Tak mudah untuk mengambil sebuah keputusan. Terlebih, hal itu berkaitan dengan hidupnya yang saat ini, hanya bisa bergantung pada orang-orang sekitar.
Tawaran sang paman masih membuat Gara bimbang. Meski sebenarnya tak peduli, pada siapa pun ia akan ikut tinggal. Toh, pada akhirnya, dia hanya menyusahkan dan menjadi beban.
Di tengah bimbang yang tengah merongr*ng, suara ketukan pintu mengoyak lamunan Gara. Membuatnya yang tengah duduk menyandarkan punggung pada kepala tempat tidur, memilih untuk menunggu sosok yang berada di balik pintu kamarnya masuk. Jika bukan sang Nenek, biasanya asisten rumah tangga. Ah, atau mungkin ... Daniel?
Sejak malam itu, di mana Gara mendapat kembali keceriaannya karena sang sepupu. Daniel cukup sering mendatangi kamarnya. Membicarakan banyak hal. Bahkan semalam, ikut tidur di kasurnya. Ketika Daniel beralasan, terlalu malas untuk kembali ke kamarnya sendiri.
Hal itu membuat seisi rumah sempat gempar tadi pagi, karena mengira Daniel hilang.
Oh, sebenarnya, Daniel yang mend*minasi pembicaraan. Gara hanya menimpali sesekali, dan lebih banyak menjadi pendengar. Meski begitu, Gara menikmatinya. Karena tak lagi terjebak dalam lamunan ketika sendirian.
Gara tak tau, kelurga pamannya akan sampai kapan di sini? Tapi, informasi yang berhasil di dapatkan dari Daniel, paman Wira yang sengaja merencanakan, untuk menghabiskan sisa libur sekolah putra semata wayangnya di sini.
Gara tak lagi mendengar suara ketukan, karena selanjutnya yang berhasil tertangkap pendengaran Gara, adalah sebuah suara pria yang mulai familiar untuknya.
"Gara, ini Paman. Boleh masuk?"
Paman? Paman Wira?
Untuk apa pria yang merupakan adik dari mendiang papanya, dan lebih muda tiga tahun dari sang papa itu ingin menemuinya?
Jika biasanya bibir Gala terbiasa terkatup. Kali ini, pemuda itu bersuara, mempersilakan sang paman yang berniat mengunjunginya. Walau ... Tentu saja. Pasti bukan tanpa alasan pria itu ingin bicara dengannya.
Suara pintu terbuka dan tertutup, lalu di iringi sebuah suara langkah. Kemudian suara deritan yang Gara tebak sebagai kursi, yang tengah dipindahkan di samping tempat tidurnya. Mungkin untuk di tempati sang paman agar bisa leluasa mengobrol dengannya.
"Hei, Nak, apa kabar?"
Rasanya aneh ketika Gara mendengar pertanyaan tersebut yang meluncur keluar dari bibir Wira. Setelah tiga hari pria itu dan keluarganya tinggal di sini.
Meskipun ... Memang, sang paman lebih sering berbincang dengan kakek-neneknya. Dan melempar ucapan basa-basi ketika bertemu dengannya. Karena Daniel yang lebih banyak memonopoli dirinya, sampai membuat sang nenek terkekeh heran, sekaligus bahagia.
"Hanya begini saja, Paman." Jawab Gara akhirnya, setelah terdiam beberapa detik.
Hening. Gara masih menunggu kelanjutan dari pembicaraan yang ingin sang paman sampaikan. Tapi yang berhasil tertangkap pendengarannya, hanya elaan napas gusar.
"Gara," panggil Wira pelan, menatap sang keponakan.
"Ya, Paman?"
"Bagaimana dengan tawaran yang Paman ajukan? Maaf, karena sebelumnya belum sempat Paman pertanyakan secara langsung. Maka dari itu, sekarang, Paman ingin menanyakan hal tersebut secara langsung sama kamu."
"Memangnya, Nenek tidak mengatakan apa pun?" Tanya Gara dengan kening mengernyit heran. Tapi kemudian, pemuda itu meringis, saat mengingat jawabannya saat ditanyai sang nenek, apakah dia bersedia tinggal bersama keluarga pamannya? Gara hanya menjawab dengan kata 'terserah'.
"Ibu hanya bilang, kamu masih butuh waktu. Maka dari itu, Paman menunggu. Tapi, sudah tiga hari belum mendapat jawaban, maka Paman memilih untuk menanyakan langsung sama kamu."
"Sebelum Gara memberi keputusan, ada hal yang ingin ditanyakan."
"Tentu, apa yang mau Gara tanyakan?"
"Kenapa tiba-tiba, Paman ingin mengurusku? Padahal, sudah ada Kakek dan nenek yang sudah mengambil alih?"
"Sejak awal, Paman memang ingin mengurus kamu, Gara." Mengela napas panjang, Wira menatap keponakannya dengan sorot sendu. "Kita memang tak terlalu dekat, karena Paman dan keluarga tinggal di luar kota. Jadi, hanya bertemu di saat menghadiri acara keluarga. Tapi, jangan ragukan kasih sayang Paman buat kamu, Nak. Begitu pun dengan Tante Aida, juga Daniel yang paling antusias, saat Paman bicarakan soal kamu yang mungkin akan tinggal bersama kami."
Sayangnya, semua itu masih belum cukup untuk Gara mempertimbangkan, dalam mengambil keputusan.
"Dan, sejujurnya, ada hal lain yang membuat Paman ingin kamu tinggal bersama keluarga Paman. Tapi, jangan anggap diri kamu sebagai beban untuk kakek dan nenek. Hanya saja, paman memang khawatir, karena kondisi Ibu sempat drop."
Benarkah? Nenek sempat drop? Bagaimana bisa dia tidak tau?
Atau, nenek dan kakeknya sengaja memilih diam.
"Mereka sudah sepuh. Pasti sulit untuk selalu siaga menjaga kamu." Berusaha berhati-hati dalam memilah kata, Wira tak mau keponakannya salah paham dengan ucapannya. "Jadi, akan lebih baik kalau Gara tinggal sama Paman."
Gara terdiam. Dengan bibir yang masih terkatup. Tampak tercenung sembari berusaha mencerna semua informasi yang pamannya berikan.
"Setidaknya, ada Daniel yang bisa menjadi teman kamu. Di sini, kamu cuma sendiri dan tak melakukan aktivitas apa pun."
"Memangnya, dengan kondisiku yang seperti ini, aktivitas macam apa yang bisa dilakukan?"
"Tentu saja banyak, Nak. Jangan berkecil hati dengan keadaan kamu yang sekarang." Ucap Wira yang berusaha menguatkan hati Gara.
"Sekali lagi, Paman tidak memiliki maksud apa pun, Nak. Jika memang Gara lebih nyaman tinggal di sini bersama kakek dan nenek, tidak apa-apa. Paman akan dukung, selama itu membuat Gara merasa nyaman."
Bangkit dari duduknya, Wira mengelus pelan kepala sang keponakan, "maaf ya, sudah mengganggu waktu istirahat kamu. Paman pamit keluar. Dan, sekali lagi harus di ingat, jangan jadikan beban dengan apa yang tadi Paman katakan. Semua keputusan ada di kamu, Gara. Dan, apa pun keputusan itu, kami akan mendukungnya."
Usai mengatakan hal tersebut, Wira melangkah keluar. Meninggalkan Gara yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Mana mungkin dia tak memikirkannya?
Mungkin, hanya berselang lima menit setelah pamannya meninggalkan kamar Gara. Pintu kembali terketuk. Kali ini, di iringi suara sang nenek.
"Masuk Nek."
Pintu terbuka, menampilkan Puspita bersama salah seorang asisten rumah tangga yang membawa nampan berisi segelas s**u coklat dan kudapan.
Kening wanita sepuh itu sempat berkerut. Tampak heran dengan Gara yang menjawab panggilannya.
Menyingkirkan sejenak keheranannya. Puspita meminta ART-nya meletakkan nampan tersebut di atas nakas samping tempat tidur.
Usai di tinggal hanya berdua. Puspita duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur Gara. Lagi-lagi, hal itu membuatnya heran. Karena tidak mungkin, Gara yang memindahkan kursi meja rias tersebut. "Tadi ada yang ke sini?" Tanyanya kemudian.
"Paman Wira, Nek. Tadi kami ngobrol sebentar."
Ngobrol?
Sudah pasti bukan pembicaraan yang hanya untuk basa-basi.
"Bicara soal apa?" Tak lagi mampu membendung rasa penasarannya, Puspita akhirnya melempar tanya secara langsung.
"Banyak." Sayang, jawaban yang Gara berikan sama sekali tak memuaskan. Karena tak memberi informasi apa pun.
"Misalnya?" Pancing Puspita lagi.
"Kenapa Nenek nggak bilang sempat drop kondisinya?"
Sekarang, Puspita menyesal sudah bertanya. Karena pembahasan soal itu sama sekali tak diharapkannya.
Berdeham singkat, wanita sepuh itu mengela napas, "namanya sudah tua, Ga, ya ... Kadang sakit-sakitan." Jawabnya dengan kekehan. Mencoba untuk melempar candaan.
Tapi tidak dengan Gara. Karena apa yang Puspita katakan, justru membuatnya semakin kepikiran.
Benar apa yang pamannya katakan. Nenek dan Kakeknya sudah tua. Tak seharunya mereka dibebani dengan keberadaannya. Terlebih, dengan kondisi Gara saat ini.
"Nenek bikin pisang goreng," tak mau pembahasan sensitif itu kian melebar, Puspita akhirnya mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
Meraih piring berisi pisang goreng yang masih terasa hangat, wanita sepuh itu bersiap menyuapi Gara. Sayangnya, sang cucu tampak bergeming dengan bibir yang terkatup rapat. "Gara mau dibuatkan yang lain?"
Menggelengkan kepala, Gara akhirnya membuka bibirnya. Menerima suapan dengan berbagai pikiran yang berkecamuk di kepala.
"Nek?"
"Iya, Nak?"
Mengunyah cepat, Gara menelan dengan segera pisang goreng yang berada di mulutnya. Sebelum kemudian mengatakan hal—yang ia harap, memang keputusan terbaik. "Aku ... Mau, tinggal sama Paman Wira dan keluarganya."
Tangan Puspita yang memegang pisang goreng—berniat untuk kembali menyuapi Gara, seketika terhenti di udara. Usai mendengar ucapan tak terduga cucunya.
"Nenek nggak kasih izin."
Jawaban yang Puspita berikan membuat Gara mengernyit heran, "kenapa?"
Mengela napas gusar, Puspita meletakkan pisang goreng yang baru mendapat satu gigitan ke atas piring. Sebelum kemudian memberi atensi pada cucunya. "Nenek yakin, keputusan yang kamu buat, bukan karena keinginan sendiri. Tapi, merasa bersalah pada Nenek dan menganggap diri sebagai beban."
Meneguk ludah kelu, Gara kehilangan kata-kata. Karena ... Apa yang neneknya katakan memang benar.
"Jika benar itu alasannya. Nenek nggak kasih izin."
"Itu ... Memang salah satunya." Aku Gara, sebelum kemudian menambahkan ucapannya, "tapi, pada dasarnya aku memang mau tinggal bersama Paman Wira. Setidaknya, ada Daniel yang menjadi temanku. Karena di sini ... Aku merasa kesepian. Dan hal itu, sering kali membuat aku merindukan Papa, Mama, juga Lili."
Pengakuan Gara membuat Puspita tercenung. Memikirkan kembali keputusan terbaik yang harus diambilnya, untuk sang cucu.