5. Mimpi Buruk Daniel

1950 Words
"Kamu yakin, Nak?" "Iya, Nek." Dengan sabar, Gara menjawab pertanyaan tersebut yang entah sudah berapa kalinya diajukan sang nenek. Ketidak relaan jelas terdengar dari nada suara wanita sepuh tersebut. Bukan apa, hanya saja ... Puspita masih berat untuk melepas sang cucu. Walau nanti, sang putra bungsu yang akan menjaga Gara, menggantikan tugasnya. Gara akhirnya mengiyakan untuk tinggal bersama Wira dan keluarganya. Sebuah keputusan yang tak mudah untuk diambil, setelah menimbang cukup lama. Terlebih, perdebatan yang harus Gara lalui terutama dengan sang nenek. Sampai akhirnya, wanita sepuh itu mengalah. "Sering-sering telepon Nenek ya? Kalau ada apa-apa bilang sama Paman Wira atau Bibi Aida. Jangan diam saja ya, Nak?" Gara menganggukkan kepala, "iya, Nek." Memberi pelukan, Puspita meyakinkan diri, jika semua ini memang yang terbaik untuk sang cucu. Setidaknya, Gara tak akan kesepian. Melepas pelukan, Puspita memberi kecupan di kening Gara dengan sayang. Lalu menatap putra bungsunya yang sejak tadi diam bersandar pada pintu kamar Gara. "Semuanya sudah siap?" Tanya Puspita sembari bangkit dari duduknya pada kasur Gara. "Sudah semua, Bu." Mengela napas, Wira tatap sosok wanita yang telah melahirkannya itu dengan penuh sayang, "jangan khawatirkan apa pun. Gara akan baik-baik saja. Aku sudah anggap seperti putra sendiri, selayaknya Daniel." Mengusap mata tuanya yang basah, Puspita mengangguk. "Jaga Gara baik-baik ya, Nak." "Tentu saja Bu. Aku akan menjaga dan merawatnya sebaik mungkin." Mengendapkan resah yang sejak semalam menggelayuti hati hingga membuatnya kesulitan tertidur. Puspita kemudian kembali mengayunkan langkah menuju Gara yang masih duduk di samping tempat tidurnya.  "Ayo, Nak, waktunya berangkat sekarang." Memberi anggukan, Gara menerima bantuan Wira yang memindahkannya ke kursi roda. Lalu membawanya keluar. Tak hanya dari kamar, tapi rumah nenek-kakeknya yang menjadi tempat tinggalnya usai kecelakaan. Sesampainya di luar, Arief—kakek Gara, berjongkok dan memeluk sang cucu. Memberi beberapa pesan yang diangguki Gara. Sebelum kemudian, pria tua itu bangkit berdiri. Mendekati sang istri yang tak bisa menahan tangisnya melihat kepergian Gara. Selama perjalanan, Gara hanya diam. Memikirkan kehidupan barunya bersama keluarga sang paman.  Bimbang yang awalnya Gara rasakan. Kini coba diendapkan dengan paksa. Karena memang, ada baiknya Gara tinggal bersama sang paman, agar tak merepotkan kakek-neneknya yang sudah sepuh. Daniel melirik Gara yang hanya diam. Lidahnya gatal ingin mencelotehkan banyak hal, tapi akhirnya memilih untuk mengatupkan bibir. Tak mau mengusik apa pun yang tengah dilamunkan sang sepupu. Satu hal yang pasti, Daniel menyambut keberadaan Gara dengan suka cita.  Setelah perjalanan yang cukup panjang dan tentu saja melelehkan. Mereka akhirnya sampai. Di rumah dua lantai bergaya minimalis yang merupakan kediaman Wira dan keluarganya. Gara menempati ruang tamu utama di rumah itu. Meski ada kamar kosong di sebelah kamar Daniel. Sayangnya, kamar tersebut berada di lantai dua. Yang tak memungkinkan untuk Gara karena harus naik-turun tangga. Sudah pasti rasanya terlalu riskan bagi Gara. "Gara mau istirahat?" Tanya Aida, pada pemuda itu yang kini duduk di pinggir kasur dalam diam.  "Mau ... Mandi dulu, Bi." "Oh, Ayo, Bibi antar ke kamar mandi. Tapi sebelumnya, tunggu sebentar ya, biar disiapkan dulu airnya." Mengangguk, Gara hanya diam, membiarkan Aida memasuki kamar mandi yang berada di kamarnya. "Gar?" Suara familiar tertangkap pendengaran Gara, "apa, Niel?" Melangkah masuk ke kamar sepupunya, Daniel ikut duduk di kasur berukuran king size tersebut. "Nggak ada, cuma nyapa aja." Kekehnya, yang membuat kedua sudut bibir Gara tertarik membentuk senyuman. "Loh, kamu ngapain di sini?" Aida yang baru saja keluar dari kamar mandi, menatap heran keberadaan sang putra. "Mau main sama Gara, Ma." "Nanti aja mainnya. Memangnya nggak capek? Kamu juga belum bersih-bersih, belum ganti baju. Sana, balik ke kamar." Meski merengut, Daniel tetap menurut, beranjak dari kamar Gara untuk melaksanakan apa yang Mamanya perintahkan. Setelah kepergian Daniel, Aida membantu Gara melangkah menuju kamar mandi. Awalnya dia bingung, apa harus membantu Gara mandi? Tapi, hal itu tidak mungkin kan? Karena walau bagaimanapun, Gara sudah dewasa. "Aku bisa sendiri, Bi. Waktu di rumah nenek pun, biasa mandi sendiri." Seolah menyadari kebimbangan Aida, Gara akhirnya angkat bicara. Aida mengangguk, tapi dia lupa Gara tak bisa melihat pergerakannya tersebut. "Yasudah, Bibi tunggu di luar ya?" Usai mendapat anggukan dari Gara, Aida melangkah keluar dari kamar mandi. Memilih untuk membereskan beberapa barang milik Gara yang belum disusun. Terlebih, dia tak mungkin meninggalkan Gara sendirian di kamar mandi, karena terlalu berisiko. Dengan tubuh yang sudah dibalut bathrobe, Gara memanggil Aida ketika akhirnya selesai, dan membuat istri pamannya itu segera membantunya keluar dari kamar mandi. Menuntunnya hingga duduk di pinggir tempat tidur, Gara menunggu sang Bibi memilihkan baju.  "Makasih Bi, aku bisa sendiri kok." Ucap Gara sembari menerima pakaiannya. "Bisa minta tolong?" "Tentu Nak, kamu butuh apa? Katakan saja." "Maaf, tolong ambilkan sisir ya, Bi." "Sebentar ya." Setelah menemukan apa yang Gara minta, Aida meletakan sisir tersebut di samping agar mudah ditemukan. "Ada lagi?" Gara menggeleng, "tidak, sudah cukup Bi, terima kasih." "Kalau begitu, Bibi keluar dulu ya. Mau ke dapur, menyiapkan makan malam nanti." Usai mendapat anggukan dari Gara, Aida segera keluar dari kamar yang mulai sekarang, akan di tempati keponakan suaminya itu. "Astaga!" Baru saja menutup pintu dan berbalik, Aida dikejutkan dengan keberadaan Daniel yang tiba-tiba berdiri tepat di belakangnya. Melempar cengiran lebar tanpa rasa bersalah. "Daniel? Kamu ngapain masih di sini?" "Daniel udah ke kamar, Ma. Mandi sama ganti baju. Sekarang udah boleh main sama Gara?" "Nggak," tolak Aida yang membuat wajah putra semata wayangnya itu memberengut.  "Ish! Kok masih belum boleh?" Rajuknya dengan pipi chubby yang mengembung. Astaga ... Sepertinya Daniel lupa, jika dia sudah SMA. Bukan lagi anak TK. Mengela napas, Aida mengelus lembut kepala putranya itu, "Nak, Gara butuh istirahat. Dia pasti lelah setelah perjalanan jauh yang kita tempuh sejak tadi pagi. Sekarang, biarkan Gara beristirahat. Masih ada banyak waktu untuk main bareng." Meski masih enggan, Daniel akhirnya mengangguk setuju. Menuruti ucapan sang Mama. Yang kemudian menggiringnya menjauh dari kamar yang kini di tempati Gara.  "Kamu nggak capek? Istirahat saja seperti Gara." Daniel menggeleng. Badannya memang agak pegal karena duduk di mobil dalam jangka waktu yang cukup lama. Tapi, dia tak merasa terlalu lelah. Mungkin, karena sudah banyak tidur selama perjalanan. "Nggak capek, tapi lapar." Keluhnya, sembari mengelus perut. Membuat Aida tertawa dan merangkul sang putra yang tingginya sudah melebihi dirinya. "Mama siapkan kudapan ya?" Dengan wajah berbinar, Daniel mengangguk, "aku tunggu di ruang tv ya, Ma." Memberi jawaban dengan gumaman, Aida akhirnya menyiapkan kudapan untuk Daniel lebih dulu, sebelum ikut memasak lauk makan malam keluarganya. Meski ada asisten rumah tangga, Aida tak segan untuk terjun langsung menyiapkan makanan untuk keluarganya. ***  Liburan sudah selesai, itu artinya, Daniel harus kembali ke rutinitasnya di sekolah.  Tak ada yang istimewa. Dia justru lebih memilih untuk di rumah, apalagi sekarang ada Gara yang menemani hari-harinya. Sayang, Daniel memiliki tanggung jawab sebagai pelajar yang kini duduk di kelas dua SMA. Ketika jam pelajaran pertama selesai, sebagian siswa berhamburan keluar kelas. Menuju kearah toilet untuk berganti pakaian, karena pelajaran selanjutnya adalah olahraga.  Untuk siswa yang malas harus jauh-jauh ke toilet, memilih untuk segera mengganti di kelas. Terutama siswa pria. Tentu saja berbeda dengan para siswa perempuan yang lebih memilih toilet, sembari mematut diri, memperbaiki penampilan dan riasan di depan cermin wastafel nantinya. Meraih seragam olahraganya dari dalam tas, Daniel bangkit dari tempat duduknya. Bersama teman satu mejanya, dan bisa dibilang, yang paling Daniel kenal diantara yang lainnya. Karena Daniel sosok yang sulit untuk berbaur dan memiliki banyak teman. Setibanya di dalam toilet, yang tampak cukup ramai. Pelukan Daniel pada seragam olahraganya menguat, melihat gerombolan siswa yang menatap kearahnya dengan seringai yang membuat bulu kuduknya meremang. Karena biasanya, masalah yang akan mereka datangkan. Daniel kian mengkerut di tempatnya berdiri, saat Oscar—yang tak ubahnya mimpi buruk bagi Daniel, terlihat bersama gerombolannya yang sebelumnya berdiri di dekat wastafel. Tiba-tiba mengayunkan langkah menuju kearahnya. Menggigiti bibir bawahnya, Daniel melirik pintu toilet. Tengah menimbang, apa sebaiknya dia keluar dan kembali ke kelas untuk berganti di sana? Jika tau akan begini, seharusnya Daniel merangkap baju olahraganya sedari di rumah. Tak peduli nantinya dia harus kegerahan. Beruntung, sebelum Oscar dan teman-temannya sampai di tempat Daniel—salah satu bilik toilet terbuka. Membuatnya bergegas masuk ke sana. Meski sempat menyenggol bahu teman sekelasnya karena terburu-buru. Usai mengucap maaf beberapa kali, Daniel segera menutup pintu bilik toilet tersebut. Daniel mengela napas yang sedikit terengah-engah. Padahal, dia bahkan belum melakukan olahraga. Melepas kacamatanya, Daniel meletakkannya ke atas penutup closet. Sebelum kemudian mengerutkan kening, karena tak menemukan gantungan.  Berdecak, ia letakan seragam olahraganya ke atas pintu, karena tak menemukan gantungan. Lalu menundukkan kepala, sibuk membuka satu persatu kancing seragamnya. Daniel tak sadar, di luar, Oscar tengah menyeringai. Tak lupa melempar pelototan pada teman-temannya yang tengah kepayahan menahan tawa. "Jangan berisik." Ucapnya dengan suara berbisik, agar Daniel yang masih berada di dalam bilik tak mendengar. Mengedikkan dagu, Oscar meminta salah satu anak buahnya diam-diam mengambil celana olahraga Daniel yang tersampir di atas pintu. Setelah berhasil didapat, Oscar mengeluarkan gunting kecil dari saku celananya, lalu menggunting celana olahraga Daniel.  Setelah puas, ia kembalikan lagi dan mengajak teman-temannya keluar dari toilet. Daniel menggerutu, karena sempat kesulitan membuka kancing seragamnya yang sedikit alot. Apa mungkin efek baju baru? Karena seragam yang dikenakannya sekarang, adalah seragam baru. Mengingat, seragamnya yang dulu berubah merah, setelah Oscar dan teman-temannya mencegat Daniel sepulang sekolah, lalu melemparinya dengan balon berisi air yang telah diberi pewarna. Sang Mama sempat histeris saat itu. Melihat Daniel pulang dengan kondisi mengenaskan dan dikira baru saja ikut tawuran. Untung saja, Daniel bisa membuat alasan, kalau teman-temannya salah paham, mengira dia berulangtahun dan melakukan hal itu sebagai bentuk kejutan. Ketika akhirnya selesai, Daniel segera mengenakan seragam olahraganya karena jam pelajaran pasti segera dimulai.  Daniel kian dilanda panik, saat pintu bilik yang ia tempati diketuk teman satu mejanya yang mengabari akan pergi lebih dulu. Keningnya mengernyit, mendapati para siswa yang berpapasan dengannya tergelak keras. Membuat Daniel kebingungan, apa yang sebenarnya mereka tertawakan? Menundukkan pandangan, Daniel mengamati penampilannya. Dan ... Tak ada yang aneh? Memilih mengabaikan, Daniel bergegas ke kelasnya yang sudah sepi, untuk meletakan seragamnya dan bergabung bersama teman-teman sekelasnya di lapangan. "Daniel, ayo cepat, ikut yang lain lari keliling lapangan untuk pemanasan." Ucap guru olahraganya yang membuat Daniel mengangguk cepat. Memperbaiki letak kacamatanya, ia segera ikut serta bersama teman-temannya yang sudah berlari-lari. Guru olahraga tersebut tersedak ludahnya sendiri, hingga terbatuk-batuk mendapati sebuah pemandangan yang membuatnya menganga. Melihat mangsanya datang, Oscar segera memberi perintah agar anak-anak lain memberi Daniel ruang dan bisa berlari di barisan terdepan. Agar yang lain bisa melihat hasil karyanya di toilet tadi. Usai mendapat instruksi, teman-teman Oscar memberitahu pada yang lain dan segera menurut. Terlebih, tak ada yang mau berurusan dengan Oscar dan teman-temannya.  Daniel awalnya sempat heran, kenapa gerakan lari teman-temannya melambat? Membuatnya yang tadi berada di barisan paling belakang, kini bisa menyusul ke barisan depan.  Tapi ... Tunggu! Setibanya Daniel di barisan depan, keriuhan terjadi. Gelak tawa seperti beberapa siswa yang berpapasan dengannya saat di koridor kelas, kini terulang. Lagi-lagi, semua orang tertawa? Ada apa? Hal apa yang lucu? Di tengah kebingungannya, Daniel mencoba untuk abai. Sebelum tiba-tiba, kegugupan melandanya, saat Oscar berlari tepat di sampingnya. "Hey, Bro! Kolor lo lucu juga, penuh bunga. Beli di mana?" Tanya Oscar sembari mengedipkan satu mata. Daniel terbelalak, merasa kebingungan sekaligus terkejut.  B—bagaimana Oscar tau, kolor yang dikenakannya bermotif bunga-bunga? Refleks, Daniel memegang celana bagian belakangnya, dan seketika terhenyak, saat tangannya terasa menyentuh langsung kolor motif bunga yang dibelikan sang Mama saat flash sale. Menghentikan laju larinya, dan mencoba melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan menengok bagian belakang celananya, Daniel terhenyak. Mendapati celana olahraganya bolong dengan lubang melingkar yang cukup besar. Hingga mempertontonkan kolor motif bunga-bunga. Gelak tawa semua orang membuat Daniel gemeteran dan kepayahan menenangkan degup jantungnya yang berdetak kencang. Menutupi celana bagian belakangnya yang terbuka, Daniel memilih beranjak pergi, menahan malu dan tangis yang mungkin akan pecah. Tapi, tidak di depan mereka yang mengerjainya. Daniel tak sudi memberi mereka hiburan tambahan dari penderitaannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD