15. Pembalasan Pertama

1604 Words
"Gue nggak suka." Beni melotot, melihat Rendi menggeser mangkuk baso miliknya kehadapan cowok itu. "Eh, curut! Baso gue kenapa dikudeta?" "Lah, kan tadi katanya nggak suka? Daripada mubazir, ya mending buat gue, Ben—aduh! Kok kepala gue digeplak?" Sewot Randi sembari mengelus belakang kepalanya. "Makanya, jangan langsung ambil tindakan sebelum semuanya jelas. Gue bilang nggak suka, bukan merujuk pada baso yang gue pesan." "Terus?" "Si anak baru." Menggeser kembali mangkuk basonya, Ben menancapkan garpu pada salah satu baso berukuran kecil. Lalu mengarahkannya pada mulut yang sudah terbuka. Tapi terinterupsi Rendi yang menahan pergelangan tangannya, "apa sih?!" Sewot Ben sembari melempar tatapan tajam, "gue mau makan." "Lanjutin dulu omongan lo yang tadi. Maksudnya gimana?" "Oh," meletakkan kembali garpu yang masih tertancap baso. Ben menatap para sahabatnya. "Sok ganteng. Pengang telinga gue, dengerin para cewek gosipin dia." Doni mendengkus, "jadi lo iri dengki?" "Dih, mana ada?" "Nggak usah sok mengelak ya Anda. Jelas-jelas sentimen sama si anak baru karena langsung jadi idola baru." "Kagak, elah! Gue kesel bukan karena iri. Cuma gedek aja." "Atau mungkin, Ben sebenarnya kesel sama para cewek itu, karena mengidolakan si anak baru juga, tapi malu-malu?" "Don, lo belum pernah kan, cuci muka pake kuah baso? Sini, gue bantu basuhin ke muka lo." Oscar tetap fokus pada isi piringnya, mengabaikan celotehan para sahabatnya. Jika biasanya, saat jam istirahat lebih suka menyendiri di belakang gudang sekolah, kali ini, ia terpaksa terdampar di kantin karena digeret teman-temannya saat bel penanda waktu istirahat tiba. Celotehan yang sebelumnya mengudara tiba-tiba lenyap. Seseorang yang mengambil tempat di kursi panjang di sebelah kirinya, karena sebelah kanan sudah di isi Doni, membuat Oscar akhirnya mengangkat kepala yang sebelumnya lebih sering tertunduk. Menoleh kearah samping kiri, lalu mengerutkan kening, mendapati sosok anak baru yang meletakkan mangkuk berisi soto dan segelas es teh manis. "Ngapain lo lihat si Oscar segitunya?" Suara Ben membuat Gara yang sebelumnya menatap lekat sosok Oscar, segera mengalihkan pandangan dan meletakkan atensi pada cowok yang duduk bersebrangan dengnnya. "Naksir Oscar? Sorry, tapi temen gue nggak doyan sama perjaka." Rendi dan Doni seketika terbahak keras. Hingga terbatuk-batuk. Sementara Oscar hanya mendengkus karena menjadi lelucon para sahabatnya. "Terus, ngapain duduk di sini?" Tambah Beni dengan satu alis mata terangkat tinggi. "Memangnya ada yang salah gue duduk di sini, atau pun di tempat lain? Gue punya hak yang sama seperti kalian dan siswa lainnya karena terdaftar secara resmi sebagai siswa di sini." Ucap Gara tenang, dengan wajah datar. Mengedikkan bahu tak acuh, Beni mengaduk-aduk es jeruk peras yang tinggal sisa setengah di dalam gelas hingga menimbulkan suara gemeletuk saat es batu saling beradu. "Gue cuma tanya. Kenapa harus sewot jawabnya?" "Ck! Berisik banget lo semua!" Oscar yang sebelumnya lebih banyak menutup mulut. Kini mengeluarkan suara. Siomay di piringnya sudah tandas. Berbeda dengan teman-temannya yang terlalu sibuk berceloteh hingga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menghabiskan makan siang mereka. "Buruan makan. Bacot doang nggak bakal bikin lo semua kenyang." "Apasih, Os? Orang kita lagi beramah tamah sama si anak baru." Gerutu Rendi yang tak mau melewatkan Beni memberi 'ucapan selamat datang' pada Gara. Hal yang biasanya Oscar lakukan setiap kali ada calon target geng mereka. Tapi, berhubung Oscar sepertinya sedang tobat, tak lagi seperti dulu. Jadi, biar