Bab 29

2151 Words
Evans masih menunggui Vania di dalam. Sedangkan Esa menunggu di luar. Wulandari baru kembali membawa sekantong plastik berisikan air mineral dalam botol, buah dan makanan kesukaan, Vania. Dilihatnya Esa, yang tengah tertidur di kursi tunggu. Berarti Evans yang tengah menemani putrinya di dalam sana, pikirnya. Dengan hati-hati, Wulandari perlahan masuk, ia meletakkan sekantong plastik yang ia bawa tadi di atas nakas samping bed pasien. "Tante sudah kembali," tanya Evans begitu menyadari keberadaan Wulandari. Wulandari tersenyum. "Nak Evans, tolong tunggu di sini dulu, ya! Tante masih mau ke mushola. Kebetulan sudah masuk dhuhur. Nak Evans nggak keberatan, kan?" Ungkapnya. "Nggak sama sekali , Tante. Aku pasti jagain Vania." Tukasnya. Evans memang benar-benar serius ingin menjaga pujaan hatinya. Bukan hanya hari ini saja, tapi untuk selamanya. Wulandari melangkah keluar menuju Mushola terdekat. Esa masih juga tertidur di kursi tunggu. Terlihat nyenyak sekali. Bisa-bisanya Esa tidur di tempat umum, seperti di rumah sendiri. Hahaha Evans menatap Vania sendu. Tak tega melihat Vania terbaring sakit, selemah ini. Batin Evans tersiksa melihat pemandangan yang tak dia inginkan, ini. Vania masih juga belum membuka kedua matanya. Ia merasa kan, kehadiran Evans di sisinya. Namun, entah kenapa dia merasa begitu lemah. Dengan sekuat tenaga ia mengumpulkan kekuatan, hanya untuk membuka kedua matanya. Dengan berat, perlahan kedua mata Vania akhirnya berhasil terbuka. Ia melihat atap yang berbeda dengan kamarnya sendiri. Ia tak ingat, apa yang sudah terjadi. Dia hanya ingat kepalanya yang tiba-tiba pusing. Dan seketika penglihatannya berubah gelap. "Vania, kamu sudah bangun," ungkap Evans tersenyim senang. Vania menoleh ke pusat suara di samping kanannya. "Evans," sahut Vania dengan nada lirih. Perlahan energi Vania mulai pulih, seiring infus yang berjalan masuk ke tubuh Vania, dan bereaksi. Evans tetap mengenggap tangan Vania, mengecup punggung tangan Vania yang terlihat putih bersih. "Kamu cepat sembuh ya, aku nggak bisa melihatmu seperti ini," gumam Evans terlihat rapuh. Vania tersenyum meski wajahnya masih terlihat pucat. "Apa kamu mengkhawatirkan aku?" Tanya Vania dengan polosnya. "Aku nggak apa-apa kok. Sekarang aku juga udah kuat," imbuhnya. Perlahan, Vania berusaha bangun untuk mendudukkan diri. Dengan sigap Evans segera membantu Vania, dan menyandarkannya dengan beralaskan bantal di belakang Vania. "Terima kasih," ucap Vania lembut. Ingin rasanya setiap waktu di rawat oleh Evans seperti ini. Tapi nggak mungkin! Pikir Vania sesaat. Evans mengecup lembut pipi kanan Vania. "Kamu membuatku serasa mau mati. Cepatlah sembuh, aku akan menjagamu di sini," tuturnya. Evans membuat jantung Vania berdebar-debar. Ia tau Evans mencintai dirinya. Tapi masih saja terasa seperti kejutan untuknya. Vania merasa nyaman bersama Evans. Ia juga melihat, tangannya yang masih lemah di genggam olehnya sedari tadi. Ia keinginannya untuk menghindari Evans. Ia ingin menikmati momen kebersamaan ini, tanpa ada perasaan bersalah atas perasaannya sendiri. Perasaan yang sebenarnya, ia juga mencintai seorang Evans Haidar. Vania tersenyum manis menatap Evans. "Terima kasih, kamu udah peduli dan perhatian ke aku. Maafkan aku yang selama ini mungkin, pernah membuatmu kesal atau pun kecewa." "Jangan bicara seperti itu, aku nggak pernah merasa seperti itu. Yang aku tau, aku nggak pernah bisa marah sedikit pun, kepadamu. Ya padahal kamu sering, dengan sengaja memancing emosiku." Evans tersenyum lepas. Pun dengan Vania, ia juga mengingat akan hal itu. Vania melihat air mineral di atas nakas. "Apa kamu ingin minum?" Evans menuangkan air mineral itu ke dalam gelas yang masih kosong. Lalu kemudian, mengarahkan gelas yang sudah terisi air itu, ke bibir Vania. Vania pun meminumnya. "Kamu mau makan?" Tanya Evans lagi. Ia melihat semangkuk bubur yang masih hangat di atas nakas. Vania mengangguk pelan. Evans mengambil bubur di wadah mangkuk berwarna putih itu. Lalu kemudian, menyuapi Vania. "Sini-in buburnya, aku bisa makan sendiri kok," pinta Vania yang tidak ingin merepotkan Evans lagi. "Sudahlah, biar aku suapin. Jangan bantah, aku kan atasan kamu!" Tutur Evans dengan serius, tapi sebenarnya hanya bercanda saja. Vania tersenyum kecut, "Baiklah," ia nurut saja. "Ya Tuhan, ingin rasanya seperti ini terus. Di perhatikan, di sayang, di manja olehnya. Jika sakitku membuat Evans selalu disisiku. Lebih baik aku sakit terus saja." Batin Vania. Tiba-tiba saja Vania merasakan nyeri tepat di jarum infus yang melekat di tangannya. Vania sedikit meringis, sakit. "Kenapa Van?" Evans ikut panik melihat Vania. "Apa ada yang sakit?" Imbuhnya, kemudian ia meletakkan mangkuk isi bubur, yang tinggal sedikit. "Nggak apa-apa kok. Hanya merasa sedikit nyeri," jawab Vania tersenyum agar Evans tak panik lagi. "Serius!" "Ya, aku serius" Evans menghela napas lega. Terlihat Wulandari memasuki ruangan, di ikuti dengan Esa berjalan di belakangnya. Dengan cepat Vania melepas tangannya, dari genggaman Evans. "Sayang, kamu udah bangun?" Wulandari tersenyum, ia juga melihat mangkuk yang berisi bubur yang ia beli di depan rumah sakit, terlihat sudah habis di makan. Meski hanya tinggal beberapa sendok saja. Wulandari merasa tenang, Evans telah merawat putrinya selama ia pergi tadi. "Terimakasih nak Evans. Sudah mau menjaga Vania, selama tante tinggal tadi. Maaf, tante sudah merepotkan, nak Evans." "Sama-sama tante. Nggak merasa repot tante, justru sebaliknya. Saya melakukan dengan senang hati," ujar Evans membalas senyuman Wulandari. Esa tersenyum tenang melihat sahabatnya, yang sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya, saat dia masuk. Ia juga merasa bangga kepada Evans, yang dengan tulus merawat sahabatnya. Tanpa rasa cemburu sedikit pun, terhadap mereka. Kok bisa sih! Harusnya ya, Esa cemburu kan,ya! "Gimana keadaan kamu Van? Udah lebih baik," sapa Esa menunjukkan kepeduliannya. "Udah baikan, Sa. Thanks ya, udah repot-repot datang kesini. Harusnya kan kalian berada di restoran, sekarang. Nah ini, malah nungguin aku di rumah sakit." Vania merasa nggak enak, sudah membuat mereka cemas dan meninggalkan pekerjaannya. Tiba-tiba benda pipih yang tersimpan di saku Evans bergetar beberapa kali. Evans segera melihat benda pipihnya. Sebuah panggilan masuk dari Meisha. Namun, Evans menolak untuk menjawabnya. *** "Dih! Malah nggak di jawab! Sebenarnya, Evans kemana sih! Dua pelayan rusuh itu juga nggak kelihatan, batang, hidungnya. Jadi curiga! Jangan-jangan mereka lagi jalan bersama saat ini," tebak Meisha menerka keberadaan Evans dan kedua pelayan yang menurutnya perusuh hubungannya dengan, Evans. Nampaknya Meisha sudah lama menunggu Evans di restoran. Namun, tak juga ia temui Evans di sana. Membuatnya berpikiran buruk. Pikiran buruk yang di tujukan oleh Vania dan Esa. "Bisa-bisanya, Evans kena rayuan dua pelayan rusuh itu! Nggak mungkin Evans terpengaruh bujuk rayu mereka gitu aja. Mereka bukan level seorang Evans Haidar. Ada yang nggak beres! Atau jangan-jangan mereka main pelet. Nggak sportif banget!" Meisha ngedumel sendirian di meja pengunjung. Ada milk shake dan handbag milik Meisha, di atas meja. Meisha masih sibuk dengan benda pipihnya. Entah, apa yang sedang ia lakukan. Kedua ibu jarinya sibuk menyentuh, menggeser layar benda pipih miliknya. Ia terlalu fokus pada benda pipihnya. Hingga tak menyadari seorang cowok duduk berhadapan dengannya. "Serius amat, Sha!" Tegur cowok itu, hingga membuat Meisha terkaget. Meisha terperanjak. Hampir-hampir benda pipih miliknya mau jatuh. Tenang, masih hampir. Belum jatuh beneran. Kalau pun jatuh beneran juga nggak masalah. Mesha, kan anak sultan! "Dion! Ih, kamu ngagetin aja! Jantungku rasanya mau copot, tau!" Meisha mengomel sambil mengelus dadanya. "Maaf-maaf! Lagian serius banget kamu. Lagi pula salah aku di mana ya, kok aku minta maaf sama kamu. Kan aku cuma negur!" Dion mengambil milk shake di depan Meisha, lalu kemudian menyesapnya. "Eh, eh, eh main srobot aja. Itu kan milk shakeku! Kalau mau pesan sendiri sana!" Gertak Meisha tek terima milk shake yang belum di minumnya, di minum Dion. "Ya elah. Iya, iya ini aku minum, aku pesenin kamu minuman yang baru." Ujarnya kemudian memanggil pelayan restoran. Memesan minuman yang sama untuk Meisha. "By the way. Dimana Evans, kok nggak gabung sama kamu disini!" Dion juga nggak menemukan keberadaan Esa di sana. Namun, ia tak menanyakan kepada Meisha. Meisha berdecak, raut wajahnya terlihat malas. "Dari tadi aku juga belum ketemu. Dia nggak ada di sini! Aku hubungin handphonenya juga nggak di angkat," sungut Meisha kesal! Bukan hanya hari ini. Biasanya pun Evans juga malas merespon panggilan atau pun chat dari Meisha. Meisha terlalu mengatur dan banyak maunya. Siapa juga yang mau di atur-atur olehnya. Pacar bukan! Adek juga bukan! Istri apalagi! Tapi maunya menang sendiri. Memang Meisha sudah kaya sejak lahir. Dia merupakan pewaris tunggal harta kekayaan keluarga Sinegar. Apapun yang Meisha mau, selalu di dapatkannya dengan mudah. Namun tidak dengan cintanya. Ia harus jatuh bangun mengejar cinta Evans seperti ini. "Apa mungkin Evans sakit!" "Nggak! Aku tadi juga udah hubungin om Jaya. Katanya Evans udah berangkat ke sini sejak pagi. Coba kamu deh yang telfon Evans. Siapa tau di angkat," ucap Meisha menyuruh Dion. Ya, kan! Meisha suka ngatur-ngatur orang. Istri orang aja di atur sama dia. Kan Dion udah berstatus jadi suami Ketty. "Okke! Aku coba dulu," jawab Dion. Terlihat Dion mengeluarkan benda pipih itu, dari sakunya. Ibu jarinya mencari nama Evans di daftar kontaknya. Lalu kemudian menyentuh warna hijau untuk mendial nomor Evans. Mengeraskan nada speaker agar Meisha bisa ikut mendengar. "Nomor yang anda hubungi sedang sibuk. Silahkan tinggalkan pesan atau mencoba menghubungi beberapa saat lagi." Meisha kesal mendapati jawaban dari operator. Dion mengembalikan lagi benda pipihnya ke layar utama. Sejurus kemudian meletakkannya di atas meja. "Kemana sih sebenarnya! Kan kesel aku jadinya." Rengek Meisha dengan mata berkaca-kaca. Cengeng! "Sabar aja dulu. Bisa jadi, dia lagi nyetir mobil. Nggak denger kalau ada yang telfon," tutur Dion, kembali menyesap milk shake di depannya. Seumur-umur baru kali ini, dia minum milk shake. Kalau nggak karna kehausan, trus nyrobot minuman Meisha. Mungkin Dion akan pesan Cappucino Latte. "Dari pagi kok di jalan. Aku hubungi dia sejak pagi nggak di angkat. Ini malah udah siang. Tapi dia juga belum kembali ke restoran," jawab Meisha dengan gusar. Benar saja apa yang di katakan Dion. Evans masih sibuk mengemudi mobil, saat dia telepon. Terlihat dari luar yang hanya berbatas kaca bening. Mobil yang Evans kemudi baru datang dan terparkir di depan. "Nah! Tu dia orangnya baru datang," telunjuk Dion menunjuk ke arah luar restoran yang bersekat kaca bening. "Ih! Kok semobil sama Esa!" Sahut Meisha kaget begitu melihat Esa turun dari mobil Evans. "Dasar pelayan ganjen!" Selorohnya, ia menahan emosi yang menguap di kepalanya. "Sabar, sabar. Kita tanya dulu baik-baik, jangan main emosi. Lagi pula kamu juga bukan siapa-siapanya Evans. Kalau kamu main marah, bisa-bisa kamu yang akan malu sendiri," tutur Dion panjang lebar begitu melihat tangan Meisha yang mengepal, menahan emosi. "Hey! Vans, sini." Tangan Dion melambai ke arah Evans begitu melihatnya masuk. Evans menghampiri, dimana Dion dan Meisha duduk. "Dari mana aja loe? Baru keliatan!" Tanya Dion basa basi. "Semobil sama Esa, pula!" Imbuhnya. "Kepo kamu ya! Apa jangan-jangan cemburu ya, liat aku jalan sama Esa," timpalnya, Dion jadi salah tingkah. Meisha semakin kesal mendengar candaan Evans. Namun, ia hanya diam menahan sejuta pertanyaan yang ingin ia tanyakan kepada Evans. "Nggak lah! Aku udah nikah. Ngapain juga cemburu," elak Dion dengan kedua mata yang menyorot Esa dari kejauhan. "Ngaku aja, kamu nggak bisa move on," sindir Evans, ia mendudukkan diri bergabung dengan mereka. "Dari mana Vans? Berpuluh-puluh kali aku menghubungi kamu. Berpuluh-puluh kali pula kau tak menjawab telponku. Bahkan sejak pagi sampai siang! Nggak kasian apa sama aku. Mana tiba-tiba datang sama pelayan kamu! Tambah kesel aku lihatnya! Sebal!" Protes Meisha, terlihat dari kedua matanya yang mulai berkaca-kaca setelah mengeluarkan uneg-unegnya. "Nggak usah pakai drama dong, Sha. Pakai mau nangis segala. Tuh mata kamu mulai hitam," cetus Dion terkekeh. Evans pun terkekeh mendengar Dion. "Hah! Hitam! Mana, mana ya ampun!" Meisha terlihat syok mendengar ucapan Dion. Ia segera membuka handbag nya lalu, mengambil benda pipihnya. Ia melihat gambar dirinya di kamera depan. Emosinya semakin tersulut setelah ia sadar, Dion telah membual. "Dion! Kau!" Kedua mata Meisha melotot. "Tega banget sih sama aku!" keluh Meisha merengek. Dion dan Evans tambah terkekeh-kekeh. "Sialan kamu! Dasar tukang bual! Omong kosong! Teman macam apa, hah!" Imbuh Meisha mengumpat Dion habis-habisan. Meisha pun tak sadar, dengan umpatan-umpatan yang ia lontarkan. Yang Meisha tau, ia hanya ingin meluapkan emosinya. Tapi bukannya Dion takut. Malah terkekeh seakan Meisha sedang menghibur dirinya. Evans pula, ikut-ikutan terkekeh. Meisha memutuskan untuk nangis saja. Meisha menangis seperti anak kecil yang minta di belikan permen lollipop. Aduh! Niat hati ingin mencuri simpati, malah salah tingkah sendiri. "Udah Sha, perutku udah mulai sakit ketawa terus," ucap Dion sambil memegang perutnya. Evans menggeleng geleng kepala, masih menahan tawa. "Aku tu nangis beneran. Malah kamu ketawain." Tangis Meisha semakin melengking. Membuat seluruh pengunjung dan pelayan restoran memperhatikannya. "Udah-udah, nggak enak dilihatin semua orang tuh!" Tutur Evans. Meisha berhenti menangis setelah Evans yang meminta. Ia melihat ke seluruh penjuru restoran. Benar saja! Ia sedang menjadi pusat perhatian semua orang. Malu sendiri kan jadinya! Sungguh! Meisha mengusap pipinya yang basah, menggunakan tisu. Lagi pula, sikap Meisha Lebay alias terlalu berlebihan. Dion cuma bercanda gitu aja, dia nangisnya kayak di tinggal nikah pacarnya aja! Lebay sekali! "Tapi..." "Minum dulu," Baru Meisha mau bicara, Evans menyuruhnya minum. Lucunya, Meisha nurut saja. Ia menyesap milk shakenya yang masih setengah. "Tapi kan aku kira Dion serius. Kan nggak lucu! Wajahku yang cantik ini, tiba-tiba ada noda warna hitamnya," protes Meisha membela diri. Noda hitam apa? Emangnya tompel! Nggak mungkin juga tompel muncul dengan tiba-tiba. Biasanya kan itu bawaan dari lahir, atau bisa juga di sebut tanda lahir. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD