3. Tawa Pertama

1324 Words
Lapar. Gara menekan perutnya yang terus merusuh dan enggan diajak kerjasama untuk menahan hingga pagi tiba. Saat makan malam tadi, Gara hanya makan beberapa suap. Selera makannya hilang, ketika pikirannya dijejali banyak pertimbangan. Terutama ... Soal rencana pamannya yang berniat mengajaknya tinggal bersama. Untuk hal itu, Gara belum memberi pernyataan. Ketika sang Nenek bertanya, dia hanya menjawab dengan kata 'terserah', sebelum kemudian berbalik memunggungi wanita sepuh itu, yang terdengar mengela napas panjang. Ya, anggap saja sikapnya kekanakan. Hanya saja, suasana hati Gara memang terlalu mudah berubah. Entah kenapa, dia merasa seperti tengah dilempar ke sana-kemari. Hal yang seharusnya tak perlu ia pikirkan. Karena, satu yang pasti, keluarga Papanya, sayang padanya. Sama halnya dengan keluarga sang Mama. Hanya saja, mereka berada di luar pulau. Jadi sangat jarang bertemu, hingga membuat Gara tak terlalu akrab. Hal itu pula yang menjadi pertimbangan, hingga akhirnya Gara di asuh oleh pihak sang Papa. Bangkit dari posisi berbaringnya. Gara berusaha merangkak turun, sesekali meringis ketika kakinya yang belum pulih seutuhnya mulai berdenyut. Bagaimana ini? Meski tak mampu melihatnya, Gara rasa, saat ini waktu sudah cukup malam. Semua orang pasti sudah meringkuk di tempat tidur masing-masing. Seharusnya, Gara tak menolak saat sang Nenek menawarkan untuk meletakkan beberapa camilan di kamarnya. Jadi, ketika tiba-tiba lapar seperti sekarang, Gara bisa menjadikannya sebagai pengganjal perut. Setelah berhasil duduk di pinggir tempat tidur, dengan kedua kaki telanj*ngnya menapak lantai kamar yang terasa dingin. Gara meraba samping tempat tidurnya, mencari-cari keberadaan tongkat kruk yang biasa diletakkan di dekat kursi roda. Sejujurnya, Gara ingin terbiasa menggunakan alat itu agar bisa lebih mandiri. Tapi sang Nenek lebih suka menyuruhnya duduk di kursi roda. Mungkin, terlalu riskan untuk Gara menggunakan kruk dengan kondisinya yang sekarang. Hanya saja, untuk saat ini, Gara ingin mencoba. Meski dalam hati berdo'a, agar tak menabrak dan memecahkan salah satu pajangan Neneknya. BRUK! PRAK! Gara tersungkur, mendesis lirih, ia meraba-raba tongkat kruk yang ikut terjatuh saat digapai olehnya tadi. Nyaris satu menit Gara habiskan untuk mencari tongkat kruk yang akhirnya berhasil di dapatkan. Berpegangan pada nakas, Gara berusaha untuk berdiri dengan alat tersebut. Ketika yakin sudah berdiri dengan dua kruk yang kini terapit dikedua ketiaknya, Gara secara perlahan, melangkah walau terpincang-pincang. BUK! "Aduh!" Gara meringis saat menghantam tembok, sepertinya dia salah arah. Lalu berusaha mencari jalan menuju pintu kamar. Sayangnya, sudah sepuluh menit lebih, Gara masih tak bisa menemukan, di mana letak pintu kamar? Sejak tadi, entah untuk yang ke berapa kali? Dia menabrak tembok, nakas, tempat tidur, lemari, sofa, dan yang lainnya. Nyaris memilih menyerah, Gara mengembangkan senyumnya ketika berhasil menyentuh pintu kamar. Meraba-raba keberadaan kenop, ia segera menekannya dan merasa terharu saat akhirnya