Sampai lupa nggak ngabarin nak Evans dan Esa," tutur Wulandari, ia terlihat lebih tenang setelah kedatangan Evans dan juga Esa saat ini.
"Sekarang keadaan Vania gimana, Tante?" Ujar Evans masih dengan rasa khawatirnya.
"Kata dokter nggak apa-apa. Bisa jadi karena Vania kecapekan. Sekarang dia masih tidur."
"Kalau mau masuk, gantian saja ya. Tante juga minta tolong, jagain Vania sebentar, ya. Tante mau keluar sebentar," pinta Wulandari.
"Baik"
Esa tersenyum menganngguk.
Wulandari, melangkah pergi. Menitipkan Vania kepada kedua teman, Vania. Esa masuk ke ruangan inap Vania, terlebih dulu. Sedangkan Evans, duduk di kursi tunggu menunggu giliran setelah Esa. Sesuai dengan pesan Wulandari, mama Vania.
Beberapa menit kemudian, Esa keluar dengan raut wajah sedihnya. Ia sedih, melihat sahabatnya terbaring lemas dengan jarum infus di tangannya. Membayangkan saja, rasanya sudah sakit. Bagaimana dengan yang nyata. Seperti yang di alami sahabatnya saat ini. Kedua mata Esa berkaca-kaca. Sejurus kemudian, ia mendudukkan diri di samping Evans, tanpa kata.
Evans berdiri dari tempat duduknya. Sekaran gilirannya untuk masuk menjenguk Vania. Ia membuka pintu dengan perlahan, menutupnya dengan perlahan pula. Di lihatnya Vania yang tengah terbaring di atas ranjang pasien. Ia melangkah semakin dekat, mendudukkan diri di kursi dekat Vania. Ia menelisik wajah cantik Vania yang terlihat pucat.
Vania masih tertidur. Tangan Evans mengenggam tangan Vania yang terasa dingin. Sepertinya, demamnya sudah reda karena pengaruh obat yang di berikan Dokter.
"Vania, aku di sini. Kamu cepat sembuh, ya," ucap Evans lirih, ia mengecup mesra punggung tangan Vania. Berharap ia segera membuka matanya.
Evans masih mengenggam tangan Vania. Jika saja ia bisa menyalurkan energinya kepada, Vania. Layaknya di novel yang bergenre fantasy yang pernah ia baca. Pasti sudah di lakukannya, agar pujaan hatinya segera sehat dan pulih kembali. Namun, apalah daya Evans hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.
Bersambung...