Vania pun, memaku menatap Evans yang tengah menyorotnya. Tanpa ia sadari, posisinya masih memeluk Aditya dari belakang dengan erat. Masih erat.
Evans berdeham dengan keras.
Vania terhenyak, dengan kedua tangan mulai merenggang lepas. Lalu kemudian, ia turun dari motor. Begitu pun dengan Aditya.
"Hey, kamu juga baru datang?" Sapa Vania sambil tersenyum kepada Evans.
Ia berusaha melepas helmnya. Evans hanya mengangguk dengan pandangan dingin.
"Oh iya, perkenalkan ini Aditya. Dit, kenalkan ini Evans, atasanku."
Vania memperkenalkan mereka. Ia juga melihat, tatapan Evans beda dari biasanya. Seakan Evans tidak suka, Vania berdekatan dengan Aditya. Bisa di bilang, Evans cemburu.
Dengan tersenyum, Aditya mengulurkan tangan kepada Evans. "Aku, Aditya."
"Jadi ini. Atasan Vania yang bernama Evans. Sial! Sainganku lumayan juga," batin Aditya yang sempat penasaran dengan Evans.
Evans pun mengulurkan tangannya. Menerima berjabat tangan dengan senyum simpul, sangat berbeda dari biasanya.
"Evans," sahutnya.
Sedetik kemudian, tangan mereka berpisah.
"Kalau begitu, aku masuk duluan ya! Dit, hati-hati di jalan nggak usah ngebut. Aku sampek kaget tadi. Da.."
Vania tersenyum lepas kearah Aditya, lalu kearah Evans yang masih menatapnya dingin. Ia berlalu masuk ke dalam restoran, di ikuti dengan Evans di belakangnya.
"Okke, da," jawab Aditya dengan melihat mereka masuk.
Ia langsung memutuskan untuk kembali pulang. Mengingat dirinya juga harus cepat mencari pekerjaan.
Vania berjalan menuju lokernya, lalu memasukkan ransel hitamnya ke dalamnya. Esa pun belum terlihat kedatangannya, lokernya masih kosong. Dengan santai, Vania membalikkan badan.
"Astaga! Evans, sejak kapan kau di belakangku! Bikin jantungan saja!" batin Vania.
Vania terhenyak kaget bukan main. Jantungnya serasa mau copot. Tiba-tiba Evans sudah berdiri di hadapannya, saat ia berbalik badan.
"Siapa dia?" Tanya Evans tanpa memperdulikan Vania yang masih mengelus d**a. Tatapannya dingin, sedingin es batu.
"Dia siapa! Harusnya kamu minta maaf udah bikin aku jantungan." Vania terlihat sedikit lemas efek kaget, masih ia rasakan.
"Aditya, siapa dia!"
"Oh, dia temanku. Emangnya kenapa? Apa kamu pernah ketemu dengannya?"
"Serius? Hanya teman."
Netra Evans menatap tajam. Ia selangkah lebih dekat dengan Vania.
Vania merasa ada yang aneh dengan Evans. Sikapnya beda dari biasanya. Ia memundurkan diri hingga bersandar di loker yang terbuat dari besi.
"Vans, kau mau apa!"
Vania sedikit takut. Ekspresi Evans, lebih terlihat seperti mafia tampan. Dalam sebuah drama korea, yang pernah ia tonton. Sungguh!
"Apa kau mencintai Aditya?"
Seketika tawa Vania memecah dalam keheningan. Ia baru menyadari bahwa Evans tengah cemburu dengan keberadaan Aditya.
Evans menghela napas. Padahal dia bertanya serius dengan ekspresi serius pula. Tapi malah di tertawakan Vania. Evans tak sadar, sikapnya terlalu berlebihan. Ketahuan sekali, dia tengah cemburu.
"Kenapa bertanya seperti itu. Itu rahasiaku lah! Kok lama-lama kamu kayak, Esa. Kepo," jawab Vania menyamakan Evans dengan sahabatnya.
Evans menarik napas panjang. Mencoba menelaah jawaban dari Vania.
"Jadi, kau tidak mencintainya. Apa kau yakin?"
"Aku suka dengan Aditya atau tidak. Menurutku. Kau tak perlu tau! Yang pasti, aku dekat dengannya bahkan sangat dekat sekali," jawab Vania dengan harapan, Evans akan menjauhinya setelah ini.
Evans tersenyum sinis lalu berkata.
"Mau sedekat apa kau dengannya. Aku yakin kau lebih menyukaiku, daripada teman kamu itu."
Vania mendengus,
"Sok tau itu nggak baik. Ayolah, perhatikan seseorang yang dekat denganmu. Dia selalu memperhatikanmu, bahkan sejak pertama bertemu. Dia jatuh hati kepadamu. Tapi kenapa kau, nggak peka banget sih!"
Evans memicingkan kedua matanya.
"Aku tau siapa yang kau maksut. Yang tak lain adalah kamu sendiri. Betulkan! Apa yang kau katakn selama ini, bahwa kau tak mencintaiku. Itu hanyalah omong kosong. Kau mencintaiku, jujur saja. Kenapa kau harus membohongi perasaanmu sendiri, Vania Olivia."
Vania terdiam sebentar. Perasaannya seakan tersentil, dengan apa yang Evans katakan. Batinya seakan menjerit. Benar sekali! Selama ini, Vania telah membohongi perasaannya sendiri. Tapi untuk apa? Sudah tak lerlu di sebutkan lagi.
"Tidak! Kau salah besar. Bukan aku orang yang ku maksut. Ada orang lain, selain aku. Sudah lama dia bekerja denganmu. Berkali-kali juga, ia mencoba mengatakan tentang perasaannya. Tapi kau tak pernah mengerti juga!" jelas Vania tetap akan mendukung Esa.
Evans terdiam sejenak. Mengingat, siapa yang terlihat dekat denganya selain Vania. Esa! Tapi apa mungkin Esa. Evans terlihat ragu.
"Kau tau, Vania. Kau mampu membuatku seakan gila! Tak melihatmu 1 jam saja. Pikiranku selalu tertuju padamu. Aku yakin kau pun juga sama sepertiku. Kemarin itu, aku sangat menunggu kau membalas setiap pesan dariku. Tapi kenapa! Kau taknkunjung membalasmya. Apa karna kehadiran Aditya?" Evans mencoba mengalihkan pembicaraan.
Vania menarik napas dalam.
"Tepat sekali alasan Evans. Dan kenapa dia tiba-tiba mengalihkan perhatiannya. Padahal sudah jelas aku membicarakan tentang Esa. Tapi dia, malah balik membicarakan tentang Aditya. Menyebalkan!" Batin Vania.
Vania memutuskan untuk diam. Tak ingin memperpanjang debatnya pagi ini.
"Sedang apa kalian!" Tanya Esa begitu melihat Vania begitu dekat dengan Evans.
Terbesit rasa curiga kepada mereka. Apa yang tengah mereka lakukan?
Dengan cepat Vania mendorong Evans agar menjauh darinya. Vania takut, jika Esa akan salah paham dan ngambek lagi. hingga membuat Evans terhenyak kaget, oleh dorongan Vania yang kuat.
"Esa kau sudah datang? Sudah lama kami menunggumu, dan sedang membicarakanmu," sahut Vania mencoba menenangkan suasana.
"Oh, ya. Kenapa membicarakanku?" Esa penasaran dengan rasa curiga.
"Aku cerita ke Evans, soal jalan-jalan kemarin. Kamu terlihat lebih senang. Evans pun senang mendengarnya. Ya, kan, Vans?" Tutur Vania tersenyum.
Lalu mendudukkan diri di pantry. Berharap Esa tak akan menaruh rasa curiga kepadanya. Tadi itu, Evans memang terlalu dekat dengannya. Ia takut jika Esa akan cemburu, dan tak percaya demgannya lagi.
"Benarkah?" Jawab Esa datar.
Evans hanya mengangguk, membenarkan apa yang di katakan Vania. Meski batinya mendorongnya, untuk berbicara yang sebenarnya. Ia tak melakukannya. Mulai terukir senyum di wajah Esa. Yang membuat Vania bisa bernafas lega.
Evans pun meninggalkan Vania dan Esa begitu saja. Melewati Esa tanpa berkata sepatah kata pun. Menuju runag kerjanya.
Esa masih merasakan kejanggalan pada mereka.
"Sebenarnya, apa yang sudah terjadi?" Tanya Esa lagi.
Seketika Vania menatap wajah Esa yang terlihat curiga.
"Nggak ada, Sa. Aku hanya bercerita tentang kita kemarin," jawab Vania bohong.
Nggak mungkin juga, dia jujur kalau Evans tengah cemburu. Bisa panjang ceritanya.
"Lantas, kenapa Evans terlihat seperti tidak senang."
"Bukan begitu, dia hanya menyesal nggak bisa ikut bersama kita aja. Sudah jangan terlalu di pikirkan."
Vania mencoba meyakinkan Esa. Walaupun ia sendiri tak yakin, Esa akan percaya dengannya atau tidak. Terlihat sesekali, Esa menganggukkan kepala. Lalu kemudian, berjalan ke lokernya. Tak jauh dari tempatnya berdiri. Tepat di sebelah loker Vania.
"Entah kanapa. Aku gak yakin dengan apa yang dikatakan Vania. Tapi, apa mungkin Vania berbohong. Lantas. Apa yang tengah mereka bicarakan, sebelum aku datang tadi," batin Esa seraya mengingat raut wajah Evans, sebelum akhirnya melewati dirinya tanpa kata. Sangat berbeda dari biasanya.
"Van, apa kamu tadi nggak liat. Tak biasanya Evans bersikap dingin seperti itu," tanya Esa mendudukkan diri di bangku sebelah Vania.
"Aku rasa, biasa saja. Ya, memang terlihat jarang senyum. Bisa jadi, dia terlalu lelah pulang dari restoran barunya. Kan lumayan jauh juga dari sini, ya, kan?"
"Bisa jadi. Jadi kasian aku liatnya. Berasa pengen aku pijitin, agar capeknya ilang. Lalu dia bisa tersenyum kembali seperti biasanya," ucap Esa cemas dengan keadaan Evans kini.
Di ruangan Evans. Ia duduk termenung di kursi kebesarannya. Bayangan Vania memeluk erat Aditya saat di bonceng tadi. Menari-nari di pikirannya, sangat mengganggu.
"Lagi pula, kenapa harus seperti itu. Kenapa nggak pegangan seperti pada umumnya saja. Sial! Membuatku cemburu. Tapi, bagqimana jika Vania suka dengan dia. Mungkinkah? Ah, semua jawaban dari Vania sulit untuk di artikan," gumamnya dengan rasa cemburu dan penuh curiga.
Sebelumnya, Vania selalu berusaha menjauh dari Evans. Namun tak mudah dan sangatlah sulit. Dengan kehadiran Aditya. Vania berharap akan lebih mudah, membuat Evans menjauh darinya. Dan Esa bisa lebih dekat dengan Evans. Tanpa Vania harus bersusah payah menyatukan mereka. Akan tetapi, apakah mungkin rencana Vania kali ini, akan berhasil?
"Sa, ini kesempatanmu untuk mengambil hati Evans. Kamu bisa mendatangi dia di ruangannya. Beri dia perhatian lebih, serta hibur dia. Pastikan dia senyaman mungkin," usul Vania memberi saran.
"Tapi Van. Aku nggak yakin. Nanti kalau kehadiranku di ruangannya malah menggangu ketenangannya, gimana? Yang ada dia malah marah. Aku nggak mau, ah!" ungkap Esa seraya mengeryitkan dahinya. Tak yakin dengan saran Vania.
Vania menarik napas dalam.
"Coba aja dulu. Paling nggak, kamu menunjukkan perhatianmu padanya. Biar dia juga peka. Aku yakin kamu bisa," saran Vania bersikeras meyakinkan sahabatnya.
Esa pun masih terdiam. Mempertimbangkan usul Vania yqng menurutnya ada benarnya juga. Hanya saja, Esa tak percaya diri untuk mencoba. Entah kenapa, nyalinya ciut seketika. Setelah melihat Evans bersikap dingin seperti itu tadi. Sungguh membuat Esa di lema. Antara berani dan tidak.
"Ayo, Sa. Tunggu apalagi. Cepat samperin Evans di ruangannya, sekarang. Mumpung masih belum mulai kerja."
"Masih bingung aku tu. Nanti kalau Evans malah marah gimana? Bukanya seneng kan jadi takut, Van."
Vania menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Iya, juga sih. Tapi apa salahnya di coba," batin Vania pantang menyerah. Tapi bagaimana dengan Esa?
"Hmm... okke lah aku samperin Evans. Lagi pula aku pun rindu. 2 hari nggak ketemu dia, rasanya kaya udah setahun aja," keputusan Esa akhirnya, memberanikan diri.
Senyuman mengembang di wajah cantik Vania. Setelah mendengar keputusan Esa.
"Nah, gitu dong. Semangat, Sa! Semoga berhasil," ucap Vania memberi semangat dan tak kalah semangat.
Esa pun langsung berdiri dan berjalan menuju ruangan, Evans.
Dengan hagi berdebar, Esa mengetuk pintu lalu masuk ke dalam ruangan. Di lihatnya Evans tengah duduk dengan memandang ke arahnya.
"Ada apa, Sa?" Tanya Evans begitu Esa mendudukkan diri di kursi depan meja kerjanya.
"Kamu, apa kabar? Sehat-sehat kan?" tanya Esa basa basi, keraguan masih menyelimutinya.
"Aku baik-baik saja. Seperti yang kamu lihat sekarang. Kamu kenapa? Sakit? Atau mau ijin lagi?"
"Nggak, aku nggak sakit, juga nggak ijin. Aku hanya ingin memastikan, kamu baik-baik saja. Oh, ya! Gimana kabar restoran barumu?" ucap Esa Jantungnya mulai berdebar-debar.
"Kabarnya lancar. Gimana liburan kamu?"
"Syukurlah," sahut Esa tersenyum lalu berkata "Liburanku terasa hambar."
Kini Esa terlihat sedih.
"Lhoh! Kenapa? Bukannya kemarin kamu semangat ingin jalan sama Vania?"
Dibalik pertanyaannya Evans ingin memastikan. Apa Aditya ikut bersama mereka.
"Nggak seru! Kamu nggak ikut sih. Coba kamu ikut, kan lengkap jadinya. Vania sama Aditya, trus Kamu sama aku." Esa terlihat malu-malu, pipinya berubah semu merah muda.
"Jadi kemarin kalian bertiga?" Evans memastikan pendengarannya nggak salah.
"Iya, kita bertiga," jawab Esa seraya mengangguk beberapa kali.
Evans menghela nafas panjang. Dugaannya terbukti benar.
Esa melihat jam di tangannya, jam kerja sudah di mulai. Ia merasa nggak enak kalau nggak cepat turun bekerja.
"Vans, ngobrolnya di sambung nanti lagi ya. Aku permisi dulu."
Evans hanya mengangguk paham. Tersenyum simpul, melihat Esa keluar dari ruangannya.
"Sial! Benar dugaanku. Mereka jalan bertiga. Dari kemarin, Vania nggak lagi menerima telpon ku. Dia juga jarang membalas pesan dariku. Apa karna Aditya, dia jadi seperti itu. Sial! Jadi sekarang, dia sainganku." Gumam Evans denvan kedua tangan mengepal di atas meja.
Kini Vania di perebutkan di antara dua cowok tampan. Lantas! Siapa yang akan Vania pilih?
"Gimana, Sa?" Tanya Vania setelah Esa menghampirinya.
"Dia nggak apa-apa, baik-baik saja. Aku belum bertanya lebih jauh. Tapi udah waktunya kerja, ya aku langsung pamit aja." Jawab Esa dengan perasaan yang sedikit terasa berat. Evans memang terlihat berbeda dari biasanya. Tapi kenapa? Esa tak tau. Ia pun tak mengutarakan unek-uneknya kepada Vania.
"Ya udah nggak papa. Yang penting kamu udah berusaha, memberi perhatian pada Evans. Pokoknya sesering mungkin, kamu harus sering nyamperin dia. Kasih dia perhatian, nanti lama-lama dia akn luluh juga sama kamu."
Vania yakin, Esa bisa membuat Evans jatuh cinta. Dengan memberikan perhatian sedikit demi sedikit. Kata orang jawa kan, witing tresno jalaran soko kulino. Nah, itu wajib di terapkan oleh Esa.
"Okelah," jawab Esa datar.
"Lhoh kok nggak semangat sih. Semangat dong, Sa."
"Iya, iya." Esa tersenyum.
Vania pun ikut tersenyum. Mereka melanjutkan pekerjaannya.
Sedang kan Evans, tengah memperhatikan Vania di lantai 2. Tepatnya, di depan pintu ruangan kerjanya.
Bersambung...