berhasil keluar dari kamar. Sebuah hal yang sejujurnya begitu sepele. Tapi kini terasa berarti. Hanya saja, Gara harus menelan dengan segera, segala suka cita yang menyesaki hatinya. Karena sekarang, ada hal yang jauh lebih sulit dari sebelumnya. Gara, harus mencari letak dapur. Kemana arah yang harus Gara tuju? Setelah menimbang sejenak, Gara akhirnya melangkah tertatih-tatih menuju ke arah kanan. Bagaimana ini? Sekarang, semua tekad dan kepercayaan diri yang Gara punya, seketika meluruh di bawah kaki. Tak lagi menggebu-gebu seperti tadi. Mungkin, dia harus tau diri. Bukannya keras kepala dan akhirnya kini disesali. Mencari letak pintu kamar saja begitu lama. Apalagi lokasi dapur di rumah sang Nenek yang masih Gara ingat dikondisinya yang saat itu masih bisa melihat, begitu luas. Jika begini, mungkin bukan perutnya yang terisi makanan. Yang ada, Gara menghabiskan waktu semalaman hingga matahari meneriakkan pagi, hanya untuk memutari rumah. "Aduh!" Gara meringis, saat langkahnya terinterupsi saat menabrak sesuatu. Hingga membuatnya jatuh tersungkur. Saat di raba, ternyata undakan anak tangga. Loh, ini tangga menuju lantai dua? Harusnya dia pergi kearah dapur. Kenapa justru tersasar ke sini? Meraba-raba sekitar untuk mencari tongkat kruknya. Gara terdiam sejenak, saat pendengarannya menangkap suara derap langkah kaki. Ada seseorang yang tengah menuruni anak tangga. Siapa? Seingat Gara, nenek dan kakeknya menempati kamar yang berada di lantai bawah sepertinya. Merasa lelah jika harus naik turun tangga. Jadi, kamar atas hanya di tempati oleh keluarga Gara saat menginap di sini. Ah, Gara lupa akan keberadaan paman dan keluarganya. Jadi, apa itu pamannya? "G—Gara?" Bukan. Suara yang terdengar gagap dan ragu-ragu itu jelas bukan milik pamannya. Suara itu sama sekali tak terdengar seperti milik pria dewasa. "Kamu ... Ngapain?" "Daniel?" Tebak Gara yang diangguki sang sepupu. Tapi, ketika ingat kondisi Gara, Daniel menepuk keningnya. Merutuki kebod*hannya. Melihat Gara yang meraba-raba mencari sesuatu. Daniel segera ikut membantu. "Cari ini?" Tanyanya sembari mengarahkan tangan Gara pada kruk yang diambilnya tadi. "Iya." "Ayo, aku bantu." Tak menunggu jawaban, Daniel membantu Gara untuk berdiri dengan kedua kruknya. "Kamu mau kemana? Ke kamar? Ayo aku antar." Daniel sebenarnya heran, kenapa Gara berkeliaran seorang diri di tengah malam seperti ini? Apa tidak ada yang tau? Bagaimana kalau Gara melangkah keluar rumah? Bukankah itu berbahaya? Ah, membiarkan Gara berjalan di dalam rumah pun sebenarnya berbahaya. Bagaimana kalau menabrak sesuatu yang bisa mencederainya? "Tidak, bukan, maksudnya, aku tidak ingin ke kamar." "Lalu?" Terdiam sejenak, Gara tengah menimbang. Haruskah mengatakannya pada Daniel? "Ga, kamu mau kemana? Ke kamar mandi? Di kamar kamu tidak ada kamar mandinya?" "Ada. Dan aku, bukan ingin ke kamar mandi." Jawab Gara akhirnya. "Lalu?" "Lapar." "Hah?" Mengerjap, Daniel sempat keheranan. Takut apa yang tadi tertangkap pendengarannya ternyata keliru. "Apa?" Jadi, ia tanya ulang pada Gara untuk memastikan. Menelan ragu, Gara akhirnya memilih untuk jujur. Toh, untuk bisa keluar dari kamar pun dia sudah berjuang keras. Tak mau mengutamakan gengsi yang akhirnya membuat Gara kembali ke kamar dengan perut yang masih keroncongan. "Aku lapar. Mau ke dapur, tapi ... Nyasar." Mengangguk sembari ber-oh panjang, Daniel menimbang sejenak. Sebelum akhirnya angkat bicara, "aku bangunkan Mama ya? Atau Nenek? Kalau asisten rumah tangga, nggak tau di mana kamarnya?" "Tidak. Jangan." Sergah Gara dengan panik. "Dan?" Panggilnya pelan pada sang sepupu. "Ya?" Berdeham pelan, Gara menekan rasa sungkannya, "bisa minta tolong?" "Tentu? Mau minta tolong apa? Kalau pinjam duit nggak ada, Ga." Meringis, Gara menggeleng, "bukan. Bukan pinjam duit." "Terus?" "Bisa ... Minta tolong ambilkan makanan? A—aku lapar." Gara mengabaikan suara mencemooh yang ada dikepalanya. Setelah semua usahanya hingga tersungkur dan menabrak apa pun yang ada di hadapannya, kini, dia tetap saja berakhir dengan menyusahkan orang lain. "Oh, tentu, mau apa?" "Apa saja." Mengangguk, Daniel kemudian membantu Gara melangkah secara perlahan, hingga mereka akhirnya tiba di dapur. Usai memastikan Gara duduk nyaman di kursi depan meja makan, Daniel membuka kulkas dan melihat-lihat, apa yang ada di dalamnya. Tak mengambil apa pun, Daniel melangkah kembali kearah Gara yang masih menunggu. "Ga?" "Ya?" Menggaruk pelipis, Daniel tampak ragu-ragu. "Kenapa? Tidak ada makanan?" "Ada, banyak malah. Tapi ... Semuanya perlu diolah. Dan aku lebih ahli makan. Daripada mengolah masakan. Paling, buah-buahan yang siap makan." Gara baru saja akan mengatakan tak masalah, tapi Daniel sudah lebih dulu menginterupsi. "Oh, kalau mau, aku buatkan mie!" Itu satu-satunya jenis masakan yang Daniel kuasai. "Gimana?" Mendengar suara antusias dan penuh kebanggaan dari suara Daniel, membuat Gara tak enak hati jika harus menolaknya. Terlebih, sepupunya itu sudah begitu baik membantunya. "Boleh." Tersenyum sumringah, Daniel mengacungkan kedua ibu jarinya. Tapi berdeham, karena lupa dengan kondisi sepupunya. "Tunggu di sini, aku masakan. Mau yang goreng atau kuah?" "Kuah." "Siap!" Segera melesat, Daniel bergegas mencari keberadaan mie instan yang ia harap dimiliki sang Nenek. Dan beruntung, harapannya terwujud saat menemukan mie rasa soto yang membuat matanya berbinar. Berlalu menuju kulkas, Daniel mengambil sayur sawi dan telur. Tak lengkap jika tak ada bahan tambahan. Selagi memasak, Daniel mencelotehkan banyak hal pada Gara yang diam mendengarkan di tempat duduknya. Tanpa keduanya sadari, ada sosok lain yang berada di sana. Memerhatikan apa yang terjadi dengan mata berkaca-kaca. Puspita menatap haru, pada dua cucunya yang tengah berinteraksi. Awalnya, dia menuju dapur karena terbangun dan merasa tenggorokannya haus. Siapa yang menyangka? Pemandangan indah semacam ini yang ia dapatkan? Terutama Gara, yang tak lagi menampakkan wajah murungnya. Dengan sabar mendengarkan celotehan Daniel, bahkan sesekali ikut terkekeh ketika ada guyonan yang di lontarkan. Hanya begitu saja. Tapi sudah membuatnya bahagia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD