Bab 47

1935 Words
Warna langit yang tadinya cerah berwarna biru, di sertai cahaya matahari yang menerangi. Kini, terlihat mulai pudar dan gelap. Pertanda siang telah berganti malam. Ketika malam di hadiri bulan, serta banyaknya bintang yang bertaburan. Terlihat begitu indah di atas langit. Vania tengah berdiri di dalam kamarnya. Netranya menerawang keatas, menembus kaca bening jendela kamarnya. Ia tersenyum memandangi indahnya langit malam ini. Terlihat cerah tanpa mendung. Ia dapat melihat bulan dan taburan bintang dengan sangat jelas. Membuat hati dan perasaannya, terasa lebih tenang. Hari ini. Kebahagiaan Vania bertambah dengan kehadiran Aditya. Membuat harinya, selalu di hiasi dengan senyum. Ya, Aditya selalu menghiburnya setiap saat. Membuat lucu lucuan merupakan hal yang mudah bagi Aditya. Vania menarik napas panjang. Menikmati setiap oksigen yang ia hirup saat ini, dengan mata terpejam. Lalu mengeluarkannya secara perlahan. Benda pipihnya, bergetar beberapa kali di atas nakas. Membuat ketenangan Vania terusik. Vania mendudukkan diri di tepi tempat tidurnya. Melihat siapa yang baru menghubunginya. Beberapa pesan masuk dari Evans dan Aditya. Tentu yang paling banyak, adalah pesan dari Evans. Sebab, sedari tadi pagi, Evans menghubunginya. Akan tetapi, Vania baru sempat memegang benda pipihnya. "Kenapa lagi dia? Apa nggak salah lihat, aku! 30 panggilan tak terjawab. Hanya dari Evans. Kenapa nggak di genapi 50 atau 100 panggilan sekalian. Nanggung banget ini! Pesannya juga gitu! Banyak kata yang di ulang. Trus, apa iya harus aku bales satu per satu. Ah, nggak lah. Palingan nanti juga telpon lagi," gerutu Vania heran melihat banyaknya pesan masuk dan panggilan tak terjawab dari Evans. Bukannya membalas pesan Evans. Vania malah membalas pesan dari Aditya yang terhitung baru masuk di benda pipihnya. Saat kedua ibu jari Vania sibuk mengetik. Tiba-tiba getaran panggilan masuk, mengagetkannya. "Dih, bikin kaget aja. Apa yang ku bilang, pasti dia nelpon lagi." Lalu kemudian, Vania menerima panggilan itu. "Hall.." "Hallo Vania. Kemana aja kamu dari pagi? Aku telpon nggak di angkat. Aku chat nggak di bales. Giliran kamu online, hanya kamu read aja, pesanku. Kenapa nggak di bales? Apa nggak tau. Aku lagi nunggu balesan kamu!" Timbrung suara Evans memekik di telinga Vania. Vania sedikit menjauhkan benda pipihnya dari telinganya. Evans mengeluarkan unek-uneknya lewat saluran telpon, dengan nada jelas. Keras seperti orang emosi. "Sorry, sorry, aku baru pegang ponsel. Sehari tadi, aku terlalu sibuk. Memangnya ada apa?" Tanya Vania tanpa rasa bersalah. "Lupakan. Tadinya aku mau kerumahmu, tapi aku harus pergi ke Bandung. Aku menginap semalam disini. Masih ada urusan yang harus aku selesaikan besok. Hallo, Vania, hallo!" Evans memastikan Vania masih mendengarnya. "Iya, apa?" "Kamu belum tidur? Pasti lagi mikirin aku ya. Seharian kita nggak ketemu, di tambah besok. Tidak perlu di pikirkan, tenang saja. Setelah pekerjaanku selesai besok. Aku akan kerumahmu." Padahal Evans sendiri yang tidak bisa tidur. Sebab memikirkan Vania yang tak kunjung memberinya kabar. Tapi malah menuduh Vania yang tidak bisa tidur memikirkannya. Bisa saja Evans. "Aku memang belum tidur. Tapi nggak lagi mikirin kamu. Jangan ke-GR-an deh! Esa tuh! Nggak bisa tidur mikirin kamu," jawab Vania ketus. "Apa! Esa? Kenapa Esa. Aku lagi ngomong sama kamu. Nggak usah sebut yang lain. Pokoknya, tunggu aja besok. Aku akan datang ke rumahmu. Oke! Cepatlah tidur, sudah malam. Mimpiin aku, ya." Sambungan telpon tiba-tiba terputus. Vania menghela napas, lalu kemudian meletakkan benda pipihnya kembali di atas nakas. Malam memang semakin larut. Perlahan Vania merebahkan tubuhnya di atas kasurnya yang empuk. Menarik selimut. Lalu kemudian memejamkan netranya, larut dalam dalam buaian mimpi. *** Pagi ini indah. Langit masih tampak kelabu. Udara sekitar terasa dingin menyentuh kulit. Aditya tengah bersiap, mengendarai motornya menuju rumah Vania. Tak jauh dari rumahnya. Setelah melewati jarak 1 kilometer, ia sampai di halaman rumah Vania. Masih sangat terlalu pagi. Terlihat Wulandari tengah menyapu teras depan rumahnya. "Adit. Pagi-pagi begini udah sampai sini. Apa mau ngajak Vania joging? Tapi kok rapi banget," ucap Wulandari, begitu melihat Aditya, turun dari motor lalu menghampirinya. "Nggak, Tante. Vania udah bangun belum, Tan?" tanya Aditya tersenyum penuh arti. "Belum. Sepertinya, Vania nonton drakor lagi semalam. Makanya belum bangun." Wulandari sudah hafal. Jika putrinya bangun agak kesiangan. Pasti malamnya nonton drakor, sampai mewek. "Adit, boleh masuk nggak, Tante. Biar aku bangunin Vania. Masak perempuan jam segini belum bangun. Nggak malu sama Aditya. Jam segini udah mandi, dandan rapi pula." Ah! Itu hanya alasan Aditya saja. Bukannya dia memang sengaja, mandi pagi untuk segera menemui Vania. Ia masih rindu. Wulandari tersenyum, mendengar Aditya yang terkesan lucu. "Boleh. Tapi, kalau Vania nanti marah gimana? Karena kamu gangguin dia," jawab Wulandari terlihat santai. "Nggak akan, Tante. Vania nggak akan marah. Tante, tenang saja. Percayakan semuanya pada Aditya," ucap Aditya dengan yakin. "Terserah kamu saja," sahut Wulandari. Aditya tersenyum senang. Apa yang akan dia lakukan? Sesampainya Aditya di depan pintu kamar Vania. Berkali-kali. Ia mengetuk pintu itu. Namun, tak kunjung ada jawaban dari dalam kamar. "Ini, anak mimpi apa sih. Kok ya nggak bangun juga aku gangguin," gerutu Aditya heran di depan pintu. "Gimana? Udah bangun," tanya Wulandari yang baru masuk. Berjalan melewati Aditya menuju dapur. Aditya menghela napas, lalu menjawab. "Belum, Tante. Mungkin masih keenakan mimpiin Adit," sahut Aditya. Kemudian, ia memutuskan untuk menunggu di dapur bersama Wulandari. Sampai Vania bangun. "Ya begitulah, Vania. Kalau udah nonton drakor sampai larut malam," ucap Wulandari, sambil mencuci peralatan dapur yang baru ia gunakan memasak, di wastafel. Aditya menduduk diri, netranya memandang meja makan yang masih kosong dan terlihat bersih. "Tante," panggil Aditya. "Ya" Wulandari menoleh sebentar kearah Aditya, lalu kembali fokus mencuci piring lagi. "Tante, kenal Evans?" "Kenal. Emang kenapa?" Jawab Wulandari seraya mengangguk. "Ganteng mana sama aku?" Aditya serius tanya. Wulandari tersenyum, lalu menjawab. "Sama gantengnya, sama kamu. Emangnya kenapa, Dit?" "Dia udah pernah main kesini, belum?" Aditya semakin penasaran dengan Evans. Ada nada cemburu yang tersirat dari lisannya. "Sering. Evans, sering kesini. Hanya kemarin saja, seingat Tante. Dia nggak datang ke sini." Wulandari ingat betul, lalu kemudian ia mengusap tangannya menggunakan lap kering. Terlihat, ia selesai membersihkan peraratan masaknya. "Sering! Itu artinya, ada kedekatan di antara mereka. Sial! Aku punya saingan berat. Bagaimana tidak. Dia kaya, punya banyak duit. Sementara aku, baru pulang kuliah dari kuar negri. Itu pun karena dapat beasiswa aku kuliah disana. Masih mau nyari kerjaan, harus secepatnya!" Batin Aditya nggak mau kalah saing dengan Evans. "Adit!" ucap Vania terkejut mendapati Aditya, sudah duduk manis di ruang makan tempatnya. Aditya terhenyak kaget. Kedua netranya menoleh kearah Vania yang terlihat baru bangun tidur. "Kamu udah bangun! Semalem mimpiin aku, kan?" Tanya Aditya memastikan Vania memimpikannya. Ada-ada saja, dia. "Ih, mana ada orang rencanain mimpinya sendiri? Aneh, kamu, Dit!" Vania mengeryitkan dahinya. Lalu kemudian, ia ikut duduk di kursi berhadapan dengan Aditya. Walau masih sedikit ngantuk. "Ya adalah! Coba aja kamu mikirin aku terus , sebelum tidur. Pastinya nanti akan sampai terbawa mimpi. Kalau masih nggak percaya, coba aja. Tapi mikirin aku ya, jangan yang lain." Aditya tertawa sadar akan perkataannya sendiri. Memaksa Vania untuk memikirkan dirinya, sebelum tidur. "Nggak, ah! Bukannya mimpi indah, yang ada malah mimpi buruk," sahut Vania ketus. "Kok mimpi buruk. Ya, nice dream lah! Kan mimpiin aku. Bukan setan," sahut Aditya bersikeras. "Bagaimana tidak! Setiap kali aja kita debat begini. Apalagi sampai terbawa mimpi. Kalau bukan mimpi buruk, lantas mimpi apa?" protes Vania tersenyum sinis. "Ya, jangan berdebat dong. Kita mikirnya, tentang kita yang indah-indah aja. Siapa tau, kita menyatu dalam mimpi." Wulandari yang hanya tersenyum, melihat mereka berdebat. Saat seperti inilah, yang di tunggu Wulandari. Ketika Vania dan Aditya sudah bertemu, pasti suasana rumah menjadi ramai. "Sudah-sudah, nggak usah berdebat lagi. Mendingan kita sarapan bareng. Tante tadi, udah masak nasi goreng special, extra pedas kesukaan kalian." "Woah, enak tu Tante. Aku jadi lapar nih," sahut Aditya, perutnya mulai keroncongan meminta jatahnya. Vania tersenyum menanggapi mamanya. "Vania, tolong bantu Mama bikin kopi atau teh untuk Aditya. Juga untuk kamu," perintah Wulandari kepada gadis cantiknya. "Baik, Ma," jawab Vania mengannguk seraya bersidi membuat 3 gelas teh hangat. Untuk Mamanya, Aditya dan pastinya juga untuk dirinya sendiri. Sejurus kemudian, mereka sarapan bersama. Setelahnya, Aditya santai di ruang keluarga santai sambil menonton, acara televisi. Sementara Vania, ia bersiap berdandan cantik. Mengingat mereka sudah janji, untuk jalan bersama. Tak lama kemudian, Esa pun datang di rumah Vania. Dengan semangat, ia memasuki rumah Vania. Pintu ya terbuka sedari tadi. Memang Vania sengaja membukanya, agar Esa langsung bisa masuk. Tanpa harus membukakan pintu dulu untuknya. "Hay, Dit. Kamu udah sampai di sini rupanya," tanya Esa begitu melihat Aditya, duduk menonton televosi. "Iya," jawab Aditya dengan santainya. "Vania, mana?" "Ada dikamarnya, sedang siap-siap." Esa pun mendudukkan diri di samping Aditya di ruang keluarga. Tak lama kemudian, Vania keluar kamar dengan penampilan simple kesukaannya. Lengkap dengan sling bag mini berwarna dark brown, miliknya. Aditya pun terpukau, melihat Vania. Selalu berhasil tampil cantik paripurna. "Vania, apa benar ini kamu. Soo beutiful, terasa lengkap hidup ini, bersama denganmu," ungkap Aditya kagum. "Kamu ini, Dit. Bisa aja! Kayak baru liat bidadari turun dari kahyangan aja," sahut Vania menambahi kata-kata dari Aditya, agar lebih lengkap. "Apa kamu baru sadar kalau aku cantik. Kemana aja kamu, kemaren?" Sambung Vania, lalu kemudian mendudukkan diri di samping Esa. Esa tersenyum, melihat mereka berdebat. Bukannya baru, ia melihat mereka seperti itu. Tapi tetep saja, Esa merasa lucu. "Udah dong, hayuk kita jalan sekarang," ajak Esa kemudian. "Hayuk," sahut Vania semangat. Sejurus kemudian, Esa dan Vania berdiri. Berjalan keluar, di ikuti dengan Aditya di belakang mereka. "Mama, Vania berangkat duluan," teriak Vania berpamitan, suara Vania terdengar oleh Wulandari yang masih di dapur. "Iya , sayang. Hati-hati dijalan," jawab Wulandari, ia mulai terlihat sibuk membuat adonan kue. Vania di bonceng Esa menggunakan, motornya. Sedangkan, Aditya mengendarai motornya sendiri. Ia mengendarai motornya, di belakang Vania dan Esa. Kemana pun, Vania dan Esa pergi, Aditya mengikutinya. Sesampainya di sebuah tempat wahana bermain. Mereka pun segera memarkirkan motornya. Lalu kemudian masuk ke dalam wahana bermain itu. "Kalian berani nggak, naik itu!" Telunjuk Aditya menunjuk sebuah permainan, lumayan ekstream yang Aditya pun, lupa dengan apa nama permainan itu. "Nggak ah, takut. Bisa mabok aku ntar," sahut Esa seketika melihat permainan yang di maksit Aditya. Sedangkan, Vania hanya menggeleng. Tanda ia nggak berani. "Trus, kalin mau naik permainan yang mana?" Tanya Aditya heran. "Nggak tau" ucap Esa dan Vania menjawab dengan bersamaaan. "Kita jalan-jalan aja dulu, disana ada taman yang bagus. Kita selfie-selfie aja dulu. Santai," imbuh Vania kemudian, berjalan bergandengan dengan Esa. Aditya pun, berjalan mengikuti di belakang mereka. Vania dan Esa terlihat sedang asyik selfie, di taman hiburan itu. Dengan diam-diam, Aditya mengambil gambar foto Vania, dari kamera belakang benda pipihnya. *** "Kemana lagi, Vania. Lagi dan lagi, pesanku nggak di buka. Di hubungi juga nggak di angkat. Sedang apa dia? Oh, ya, apa dia sedang bersama Esa." Lalu kemudian, Evans mencoba menghubungi Esa saat itu juga. Hasilnya, sama saja. Telponnya nggak di angkat oleh Esa. Evans kini terlihat sangat kesal. Merasa di abaikan oleh mereka. Evans mendengus kasar. Lalu mencoba menghubungi Vania sekali lagi. Namun tak ada jawaban lagi. 'Kemana mereka! Esa pun biasanya kalau aku telpon selalu di angkat. Tapi kali ini, dia juga nggak angkat telponku. Apa merwka sesibuk itu?' Batin Evans memikirkan Vania dan Esa yang sulit di hubungi. Saat ini, Evans tengah berada di restoran barunya. Suasana pembukaan di hari kedua, restoran itu sangat ramai pengunjung. Di tambah dengan di adakannya, promo makan siang gratis. Dalam dua hari kedepan. Banyaknya pengunjung sampai meluber, ada yang tak kebagian tempat duduk. Ada juga yang memutuskan, untuk membungkus makan siang mereka. Sebab tak ada tempat duduk lagi. Semua di luar ekspetasi Evans. Ternyata respon masyarakat, melebihi apa yang dia perkirakan. Tak sungkan, Evans menyambut para pengunjung restoran barunya, dengan ramah. Seperti halnya, setiap restirannya yang ada di Jakarta ramai pengunjung. Evans selalu turun tangan, menyambut dan melayani para pengunjung. Sebagian besar merupakan langganannya. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD