Bab 48

1050 Words
Semua tidak sesuai dengan rencana Evans. Rencananya, ia akan kembali ke Jakarta siang ini. Namun ternyata, ia harus menundanya dan kembali ke sana malam ini. Lelah, terlihat jelas di wajah tampan Evans. Setelah seharian turun tangan, menyambut para pengunjung di restoran barunya. Langit sudah mulai tampak gelap. Ia memutuskan untuk segera kembali ke Jakarta. "Pak Danu, saya akan kembali ke Jakarta. Saya percayakan semuanya kepada, anda. Jika ada apa-apa, langsung saja hubungi saya," tutur Evans kepada salah satu staff kepercayaannya. "Baik, Tuan. Tapi, apa tidak sebaiknya, Tuan menginap lagi disini. Mengingat hari sudah mulai malam. Sepertinya pun, Tuan terlihat lelah. Setelah seharian sibuk, menyambut para pengunjung yang datang ke restoran," jawab pak Danu menyarankan Evans, agar menginap lagi malam ini. "Nggak apa-apa, Pak. Saya sudah terbiasa pulang malam." Evans tersenyum tenang, meski sebenarnya dia memang sangat lelah. "Tapi Tuan. Perjalanan dari Jakarta ke Bandung, lumayan jauh." Belum selesai pak Danu berbicara, Evans memotong pembicaraannya. "Nggak apa, Pak. Tenang saja. Saya akan berhati-hati. Baiklah, saya berangkat sekarang, ya." Evans lalu meninggalkan pak Danu, setelah memastikan staff kepercayaannya itu mengangguk. Pak Danu menghela nafasnya. Rasa tengah menggerogoti batinnya. "Tuan Evans. Terlihat sekali, dia tengah lelah. Tapi tetap saja memaksakan dirinya untuk kembali ke Jakarta. Semoga, Tuhan selalu melindunginya selamat sampai tujuan," batinnya. Meski pun, belum lama saling mengenal. Masih dalam hitungan hari. Pak Danu menganggap Evans, layaknya anak sendiri. Evans juga selalu bersikap sopan kepadanya. Tak pernah sekali pun, Evans menyombongkan dirinya sebagai bos besar. Evans melajukan mobilnya dengan kecepatan, di atas rata-rata. Netranya memandang jauh kedepan, konsentrasi penuh. Sesekali ia membunyikan klakson mobilnya. Dengan cepat mobilnya melaju mendahului pengendara lain, yang berada di depannya. Terbesit di pikirannya, ingin segera sampai di rumah Vania. Evans melihat jam tangan yang melingkar sempurna, di pergelangan tangan kirinya, terlihat samar. Namun ia masih bisa melihatnya. Sudah pukul 9 malam. Itu artinya, sudah tak sepatutnya ia bertamu ke rumah orang. Akhirnya, Evans memutuskan untuk pulang kerumah. Menunda bertemu dengan Vania, sampai besok pagi. *** Masih terlalu pagi. Lagi-lagi Aditya, sudah berada di depan rumah Vania. Dengan berdandan rapi, ia memarkirkan motornya di samping teras rumah Vania. Pintu rumah Vania masih tertutup rapat. Sepertinya, belum di buka setelah di tutup semalaman. Aditya berdiri di depan pintu, belum juga Aditya mengetuk pintu itu. Tiba-tiba pintu itu terbuka, dan semakin lebar. Terlihat dari dalam, semakin jelas Wulandari yang baru membuka pintu. "Astaga! Adit! Tante sampai kaget loh. Sudah lama kamu berdiri di sini?" Tanya Wulandari terlihat kaget, melihat Aditya sudah di depan pintu rumahnya. Aditya tersenyum tenang, tak sekaget Wulandari. "Baru kok, Tante. Vania nya udah bangun, Tan?" tanya Aditya kedua netranya melihat ke arah dalam rumah. "Sudah. Tapi masih di dalam kamar. Tadi bilangnya, siap-siap untuk kerja hari ini," tutur Wulandari terlihat di tangan nya membawa sapu. Hendak melanjutkan acara bersih-bersihnya. "Kamu tunggu aja, bentar lagi juga keluar," sambungnya. "Baik, Tante." Aditya pun masuk dan menunggu Vania di ruang tamu. Tak lama kemudian, Vania keluar dari dalam kamarnya. Ia terlihat cantik dan tampil lebih segar. Dengan cepat, Vania pun melangkah ke depan hendak melewati ruang tamu. "Mau kemana, Van?" Tanya Aditya menghentikan langkah Vania, yang tidak tau kalau Aditya tengah menunggunya. "Loh, Adit! Sejak kapan kamu duduk di situ?" Tanya Vania begitu menyadari keberadaan Aditya. "Baru. Kamu mau kemana? Rapi bener." Aditya berpura-pura nggak tau, nyatanya dia tau. "Ya, kerjalah! Udah 3 hari aku nggak masuk. Hari ini aku harus mulai kerja lagi," tutur Vania seraya mengeluarkan benda pipihnya dari dalam ranselnya. "Kalau begitu, ayo," ajak Aditya berdiri lalu mendekati Vania, yang terlihat sibuk dengan benda pipihnya. "Ayo? Kemana?" Sahut Vania belum paham. "Aku antar kamu ke tempat kerja. Nggak usah panggil Mang Umang. Mulai hari ini, aku yang akan mengantar dan menjemputmu, setiap hari," ucap Aditya, sqmbil mengambil benda pipih milik Vania, lalu memasukkannya ke dalam ransel yang tengah di gendong Vania. Vania melihat Aditya, mendengarkan apa yang di katakannya. "Kamu serius? Akan mengantar jemputku setiap hari?" Aditya mengangguk, lalu menjawab. "Serius. Aku akan mengantar jemput kamu setiap hari. Tentunya, kamu nggak boleh nolak. Ini juga rejeki. Ayo, kita berangkat sekarang." Tangan Aditya mengenggam pergelangan tangan Vania, lalu ia berjalan ke luar rumah. Vania pun, nurut mengikuti langkah Aditya. Terlihat Wulandari, tengah sibuk menyiram tanaman hiasnya, yang berjejer rapi di samping teras. Beberapa tanaman hias, juga berjejer rapi di pekarangan rumahnya yang tidak begitu luas. "Bentar, aku pamit Mamaku dulu." Perlahan Aditya melepas genggaman tangannya. "Ma, Vania berangkat dulu ya," pamit Vania sambil mencium punggung tangan kanan mamanya. "Mang Ujang mana? Kok belum dateng." "Vania di anter Adit, Ma," ucap Vania seraya mencium pipi sebelah kanan dan kiri mamnya. "Iya, Tante. Mulai sekarang, Aditya yang akan mengantar jemput Vania. Jadi nggak perlu manggil dan nunggu mang Ujang lagi," sahut Aditya, ia terlihat bersemangat untuk mengantar Vania ke tempat kerja. "Terimakasih, Aditya. Tapi hati-hati naik motornya, nggak usah ngebut. Biasanya jam segini jalan juga udah mulai rame," tutur Wulandari mengingatkan Aditya. "Iya , Tante, Siap. Sesuai permintaan Tante, Aditya pasti akan hati-hati," jawab Aditya tersenyum. Lalu kemudian, Aditya mengulurkan helm kepada Vania. Sudah Aditya siapkan helm special itu, khusus untuk Vania. Lalu ia juga segera memakai helmnya sendiri. Dengan santai, Aditya melajukan motornya. Setelah memastikan Vania sudah duduk, di belakangnya. Vania melambaikan tangannya, ke arah mamanya yang memperhatikan mereka sejak tadi. Wulandari pun, membalas melambaikan tangan kepada putrinya. Saat ini tengah di bonceng Aditya, yang terlihat semakin menjauh dan menghilang di jalanan. Dengan kecepatan sedang, Aditya mengendarai motornya. Jalanan masih tampak lenggang pagi ini. "Vania, pegangan yang erat." Aditya memastikan Vania pegangan dengan kuat. "Iya, ini juga udah pegangan Dit." Telihat Vania hanya pegangan dengan hoodie yang Aditya kenakan. "Pegangan yang bener dong. Nanti kalau kamu jatuh, aku yang di marahin tante Wulan." Tiba-tiba Aditya melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Membuat Vania kaget seketika, memeluk erat punggung Aditya. Aditya pun tersenyum. Telah berhasil mengerjai Vania, yang akhirnya memeluk dirinya dari belakang. Persis layaknya dua pasangan yang tengah berpacaran. "Hih, Aditya! Bawa motornya hati-hati dong! Kalau aku jatuh gimana!" Protes Vania dengan jantung yang masih dag dig dug kaget. "Kan, aku udah bilang pegangan yang kenceng. Kamu nggak mau nurut sih," sahut Aditya terkekeh, Vania mulai ngambek lagi. Tak lama kemudian, mereka sampai di halaman restoran Evans. Evans yang kebetulan juga baru datang. Melihat Vania masih memeluk Aditya dengan eratnya. Kedua netra Evans menatap tajam ke arah Aditya. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD