Bagian 3 : Pilihan Yang Menyayat Hati

1485 Words
Langit sore itu mendung, seolah alam pun ikut merasakan beratnya hati Nayla! Langkah-langkahnya cepat menyusuri trotoar, menyusup di antara keramaian kota yang tak tahu apa-apa soal badai dalam dadanya! Di tangannya, ponsel bergetar, nama Elvano muncul di layar, disusul tak lama kemudian dengan panggilan dari Rayhan! Ia mematikan keduanya, bukan karena benci, tapi karena tak tahu harus menjawab yang mana, hatinyalah yang sedang berperang! Bukan waktu! Nayla... Suara Rayhan menyentaknya dari belakang! Gadis itu menoleh, sosok Rayhan berlari kecil mengejarnya, wajahnya cemas dan lelah... aku sudah mencarimu sejak tadi, ucapnya... napasnya tersengal! Aku butuh waktu sendiri, jawab Nayla tanpa menatap langsung, Tapi Rayhan tak menyerah! Kamu janji akan memutuskan hari ini, Aku tahu ini tidak mudah, tapi kamu harus jujur pada hatimu, Nay, jangan karena terpaksa! Kata-kata itu menampar Nayla pelan, Ya, Rayhan benar, ia memang sudah berjanji, Tapi bagaimana mungkin ia bisa memutuskan jika dua hati yang sama-sama tulus berada di hadapannya! Belum sempat Nayla menjawab, dari arah sebrang jalan, Elvano muncul, wajahnya tampak lelah namun tetap tenang, Matanya langsung tertuju pada Maya, Lalu pada Rayhan yang berdiri terlalu dekat! Aku nggk mau kehilangan kamu, Nay, kata Elvano langsung, tanpa basa-basi, Aku mungkin bukan yang pertama mengenalmu, tapi aku tahu aku ingin jadi yang terakhir menggenggam tanganmu! Dunia Nayla berhenti sejenak, hatinya seolah diremas, Kedua pria itu menatapnya penuh harap, Keduanya menunggu satu jawaban, Tapi Nayla sendiri bahkan tak yakin apakah ia bisa melukai salah satu dari mereka demi kejujuran hatinya! Kalian terlalu baik, suara Nayla mulai bergetar, Aku.... aku hanya takut memilih dan menyakiti yang lain, Aku nggk mau kehilangan salah satu dari kalian, Tapi aku juga sadar.... Kalau terus begini, aku justru menyakiti kalian dua-duanya! Rayhan menunduk, Elvano menggenggam tangannya sendiri, Hening.... Hanya suara kota yang jadi saksi pertarungan batin mereka bertiga! Kamu nggk harus buru-buru, Nayla, ujar Rayhan akhirnya, mencoba kuat, Tapi kamu harus yakin, Karena setelah kamu memilih yang lain akan benar-benar pergi! Ucapan itu seperti vonis, Seperti palu keheningan yang memecah keraguan, Dan saat itu juga, Nayla tahu, waktunya memang sudah tiba, Ia harus memilih, Bukan besok, bukan nanti, tapi sekarang! Ia menghela napas panjang, Mata beningnya mulai berkaca-kaca, namun ia menatap keduanya dengan keberanian yang baru saja tumbuh dari dalam luka! Rayhan, kamu sahabatku sejak lama, Kamu tahu semua tentangku, Kamu pernah jadi tempat aku bersandar saat dunia rasanya terlalu berat, Tapi... Aku sadar, rasa nyaman itu bukan cinta! Setidaknya... bukan cinta yang aku cari untuk masa depan! Rayhan terdiam, Napasnya tercekat, Tapi ia mencoba tersenyum, Aku mengerti! Lalu Nayla menoleh pada Elvano, Kamu datang disaat aku sedang kacau, Tapi entah kenapa, kamu membuat aku merasa... hidup kembali, Kamu hadir seperti cahaya yang nggk aku duga, Tapi aku tahu, bersamamu aku ingin terus melangkah! Suasana diantara mereka begitu sunyi, padahal suara kendaraan masih berlalu-lalang di belakang mereka, Tapi hati ketiganya seperti baru saja melewati badai besar! Rayhan mundur satu langkah, Kalian berdua... bahagialah, Aku akan pergi, tapi bukan karena aku kalah, Aku pergi karena aku ingin kamu bahagia, Nay, dan aku tahu kebahagiaanmu bukan aku! Air mata Nayla jatuh, ia ingin menahan Rayhan, memeluknya seperti dulu, Tapi ia tahu, yang terbaik sekarang adalah melepasnya dengan ikhlas! Rayhan pergi tanpa menoleh lagi, Dan saat itu, Elvano menghampiri Nayla, menggenggam tangannya perlahan! Kamu yakin dengan aku? "tanyanya lirih! Nayla mengangguk, Aku yakin... Karena kali ini, aku memilih dengan hati, bukan rasa takut! Dan di bawah langit yang mulai menitikkan gerimis, dua hati yang sempat gamang kini bersatu, Sementara satu hati lainnya memilih untuk patah dengan elegan! Tapi hidup belum selesai, Ini bukan akhir, melainkan awal dari babak baru yang tak akan mudah, Karena cinta yang dipilih pun akan diuji! Dan Nayla harus siap menghadapi segalanya! Hari-hari setelah keputusan itu terasa seperti ujian ketahanan batin bagi Nayla, Elvano? pria yang akhirnya ia pilih, tak lagi bersikap sehangat sebelumnya, Bukan karena ia berubah, tapi karena dunia di sekitar mereka mulai menunjukkan taringnya! Termasuk Rayhan yang kini memilih diam dan menjauh! Awalnya Nayla pikir setelah memilih, semuanya akan jadi lebih tenang! Ia salah, Justru badai baru mulai datang! Gosip mulai beredar di kampus, terutama di antara teman-teman mereka, Banyak yang bertanya kenapa Nayla memilih Elvano, bukan Rayhan yang terlihat lebih "Pantas" menurut versi mereka, Komentar sinis tak jarang terdengar! Cewe kayak Nayla pasti cari cowo tajir kayak Elvano, bisik seseorang saat Nayla melintas di koridor fakultas! Apa dia benar-benar cinta sama Elvano? Atau cuma karena statusnya? timpal yang lain! Nayla pura-pura tidak dengar, tapi hatinya luka, Ia tahu Elvano bukan pilihan mudah, Pria itu punya masa lalu, dan tidak sedikit orang yang mencibir hubungan mereka, Tapi Nayla yakin, cinta itu bukan soal siapa yang terlihat lebih sempurna, tapi siapa yang membuat hatimu tenang meski dalam kekacauan! Namun sayangnya, ketenangan itu mulai pudar, Elvano akhir-akhir ini sering hilang kabar, Pesannya dibalas lama, telepon kadang tak di jawab, Saat Nayla tanya, jawabnya singkat, kadang terasa hambar, Nayla mulai bertanya-tanya, apakah keputusan yang ia buat ini adalah kesalahan! Suatu sore, Nayla memberanikan diri menemui Elvano di kafe tempat mereka biasa bertemu! El.... Aku rasa akhir-akhir ini kamu beda, kata Nayla dengan suara pelan namun jelas! Elvano diam sejenak, lalu menatap Nayla dengan mata yang tak bisa di tebak, Aku cuma sibuk, Nay! Apa cuma itu, Nayla berusaha menahan gejolak hatinya! Elvano yang aku kenal selalu ada, Selalu jujur, Tapi kamu sekarang seperti orang lain! Elvano menghela napas, Ia menunduk, mengaduk kopinya tanpa minum sedikit pun! Aku takut, Nay? katanya akhirnya! Nayla mengernyit, Takut! Iya... takut menyakitimu, Takut nggk bisa jadi orang yang kamu harapkan, Kamu tahu, kadang aku merasa Rayhan lebih cocok buat kamu, Dia stabil, dewasa, enggak punya banyak bayangan masa lalu kayak aku! Nayla menggenggam tangannya sendiri di bawah meja, Rasanya hatinya diremas, Tapi aku enggak pernah berharap kamu jadi orang lain, Aku pilih kamu karena kamu adalah kamu, El..! Suasana hening beberapa saat, Hanya suara sendok yang menyentuh gelas dan musik lembut di latar! El... Aku cuma ingin kamu jujur, Kalau kamu mulai ragu... bilang! Elvano menatapnya lekat-lekat, Aku enggak ragu sama perasaanku, Nay? Tapi aku ragu sama diriku sendiri, Apa aku cukup buat kamu! Kata-kata itu menusuk Nayla, Tapi justru itulah yang membuatnya sadar, Cinta bukan soal 'cukup atau tidak, Cinta adalah tentang percaya, tentang bertahan, tentang berjalan bersama meski langkah terseok! Aku enggak butuh kamu sempurna, El... kata Nayla sambil mengusap air matanya yang mulai jatuh, Aku cuma butuh kamu ada, hadir! Elvano menggenggam tangan Nayla di atas meja, Hangat, Tapi juga rapuh! Aku akan coba, Nay? Karena aku enggak mau kehilangan kamu! Disisi lain Rayhan benar-benar menjauh, Ia menghapus semua foto bersama Nayla di i********:, dan bahkan tak hadir saat ulang tahun Nayla, Tapi diam-diam, ia masih memperhatikan Nayla dari jauh, Masih mendoakan, meski tidak lagi bisa memiliki! Suatu hari, Nayla menemukan surat di loker kampusnya, Surat tanpa nama, tapi ia tahu itu dari siapa! Untuk Nayla, Terima kasih pernah hadir dalam hidupku, Jangan pernah merasa bersalah karena memilih, Hati tak bisa di paksa, dan aku hanya bisa mendoakan, Jika suatu hari kamu terluka, bukan berarti kamu salah, Mungkin hanya waktunya belum tepat, Aku pergi? Tapi rasa itu akan tetap tinggal, R! Nayla menahan napas setelah membaca, Tangisnya jatuh tanpa suara, Rayhan... selalu dengan cara yang lembut, tulus dan tidak menuntut, Ia tahu ia telah kehilangan sesuatu yang tak bisa di gantikan, Tapi ia juga tahu ia telah memilih, Dan pilihan, apapun resikonya, harus dihadapi! Hubungannya dengan Elvano perlahan membaik, Meski tak selalu mulus, tapi mereka belajar untuk saling terbuka, Nayla tahu... cinta yang dipilih tak datang dengan jaminan bahagia, Tapi dengan keyakinan, mereka bisa melaluinya! Sore itu, di taman kampus, Elvano memeluknya dari belakang! Makasih ya, karena enggak pergi saat aku nyaris menyerah, bisik Elvano! Nayla tersenyum, menatap langit senja yang mulai jingga! Aku enggak akan pergi, selama kamu tetap ada dan mau berjuang bersamaku! Karena cinta sejati bukan soal siapa yang paling mencintai, tapi siapa yang tetap tinggal saat badai datang! Dan Nayla telah memilih untuk tinggal, Untuk mencintai, menerima, dan bertahan! Meski pilihan itu menyayat hati! Karena mencintai seseorang bukan hanya soal memiliki momen indah bersama, tetapi juga tentang menerima luka-luka yang mungkin datang di tengah perjalanan, Nayla tahu, bersama Elvano tidak akan mudah, Ada banyak bayang-bayang masa lalu, banyak tantangan dari luar maupun dari dalam diri mereka sendiri, Tapi ia tetap memilih untuk menetap! Setiap malam, saat rasa ragu datang, Nayla mengingat kembali tatapan Elvano saat pertama kali menyatakan cinta, Bukan tatapan sempurna, tapi tatapan orang yang ingin memperbaiki diri, itu cukup baginya! Suatu pagi, Elvano mengirimkan pesan! Kamu tahu apa yang paling aku syukuri? Bukan karena kamu pilih aku, Tapi karena kamu percaya padaku, bahkan saat aku sendiri belum sepenuhnya percaya pada diriku sendiri! Air mata Nayla jatuh lagi, bukan karena sedih, tapi karena hatinya merasa pulang! Mungkin cinta tidak selalu berarti bahagia setiap saat, Tapi selama mereka saling genggam dan tetap berjalan bersama, Nayla percaya mereka akan menemukan caranya sendiri! Dan dalam luka yang ia peluk, Nayla menemukan kekuatan! Untuk tetap mencintai, sepenuh hati!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD