13. Permintaan Terakhir Daniel

1532 Words
Gara tersentak, saat merasakan sentuhan pada punggung tangannya yang tak terpasangi infus. "Gimana keadaan kamu, Nak?" Suara sang nenek yang tertangkap pendengaran membuat bahunya seketika melemas. "Baik, Nek." "Tidak ada keluhan apa pun? Nenek bisa panggilkan Dokter. Jika ada hal yang membuat kamu tidak nyaman." "Untuk sekarang, tidak ada, Nek." Aku Gala jujur. Mengela napas panjang, Puspita menatap sang cucu dengan gamang. "Nenek bingung," ucapnya tiba-tiba. Lalu memilih untuk tak melanjutkan pembasahan yang terlalu sensitif. "Apa yang membuat Nenek bingung?" Baru saja berniat untuk menawarkan makan, pertanyaan yang Gara lontarkan membuat Puspita urung untuk meraih makanan di atas nakas. Kembali meletakkan atensi pada sosok Gara yang masih dalam masa pemulihan usai melakukan operasi transplantasi kornea mata. "Di satu sisi, Nenek senang Nak, karena ada kemungkinan, kamu bisa melihat lagi. Tapi, di satu sisi lainnya, Nenek, merasa sedih karena—" "Jika saja bisa memilih, aku tidak berniat untuk bisa melihat lagi jika harus mengorbankan Daniel, Nek." Puspita seketika menggelengkan kepala, "jangan menyalahkan diri, Nak. Semua memang sudah menjadi takdir." "Maaf Nek, aku mau istirahat." Memejamkan mata sejenak untuk mengais ketenangan yang tercecer, Puspita membuka kembali matanya, sebelum kemudian mengangguk. Tak mau mengusik Gara. Salahnya sendiri yang sudah asal bicara. "Istirahatlah," bangkit dari duduknya. Puspita memperbaiki selimut Gara hingga sebatas perut. Memberi kecupan di kening dengan hati-hati, agar tak menyentuh penutup mata yang kini dikenakannya seusai operasi. Gara sendiri tak benar-benar tidur. Dia sudah kenyang terseret lelap usai mendapat obat bius yang menghilangkan kesadarannya. Pikirannya justru tertarik pada saat sang paman mendatangi kamarnya malam itu. Gara masih terjaga, ketika Wira mengetuk pintu pelan dan meminta izin masuk. Membuat Gara menyerukan pamannya untuk masuk karena pintu tak pernah terkunci tentu saja. Memudahkan si Mbok yang membantunya ketika pagi. Merubah posisi berbaringnya menjadi duduk, Gara menyandarkan punggung pada kepala tempat tidur. Lalu merasakan kasurnya melesak, membuatnya menduga, sosok sang paman sudah mendudukkan diri di pinggir kasur. Walau tak bisa ikut mengaji untuk tahlilan Daniel tadi, Gara tetap bertahan di sana bersama orang-orang yang memenuhi rumah pamannya untuk menghadiri tahlilan pertama sang sepupu. "Maaf, sudah ganggu Gara malam-malam. Paman harus menyampaikan hal ini, tapi di sisi lain, sibuk dengan banyak hal." Mengangguk pelan, Gara berusaha untuk mengendapkan rasa penasarannya. Kedatangan sang paman ke kamarnya di tengah malam, saat yang seharusnya pria itu manfaatkan untuk mengistirahatkan diri, pasti sesuatu yang sangat penting. "Seharunya Bibi kamu yang menyampaikan, tapi, Paman tak tega mengusik tidurnya yang baru kali ini bisa lelap. Mungkin, tubuhnya benar-benar sudah tak bisa dibohongi jika mereka lelah dan butuh di istirahatkan dengan cukup." Gara masih setia mendengarkan. Tak berniat untuk menyela atau pun meminta pamannya memberitahu dengan segera agar dia tak terbebat rasa penasaran. "Gara?" "Ya, Paman?" Wira tak segera berkata. Membiarkan sepi meraja diantara mereka, nyaris satu menit lamanya. Hanya elaan napas gusar yang kemudian tertangkap pendengaran. Sebelum pria yang baru saja kehilangan putra semata wayangnya itu meletakan kedua siku dipaha, menundukkan kepala dan menyugar rambut yang kusut masai karena belum tersentuh sisir. "Aida—Bibi kamu memberitahu Paman, jika Daniel, ingin mendonorkan matanya, untuk kamu." "A—apa?" Menegakkan posisi duduknya, Gara terkesiap. Tak bisa menutupi rasa terkejutnya mendengar hal yang baru saja di sampaikan Wira. "A—apa maksud, Paman?" Gara jelas tau maksudnya. Dia mendengar setiap detail yang pria itu katakan. Tapi, rasa terkejut yang menghantam seolah membuat Gara menolak hal yang berhasil tertangkap pendengarannya. "Paman—" "Gara, Paman tau ini sangat mengejutkan sekaligus membingungkan. Bukan hanya untuk kamu, tapi begitu pun untuk Paman. Apalagi, awalnya, Bibi kamu memberitahu keinginan Daniel tentang hal itu hanya lewat mimpi, di hari kepergiannya." "Itu hanya mimpi Paman." "Memang. Tapi, Paman akhirnya percaya, jika hal itu, memang yang Daniel inginkan. Saat menemukan catatan di kamarnya yang Daniel tulis, tentang keinginannya menjadi pendonor untuk kamu, jika saja dia bisa melakukannya." Gara ingin mengerang frustrasi. Tapi kesulitan mengekspresikan kegundahannya saat ini. "Paman dan Bibi sudah setuju. Kami, sudah melakukan prosedur yang harus dilakukan." Meraih tangan Gara, Wira menatap keponakannya dengan pandangan memburam, "tolong Nak, terima ya? Operasi harus segera dilakukan agar kondisi kornea Daniel yang ingin di donorkan dalam keadaan masih baik. Jika terlalu lama, kondisinya bisa menurun. Dan, meski sering menggunakan kacamata, sebenarnya mata Daniel baik-baik saja. Sehat dan layak untuk di donorkan." Gara benar-benar kebingungan. Dia butuh waktu untuk mencerna semuanya. Tapi Wira tak memberinya banyak waktu yang cukup menimbang segalanya. Astaga ... Mereka bahkan masih dalam kondisi berduka. Tapi, di sisi lain, Gara tak mau menyia-nyiakan pengorbanan sepupunya yang bahkan memikirkan tentangnya. "Gara?" Mengendapkan ragu, Gara akhirnya memberi anggukan. Membuat rasa lega seketika menyerbu perasaan Wira. "Terima kasih, Nak." "Tidak Paman, aku yang seharusnya mengucapkan hal itu. Terima kasih, untuk segalanya. Aku terlalu menerima banyak hal dari keluarga Paman." "Hei," Wira beringsut, lalu memberikan pelukan pada keponakan yang ia anggap layaknya sang putra, "jangan bicara seperti orang asing, Nak. Kamu memang bagian dari keluarga." Gara membalas pelukan pamannya. Terasa hangat, layaknya sang papa di waktu masih ada. Lalu, di tengah kesibukan untuk acara tahlilan Daniel, rencana operasi transplantasi kornea mata milik sepupunya tetap dilakukan. Dengan Nenek dan Kakeknya yang lebih banyak menemani Gara, karena Paman dan Bibinya memilki kesibukan mengurusi tahlilan putra mereka. "Gara tidur?" Suara itu membuat Gara yang berpura-pura terlelap seketika terkesiap. Membuat lamunannya koyak. Itu suara Pamannya. "Kamu datang?" Puspita bergegas bangkit dari duduknya, menyambut kehadiran sang putra. "Antar Aida, Bu." "Mana istrimu?" Pintu kembali terbuka, memperlihatkan sosok Aida yang tersenyum dan segera menyalami mertuanya. "Tadi bertemu teman, jadi minta Mas Wira masuk lebih dulu." "Kalian kenapa di sini?" "Bu," Wira melirik keponakannya yang tampak tenang di ranjang perawatannya. Menuntun Puspita duduk di sofa yang berada di ruang rawat Gara, ia memberitahu hal yang membuatnya datang bersama sang istri, "Aida bilang, ingin menjaga Gara." "Loh, nggak usah. Kalian kan sibuk juga." "Wira bisa kok sendiri." "Iya Bu," Aida ikut angkat bicara, "Ibu bisa istirahat di rumah. Biar Aida yang temani Gara." "Ayah kemana, Bu?" "Makan di kantin rumah sakit." "Ibu sendiri sudah makan? Mau aku belikan?" Tanya Aida sembari membuka beberapa kantung plastik yang dia bawa, "Aida bawa buah sama kue. Ibu mau?" "Ibu sudah makan duluan tadi. Jadi gantian sama Ayah." Obrolan para orang dewasa itu menjadi alunan yang memenuhi pendengaran Gara. Membuat cowok itu mengeratkan genggaman pada selimutnya dengan rasa haru yang memenuhi dad*. *** Sensasi dingin yang menyentuh kulit pipinya membuat Oscar tersentak. Sebelum kemudian mendongak dan menemukan sosok yang tak diduganya. Kembali mengalihkan pandangan, ia memilih tak memedulikan. Oscar kira teman-temannya yang datang. Dia sudah bersiap untuk mengusir mereka semua agar tak mengusiknya yang ingin sendiri. "Kenapa di sini?" Oscar mendengkus mendapat pertanyaan semacam itu dari gadis yang biasanya memberi wajah kesal setiap mereka bertemu. Lalu sekarang apa? Untuk apa seorang Ainayya repot-repot mendatanginya? "Kalau mau maaki gue, langsung aja. Nggak perlu pakai kata pembuka dan memperpanjang basa-basi." "Kenapa menuduh sembarangan?" Tanya Ainayya tak terima. Gadis itu ikut duduk di rerumputan seperti Oscar yang bersila dengan punggung bersandar pada pohon. "Lo kesambet?" "Astaga ... Omongan lo nggak ada yang bener." Mengedikkan bahu tak acuh, Oscar merogoh saku seragamnya, sebelum kemudian meraih kotak rok*k yang seketika dirampas Ainayya. "Ck! Lo mending balik ke habitat lo. Nggak usah ganggu gue." Menulikan pendengaran, Ainayya bertahan di tempatnya. "Lo ... Merasa bersalah?" Jeda beberapa detik, Ainayya melempar tanya yang bercokol di kepala. Oscar mendengkus. Mengacak rambut yang sudah kusut masai, "pertanyaan lo nggak bermutu." Ainayya hampir memprotes. Kesal dengan balasan yang Oscar berikan, tapi kemudian, terbungkam saat cowok itu menoleh kearahnya, dan membalas tatapannya, sebelum kemudian menjawab dengan sorot mata meredup. Hal yang tak pernah ia temukan sebelumnya dari sosok Oscar yang selalu jemawa. "Lebih dari itu." Aku Oscar dengan senyum muram, lalu menundukkan kepala, "gue bahkan berniat untuk menyusul Daniel, supaya bisa minta maaf secara langsung padanya." Ainayya tersentak mendengar penuturan Oscar yang benar-benar tak terduga. "Buang jauh-jauh pikiran lo. Sama sekali tak memperbaiki keadaan. Lo memang salah, dalam arti, secara nggak langsung membuat Daniel—" mengigit pipi bagian dalamnya, Ainayya tiba-tiba urung untuk melanjutkan ucapannya. "Ya, secara nggak langsung, gue yang mengantarkannya pada kematian." "Os, gue dengar. Hasil dari penyelidikan sementara, Daniel jatuh dari tangga. Mungkin dia ketakutan karena rooftop sekolah memang memiliki cerita misteri di kalangan para siswa. Bisa aja dia panik dan akhirnya terpleset dan jatuh dari tangga." "Tetap saja, di mata semua orang, gue pembunuhnya." "Os—" Ainayya tak bisa menyelesaikan ucapannya saat cowok itu tiba-tiba bangkit dari duduknya, "mau kemana?" "Toilet. Ikut juga?" Berdecak kesal, Ainayya mengalihkan pandangan dengan wajah kesal. Sebelum kemudian kembali menatap kearah Oscar yang sudah pergi menjauh, membuatnya hanya bisa menyaksikan punggung yang tak setegap dulu. Rasa bersalah benar-benar merubah seorang Oscar menjadi sosok yang tak lagi sama sebelum peristiwa Daniel tejadi. Pada awal tau tentang peristiwa yang menimpa Daniel dari Ulfa yang datang menjenguknya dengan mata bengkak, karena terus menangis, merasa kasihan pada teman sekelas mereka. Hal pertama yang Ainayya rasakan adalah rasa marah yang tertuju pada sosok Oscar. Sama halnya dengan teman-teman yang lain, segera melempar tuduhan pada Oscar yang selama ini selalu mengerjai Daniel. Lalu, ketika akhirnya kembali ke sekolah. Kemarahan Ainayya menyusut secara perlahan. Mendapati Oscar seolah dikucilkan dan dijauhi bak wabah penyakit. Mengela napas, Ainayya bangkit dari duduknya, membersihkan roknya sebelum kemudian berlalu pergi. Membuang bungkus rok*k milik Oscar ketika menemukan tempat samp*h.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD