"Tidak tau malu." Suara cemoohan yang tertangkap pendengaran membuat Beni mengepalkan tinjunya. Siap dilayangkan pada mulut salah seorang siswa yang berpapasan dengannya.
Beruntung, Oscar lebih dulu menghalau, hingga kepalan tersebut hanya tertahan di udara.
Berdecak kesal, Beni menatap temannya yang tak lagi menyukai keributan. Lebih suka menghindar dan menulikan pendengaran, pada setiap cercaan yang mereka dapat.
Hal tersebut tak mungkin terjadi andai peristiwa yang menewaskan Daniel tak membuat Oscar menjadi sosok yang begitu lihai dalam mengendalikan emosi.
"Masih pagi, mending lo isi perut daripada buang energi untuk hal remeh, Ben."
"Hal remeh?" Tanya Beni dengan nada tak setuju, "mereka semua makin semena-mena karena lo diem aja, Os."
"Terus gue harus apa? Hajar satu-satu?"
"Setidaknya lo jangan kelihatan lemah. Biar nggak ada yang menindas."
"Mungkin gue lagi mencicipi apa yang dulu Daniel sering rasakan." Mengedikkan bahu tak acuh, Oscar memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana, sebelum kemudian melanjutkan langkah yang terpaksa terinterupsi karena Beni yang tersulut emosi.
"Udahlah, Ben, kacangin aja suara-suara sumbang di sekitar kita. Lagian percuma, Oscar nggak akan ambil tindakan."
"Justru itu!" Meletakkan atensi pada Doni, Beni menyugar rambutnya gusar, "karena Oscar nggak ambil tindakan, biar gue yang ambil alih."
"Tahan emosi lo." Kali ini, Rendi yang ikut bicara. Menepuk-nepuk pundak sahabatnya yang belum bisa memadamkan kekesalannya, "Oscar masih butuh waktu."
"Sampai kapan?" Tanya Beni yang masih tak bisa berdiam diri, ketika para siswa kian berani melempar cemooh dan tatapan merendahkan setiap kali melihat keberadaan mereka. Seolah pendosa yang menjejakkan kaki di area makhluk-makhluk suci.
"Ini sudah tiga bulan setelah peristiwa itu. Kita bahkan sudah menjalani pemeriksaan dan pihak sekolah melakukan investigasi. Hasilnya? Kita memang tak terlibat dengan kecelakaan yang menimpa Daniel." Tangan kanannya berkacak pinggang, sementara tangan kiri kembali menyugar rambut dengan gerakan gusar, "oke! Kita memang salah, karena membuat Daniel ke rooftop. Tapi, mana kita tau kecelakaan itu bakal terjadi? Meskipun ada banyak cerita mistis, tapi rooftop sekolah memang aman. Mungkin aja benar seperti dugaan pihak sekolah, kalau Daniel jatuh dari tangga karena dia terburu-buru, merasa takut saat ingat cerita mistis soal rooftop sekolah."
"Mau gimana lagi?" Rendi mengedikkan bahu sembari mengela napas panjang, "nggak ada yang mau menerima penjelasan itu. Di mata para siswa, kita yang membuat Daniel meregang nyawa."
Suara bel penanda masuk membuat ketiganya bergegas melanjutkan langkah menuju kelas. Menyusul Oscar yang sosoknya bahkan tak lagi terlihat.
Sesampainya di ambang pintu kelas, mereka mengernyit heran, mendapati Oscar yang hendak masuk kelas sembari menggeret kursi.
"Dari mana lo?" Tanya Beni dengan kening mengernyit heran, "terus, ngapain bawa-bawa kursi? Ukuran pant*t lo bertambah? Sampai satu kursi nggak cukup lagi?"
Oscar mendengkus, sementara Doni dan Rendi tergelak keras di belakang Beni yang berdecak kesal. Dia tak sedang melempar banyolan. Apa yang tadi ditanyakan benar-benar serius.
"Kursi gue hilang," ucap Oscar sembari mendorong pelan bahu Beni agar posisinya tak menghalangi, "dan pant*t gue baik-baik aja. Thanks udah khawatir, tapi mereka belum bertambah semok seperti yang lo duga." Jelasnya, sebelum kemudian masuk ke dalam kelas, di susul Beni yang meninggalkan Doni dengan Rendi karena masih sibuk meledakan tawa.
"Astaga ... Lo berdua," mengelap sudut matanya yang berair. Rendi berusaha berkata-kata di tengah perutnya yang masih terguncang karena tawa, "masih pagi, oy! Nggak ada pembahasan lain apa selain ukuran pant*t?"
Sementara itu, Beni yang mengekori Oscar masuk ke dalam kelas seketika menggeram. Menemukan apa yang kini tersuguh di depan matanya. Sebelum kemudian melempar tatapan tajam pada teman-teman sekelasnya yang serempak menundukkan kepala, atau setidaknya mengalihkan pandangan kearah lain, agar tak bersirobok dengan netra yang dipenuhi kilat amarah milik Beni.
"Siapa yang lakukan ini?"
Hening. Tak ada yang membuka suara. Atau mereka berpura-pura tak mendengar karena tak mau melibatkan diri dengan geng Oscar. Walau tak lagi di takuti seperti sebelumnya, mereka masih membuat siswa lain ketar-ketir, jika sampai berurusan dengan Oscar dan gengnya.
"Gue tanya, SIAPA YANG LAKUKAN INI SIAL*N?!"
"Ben!" Tegur Oscar, meraih pergelangan tangan sahabatnya itu dan meminta duduk. "Nggak usah memperbesar masalah."
"Memperbesar masalah?" Terkekeh kering, Beni yang tak bisa membendung kemarahannya, justru melampiaskan pada Oscar. Meraih kasar kerah seragam sekolahnya, hingga membuat keduanya berhadapan.
Seketika, ruangan kelas dipenuhi atmosfir ketegangan.
"Gue udah nahan diri, Os. Tapi nggak bisa kalau lo terus-terusan lembek kayak gini!"
"Ben!" Rendi dan Doni yang awalnya terpaku di ambang pintu. Seketika merangsek masuk dan berusaha melerai. "Udah, lo kenapa sih, mode senggol bacok gini pagi-pagi?"
"Gue gedek sama temen lo!" Sewot Beni sembari menyentak kasar cengkramannya pada kerah kemeja Oscar, membuat sahabatnya itu mundur beberapa langkah dan nyaris jatuh andai tak segera menyeimbangkan tubuh. "Lembek banget kayak bubur bayi." Mendengkus, Oscar kemudian berderap kearah lain, padahal tempat duduknya di samping Oscar karena mereka teman satu meja.
"Heh! Umpan lele, pindah sana! Gue mau duduk di sini!" Serunya galak. Membuat salah seorang siswa seketika berjengit dari tempat duduknya. Menoleh takut-takut kearah temannya yang enggan di tinggal karena tak mau satu meja dengan Beni yang sedang galak-galaknya.
"Heh! Buruan! Malah tatap-tatapan, bikin asam lambung gue naik aja lo berdua. Nggak usah romantis! Ingat, sama-sama lurus pipisnya."
Tak mau mendapat amukan, siswa itu akhirnya meraih tasnya dan pindah tempat duduk. Ke kursi yang dulunya di tempati Daniel. Daripada harus satu meja dengan Oscar.
Tak apa harus duduk di kursi teman sekelasnya yang sudah meninggal. Toh, sebelum duduk dia komat-kamit dulu meminta izin. Itu lebih baik daripada terkena amukan Ben. Yang sekarang, tampak lebih menakutkan dari sosok Oscar yang lebih kalem saat ini.
Mengela napas panjang, Oscar menggelengkan kepala, melihat sahabatnya yang merajuk. Lalu memilih duduk, meski kemudian, tatapannya jatuh pada meja yang mendapat coretan dari pilox. Hal yang membuat Ben seketika mengamuk.
Jika saja hal ini terjadi sebelum—peristiwa yang menjungkir balikan hidupnya. Oscar jamin, orang-orang yang tengah bernyali untuk mengerjainya, akan ia buat terkencing-kencing di celana.
Ah, atau mungkin ... Hal ini dilakukan oleh mereka yang dulu sering ia risak?
Saat menolehkan kepala, tatapannya bersirobok dengan sosok Ainayya yang menatapnya ... Kasihan?
Astaga ... Yang benar saja?
Jadi sekarang, seorang Oscar, tak lagi ditakuti, tapi justru dikasihani?
Oh, menyedihkan sekali?
Memilih untuk tak ambil pusing, Oscar bersedekap tangan. Menyandarkan kepala pada tembok di sampingnya, sebelum kemudian memejamkan mata.
Berselang, mungkin sekitar dua menit. Celotehan para siswa teredam. Berganti kasak-kusuk yang tetap membuat Oscar enggan membuka mata.
"Tolong tenang, anak-anak." Suara Bu Linda tertangkap pendengaran.
Wanita itu mengela napas panjang, mendapati para siswa—terutama yang putri, bak cacing kepanasan di tempat duduknya.
Oh, apalagi jika bukan karena seseorang yang berdiri di sampingnya? Alasan yang membuat tatapan mereka begitu antusias. Karena biasanya, kedatangannya ke dalam kelas, selalu disambut wajah-wajah lesu bak perut para muridnya belum tersentuh sarapan.
"Hari ini, kita kedatangan teman baru." Ucap Linda, ketika suasana kelas cukup tenang.
Sementara itu, Oscar yang masih memejamkan mata hanya mengerutkan kening dengan berita tersebut.
Anak baru?
"Silakan perkenalkan diri kamu."
Mengangguk singkat sembari mengucap terima kasih, sosok yang Linda tebak akan menjadi idaman murid-murid perempuannya itu berdiri tenang. Tak ada gestur gugup yang biasanya dirasakan ketika berada di tempat baru.
Mengedarkan pandangan pada seisi kelas. Tatapannya kemudian jatuh, pada satu-satunya sosok yang tak meletakkan atensi padanya.
Kilatan cowok itu terbahak sembari menoyor kepala membuatnya mengepalkan tangan di masing-masing tubuh.
Sebelum kemudian, dehaman dari arah sampingnya membuat fokusnya yang sempat tercecer. Kembali utuh dan melupakan sejenak. Sekelebat bayangan yang tiba-tiba muncul mengusiknya.
"Selamat pagi."
"PAGI!!!"
Seruan penuh antusias, terutama para siswi itu membuat Linda kembali menggelengkan kepala. Berusaha tak memutar mata jengah. Dia tak boleh meneriakkan kata norak dalam hati. Karena dia pun melakukan hal serupa, walau sekadar dalam benak. Setiap kali Pak Ettan berada dalam jarak pandang terdekatnya.
"Perkenalkan, saya ... Sagara Yasawirya."
Selang satu menit berlalu. Tak ada lagi kata-kata yang meluncur keluar dari bibir pemuda itu. Membuat Linda mengerjap keheranan, saat Gara justru menoleh kearahnya.
Sudah? Hanya begitu? Sebatas nama?
"Tidak ada hal lain yang ingin kamu sampaikan kepada teman-teman baru kamu Sagara—"
"Gara, Bu. Maaf menyela. Tapi, cukup panggil saya Gara."
"O—oh, baiklah. Iya, Gara."
"Tidak, saya rasa, nama sudah cukup."
"Nggak cukup!" Sela salah seorang siswi, ketika mendapat tatapan dari Gara, gadis itu menundukkan kepala malu-malu, sembari menyelipkan anak rambut ke belakang telinga dengan gerakan pelan, sebelum kemudian menatap lagi, sosok yang membuat jantungnya kebat-kebit. "Setidaknya, kasih tau nomor ponsel dong Gara, atau akun media sosialnya. Sebagai teman sekelas, kita harus mengakrabkan diri. Siapa tau mau belajar bareng?"
Seruan mengejek, terutama dari para siswa laki-laki terdengar riuh mengisi ruang kelas yang sebelumnya sepi.
"Sudah, cukup!" Linda berusaha untuk membuat kelas kembali tenang. "Gara, silakan kamu duduk di ...," Mengedarkan pandangan, mencari kursi kosong, Linda justru berdecak, saat menemukan, ada yang sibuk tidur. "Itu, kamu duduk di sebelah Oscar. Sekalian, tolong bangunkan dia."
Menganggukkan kepala, Gara mengayunkan langkah, menuju tempat duduk yang diarahkan sang Guru. Di ikuti pandangan penuh rasa penasaran dari para siswa.
Meletakkan tasnya di atas meja, Gara baru saja hendak duduk. Saat lengannya ditahan seseorang.
"Ini bangku gue!" Serunya, membuat Gara menatap datar.
"Ben!" Panggilan dari Linda mengurai ketegangan yang tejadi. "Ada apa? Jangan ganggu Gara."
Menahan decakan, Ben menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Hanya sebagai peralihan, dari rasa kikuknya, ketika Bu Linda memicingkan mata kearahnya.
"Ini tempat duduk saya, Bu."
"Terus, kenapa tadi nggak duduk di situ?"
Beni kepayahan untuk menjawab. Mana mungkin kan, dia bilang sedang merajuk?
Tak mau memperpanjang perdebatan, Gara memilih pergi. Menuju kursi yang sebelumnya di tempati Beni.
Suara Bu Linda mengalun mengisi ruang kelas. Membuat semua siswa bersiap mengikuti pelajaran. Tapi Gara tak menjatuhkan pandangan kearah depan kelas. Ia justru melempar tatapan pada sosok Oscar yang mengangkat satu alis mata ketika pandangan mereka bersirobok.