mereka saja yang ambil alih. "Nama gue, Gara." "Iye, tau, tapi kan titel lo masih anak baru. Wajar gue panggil begitu." "Buruan abisin makan siang lo semua. Gue mau ke UKS." "Lah, ngapain?" Tanya Doni, sembari memerhatikan Oscar yang sudah bangkit dari tempat duduknya. "Tidur. Gue ngantuk." "Ye! Si curut. Abis makan tidur." Tak mengindahkan gerutuan teman-temannya, Oscar sudah berderap pergi. "Heh! Os! Bayar dulu!" "Titip." Melambaikan tangan tanpa melihat kearah Rendi yang menekuk wajah masam, Oscar tetap berlalu pergi dari kantin yang masih ramai oleh para siswa. "Si curut, dateng, kenyang, cabut. Enak banget pola hidupnya. Malah kasbon ke gue lagi." Doni terkekeh, sementara Beni masih memerhatikan si anak baru yang—entah memang tak mengenal mereka hingga berani gabung atau memang menganggap remeh Oscar dan gengnya yang tak lagi ditakuti. "Kayaknya, kita nggak perlu bayar." Ucapan Beni menarik perhatian Doni dan Rendi, "sebagai anak baru, lo seharusnya traktir kita. Ya, nggak?" Tanyanya pada kedua temannya, untuk meminta dukungan. "Oh, jelas. Harusnya lo kasih traktiran buat teman baru lo." Setuju Rendi dengan semangat menggebu. "Nah, itu, mana solidaritas sebagai teman sekelas?" Kali ini, Doni yang ikut menambahkan. "Oke, kalian mau apa?" Tanggapan Gara membuat ketiganya seketika sumringah, lalu memesan makanan dan minuman baru, walau milik mereka masih belum habis. "Gue mau es buah, buat cuci mulut." Beni yang pertama menyebut pesanannya. "Gue mie ayam, pake ceker ya." Sebut Rendi, "jus sirsaknya juga." "Lo makan mie ayam, minumnya jus sirsak, nggak seret tenggorokan lo?" "Kagak, udah gue kasih pelicin." Berdecih, Doni kemudian memikirkan sejenak, pesanan yang diinginkan, "gue ... Apa ya?" "Lama lo!" "Diem lo, tatakan bawang. Jangan ganggu konsentrasi gue." Memutar bola mata, Rendi memilih untuk menyedot minumannya yang tersisa es batu hingga menimbulkan suara berisik. "Gue samain aja deh, sama si Beni, es buah. Naganya dibanyakin." "Lo makan naga?" "Buah naga, njir!" Kesal Doni sembari menendang kaki Rendi di bawah meja, "gitu aja mesti diperjelas lo." Tak ambil pusing dengan pertengkaran yang terjadi, Gara bangkit dari duduknya, untuk memesan semua yang diinginkan teman-teman barunya. "Lumayan, nggak ada Daniel, kita punya pesuruh baru." Kikik Rendi yang ditoyor Beni. "Ih, apa sih, lo? Kalau gue b**o gimana. Jangan suka toyor-toyor kepala." "Lo nggak ditoyor udah bego." Jawab Doni dan saling adu tos dengan Beni yang setuju. "Oh, gitu lo berdua? Saling bertransformasi." "Nah, kan, b**o?" Ejek Beni yang membuat Doni terbahak. "Berkonspirasi, dodol!" Ralat Doni sembari menoyor Rendi yang misuh-misuh sendiri. Ketiganya terus saling melempar ejekan sembari melanjutkan makan siang. Sampai akhirnya, Gara kembali datang, dengan nampan berisi pesanan mereka. Karena tak mungkin membawanya sekaligus, Gara harus bolak-balik. Ketika tugasnya selesai. Gara kembali duduk tenang, menikmati makan siangnya yang tertunda. Mengabaikan celotehan di sekitarnya. Selesai menghabiskan makan siangnya, Gara bangkit dari tempat duduknya dan berniat pergi. "Eh, mau kemana lo?" Tanya Doni yang menahan kepergian cowok itu. "Kelas." Jawab Gara singkat. "Ini gimana? Udah bayar?" "Udah." Lagi, hanya jawaban singkat yang Gara berikan. "Oh, yaudah. Sana!" Tak mengatakan apa pun, Gara melanjutkan langkah yang sempat terinterupsi. Ketika berjalan menyusuri koridor kelas, Gara mengabaikan tatapan siswa, terutama para perempuan yang menjatuhkan kekaguman padanya. Ketika jam istirahat sudah tersisa lima menit lagi, Beni, Doni, dan Rendi yang sudah duduk di kursi masing-masing dalam kelas, tiba-tiba merasa gelisah dan tak bisa diam. Oscar yang melihat hal itu mengernyitkan kening heran. "Lo semua pada kenapa? Kayak cacing kepanasan." "Emang panas." Jawab Beni, sembari mengelap peluh yang tiba-tiba membasahi kening dan leher, bak dia baru saja selesai olahraga. "Tapi yang panas perut gue." "Sama, njir! I—ini, berasa ada yang nyalain api unggun di perut." Ungkap Rendi dengan napas putus-putus. "Njir, ini bagian bawah gue nggak bisa nahan lagi." Bergegas bangkit dari duduknya, Rendi terbirit-b***t keluar dari kelas. "Ren! Tunggu! Gue ikut!" Doni segera menyusul teman satu mejanya itu. Diikuti Beni yang akhirnya ikut menuju toilet, sebelum sesuatu tumpah di tempat tak seharusnya. Beruntung, sesampainya di toilet. Tiga bilik yang tersedia di sana, semuanya tengah kosong. Hingga tak ada yang perlu mengantri karena benar-benar tak ada yang bisa menahan. Selagi ketiganya sibuk mengurus perut yang seperti diaduk. Ada sosok yang tiba-tiba datang, lalu mengakali pintu agar tak bisa dibuka. Sebelum kemudian, merogoh saku seragam sekolahnya, meraih bungkusan berisi beberapa balon, serta sebuah pewarna merah. Mengisi balon tersebut dengan pewarna dan air di wastafel, lalu mengikatnya, ia kerjakan hingga balon-balon berisi air yang sudah tercampur pewarna itu terkumpul. Meregangkan otot-otot leher, sosok itu—Gara. Menarik sudut bibirnya hingga menciptakan sebuah seringai. Dulu, di sekolahnya. Selain hobi bermain futsal, dia cukup mahir dalam basket. Jadi, mari kita lihat. Apakah kemampuannya masih sebaik dulu? Gara mulai meraih balon berisi air pewarna, lalu melemparkannya ke bilik pertama. "NJIR! SIAPA YANG CARI PERKARA SAMA GUE! SINI LO MAJU! EH, BENTAR, GUE CEBOK DULU. BARU KITA RIBUT!" "LO KENAPA REN?" Teriak Beni yang mengisi bilik kedua. "ADA YANG LEMPAR BALON ISI AIR, BEN! SERAGAM GUE BASAH DAN JADI WARNA MERAH! EMAK GUE BISA NGAMUK!" Beni tergelak, sesekali sembari mengedan. Tapi tak berapa lama, gelak tawanya lenyap. Saat sebuah balon air menimpuk keras kepalanya. Lalu pecah dan membuatnya basah. "b******k! SIAPA PUN LO, BAKAL HABIS DITANGAN GU—AKH! ASEM! MAU LABRAK PERUT MASIH MULES!" "KENAPA LO, BEN? KENA JUGA?" "IYA, CARI MAMPUS ITU ORANG." "LO BERDUA RIBUTIN APAAN, OY?!" Doni yang mengisi bilik ketiga, akhirnya ikut berteriak. Melempar tanya pada dua temannya yang sejak tadi terdengar marah-marah. Karena dibatasi bilik, membuat mereka harus mengeraskan suara saat bicara agar terdengar satu sama lain. "ADA YANG MAU KENALAN SAMA TINJU GUE, DON!" Teriak Beni sembari sibuk cebok. Ingin segera keluar dari bilik untuk menghajar siapa pun yang sudah memantik kemarahannya hingga mencapai ubun-ubun. Tak lagi dipedulikan perutnya yang masih terasa mules. "HAH? MAKSUD—NJIR! APAAN NIH?!" Doni tak bisa menyelesaikan ucapannya. Dia ternganga sembari meraup wajahnya yang basah. Nyaris saja menjerit karena mengira darah. Tapi, saat mengendus, tak ada aroma anyir. Jadi dia yakin, itu hanya air biasa dengan pewarna. "KENAPA LO? KENA JUGA?" "NAH, BAGUS. KITA NGGAK USAH JELASIN. LO BISA RASAKAN SENDIRI DON, APA YANG BIKIN KITA NGAMUK!" "Ck! Banyak bacot." Memutar mata bosan. Gara tak lagi mau membuang waktu. Jadi, dengan segera, ia mulai 'pestanya'. Melempar balon-balon tersebut secara beruntun pada tiga bilik yang terisi mereka yang biasa menjadi pembuat onar. Kini menjadi target yang tak berdaya. Sembari berteriak-teriak geram dan berusaha membuka pintu yang sulit terbuka. Rasakan! Ini bahkan belum seberapa dan tak sebanding dengan apa yang seharusnya mereka dapatkan. Tapi tak apa. Anggap saja, salam pembuka dari Gara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD